HADITS-HADITS PALSU TENTANG KEUTAMAAN SHALAT DAN PUASA
DI BULAN RAJAB

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
sumber http://www.almanhaj.or.id

Apabila kita memperhatikan hari-hari, pekan-pekan,
bulan-bulan,
sepanjang tahun serta malam dan siangnya, niscaya kita
akan mendapatkan bahwa Allah Yang Maha Bijaksana
mengistimewakan sebagian dari sebagian lainnya dengan
keistimewaan dan keutamaan tertentu. Ada bulan yang
dipandang lebih utama dari bulan lainnya, misalnya
bulan Ramadhan dengan kewajiban puasa pada siangnya
dan sunnah menambah ibadah pada malamnya. Di antara
bulan-bulan itu ada pula yang dipilih sebagai bulan
haram atau bulan yang dihormati, dan diharamkan
berperang pada bulan-bulan itu.

Allah juga mengkhususkan hari Jum?at dalam sepekan
untuk berkumpul
shalat Jum?at dan mendengarkan khutbah yang berisi
peringatan dan nasehat.

Ibnul Qayyim menerangkan dalam kitabnya, Zaadul
Ma?aad,[1] bahwa Jum?at
mempunyai lebih dari tiga puluh keutamaan, kendatipun
demikian
Rasulullah Shallallahu ?alaihi wa sallam melarang
mengkhususkan ibadah pada malam Jum?at atau puasa pada
hari Jum?at, sebagaimana sabda beliau
Shallallahu ?alaihi wa sallam.

?Artinya : Dari Abu Hurairah radhiyallahu ?anhu, dari
Nabi Shallallahu
?alaihi wa sallam, beliau Shallallahu ?alaihi wa
sallam bersabda:
Janganlah kalian mengkhususkan malam Jum?at untuk
beribadah dari malam-malam yang lain dan jangan pula
kalian mengkhususkan puasa pada hari Jum?at dari
hari-hari yang lainnya, kecuali bila bertepatan (hari
Jum?at itu) dengan puasa yang biasa kalian berpuasa
padanya.? [HR. Muslim (no. 1144 (148)) dan Ibnu Hibban

(no. 3603), lihat Silsilatul Ahaadits ash-Shahihah
(no. 980)]

Allah Yang Mahabijaksana telah mengutamakan sebagian
waktu malam dan
siang dengan menjanjikan terkabulnya do?a dan
terpenuhinya permintaan.
Demikian Allah mengutamakan tiga generasi pertama
sesudah diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ?alaihi wa
sallam dan mereka dianggap sebagai generasi terbaik
apabila dibandingkan dengan generasi berikutnya sampai
hari Kiamat. Ada beberapa tempat dan masjid yang
diutamakan oleh Allah dibandingkan tempat dan masjid
lainnya. Semua hal tersebut kita ketahui berdasarkan
hadits-hadits yang shahih dan contoh yang benar.

Adapun tentang bulan Rajab, keutamaannya dalam masalah
shalat dan puasa
padanya dibanding dengan bulan-bulan yang lainnya,
semua haditsnya
sangat lemah dan palsu. Oleh karena itu tidak boleh
seorang Muslim
mengutamakan dan melakukan ibadah yang khusus pada
bulan Rajab.

Di bawah ini akan saya berikan contoh hadits-hadits
palsu tentang
keutamaan shalat dan puasa di bulan Rajab.

HADITS PERTAMA
?Artinya : Rajab bulan Allah, Sya?ban bulanku dan
Ramadhan adalah bulan
ummatku?

Keterangan: HADITS INI ? MAUDHU?

Kata Syaikh ash-Shaghani (wafat th. 650 H): ?Hadits
ini maudhu?.?
[Lihat Maudhu?atush Shaghani (I/61, no. 129)]

Hadits tersebut mempunyai matan yang panjang, lanjutan
hadits itu ada
lafazh:

?Artinya : Janganlah kalian lalai dari (beribadah)
pada malam Jum?at
pertama di bulan Rajab, karena malam itu Malaikat
menamakannya Raghaaib...?

Keterangan: HADITS INI MAUDHU?

Kata Ibnul Qayyim (wafat th. 751 H): ?Hadits ini
diriwayatkan oleh
?Abdur Rahman bin Mandah dari Ibnu Jahdham, telah
menceritakan kepada kami ?Ali bin Muhammad bin Sa?id
al-Bashry, telah menceritakan kepada kami Khalaf bin
?Abdullah as-Shan?any, dari Humaid Ath-Thawil dari
Anas, secara marfu?.
[Al-Manaarul Muniif fish Shahih wadh Dha?if (no.
168-169)]

Kata Ibnul Jauzi (wafat th. 597 H): ?Hadits ini palsu
dan yang tertuduh
memalsukannya adalah Ibnu Jahdham, mereka menuduh
sebagai pendusta. Aku
telah mendengar Syaikhku Abdul Wahhab al-Hafizh
berkata: ?Rawi-rawi
hadits tersebut adalah rawi-rawi yang majhul (tidak
dikenal), aku sudah
periksa semua kitab, tetapi aku tidak dapati biografi
hidup mereka.?
[Al-Maudhu?at (II/125), oleh Ibnul Jauzy]

Imam adz-Dzahaby berkata: ? ?Ali bin ?Abdullah bin
Jahdham az-Zahudi,
Abul Hasan Syaikhush Shuufiyyah pengarang kitab
Bahjatul Asraar dituduh
memalsukan hadits.?

Kata para ulama lainnya: ?Dia dituduh membuat hadits
palsu tentang
shalat ar-Raghaa'ib.? [Periksa: Mizaanul I?tidal
(III/142-143, no. 5879)]

HADITS KEDUA
?Artinya : Keutamaan bulan Rajab atas bulan-bulan
lainnya seperti
keutamaan al-Qur'an atas semua perkataan, keutamaan
bulan Sya?ban seperti keutamaanku atas para Nabi, dan
keutamaan bulan Ramadhan seperti keutamaan Allah atas
semua hamba.?

Keterangan: HADITS INI MAUDHU?

Kata al Hafizh Ibnu Hajar al-?Asqalany: ?Hadits ini
palsu.? [Lihat
al-Mashnu? fii Ma?rifatil Haditsil Maudhu? (no. 206,
hal. 128), oleh
Syaikh Ali al-Qary al-Makky (wafat th. 1014 H)]

HADITS KETIGA:
?Artinya : Barangsiapa shalat Maghrib di malam pertama
bulan Rajab,
kemudian shalat sesudahnya dua puluh raka?at, setiap
raka?at membaca al-Fatihah dan al-Ikhlash serta salam
sepuluh kali. Kalian tahu ganjarannya? Sesungguhnya
Jibril mengajarkan kepadaku demikian.? Kami berkata:
?Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui, dan
berkata: ?Allah akan pelihara dirinya, hartanya,
keluarga dan anaknya serta diselamatkan dari adzab
Qubur dan ia akan melewati as-Shirath seperti kilat
tanpa dihisab, dan tidak disiksa.??

Keterangan: HADITS MAUDHU?

Kata Ibnul Jauzi: ?Hadits ini palsu dan kebanyakan
rawi-rawinya adalah
majhul (tidak dikenal biografinya).? [Lihat
al-Maudhu?at Ibnul Jauzy
(II/123), al-Fawaa'idul Majmu?ah fil Ahaadits
Maudhu?at oleh
as-Syaukany (no. 144) dan Tanziihus Syari?ah
al-Marfu?ah ?anil Akhbaaris Syanii?ah al-Maudhu?at
(II/89), oleh Abul Hasan ?Ali bin Muhammad bin ?Araaq
al-Kinani (wafat th. 963 H).]

HADITS KEEMPAT
?Artinya : Barangsiapa puasa satu hari di bulan Rajab
dan shalat empat
raka?at, di raka?at pertama baca ?ayat Kursiy? seratus
kali dan di
raka?at kedua baca ?surat al-Ikhlas? seratus kali,
maka dia tidak mati hingga melihat tempatnya di Surga
atau diperlihatkan kepadanya (sebelum ia mati)?

Keterangan: HADITS INI MAUDHU?

Kata Ibnul Jauzy: ?Hadits ini palsu, dan rawi-rawinya
majhul serta
seorang perawi yang bernama ?Utsman bin ?Atha? adalah
perawi matruk menurut para Ahli Hadits.? [Al-Maudhu?at
(II/123-124).]

Menurut al-Hafizh Ibnu Hajar al-?Asqalany, ?Utsman bin
?Atha? adalah
rawi yang lemah. [Lihat Taqriibut Tahdziib (I/663 no.
4518)]

HADITS KELIMA
?Artinya : Barangsiapa puasa satu hari di bulan Rajab
(ganjarannya)
sama dengan berpuasa satu bulan.?

Keterangan: HADITS INI SANGAT LEMAH

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Hafizh dari Abu Dzarr
secara marfu?.
Dalam sanad hadits ini ada perawi yang bernama
al-Furaat bin as-Saa'ib,
dia adalah seorang rawi yang matruk. [Lihat
al-Fawaa-id al-Majmu?ah (no. 290)]
Kata Imam an-Nasa'i: ?Furaat bin as-Saa'ib Matrukul
hadits.? Dan kata
Imam al-Bukhari dalam Tarikhul Kabir: ?Para Ahli
Hadits meninggalkannya, karena dia seorang rawi
munkarul hadits, serta dia termasuk rawi yang matruk
kata Imam ad-Daraquthni.? [Lihat adh-Dhu?afa wa
Matrukin oleh Imam an-Nasa'i (no.
512), al-Jarh wat Ta?dil (VII/80), Mizaanul I?tidal
(III/341) dan
Lisaanul Mizaan (IV/430).]

HADITS KEENAM
?Artinya : Sesungguhnya di Surga ada sungai yang
dinamakan ?Rajab?
airnya lebih putih dari susu dan lebih manis dari
madu, barangsiapa yang puasa satu hari pada bulan
Rajab maka Allah akan memberikan minum kepadanya dari
air sungai itu.?

Keterangan: HADITS INI BATHIL

Hadits ini diriwayatkan oleh ad-Dailamy (I/2/281) dan
al-Ashbahany di
dalam kitab at-Targhib (I-II/224) dari jalan Mansyur
bin Yazid al-Asadiy telah menceritakan kepada kami
Musa bin ?Imran, ia berkata: ?Aku mendengar Anas bin
Malik berkata, ...?

Imam adz-Dzahaby berkata: ?Mansyur bin Yazid al-Asadiy
meriwayatkan
darinya, Muhammad al-Mughirah tentang keutamaan bulan
Rajab. Mansyur bin Yazid adalah rawi yang tidak
dikenal dan khabar (hadits) ini adalah bathil.? [Lihat
Mizaanul I?tidal (IV/ 189)]

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany berkata: ?Musa
bin ?Imraan adalah
majhul dan aku tidak mengenalnya.? [Lihat Silsilah
Ahaadits
adh-Dha?ifah wal
Maudhu?ah (no. 1898)]

HADITS KETUJUH.
?Artinya : Barangsiapa berpuasa tiga hari pada bulan
Rajab, dituliskan
baginya (ganjaran) puasa satu bulan, barangsiapa
berpuasa tujuh hari
pada bulan Rajab, maka Allah tutupkan baginya tujuh
buah pintu api Neraka, barangsiapa yang berpuasa
delapan hari pada bulan Rajab, maka Allah membukakan
baginya delapan buah pintu dari pintu-pintu Surga. Dan

barang siapa puasa nishfu (setengah bulan) Rajab, maka
Allah akan menghisabnya dengan hisab yang mudah.?

Keterangan: HADITS INI PALSU

Hadits ini termaktub dalam kitab al-Fawaa'idul
Majmu?ah fil Ahaadits
al-Maudhu?ah (no. 288). Setelah membawakan hadits ini
asy-Syaukani
berkata:
?Suyuthi membawakan hadits ini dalam kitabnya,
al-Laaliy al-Mashnu?ah,
ia berkata: ?Hadits ini diriwayatkan dari jalan Amr
bin al-Azhar dari
Abaan dari Anas secara marfu?.??

Dalam sanad hadits tersebut ada dua perawi yang sangat
lemah:

[1]. ?Amr bin al-Azhar al-?Ataky.
Imam an-Nasa-i berkata: ?Dia Matrukul Hadits.?
Sedangkan kata Imam
al-Bukhari: ?Dia dituduh sebagai pendusta.? Kata Imam
Ahmad: ?Dia
sering memalsukan hadits.? [Periksa, adh-Dhu?afa wal
Matrukin (no. 478) oleh Imam an-Nasa-i, Mizaanul
I?tidal (III/245-246), al-Jarh wat Ta?dil (VI/221) dan
Lisaanul Mizaan (IV/353)]

[2]. Abaan bin Abi ?Ayyasy, seorang Tabi?in shaghiir.
Imam Ahmad dan an-Nasa-i berkata: ?Dia Matrukul Hadits
(ditinggalkan
haditsnya).? Kata Yahya bin Ma?in: ?Dia matruk.? Dan
beliau pernah
berkata:
?Dia rawi yang lemah.? [Periksa: Adh Dhu?afa wal
Matrukin (no. 21),
Mizaanul I?tidal (I/10), al-Jarh wat Ta?dil (II/295),
Taqriibut Tahdzib (I/51, no. 142)]

Hadits ini diriwayatkan juga oleh Abu Syaikh dari
jalan Ibnu ?Ulwan
dari Abaan. Kata Imam as-Suyuthi: ?Ibnu ?Ulwan adalah
pemalsu hadits.?
[Lihat al-Fawaaidul Majmu?ah (hal. 102, no. 288).

Sebenarnya masih banyak lagi hadits-hadits tentang
keutamaan Rajab,
shalat Raghaa'ib dan puasa Rajab, akan tetapi karena
semuanya sangat lemah dan palsu, penulis mencukupkan
tujuh hadits saja.

[Disalin dari kitab Ar-Rasaail Jilid-1, Penulis Yazid
bin Abdul Qadir
Jawas, Penerbit Pustaka Abdullah, Cetakan Pertama
Ramadhan 1425H/Oktober 2004M]


PENJELASAN PARA ULAMA TENTANG MASALAH RAJAB

[1]. Imam Ibnul Jauzy menerangkan bahwa hadits-hadits
tentang Rajab,
Raghaa'ib adalah palsu dan rawi-rawi majhul. [Lihat
al-Maudhu?at
(II/123-126)]

[2]. Kata Imam an-Nawawy:
?Shalat Raghaa-ib ini adalah satu bid?ah yang tercela,
munkar dan
jelek.?
[Lihat as-Sunan wal Mubtada?at (hal. 140)]

Kemudian Syaikh Muhammad Abdus Salam Khilidhir,
penulis kitab as-Sunan
wal Mubtada?at berkata: ?Ketahuilah setiap hadits yang
menerangkan shalat di awal Rajab, pertengahan atau di
akhir Rajab, semuanya tidak bisa diterima dan tidak
boleh diamalkan.? [ Lihat as-Sunan wal Mubtada?at
(hal. 141)]

[3]. Kata Syaikh Muhammad Darwiisy al-Huut: ?Tidak
satupun hadits yang
sah tentang bulan Rajab sebagaimana kata Imam Ibnu
Rajab.? [Lihat Asnal
Mathaalib (hal. 157)]

[4]. Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat th. 728
H): ?Adapun
shalat Raghaa'ib, tidak ada asalnya (dari Nabi
Shallallahu ?alaihi wa sallam), bahkan termasuk
bid?ah.... Atsar yang menyatakan (tentang shalat itu)
dusta dan palsu menurut kesepakatan para ulama dan
tidak pernah sama sekali disebutkan (dikerjakan) oleh
seorang ulama Salaf dan para Imam...?

Selanjutnya beliau berkata lagi: ?Shalat Raghaa'ib
adalah BID?AH
menurut kesepakatan para Imam, tidak pernah Rasulullah
Shallallahu ?alaihi wa sallam menyu-ruh melaksanakan
shalat itu, tidak pula disunnahkan oleh para khalifah
sesudah beliau Shallallahu ?alaihi wa sallam dan tidak
pula seorang Imam pun yang menyunnahkan shalat ini,
seperti Imam Malik, Imam Syafi?i, Imam Ahmad, Imam Abu
Hanifah, Imam ats-Tsaury, Imam al-Auzaiy, Imam Laits
dan selain mereka.

Hadits-hadits yang diriwayatkan tentang itu adalah
dusta menurut Ijma?
para Ahli Hadits. Demikian juga shalat malam pertama
bulan Rajab, malam
Isra?, Alfiah nishfu Sya?ban, shalat Ahad, Senin dan
shalat hari-hari tertentu dalam satu pekan, meskipun
disebutkan oleh sebagian penulis, tapi tidak diragukan
lagi oleh orang yang mengerti hadits-hadits tentang
hal tersebut, semuanya adalah hadits palsu dan tidak
ada seorang Imam pun (yang terkemuka) menyunnahkan
shalat ini... Wallahu a?lam.? [Lihat Majmu? Fataawa
(XXIII/132, 134)]

[5]. Kata Ibnu Qayyim al-Jauziyyah:
?Semua hadits tentang shalat Raghaa'ib pada malam
Jum?at pertama di
bulan Rajab adalah dusta yang diada-adakan atas nama
Rasulullah Shallallahu ?alaihi wa sallam. Dan semua
hadits yang menyebutkan puasa Rajab dan shalat pada
beberapa malamnya semuanya adalah dusta (palsu) yang
diada-adakan.? [Lihat al-Manaarul Muniif fish Shahiih
wadh Dha?iif (hal. 95-97, no. 167-172) oleh Ibnul
Qayyim, tahqiq: ?Abdul Fattah Abu Ghaddah]

[6]. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalany mengatakan dalam
kitabnya,
Tabyiinul ?Ajab bima Warada fii Fadhli Rajab:
?Tidak ada riwayat yang sah yang menerangkan tentang
keutamaan bulan
Rajab dan tidak pula tentang puasa khusus di bulan
Rajab, serta tidak ada pula hadits yang shahih yang
dapat dipegang sebagai hujjah tentang shalat malam
khusus di bulan Rajab.?

[7]. Imam al-?Iraqy yang mengoreksi hadits-hadits yang
terdapat dalam
kitab Ihya? ?Uluumuddin, menerangkan bahwa hadits
tentang puasa dan shalat Raghaa'ib adalah hadits
maudhu? (palsu). [Lihat Ihya? ?Uluumuddin (I/202)]

[8]. Imam asy-Syaukani menukil perkataan ?Ali bin
Ibra-him
al-?Aththaar, ia berkata dalam risalahnya:
?Sesungguhnya riwayat tentang keutamaan puasa Rajab,
semuanya adalah palsu dan lemah, tidak ada asalnya
(dari Nabi Shallallahu ?alaihi wa sallam).? [Lihat
al-Fawaa-idul Majmu?ah fil Ahaaditsil Maudhu?ah (hal.
381)]

[9]. Syaikh Abdus Salam, penulis kitab as-Sunan wal
Mubtada?at
menyatakan:
?Bahwa membaca kisah tentang Isra? dan Mi?raj dan
merayakannya pada
malam tang-gal dua puluh tujuh Rajab adalah BID?AH.
Berdzikir dan mengadakan peribadahan tertentu untuk
merayakan Isra? dan Mi?raj adalah BID?AH, do?a-do?a
yang khusus dibaca pada bulan Rajab dan Sya?ban
semuanya tidak ada sumber (asal pengambilannya) dan
BID?AH, sekiranya yang demikian itu perbuatan baik,
niscaya para Salafush Shalih sudah melaksanakannya.?
[Lihat as-Sunan wal Mubtada?at (hal. 143)]

[10]. Syaikh ?Abdul ?Aziz bin ?Abdullah bin Baaz,
ketua Dewan Buhuts
?Ilmiyyah, Fatwa, Da?wah dan Irsyad, Saudi Arabia,
beliau berkata dalam
kitabnya, at-Tahdzir minal Bida? (hal. 8): ?Rasulullah
Shallallahu
?alaihi wa sallam dan para Shahabatnya tidak pernah
mengadakan upacara Isra? dan Mi?raj dan tidak pula
mengkhususkan suatu ibadah apapun pada malam tersebut.

Jika peringatan malam tersebut disyar?iatkan, pasti
Rasulullah
Shallallahu ?alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada
ummat, baik melalui ucapan maupun perbuatan. Jika
pernah dilakukan beliau Shallallahu ?alaihi wa sallam,
pasti diketahui dan masyhur, dan ten-tunya akan
disampaikan oleh para Shahabat kepada kita...

Nabi Muhammad Shallallahu ?alaihi wa sallam adalah
orang yang paling
banyak memberi nasihat kepada manusia, beliau telah
menyampaikan risalah kerasulannya sebaik-baik
penyampaian dan telah menjalankan amanah Allah dengan
sempurna.

Oleh karena itu, jika upacara peringatan malam Isra?
dan Mi?raj dan
merayakan itu dari agama Allah, ten-tunya tidak akan
dilupakan dan
disembunyikan oleh Rasulullah Shallallahu ?alaihi wa
sallam, tetapi
karena hal itu tidak ada, maka jelaslah bahwa upacara
tersebut bukan dari ajaran Islam sama sekali. Allah
telah menyempurnakan agama-Nya bagi ummat ini,
mencukupkan nikmat-Nya dan Allah mengingkari siapa
saja yang berani mengada-adakan sesuatu yang baru
dalam agama, karena cara tersebut tidak dibenarkan
oleh Allah:

?Artinya : Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu
agamamu, dan telah
Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai
Islam jadi agama
bagimu.? [Al-Maa-idah: 3]

KHATIMAH

Orang yang mempunyai bashirah dan mau mendengarkan
nasehat yang baik,
dia akan berusaha meninggalkan segala bentuk bid?ah,
karena setiap bid?ah adalah sesat, sebagaimana sabda
Rasulullah Shallallahu ?alaihi wa sallam:

?Artinya : Tiap-tiap bid?ah itu sesat dan tiap-tiap
kesesatan di
Neraka.?
[HSR. An-Nasa'i (III/189) dari Jabir radhiyallahu
?anhu dalam Shahih
Sunan an-Nasa'i (I/346 no. 1487) dan Misykatul
Mashaabih (I/51)]

Para ulama, ustadz, kyai yang masih membawakan
hadits-hadits yang lemah
dan palsu, maka mereka digo-longkan sebagai pendusta.

Sebagaimana Rasulullah Shallallahu ?alaihi wa sallam
bersabda:

Dari Samurah bin Jundub dari Nabi Shallallahu ?alaihi
wa sallam, beliau
Shallallahu ?alaihi wa sallam bersabda: ?Barang-siapa
yang menceritakan
satu hadits dariku, padahal dia tahu bahwa hadits itu
dusta, maka dia
termasuk salah seorang dari dua pendusta.? [HSR. Ahmad
(V/20), Muslim (I/7) dan Ibnu Majah (no. 39)]

[Disalin dari kitab Ar-Rasaail Jilid-1, Penulis Yazid
bin Abdul Qadir
Jawas, Penerbit Pustaka Abdullah, Cetakan Pertama
Ramadhan 1425H/Oktober
2004M]
_______
MARAJI?
[1]. Shahih al-Bukhari.
[2]. Shahih Muslim.
[3]. Sunan an-Nasaa-i.
[4]. Sunan Ibni Majah.
[5]. Musnad Imam Ahmad.
[6]. Shahih Ibni Hibban.
[7]. Zaadul Ma?aad fii Hadyi Khairil ?Ibaad, oleh
Syaikhul Islam Ibnu
Qayyim
al-Jauziyyah, cet. Mu-assasah ar-Risalah, th. 1412 H.
[8]. Maudhu?atush Shaghani.
[9]. Al-Manaarul Muniif fish Shahih wadh Dha?if, oleh
Syaikhul Islam
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah.
[10]. Al-Maudhu?at, oleh Imam Ibnul Jauzy, cet. Daarul
Fikr, th. 1403
H.
[11]. Mizaanul I?tidal, oleh Imam adz-Dzahaby, tahqiq:
?Ali Muhammad
al-Bajaawy, cet. Daarul Fikr.
[12]. Al-Mashnu? fii Ma?rifatil Haditsil Maudhu?, oleh
Syaikh Ali
al-Qary al-Makky.
[13]. Al-Fawaa-idul Majmu?ah fil Ahaadits Maudhu?at
oleh asy-Syaukany,
tahqiq: Syaikh ?Abdurrahman al-Ma?allimy, cet.
Al-Maktab al-Islamy, th.
1407 H.
[14]. Tanziihus Syari?ah al-Marfu?ah ?anil Akhbaaris
Syanii?ah
al-Maudhu?at, oleh Abul Hasan ?Ali bin Muhammad bin
?Araaq al-Kinani.
[15]. Taqriibut Tahdziib, oleh al-Hafizh Ibnu Hajar
al-?Asqa-lany, cet.
Daarul Kutub al-?Ilmiyyah.
[16]. Adh-Dhu?afa wa Matrukin, oleh Imam an-Nasa-i.
[17]. At-Taghib wat Tarhib, oleh Imam al-Mundziri.
[18]. Silsilah Ahaadits adh-Dha?ifah wal Maudhu?ah,
oleh Imam Muhammad
Nashiruddin al-Albany.
[19]. Al-Laali al-Mashnu?ah, oleh al-Hafizh
as-Suyuthy.
[20]. Adh-Dhu?afa wal Matrukin, oleh Imam an-Nasa-i.
[21]. Al-Jarhu wat Ta?dil, oleh Imam Ibnu Abi Hatim
ar-Razy.
[22]. As-Sunan wal Mubtada?at, oleh Muhammad Abdus
Salam Khilidhir.
[23]. Asnal Mathaalib fii Ahaadits Mukhtalifatil
Maraatib, oleh
Muhammad Darwisy al-Huut.
[24]. Majmu? Fataawa, oleh Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyyah.
[25]. Al-Manaarul Muniif fis Shahih wadh Dha?if, oleh
Syaikhul Islam
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah.
[26]. Tabyiinul ?Ajab bimaa Warada fiii Fadhli Rajab,
oleh al-Hafizh
Ibnu Hajar al-?Asqalany.
[27]. Ihya? ?Uluumuddin, oleh Imam al-Ghazzaly.
[28]. At-Tahdziir minal Bida?, oleh Imam ?Abdul ?Aziz
bin ?Abdullah bin
Baaz.
[29]. Misykaatul Mashaabih, oleh Imam at-Tibrizy,
takhrij: Imam
Muhammad


--- Muhammad Wahyu Firmansyah <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

> Assalamu'alaikum Wr..Wb..
> sahabat-sahabat yang dirahmati Allah SWT .
>
> Bismillaahirahmanirrohiim.
>
> Ana mau tanya tentang Puasa bulan rajab
> kapan puasa bulan Rajab dan hadist hadist mengenai
> puasa bulan rajab?
>
> Jazakumullah khair


____________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com





Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke