KEJAYAAN HANYA MILIK ISLAM

Oleh
Syaikh Abu Usamah Salim bin Id Al-Hilali
Bagian Pertama dari Dua Tulisan 1/2
sumber http://www.almanhaj.or.id


Sesungguhnya termasuk hal yang sangat menggembirakan, kita bisa bersua 
kembali dalam masjid ini, di universitas ini, di tengah saudara-saudara 
kami, kita bersatu dikalimat yang sama, yaitu kalimat tauhid dan di atas 
kebesaran Islam. Tema kita di pagi hiri yang cerah ini ialah kebesaran milik 
Allah dan RasulNya dan orang-orang yang beriman. Maksudnya, kebesaran hanya 
milik Islam semata.

Dalil-dalil yang menunjukan bahwa kejayaan hanya milik Allah, RasulNya dan 
kaum muslimin serta islam banyak sekali. Firman Allah :

“Artinya : Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi RasulNya dan bagi 
orang-orang yang beriman, tetapi orang-orang munafik tidak mengtahui” 
[Al-Munafiqun : 8]

Ayat ini menegaskan bahwa kejayaan hanya milik Allah, RasulNya dan kaum 
mukminin.

“Artinya : Janganlah kamu merasa lemah dan meminta perdamaian, padahal 
kamulah yang di atas dan Allah (pun)beserta kamu dan dia sekali-kali tidak 
akan mengurangi ( pahala) amal-amalmu” [Muhammad :35]

Dan sudah di ketahui bagi orang yang mendalami Al-Quran, ia menetapkan bahwa 
kalimatullah adalah paling tinggi, sedangkan kalimat orang kafir berada 
dalam tingkat yang paling rendah. Jadi kebesaran milikislam dalam 
kitabullah. Demikian juga, hal ini di tegaskan oleh Rasullah Shallallahu 
‘alaihi wa sallam dan juga pernyataan dari generasi salaf, sabda nabi 
Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Tidak selayaknya seorang mukmin menghinakan dirinya” [Hadits 
Riwayat Ahmad]

Ini dalil agar setiap muslim merasa mulia dengan agamanya. Karena islam 
mengajarkan al ‘izzah kepadanya.

Perhatikan dialog antara Abu Sufyan yang masih dalam kekufurannya-padawaktu 
itu- dengan Umar bin Khaththab, tatkala kaum musyrikin mendapatkan 
kemenangan dalam perang uhud.

Abu Sufyan berkata: Agung kanlah Hubal,”kemudian nabi memerintahkan Umar 
untuk menyanggah dengan (perkataan): ”Allah lebih besar dan lebih tinggi”.

Ini merupakan sebagian dalil dari al kitab dan as Sunnah yang menunjukan 
bahwa izzah (kebesaran) hanya milik Allah, RasulNya dan Islam.

Apabila kita telah mengtahui bahwa kebesaran itu milik Islam, apakah yang 
dimaksud dengan izzah dalam Islam, dan bagaimana Islam bisa mengangkat kaum 
muslimin dari konsep kebesaran jahiliyah menuju kosep izzah 
imani.Renungkanlah ayat ini, kita lihat dan bandingkanlah :

“Artinya : Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah,bagiRasul-Nya dan bagi 
orang-orang mu’min, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengtahui” 
[Al–Munafiqun : 8]

Lihatlah, Abdullah bin Ubay bin Salul, pimpinan kaum munafqin dalam perang 
bani Musthaliq. Setelah orang-orang pulang dari perang tersebut –termasuk 
Rasulullah- dia memunculkan ide penyebaran hadits ifk (berita palsu). Dia 
menuduh umul mukminin ash Shiddiqah bin ash Shiddiq (‘Aisyah) dengan tuduhan 
zina. Wal iyyadzu billah.

Lihatlah, ia mengalihkan peperangan ke rumah beliau, pada kehormatan 
beliau.Dalam suasana panas penuh isu, simpang-siur sarat berita bohong,orang 
munafik ini ingin memanfaatkan kesempatan ini, atau ingin menghantam beliau, 
atau ingin memancing dalam air keruh .

Pada situasi demikian ia mengatakan.

“Sesungguhnya jika telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat 
akan mengusir orang-orang yang lemah darinya”, .yang ia maksud dengan orang 
yang kuat adalah dia sendiri. Sedangkan yang ia maksud orang yang lemah 
adalah Rasullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Inilah konsep izzah dalam kaca mata jahiliyah, membanggakan diri, 
membanggakan kedudukan sosial, dengan nasab, nenek moyang, golongan, 
banyaknya pengikut, banyaknya harta, dengan jabatan dan harta. Inilah izzah 
menurut jahiliyah.

Dalam masalah berita palsu ini, Allah tidak membiarkan ada orang yang 
membantah para penyebar isu berita palsu tersebut. Yang membantah adalah 
langsung Allah sendiri. Allah merehabilitasi nama baik Ummul Mukminin dalam 
sebelas ayat pertama dari surat an Nur. Sementara di dalam surat 
Al-Munafiqin, Allah membantah Abdullah bin Ubay bin Salul ( dengan 
firmanNya).

“Artinya : Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi RasulNya dan bagi 
orang-orang mu’min, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui” 
[Al-Munafiqun : 8]

Firman Allah ini seolah-olah mengatakan, tidak ada kebesaran kecuali milik 
Allah.Dialah yang maha perkasa dan bijak, Maha kuat dan perkasa.Tidak ada 
kebesaran, kecuali milik Allah. Tidak ada kejayaan, kecuali bersama dengan 
Allah.

Siapa saja yang tergantung dengan yang maha kuat, niscaya ia menjadi insan 
yang kuat. Oleh karena itu, Rasullah berpegang dengan Allah, sehingga ia 
menjadi kuat. Dan demikian pula dengan kaum mukminin, mereka berpegang 
kepada Allah dan RasulNya, mereka menjadi insan–insan yang kuat..

Inilah makna izzah dalam kosep imani, bangga diri dengan agama, dengan 
Allah, Rasul,amal shalih, ilmu yang bermanfaat, serta dakwah kepada Allah. 
Lihatlah, bagaimana konsep Islam mengangkat manusia dari permukaan bumi 
menuju ketinggian izzah,Menuju tingginya tekad. Kendatipun jasad-jasad 
mereka bersentuhan dengan yang ada di bumi, tetapi jiwa-jiwa mereka terikat 
dengan malail a’la (majlis yang paling tinggi), dengan kenikmatan-kenikmatan 
yang ada di sisi Allah. Jadi izzah milik Islam.

Apakah (yang menjadi) sumbernya?

Sudah kami katakan tadi,bahwa tidak ada kebesaran kecuali milik Allah. Dan 
siapa saja yang bersama dengan yang maha perkasa, ia menjadi perkasa Dan 
siapa saja yang mencari kejayaan dengan selain Allah, niscaya akan hina.

Faktor paling besar yang mendukung kukuhnya izzah ini, adalah aqidah 
Islamiyyah. aqidah ini bertumpuh pada tauhidullah (mentauhidkan Allah), 
terhadap DzatNya, tindakan-tindakanNya dan asma wa sifatNya,Tidak ada dzat 
yang berhak di sembah kecuali Allah. Karena itu, barang siapa menyambah 
Allah, ia menjadi insan yang perkasa. Dan orang yang meyekutukan Allah, akan 
menjadi manusia hina. Allah-lah yang mengangkat derajat atau menghinakan 
seseorang.Allah berfirman .

“Artinya : Dan Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki, dan Engau 
hinakan orang yang Engkau kehendaki” [Ali–Imron : 26]

Barang siapa konsisten pada aqidah yang benar dan tauhid yang lurus, niscaya 
Alloh akan memuliakannya dengan aqidah dan agama ini. Dan barang siapa yang 
menyimpang darinya, hendaknya tidak mencela kecuali dirinya sendiri saja.
Faktor lain yang juga dapat mewujudkan ‘ izzah adalah manhaj. Oleh karena 
itu, Alloh berfirman.

“Artinya : Siapakah yang lebih baik perkataannya dari pada orang yang 
menyeru kepada Allah, mengerjakan amal sholeh dan berkata : “Sesungguhnya 
aku termsuk orang–orang yang berserah diri.” [ Fushiliat : 33]

Lihatah, setelah ia berpegangan dengan manhaj dan dakwah, kemudian mempunyai 
rasa bangga dengan agama. Dia mengumandangkan suaranya, bahwa ia seorang 
muslim, termsuk yang bertauhid kepada Allah dan mengikuti Allah dan 
RasulNya.

Firman Allah :

“Artinya : Dan siapakah yang lebih baik perkataannya …”

Maka jawabannya, tidak ada seorang pun yang lebih baik darinya. Dalam ayat 
ini Allah mengikat dakwah dengan manhaj. Baru kemuian mengerjakan amalan 
shalih. Setelah itu, akhirnya ia bangga dengan Islam.

Oleh karena itu, berkaitan dengan syarat diterimanya amalan shalih, ada 
syarat sah dan syarat kamal (kesempurnaan).

Tentang syarat sah diterimanya amal adalah ikhls bagi Allah dan ittiba’ 
kepada Nabi. Sedangkan syarat kesempurnaannya amal ialah.

Pertama : Seseorang harus menggenggam agamanya dengan kuat. Allah berfirman.

“Artinya : Hai, Yahya. Ambillah Al–Kitab (Taurat) itu dengan 
sungguh–sungguh” [MAryam : 12]

Allah berfirman :

“Artinya : Pegangilah dengan teguh apa yang Kami berikan kepadamu” 
[Al–Baqarah : 63]

Dan yang dimaksud dengan quwwah ini adalah berbangga diri dengan agama 
Islam.

Kedua : Tidak malas beramal shalih dan menyegerakan diri dalam mengerjakan 
amal kebaikan maupun ketaatan.

Sumber kemuliaan Islam yang lain, yaitu menjadi seorang muslim yang 
mempunyai cirri khas tersendiri dalam aqidah, cara–cara beribadah, 
penampilan lahiriah atau batiniah.

Dalam seluruh aspek, seorang muslim memiliki cirri khas tersendiri. Umat 
Islam memiliki nilai istimewa dengan menonjolnya kebaikannya. Allah 
berfirman :

“Artinya : Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia” 
[Al–Imran : 110]

Memiliki nilai tersendiri sebagai umat yang adil dan pilihan. Allah 
berfirman :

“Artinya : Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kami (umat Islam), 
sebagai umat yang adil dan pilihan” [Al–Baqarah : 143]

Mereka menjadi saksi–saksi Allah di bumi. Lihatlah nilai istimewa yang 
dimiliki kaum Muslimin dalam ayat.

“Artinya : Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang–orang yang 
telah Engkau anugerahkan kenikmatan kepada mereka, bukan (jalan) yang 
dimurkai Allah (yaitu : Yahudi) dan buka (pula jalan) mereka yang sesat 
(yaitu : Nashara” [Al–Fatihah : 6–7]

Artinya, tunjukilah kami wahai Rabb ke jalan yang benar dan lurus, bukan 
jalan orang–orang yang dimurkai Allah, yaitu kaum Yahudi. Juga bukan jalan 
orang–orang yang sesat, yaitu kaum Nashara. Seorang muslim berbeda dengan 
Yahudi dan Nashara, penganut agama dan golongan lain. Oleh karena itu 
Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salaam melarang tasyabbuh (berserupa) 
dengan orang–orang kafir. Larangan itu tertuang dalam nasihat beliau yang 
sangat mengagumkan.

“Artinya : Aku diutus dengan pedang, saat hari Kebangkitan sudah dekat, 
supaya Allah saja yang disembah. Ditimpakan kehinaan dan kerendahan pada 
orang yang menentang perintahku. Rezekiku ditetapkan berada di bawah ujung 
tombak. Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, niscaya ia termasuk dari 
mereka” [Hadits Riwayat Ahmad]

“Artinya : Aku diutus dengan pedang saat hari Kebangkitan sudah dekat, 
supaya Allah saja yang disembah”

Ini adalah ‘izzatul Islam. Kita memperjuangkan Islam sampai orang–orang 
menyembah Pencipta mereka. Kita berjuang untuk mengeluarkan orang–orang dari 
kegelapan menuju cahaya. Kita memperjuangkan Islam dengan kata–kata, dakwah, 
dengan hujjah dan burhan sebelum memasuki perjuangan dengan pedang, di 
setiap tempat dan momen.

Kemudian Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa salaam mengatakan :

“Artinya : Aku diutus dengan pedang, saat hari Kebangkitan sudah dekat, 
supaya Allah saja yang disembah”

Jadi, kita berjuang sampai orang–orang menyembah Allah, yang menciptakan 
mereka.

“Ditimpakan kehinaan dan kerendahan pada orang yang menentang perintah Ku”

Jadi barang siapa mengikuti perintah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia 
akan menggenggam izzah (kebesaran) dan rif’ah (ketinggian kedudukan). Barang 
siapa menentang manhaj Rasul Shalallahu 'alaihi wa sallam, ia akan ditimpa 
kehinaan. Setelah itu Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam mengatakan.

“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, niscaya ia termasuk dari mereka”

Maksudnya, barang siapa menyerupai musuh, niscaya akan terhina. Barang siapa 
silau dengan para musuh, ia akan tersesat. Barang mengikuti manhaj para 
musuh, ia akan terhina. Tetapi, orang yang mengikuti manhaj Nabi, tidak ada 
kesesatan dan tidak ada kehinaan yang menimpanya. Ringkasnya, seorang muslim 
harus berbeda jati dirinya dari orang lain, dalam hal aqidah, jati diri 
dalam setiap urusannya. Insan yang mandiri. Tidak ke timur juga tidak ke 
barat.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun X/1427H/1426. Diambil dari 
Muhadharah Syaikh Abu Usamah Salim bin Id Al-Hilali di Masjid Kampus 
Universitas Brawijawa Malang., Rabu. 15 Februari 2006]

_________________________________________________________________
Express yourself instantly with MSN Messenger! Download today it's FREE! 
http://messenger.msn.click-url.com/go/onm00200471ave/direct/01/






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Groups gets a make over. See the new email design.
http://us.click.yahoo.com/mDk17A/lOaOAA/i1hLAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

SALURKAN BANTUAN ANDA UNTUK KAUM MUSLIMIN YANG TERKENA MUSIBAH
GEMPA DI DAERAH YOGYAKARTA DAN SEKITARNYA KEPADA LEMBAGA AMAL YANG
TERPERCAYA
--------------------------------------------
Website Anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED]
--------------------------------------------
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke