From: [email protected] Of YUZDI ARKAN
Sent: Tuesday, July 11, 2006 10:34 AM
To: [email protected]
Subject: [assunnah] Tanya : Firqoh Khowarij
Assalaamu'alaikum WW
Apa ada yang mengetahui Firqoh ini?
seperti apa I'tiqodnya dalam perkara Aqidah dan yang lainnya?
di jaman sekarang apa masih ada? apa ciri-cirinya?

SEJARAH HITAM PERPECAHAN UMAT

Oleh
Dr. Nashir bin Abdul Karim Al-'Aql
Bagian Pertama dari Dua Tulisan [1/2]
sumber http://www.almanhaj.or.id

AL-IFTIRAAQ MAFHUMUHU ASBABUHU SUBULUL WIQAYATU MINHU [Perpecahan Umat !
Etiologi & Solusinya]


Banyak sekali faidah yang dapat dipetik dari pembicaraan seputar sejarah
perpecahan umat. Berbagai peristiwa yang terjadi di awal Islam tersebut
sarat dengan ibrah (pelajaran). Tentunya kami tidak mampu menyuguhkan
sejarah perpecahan itu secara terperinci, akan tetapi ada beberapa point
yang dapat kita jadikan pelajaran. Sembari meluruskan beberapa persepsi
keliru sebagian orang sekitar masalah tersebut dewasa ini.

Pertama.
Sumbu perpecahan yang pertama kali muncul hanyalah berupa i'tiqad dan
pemikiran yang tidak begitu didengar dan diperhatikan. Yang pertama kali di
dengar oleh kaum muslimin dan para sahabat adalah aqidah Saba'iyah yang
merupakan cikal bakal aqidah Syi'ah dan Khawarij. Itulah benih awal
perpecahan yang ditaburkan di tengah-tengah kaum muslimin. Aqidah ini
disebarkan oleh penganutnya secara terselubung nyaris tanpa suara. Orang
pertama yang memunculkan juga asing, nama dan identitasnya tidak jelas.
Orang menyebutnya Ibnu Sauda' Abdullah bin Saba'. Ia mengacaukan barisan
kaum muslimin dengan aqidah sesat itu. Sehingga aqidah tersebut diyakini
kebenarannya oleh sejumlah kaum munafikin, oknum-oknum yang merancang makar
jahat terhadap Islam, orang-orang jahil dan pemuda-pemuda ingusan. Begitu
pula sekelompok barisan sakit hati yang negeri, agama dan kerajaan mereka
telah ditundukkan oleh kaum muslimin, yaitu orang-orang yang baru memeluk
Islam dari kalangan bangsa Parsi dan Arab Badui. Mereka membenarkan
hasutan-hasutan Ibnu Saba', membuat makar tersembunyi atas kaum muslimin,
hingga muncullah cikal bakal Syi'ah dan Khawarij dari mereka.

Hal ini ditinjau dari sudut pandang aqidah dan keyakinan sesat yang pertama
kali muncul yang menyelisihi asas Islam dan Sunnah.

Adapun kelompok sempalan yang pertama kali muncul yang memisahkan diri dari
imam kaum muslimin adalah kelompok Khawarij. Benih-benih Khawarij ini
sebenarnya berasal dari aqidah Saba'iyah. Banyak orang yang mengira keduanya
berbeda, padahal sebenarnya cikal bakal Khawarij berasal dari pemikiran
kotor Saba'iyah. Perlu diketahui bahwa Saba'iyah ini terpecah menjadi dua
kelompok utama : Khawarij dan Syi'ah.

Kendati antara keduanya terdapat perbedaan-perbedaan yang mencolok, namun
dasar-dasar pemikirannya setali tiga uang. Baik Khawarij maupun Syi'ah
meuncul pada peristiwa fitnah atas diri Amirul Mukminin Utsman bin Affan
Radhiyallahu 'anhu. Fitnah diprakarsai oleh Abdullah bin Saba' lewat ide,
keyakinan dan gerakannya. Dari situlah muncrat aqidah sesat, yaitu aqidah
Syi'ah dan Khawarij.

Perbedaan antara Khawarij dan Syi'ah direkayasa sedemikian rupa oleh
tokoh-tokohnya supaya dapat memecah belah umat. Ibnu Saba' dan
konco-konconya menabur beragam benih untuk menyuburkan kelompok-kelompok
pengikut hawa nafsu itu. Kemudian membuat trik seolah-olah antara
kelompok-kelompok itu terjadi permusuhan guna memecah belah umat sebagaimana
yang terjadi dewasa ini. Itulah yang diterapkan oleh musuh-musuh Islam untuk
mengadu domba kaum muslimin, yakni dengan istilah yang mereka namakan blok
kanan dan blok kiri. Mereka mengkotak-kotakan kaum muslimin menjadi
berpartai-partai, partai sayap kanan dan partai sayap kiri. Begitu berhasil
melaksanakan program, mereka munculkan babak permainan baru dengan istilah
sekularisme, fundamentalisme, modernisme, primitif, ekstrimisme, radikalisme
dan lain-lain. Semuanya adalah permainan yang sama, dari sumber yang sama
pula. Para pencetusnya juga itu-itu juga demikian pula tujuannya, hanya saja
corak ragamnya berbeda-beda. Jadi secara keseluruhan ini mencerminkan
kuatnya kebatilan, kendati satu sama lain saling bermusuhan.


Kedua.
Ada satu point penting yang perlu diperhatikan, yakni dalam sejarah tidak
kita temui para sahabat saling berpecah belah satu sama lain. Yang terjadi
diantara mereka hanyalah perbedaan pendapat yang kadang kala diselesaikan
dengan ijma' (kesepakatan), atau salah satu pihak tunduk kepada pendapat
jama'ah serta tetap komitment terhadap imam. Itulah yang terjadi dikalangan
sahabat. Tidak ada seorang sahabat-pun yang memisahkan diri dari jama'ah.
Tidak ada satupun diantara mereka yang melontarkan ucapan bid'ah atau
mengada-ada perkara baru dalam agama. Sungguh, para sahabat merupakan imam
dalam agama yang mesti diteladani oleh kaum muslimin. Tidak satupun dari
kalangan sahabat yang memecah dari jama'ah. Dan tak satupun ucapan mereka
yang menjadi sumber bid'ah dan sumber perpecahan. Adapun beberapa ucapan dan
kelompok sempalan yang dinisbatkan oleh sejumlah oknum kepada para sahabat
adalah tidak benar! Hanyalah dusta dan kebohongan besar yang mereka tujukan
terhadap para sahabat. Sangat keliru bila Ali bin Abi Thalib disebut sebagai
sumber Syi'ah, Abu Dzar Al-Ghifari sebagai sumber sosialisme, para sahabat
Ahlus Suffah sebagai cikal bakal kaum sufi, Mua'wiyah diklaim sebagai sumber
Jabariyah, Abu Darda' dituduh sebagai sumber Qadariyah, atau sahabat lain
menjadi sumber pemikiran sesat ini dan itu, mengada-adakan bid'ah dan
perkara baru, atau punya pendirian yang menyempal! Jelas itu semua merupakan
kebatilan murni! [1]

Iftiraq (perpecahan) itu sendiri mulai terjadi setelah Utsman bin Affan
Radhiyallahu 'anhu terbunuh. Pada masa kekhalifahan Utsman, belum terjadi
perpecahan yang serius. Namun ketika meletus fitnah di antara kaum muslimin
pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, barulah muncul kelompok Khawarij
dan Syi'ah. Sementara pada masa kekhalifahan Abu Bakar Radhiyallahu 'anhu
dan Umar Radhiyallahu 'anhu, bahkan pada masa kekhalifahan Utsman
Radhiyallahu 'anhu, belum terjadi sama sekali perpecahan yang sebenarnya.
Selanjutnya, para sahabat justru melakukan penentangan terhadap perpecahan
yang timbul. Janganlah dikira para sahabat mengabaikan atau tidak tahu
menahu tentang fenomena negatif ini. Dan jangan pula disangka mereka kurang
tanggap terhadap masalah perpecahan ini, baik seputar masalah pemikiran,
keyakinan, pendirian maupun perbuatan. Bahkan mereka tampil terdepan
menentang perpecahan dengan gigih. Mereka telah teruji dengan baik dalam
sepak terjang menghadapi perpecahan tersebut dengan segala tekad dan
kekuatan. Akan tetapi ketentuan Allah pasti terjadi!


[Disalin dari kitab Al-Iftiraaq Mafhumuhu ashabuhu subulul wiqayatu minhu,
edisi Indonesia Perpecahan Umat ! Etiologi & Solusinya, oleh Dr. Nashir bin
Abdul Karim Al-'Aql, terbitan Darul Haq, penerjemah Abu Ihsan Al-Atsari]
_________
Foote Note
[1] Termasuk di antara kebatilan tersebut ialah klaim sebagian kaum sufi
bahwa asal-usul bid'ah mereka adalah para shabat Ahlu Suffah Radhiyallahu
anhu ajma'in. Sekali-kali tidak demikian ! Bahkan sebaliknya, kita katakan
kepada mereka, "Teladanilah sunnah sahabat Ahlus Suffah tersebut jika kalian
orang-orang yang benar!".

TOKOH-TOKOH AHLI BID'AH

Setelah berbicara tentang sejarah perpecahan umat, ada baiknya kita
lanjutkan pembicaraan tentang asal usul bid'ah. Guna mengetahui tokoh-tokoh
pencetus kelompok-kelompok sesat yang merupakan biang perpecahan. Yaitu
oknum-oknum yang mengusung bid'ah tersebut hingga menjadi pemimpin-pemimpin
sesat sampai hari Kiamat. Hingga sepeninggal mereka, terbuka lebarlah pintu
perpecahan, semakin bertambahlah orang-orang yang menyesatkan. Di antara
oknum-oknum tersebut ialah.

[1] Pelopor perpecahan : Ibnu Sauda' Abdullah bin Saba' Al-Yahudi, seorang
Yahudi yang mengaku-ngaku beragama Islam. berikut pengikut dan
konco-konconya. Ide kotornya pertama kali muncul sekitar tahun 34H. Ibnu
Sauda' ini memadukan antara bid'ah Khawarij dan Syi'ah.

[2] Setelah itu Ma'bad Al-Juhani (meninggal dunia tahun 80H) meluncurkan
pemikiran bid'ah seputar masalah takdir sekitar tahun 64H. Ia menggugat ilmu
Allah dan takdirNya. Ia mempromosikan pemikiran sesat itu terang-terangan
sehingga banyak meninggalkan ekses. Disamping orang-orang yang mengikutinya
juga banyak. Namun bid'ahnya ini mendapat penentangan yang sangat keras dari
kaum Salaf, termasuk di dalamnya para sahabat yang masih hidup ketika itu,
seperti Ibnu Umar Radhiyallahu 'anhuma.

[3] Kemudian muncullah Ghailan Ad-Dimasyqi yang mengibarkan pengaruh cukup
besar seputar masalah-masalah takdir sekitar tahun 98H. Dan juga dalam
masalah ta'wil, ta'thil (mengingkari sebagian siaft-sifat Allah) dan masalah
irja[1] Para salaf pun menentang pemikirannya itu. Termasuk diantara yang
menentangnya adalah Khalifah Umar bin Abdil Aziz. Beliau menegakkan hujjah
atasnya, sehingga Ghailan menghentikan celotehannya sampai Umar bin Abdul
Aziz wafat. Namun setelah itu, Ghailan kembali meneruskan aksinya. Ini
merupakan ciri yang sangat dominan bagi ahli bid'ah, yaitu mereka tidak akan
bertaubat dari bid'ah. Sekalipun hujjahnya telah dipatahkan, mereka tetap
kembali menentang dan kembali kepada bid'ahnya. Ghailan ini akhirnya dibunuh
setelah dimintai taubat namun menolak bertaubat pada tahun 105H.

[4] Setelah itu muncullah Al-Ja'd bin Dirham (yang terbunuh tahun 124H). Ia
mengembangkan pendapat pendapat sesat itu. Dan meracik antara bid'ah
Qadariyah dengan bid'ah Mu'aththilah[2] dan ahli ta'wil. Kemudian ia
menyebarkan pemikiran rancu (syubhat) di tengah-tengah kaum muslimin.
Sehingga para ulama Salaf memberi peringatan kepadanya dan menghimbaunya
untuk segera bertaubat. Namun ia menolak bertaubat. Para ulama membantah
pendapat-pendapat Al-Ja'd ini dan menegakkan hujjah atasnya, namun ia tetap
bersikeras. Maka semakin banyak kaum muslimin yang terkena racun
pemikirannya, para ulama memutuskan hukuman mati atasnya demi tercegahnya
fitnah (kesesatan). Ia pun dibunuh oleh Khalid bin Abullah Al-Qasri. Kisah
terbunuhnya Al-Ja'd ini sangat mashur, Khalid berpidato seusai menunaikan
shalat 'Idul Adha : "Sembelihlah hewan kurban kalian, semoga Allah menerima
sembelihan kalian, sementara aku akan menyembelih Al-Ja'd bin Dirham, karena
telah mendakwahkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak menjadikan Ibrahim
sebagai khalilNya dan Allah tidak mengajak Nabi Musa berbicara ...... dan
seterusnya". Kemudian beliau turun dari mimbar dam menyembelihnya. Peristiwa
ini terjadi pada tahun 124H.

[5] Sesudah peristiwa itu, api kesesatan sempat padam beberapa waktu. Hingga
kemudian marak kembali melalui tangan Al-Jahm bin Shafwan. Yang mengoleksi
bid'ah dan kesesatan generasi pendahulunya serta menambah bid'ah baru.
Akibat ulahnya muncullah bid'ah Jahmiyah serta kesesatan dan penyimpangan
kufur lainnya yang ditularkannya. Al-Jahm bin Shafwan ini banyak mengambil
ucapan-ucapan Ghailan dan Al-Ja'd, bahkan ia menambah lagi dengan bid'ah
ta'thil (penolakan sifat-sifat Allah), bid'ah ta'wil, bid'ah irja', bid'ah
Jabariyah[3], bid'ah Kalam[4], tidak meyakini Allah bersemayam di atas Arsy,
menolak sifat Al-'Uluw (yang maha tinggi) bagi Allah, menolak ru'yah[5].
Al-Jahm dihukum mati pada tahun 128H

[6] Dalam waktu yang bersamaan, munculah pula Washil bin Atha' dan Amr bin
Ubeid. Mereka berdua meletakkan dasar-dasar pemikiran Mu'tazilah Qadariyah.

Setelah itu terbukalah pintu perpecahan. Kelompok Rafidhah mulai berani
menyatakan terang-terangan aqidah dan keyakinannya. Kemudian sekte Syi'ah
ini terpecah belah menjadi beberapa golongan. Lalu muncullah kaum
Musyabbihah[6] dari kalangan Syi'ah melalui tokoh-tokohnya seperti Daud
Al-Jawaribi, Hisyam bin Al-Hakam, Hisyam bin Al-Jawaliqi dan lain-lain.
Mereka itulah peletak dasar ajaran Musyabbihah dan pelopornya. Mereka juga
termasuk pengikut ajaran Syi'ah.

Kemudian muncullah Al-Mutakallimun (Ahli Kalam) seperti Al-Kullabiyah[7],
Al-Asy'ariyah[8] dan Al-Maturidiyah. Lalu muncul pula aliran-aliran sufi dan
ahli-ahli filsafat. dengan demikian, pintu perpecahan terbuka luas bagi
setiap orang sesat, ahli bid'ah dan pengiku hawa nafsu. Sehingga
tertancaplah dasar-dasar perpecahan di antara kaum muslimin sekarang ini.

Sampai hari ini, ekses-ekses perpecahan masih terlihat di antara kaum
muslimin. Bahkan terus bertambah dengan muculnya bid'ah-bid'ah dan
penyimpangan-penyimpangan baru di samping perpecahan yang sudah ada, sejalan
dengan hawa nafsu manusia yang sudah begitu akrab dengan bid'ah kesesatan.

Sebagian orang mengira bahwa kelompok-kelompok bid'ah ini sudah sirna dan
sudah menjadi koleksi sejarah masa lalu. Entah karena kejahilan mereka atau
karena pura-pura tidak tahu! Asumsi seperti itu jelas keliru. Setiap
golongan sesat yang besar dan berbahaya di masa lalu masih tetap ada sampai
sekarang di tengah-tengah kaum muslimin. Bahkan semakin banyak, semakin
berbahaya dan semakin menyimpang. Rafidhah dengan sekte-sektenya yang batil
serta golongan Syi'ah lainnya, Khawarij, Qadariyah, Mu'tazilah, Jahmiyah,
Ahli Kalam, Kaum Sufi dan Ahli Filsafat, masih berusaha menyesatkan umat.
Bahkan mereka mulai berani menampakkan taring, mempromosikan aqidah mereka
dengan cara yang lebih keji dari pada sebelumnya. Karena pada hari ini
mereka mengklaim ajaran mereka sebagai ilmu pengetahun, wawasan dan
pemikiran. Disamping minimnya pemaham kaum muslimin tentang agama mereka dan
kejahilan mereka tentang aqidah yang benar. Cukuplah Allah sebagai pelindung
kita, dan Dia adalah sebaik-baik pelindung.


[Disalin dari kitab Al-Iftiraaq Mafhumuhu ashabuhu subulul wiqayatu minhu,
edisi Indonesia Perpecahan Umat ! Etiologi & Solusinya, oleh Dr. Nashir bin
Abdul Karim Al-'Aql, terbitan Darul Haq, penerjemah Abu Ihsan Al-Atsari]
_________
Foote Note
[1] Pemikiran bahwa Iman itu statis, tidak bertambah dan tidak berkurang 
[2] Orang-orang yang menolak sifat-sifat Allah
[3] Radikal dalam penetapan takdir hingga meyakini bahwa manusia tidak
ikhtiar dalam amal perbuatannya
[4] Yaitu meyakini bahwa Al-Qur'an adalah mahluk bukan Kalamullah
[5] Yaitu menolak meyakini Allah dalat dilihat kaum mukminin di Surga pada
hari Kiamat
[6] Musyabbihah adalah orang-orang yang menyerupakan sifat Allah dengan
sifat makhluknya
[7] Pengikut Ibnu Kullab. Inti aqidah mereka ialah hanya menetapkan beberapa
sifat Allah saja yang menurut mereka dapat diterima falsafah akal mereka.
[8] Pengikut Abul Hasan Al-Asy'ari yang inti aqidah mereka sama dengan
Al-Kullabiyah dengan sedikit perbedaan-perbedaan

 

SIFAT-SIFAT KHAWARIJ


Oleh
Muhammad Abdul Hakim Hamid
Bagian Pertama dari Dua Tulisan [1/2]




MUQADDIMAH
Khawarij mempunyai ciri-ciri dan sifat-sifat yang menonjol. Sebaik-baik
orang yang meluruskan sifat-sifat ini adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengabarkan
sifat-sifat kaum ini dalam hadits-haditsnya yang mulia. 

Disini akan dipaparkan penjelasan sifat-sifat tersebut dengan sedikit
keterangan, hal itu mengingat terdapat beberapa perkara penting, antara lain
:
Dengan mengetahui sifat-sifat ini akan terbukalah bagi kita ciri-ciri ghuluw
(berlebih-lebihan) dan pelampauan batas mereka, dan tampaklah di mata kita
sebab-sebab serta alasan-alasan pendorong yang menimbulkan hal itu. Dalam
hal yang demikian itu akan menampakkan faedah yang tak terkira.

Keberadaan mereka akan tetap ada hingga di akhir zaman, seperti dikabarkan
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam satu riwayat. Oleh karenanya
mengetahui sifat-sifat mereka adalah merupakan suatu perkara yang penting.
Dengan mengetahui sifat mereka dan mengenali keadaannya akan menjaga diri
dari terjatuh ke dalamnya. Mengingat barangsiapa yang tidak mengetahui
keburukan mereka, akan terperangkap di dalamnya. Dengan mengetahui sifat
mereka, akan menjadikan kita waspada terhadap orang-orang yang mempunyai
sifat-sifat tersebut, sehingga kita dapat mengobati orang yang tertimpa
dengannya.

Berkenan dengan hal ini akan kami paparkan sifat-sifat tersebut berdasarkan
hadits-hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang mulia.


[1]. SUKA MENCELA DAN MENGANGGAP SESAT
Sifat yang paling nampak dari Khawarij adalah suka mencela terhadap para
Aimatul Huda (para Imam), menganggap mereka sesat, dan menghukum atas mereka
sebagai orang-orang yang sudah keluar dari keadilan dan kebenaran. Sifat ini
jelas tercermin dalam pendirian Dzul Khuwaishirah terhadap Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan perkataanya : "Wahai Rasulullah berlaku
adillah". [Hadits Riwayat Bukhari VI/617, No. 3610, VIII/97, No. 4351,
Muslim II/743-744 No. 1064, Ahmad III/4, 5, 33, 224].

Dzul Khuwaishirah telah menganggap dirinya lebih wara' daripada Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam dan menghukumi Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam sebagai orang yang curang dan tidak adil dalam pembagian. Sifat
yang demikian ini selalu menyertai sepanjang sejarah. Hal itu mempunyai efek
yang sangat buruk dalam hukum dan amal sebagai konsekwensinya. Berkata Ibnu
Taimiyah tentang Khawarij :"Inti kesesatan mereka adalah keyakinan mereka
berkenan dengan Aimmatul Huda (para imam yang mendapat petunjuk) dan jama'ah
muslimin, yaitu bahwa Aimmatul Huda dan jama'ah muslimin semuanya sesat.
Pendapat ini kemudian di ambil oleh orang-orang yang keluar dari sunnah,
seperti Rafidhah dan yang lainnya. Mereka mengkatagorikan apa yang mereka
pandang kedzaliman ke dalam kekufuran". [Al-Fatawa : XXVIII/497].

[2]. BERPRASANGKA BURUK [SU'UDZAN].
Ini adalah sifat Khawarij lainnya yang tampak dalam hukum syaikh mereka Dzul
Khuwaishirah si pandir dengan tuduhannya bahwa Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam tidak ikhlas dengan berkata :

"Artinya : Demi Allah, sesungguhnya ini adalah suatu pembagian yang tidak
adil dan tidak dikehendaki di dalamnya wajah Allah". [Hadits Riwayat Muslim
II/739, No. 1062, Ahmad IV/321].

Dzul Khuwaishirah ketika melihat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
membagi harta kepada orang-orang kaya, bukan kepada orang-orang miskin, ia
tidak menerimanya dengan prasangka yang baik atas pembagian tersebut.

Ini adalah sesuatu yang mengherankan. Kalaulah tidak ada alasan selain
pelaku pembagian itu adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
cukuplah hal itu mendorong untuk berbaik sangka. Akan tetapi Dzul
Kuwaishirah enggan untuk itu, dan berburuk sangka disebabkan jiwanya yang
sakit. Lalu ia berusaha menutupi alasan ini dengan keadilan. Yang demikian
ini mengundang tertawanya iblis dan terjebak dalam perangkapnya.

Seharusnya seseorang itu introspeksi, meneliti secara cermat dorongan tindak
tanduk dan maksud tujuan serta waspada terhadap hawa nafsunya. Hendaklah
berjaga-jaga terhadap manuver-manuver iblis, karena dia banyak
menghias-hiasi perbuatan buruk dengan bungkus indah dan rapi, dan
membaguskan tingkah laku yang keji dengan nama dasar-dasar kebenaran yang
mengundang seseorang untuk menentukan sikap menjaga diri dan menyelamatkan
diri dari tipu daya setan dan perangkap-perangkapnya.

Jika Dzul Khuwaishirah mempunyai sedikit saja ilmu atau sekelumit pemahaman,
tentu tidak akan terjatuh dalam kubangan ini.

Berikut kami paparkan penjelasan dari para ulama mengenai keagungan
pembagian Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan hikmahnya yang tinggi dalam
menyelesaikan perkara.

Berkata Syaikh Islam Ibnu Taimiyah :" Pada tahun peperangan Hunain, beliau
Shallallahu 'alaihi wa sallam membagi ghanimah (rampasan perang) Hunain pada
orang-orang yang hatinya lemah (muallafah qulubuhum) dari penduduk Najd dan
bekas tawanan Quraisy seperti 'Uyainah bin Hafsh, dan beliau tidak memberi
kepada para Muhajirin dan Anshar sedikitpun.

Maksud Beliau memberikan kepada mereka adalah untuk mengikat hati mereka
dengan Islam, karena keterkaitan hati mereka dengannya merupakan maslahat
umum bagi kaum muslimin, sedangkan yang tidak beliau beri adalah karena
mereka lebih baik di mata Beliau dan mereka adalah wali-wali Allah yang
bertaqwa dan seutama-utamanya hamba Allah yang shalih setelah para Nabi dan
Rasul-rasul.

Jika pemberian itu tidak dipertimbangkan untuk maslahat umum, maka Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak akan memberi pada aghniya', para
pemimpin yang dita'ati dalam perundangan dan akan memberikannya kepada
Muhajirin dan Anshar yang lebih membutuhkan dan lebih utama.

Oleh sebab inilah orang-orang Khawarij mencela Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam dan dikatakan kepada beliau oleh pelopornya :" Wahai Muhammad,
berbuat adillah. Sesungguhnya engkau tidak berlaku adil ". dan perkataannya
:" Sesungguhnya pembagian ini tidak dimaksudkan untuk wajah Allah .....".
Mereka, meskipun banyak shaum (berpuasa), shalat, dan bacaan Al-Qur'annya,
tetapi keluar dari As-Sunnah dan Al-Jama'ah.

Memang mereka dikenal sebagai kaum yang suka beribadah, wara' dan zuhud,
akan tetapi tanpa disertai ilmu, sehingga mereka memutuskan bahwa pemberian
itu semestinya tidak diberikan kecuali kepada orang-orang yang berhajat,
bukan kepada para pemimpin yang dita'ati dan orang-orang kaya itu, jika di
dorong untuk mencari keridhaan selain Allah -menurut persangkaan mereka-.

Inilah kebodohan mereka, karena sesungguhnya pemberian itu menurut kadar
maslahah agama Allah. Jika pemberian itu akan semakin mengundang keta'atan
kepada Allah dan semakin bermanfaat bagi agama-Nya, maka pemberian itu jauh
lebih utama. Pemberian kepada orang-orang yang membutuhkan untuk menegakkan
agama, menghinakan musuh-musuhnya, memenangkan dan meninggikannya lebih
agung daripada pemberian yang tidak demikian itu, walaupun yang kedua lebih
membutuhkan". [Lihat Majmu' Fatawa : XXVIII/579-581, dengan sedikit
diringkas].

Untuk itu hendaklah seseorang menggunakan bashirah, lebih memahami fiqh
dakwah dan maksud-maksud syar'i, sehingga tidak akan berada dalam kerancuan
dan kebingungan yang mengakibatkan akan terhempas, hilang dan berburuk
sangka serta mudah mencela disertai dengan menegakkan kewajiban-kewajiban
yang terpuji dan mulia.

[3]. BERLEBIHAN DALAM BERIBADAH.
Sifat ini telah ditunjukkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
dalam sabdanya :

"Artinya : Akan muncul suatu kaum dari umatku yang membaca Al-Qur'an, yang
mana bacaan kalian tidaklah sebanding bacaan mereka sedikitpun, tidak pula
shalat kalian sebanding dengan shalat mereka sedikitpun, dan tidak pula
puasa kalian sebanding dengan puasa mereka sedikitpun". [Muslim II/743-744
No. 1064].

Berlebihan dalam ibadah berupa puasa, shalat, dzikir, dan tilawah Al-Qur'an
merupakan perkara yang masyhur di kalangan orang-orang Khawarij. Dalam Fathu
Al-Bari, XII/283 disebutkan :"Mereka (Khawarij) dikenal sebagai qura' (ahli
membaca Al-Qur'an), karena besarnya kesungguhan mereka dalam tilawah dan
ibadah, akan tetapi mereka suka menta'wil Al-Qur'an dengan ta'wil yang
menyimpang dari maksud yang sebenarnya. Mereka lebih mengutamakan
pendapatnya, berlebih-lebihan dalam zuhud dan khusyu' dan lain sebagainya".

Ibnu Abbas juga telah mengisyaratkan pelampauan batas mereka ini ketika
pergi untuk mendebat pendapat mereka. Beliau berkata :"Aku belum pernah
menemui suatu kaum yang bersungguh-sungguh, dahi mereka luka karena
seringnya sujud, tangan mereka seperti lutut unta, dan mereka mempunyai
gamis yang murah, tersingsing, dan berminyak. Wajah mereka menunjukan kurang
tidur karena banyak berjaga di malam hari". [Lihat Tablis Iblis, halaman
91]. Pernyataan ini menunjukkan akan ketamakan mereka dalam berdzikir dengan
usaha yang keras.

Berkata Ibnul Jauzi :"Ketika Ali Radhiyallahu 'Anhu meninggal,
dikeluarkanlah Ibnu Maljam untuk dibunuh. Abdullah bin Ja'far memotong kedua
tangan dan kedua kakinya, tetapi ia tidak mengeluh dan tidak berbicara. Lalu
dicelak kedua matanya dengan paku panas, ia pun tidak mengeluh bahkan ia
membaca :

"Artinya : Bacalah dengan (menyebut) nama Rabb-mu yang menciptakan. Dia
telah menciptakan manusia dari segumpal darah". [Al-'Alaq : 1-2].

Hingga selesai, walaupun kedua matanya meluluhkan air mata. Kemudian setelah
matanya diobati, ia akan di potong lidahnya, baru dia mengeluh. Ketika
ditanyakan kepadanya :"Mengapa engkau mengeluh ?. "Ia menjawab ;"Aku tidak
suka bila di dunia menjadi mayat dalam keadaan tidak berdzikir kepada
Allah". Dia adalah seorang yang ke hitam-hitaman dahinya bekas dari sujud,
semoga laknat Allah padanya". [Tablis Iblis, hal. 94-95].

Mekipun kaum Khawarij rajin dalam beribadah, tetapi ibadah ini tidak
bermanfa'at bagi mereka, dan mereka pun tidak dapat mengambil manfaat
darinya. Mereka seolah-olah bagaikan jasad tanpa ruh, pohon tanpa buah,
mengingat ahlaq mereka yang tidak terdidik dengan ibadahnya dan jiwa mereka
tidak bersih karenanya serta hatinya tidak melembut. Padahal disyari'atkan
ibadah adalah untuk itu. Berfirman yang Maha Tinggi :

"Artinya : ....Dan tegakkanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari
(perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar ......". [Al-Ankabut : 45]

"Artinya : ....Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas
orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa". [Al-Baqarah : 183]

Tidaklah orang-orang bodoh tersebut mendapatkan bagian dari qiyamu
al-lail-nya kecuali hanya jaga saja, tidak dari puasanya kecuali lapar saja,
dan tidak pula dari tilawah-nya kecuali parau suaranya.

Keadaan Khawarij ini membimbing kita pada suatu manfaat seperti yang
dikatakan Ibnu Hajar tentangnya :"Tidak cukuplah dalam ta'dil (menganggap
adil) dari keadaan lahiriahnya, walau sampai yang dipersaksikan akan
keadilannya itu pada puncak ibadah, miskin, wara', hingga diketahui keadaan
batinnya". [Lihat Fathu Al-Bari XII/302].


[Dinukil dari kitab Zhahirah al-Ghuluw fi ad-Dien fi al-'Ashri al-Hadits,
hal. 99-104, Muhammad Abdul Hakim Hamid, cet I, th 1991, Daarul Manar
al-Haditsah, Majalah As-Sunnah Edisi 14/Th. ke 2, hal 20-34, penerjemah Aboe
Hawari]

 

SIFAT-SIFAT KHAWARIJ


Oleh
Muhammad Abdul Hakim Hamid
Bagian Terakhir dari Dua Tulisan [2/2]




[4]. KERAS TERHADAP KAUM MUSLIMIN
Sesungguhnya kaum Khawarij dikenal bengis dan kasar, mereka sangat keras dan
bengis terhadap muslimin, bahkan kekasaran mereka telah sampai pada derajat
sangat tercela, yaitu menghalalkan darah dan harta kaum muslimin serta
kehormatannya, mereka juga membunuh dan menyebarkan ketakutan di
tengah-tengah kaum muslimin. Adapun para musuh Islam murni dari kalangan
penyembah berhala dan lainnya, mereka mengabaikan, membiarkan serta tidak
menyakitinya.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberitakan sifat mereka ini
dalam sabdanya :

"Artinya : ....Membunuh pemeluk Islam dan membiarkan penyembah berhala
....". [Hadits Riwayat Bukhari, VI/376, No. 3644, Muslim II/42 No. 1064].

Sejarah telah mencatat dalam lembaran-lembaran hitamnya tentang Khawarij
berkenan dengan cara mereka ini. Di antara kejadian yang mengerikan adalah
kisah sebagai berikut :"Dalam perjalanannya, orang-orang Khawarij bertemu
dengan Abdullah bin Khabab. Mereka bertanya :"Apakah engkau pernah mendengar
dari bapakmu suatu hadits yang dikatakan dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam. Ceritakanlah kepada kami tentangnya". Berkata : "Ya, aku
mendengar dari bapakku, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
menyebutkan tentang fitnah. Yang duduk ketika itu lebih baik dari pada yang
berdiri, yang berdiri lebih baik dari pada yang berjalan, dan yang berjalan
lebih baik dari yang berlari. Jika engkau menemukannya, hendaklah engkau
menjadi hamba Allah yang terbunuh". Mereka berkata :"Engkau mendengar hadits
ini dari bapakmu dan memberitakannya dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam ?". Beliau menjawab :"Ya". Setelah mendengar jawaban tersebut, mereka
mengajaknya ke hulu sungai, lalu memenggal lehernya, maka mengalirlah
darahnya seolah-olah seperti tali terompah. Lalu mereka membelah perut budak
wanitanya dan mengeluarkan isi perutnya, padahal ketika itu sedang hamil.

Kemudian mereka datang ke sebuah pohon kurma yang lebat buahnya di Nahrawan.
Tiba-tiba jatuhlah buah kurma itu dan diambil salah seorang di antara mereka
lalu ia masukkan ke dalam mulutnya. Berkatalah salah seorang di antara
mereka. "Engkau mengambil tanpa dasar hukum, dan tanpa harga (tidak
membelinya dengan sah)". Akhirnya ia pun meludahkannya kembali dari
mulutnya. Salah seorang yang lain mencabut pedangnya lalu
mengayun-ayunkannya. Kemudian mereka melewati babi milik Ahlu Dzimmah, lalu
ia penggal lehernya kemudian di seret moncongnya. Mereka berkata, "Ini
adalah kerusakan di muka bumi". Setelah mereka bertemu dengan pemilik babi
itu maka mereka ganti harganya". [Lihat Tablis Iblis, hal. 93-94].

Inilah sikap kaum Khawarij terhadap kaum muslimin dan orang-orang kafir.
Keras, bengis, kasar terhadap kaum muslimin, tetapi lemah lembut dan
membiarkan orang-orang kafir.

Jadi mereka tidak dapat mengambil manfa'at dari banyaknya tilawah dan dzikir
mereka, mengingat mereka tidak mengambil petunjuk dengan petunjuk-Nya dan
tidak menapaki jalan-jalan-Nya. Padahal sang Pembuat Syari'at telah
menerangkan bahwa syari'atnya itu mudah dan lembut. Dan sesungguhnya yang
diperintahkan supaya bersikap keras terhadap orang kafir dan lemah lembut
terhadap orang beriman. Tetapi orang-orang Khawarij itu membaliknya. [Lihat
Fathul Bari, XII/301].

[5]. SEDIKITNYA PENGETAHUAN MEREKA TENTANG FIQIH.
Sesungguhnya kesalahan Khawarij yang sangat besar adalah kelemahan mereka
dalam penguasaan fiqih terhadap Kitab Allah dan Sunnah Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam. Yang kami maksudkan adalah buruknya pemahaman mereka,
sedikitnya tadabbur dan merasa terikat dengan golongan mereka, serta tidak
menempatkan nash-nash dalam tempat yang benar.

Dalam masalah ini Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menerangkan
kepada kita dalam sabdanya.

"Artinya : ...Mereka membaca Al-Qur'an, tidak melebihi kerongkongannya".

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah mempersaksikan akan banyaknya
bacaan/tilawah mereka terhadap Al-Qur'an, tetapi bersamaan dengan itu mereka
di cela. Kenapa .? Karena mereka tidak dapat mengambil manfaat darinya
disebabkan kerusakan pemahaman mereka yang tumpul dan penggambaran yang
salah yang menimpa mereka. Oleh karenanya mereka tidak dapat membaguskan
persaksiannya terhadap wahyu yang cemerlang dan terjatuh dalam kenistaan
yang abadi.

Berkata Al-Hafidzh Ibnu Hajar :"Berkata Imam Nawawi, bahwa yang dimaksud
yaitu mereka tidak ada bagian kecuali hanya melewati lidah mereka, tidak
sampai pada kerongkongan mereka, apalagi ke hati mereka. Padahal yang
diminta adalah dengan men-tadaburi-nya supaya sampai ke hatinya". [Lihat
Fathul Baari, XII/293].

Kerusakan pemahaman yang buruk dan dangkalnya pemahaman fiqih mereka
mempunyai bahaya yang besar. Kerusakan itu telah banyak membingungkan umat
Islam dan menimbulkan luka yang berbahaya. Dimana mendorong pelakunya pada
pengkafiran orang-orang shalih. menganggap mereka sesat serta mudah mencela
tanpa alasan yang benar. Akhirnya timbullah dari yang demikian itu
perpecahan, permusuhan dan peperangan.

Oleh karena itu Imam Bukhari berkata :"Adalah Ibnu Umar menganggap mereka
sebagai Syiraaru Khaliqah (seburuk-buruk mahluk Allah)". Dan dikatakan bahwa
mereka mendapati ayat-ayat yang diturunkan tentang orang-orang kafir, lalu
mereka kenakan untuk orang-orang beriman". [Lihat Fathul Baari, XII/282].

Ketika Sa'id bin Jubair mendengar pendapat Ibnu Umar itu, ia sangat gembira
dengannya dan berkata :"Sebagian pendapat Haruriyyah yang diikuti
orang-orang yang menyerupakan Allah dengan mahluq (Musyabbihah) adalah
firman Allah Yang Maha Tinggi.

"Artinya : Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah,
maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir". [Al-Maaidah : 44].

Dan mereka baca bersama ayat di atas :

"Artinya : Kemudian orang-orang yang kafir terhadap Rabb-Nya
mempersekutukan". [Al-An'aam : 1].

Jika melihat seorang Imam menghukumi dengan tidak benar, mereka akan berkata
:"Ia telah kafir, dan barangsiapa yang kafir berarti menentang Rabb-Nya dan
telah mempersekutukan-Nya, dengan demikian dia telah musyrik". Oleh karena
itu mereka melawan dan memeranginya. Tidaklah hal ini terjadi, melainkan
karena mereka menta'wil (dengan ta'wil yang keliru, -pen) ayat ini...".

Berkata Nafi':"Sesungguhnya Ibnu Umar jika ditanya tentang Haruriyyah,
beliau menjawab bahwa mereka mengkafirkan kaum muslimin, menghalalkan darah
dan hartanya, menikahi wanita-wanita dalam 'iddahnya. Dan jika di datangkan
wanita kepada mereka, maka salah seorang diantara mereka akan menikahinya,
sekalipun wanita itu masih mempunyai suami. Aku tidak mengetahui seorangpun
yang lebih berhak diperangi melainkan mereka". [Lihat Al-I'tisham,
II/183-184].

Imam Thabari meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Ibnu Abbas
radhiyallahu 'anhuma bahwa ia menyebutkan tentang Khawarij dan apa yang ia
dapati ketika mereka membaca Al-Qur'an dengan perkataannya :"Mereka beriman
dengan yang muhkam dan binasa dalam ayat mutasyabih". [Lihat Tafsir
Ath-Thabari, III/181]

Pemahaman mereka yang keliru itu mengantarkan mereka menyelisihi Ijma' Salaf
dalam banyak perkara, hal itu dikarenakan oleh kebodohan mereka dan
kekaguman terhadap pendapat mereka sendiri, serta tidak bertanya kepada Ahlu
Dzikri dalam perkara yang mereka samar atasnya.

Sesungguhnya kerusakan pemahaman mereka yang dangkal dan sedikitnya
penguasaan fiqih menjadikan mereka sesat dalam istimbat-nya, walaupun mereka
banyak membaca dan berdalil dengan nash-nash Al-Qur'an dan Sunnah Nabawi,
akan tetapi tidak menempatkan pada tempatnya. Benarlah sabda Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika memberitakan tentang mereka.

"Artinya : ....Mereka membaca Al-Qur'an, mereka menyangka hal itu untuk
mereka padahal atas mereka". [Hadits Riwayat Muslim].

"Artinya : Mereka berkata dengan ucapan sebaik-baik mahluq dan membaca
Al-Qur'an, tetapi tidak melebihi dari kerongkongan mereka". [Bukhari, VI/618
No. 3611, Muslim, II/746 No. 1066].

"Artinya : Membaguskan perkataannya tetapi buruk perbuatannya .... Mengajak
kepada kitab Allah, tetapi tidaklah mereka termasuk di dalamnya sedikit
pun". [Hadits Riwayat Ahmad, III/224]

[6]. MUDA UMURNYA DAN BERAKAL BURUK.
Termasuk perkara yang dipandang dapat mengeluarkan dari jalan yang lurus dan
penuh petunjuk adalah umur yang masih muda (hadaatsah as-sinn) dan berakal
buruk (safahah al-hil). Yang demikian itu sesuai dengan sabda beliau
Shallallahu 'alaihi wa sallam.

"Artinya : Akan keluar pada akhir zaman suatu kaum, umurnya masih muda,
sedikit ilmunya, mereka mengatakan dari sebaik-baik manusia. Membaca
Al-Qur'an tidak melebihi kerongkongannya. Terlepas dari agama seperti
terlepasnya anak panah dari busurnya". [Hadits Riwayat Bukhari, VI/618, No.
3611, Muslim, II/746 No. 1066].

Berkata Al-Hafidz Ibnu Hajar :" Ahdaatsul Asnaan artinya "mereka itu pemuda
(syabaab)", dan yang dimaksud dengan sufaha-a al-ahlaam adalah "akal mereka
rusak ('uquluhum radi-ah). Berkata Imam Nawawi ;"Sesungguhnya tatsabut
(kemapanan) dan bashirah (wawasan) yang kuat akan muncul ketika usianya
sempurna, banyak pengalaman serta kuat akalnya". [Lihat Fathul Baari,
XII/287].

Umur yang masih muda, jika dibarengi dengan akal yang rusak akan menimbulkan
perbuatan yang asing dan tingkah laku yang aneh, antara lain :
Mendahulukan pendapat mereka sendiri daripada pendapat Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabatnya yang mulia Radhiyallahu
'alaihim.

Meyakini bahwa diri merekalah yang benar, sedangkan para imam yang telah
mendapat petunjuk itu salah.

Mengkafirkan sebagian atas sebagian yang lain hanya karena perbedaan yang
kecil saja.

Ibnul Jauzi menggambarkan kepandiran dan kerusakan mereka dengan
perkataannya :"Mereka menghalalkan darah anak-anak, tetapi tidak
menghalalkan makan buah tanpa dibeli. Berpayah-payah untuk beribadah dengan
tidak tidur pada malam hari (untuk shalat lail) serta mengeluh ketika hendak
di potong lidahnya karena khawatir tidak dapat berdzikir kepada Allah,
tetapi mereka membunuh Imam Ali Radhiyallahu 'anhu dan menghunus pedang
kepada kaum muslimin (sebagaimana keluhan Ibnu Maljam -pen). Untuk itu tidak
mengherankan bila mereka puas terhadap ilmu yang telah dimiliki dan merasa
yakin bahwa mereka lebih pandai/alim daripada Ali Radhiyallahu 'anhu. Hingga
Dzul Kwuaishirah berkata kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
:"Berbuat adillah, sesungguhnya engkau tidak adil". Tidak sepatutnya Iblis
dicontoh dalam perbuatan keji seperti ini. Kami berlindung kepada Allah dari
segala kehinaan". [Lihat Tablis Iblis, hal. 95].

Wallahu a'lam bish-Shawab


[Dinukil dari kitab Zhahirah al-Ghuluw fi ad-Dien fi al-'Ashri al-Hadits,
hal 99-104, Muhammad Abdul Hakim Hamid, cet I, th 1991, Daarul Manar
al-Haditsah, Majalah As-Sunnah Edisi 14/Th. ke-2, penerjemah Aboe Hawari]
______
Maraji' :
[1]. Majmu' Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dikumpulkan dan di susun
oleh Abdurrahman bin Qasim dan anaknya, Daarul Ifta', Riyadh, cet. I tahun
1397H.
[2]. Fathu al-Baari bi Syarhi Shahih al-Bukhari, Imam al-Hafidzh Ahmad bin
Ali bi Hajar Majdi al-Asqalani, susunan Muhammad Fu'ad Abdul Baaqi, penerbit
: Salafiyah.
[3]. Shahih Muslim bin Syarhi an-Nawawi, Abu Zakariya Yahya bin Syarf
an-Nawawi Daarul at-Turats al-Arabi, Beirut, cet. II. Tahun 1392H.
[4]. Tablis Iblis, oleh Imam Jamaluddin Abdul Farj Abdurahman bin al Jauzi,
cet. Daarul Kutub al-'Ilmiyah-Beirut, cet. II Tahun 1368H
[5]. Al-Bidayah wa an-Nihayah, oleh al-Hafidzh 'Imaddudin Abul Fida' Ismail
bin Katsir, cet. Maktabah al-Ma'arif, Beirut, cet. II Tahun 1977M.
[6]. Al-I'tisham, al-'Allaamah Abu ishaq Ibrahim bin Musa bin Muhammad
al-Lakhami asy-Syathibi, Tahqiq Muhammad Rasyid Ridha, cet. al-Maktabah
at-Tijariyah al-Kubra, Qaahirah.
[7]. Jami' al-Bayan 'an Ta'wil Aayi al-Qur'an, al-Imam Abu Ja'far Muhammad
bin Jarir Ath-Tabhari al-Halabi, Qahirah.




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Great things are happening at Yahoo! Groups.  See the new email design.
http://us.click.yahoo.com/TISQkA/hOaOAA/yQLSAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

HADIRILAH! SILATURAHMI AKBAR-3 ULAMA MADINAH NABAWIYAH & UMMAT, MASJID ISTIQLAL 
JAKARTA, AHAD 20 JUMADIL TSANI 1427H/16 JULI 2006M, JAM 09.00 WIB S/D DZUHUR, 
BERSAMA SYAIKH PROF ABDURROZAK BIN ABDUL MUHSIN AL'ABBAD, SYAIKH DR SULAIMAN 
BIN SALIIMULLAH AR-RUHAILY, ULAMA SEKALIGUS GURU BESAR UNIVERSITAS ISLAM 
MADINAH. INFO : 08121055616, 08121055891, 08567505496
Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke