SEDIKIT DAN SESUAI SUNNAH LEBIH BAIK DARIPADA BANYAK TETAPI BID'AH

Oleh
Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Al Halabi Al Atsary
sumber http://www.almanhaj.or.id


Kata mutiara tersebut tidak hanya terucap dari seorang shahabat, dan 
diantara yang mengucapkannya ialah Abu Darda’ dan Abdullah bin Mas’ud 
–Radhiallahu anhuma- seperti yang disebutkan dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahlus 
Sunnah (nomor114 dan 115), Assunnah karya Ibnu Nashr (hal 27-28), Al Ibanah 
(I/320) karya Ibnu Baththah,dan lain-lain.

Juga terdapat riwayat dari Ubay bin Ka’ab Radhiallahu anhu seperti 
disebutkan dalam Al Hujjah fi Bayan Al Mahajjah (I/111) dengan redaksi:

“Sesungguhnya sederhana dalam jalan hidup dan sunnah Nabi Shalallahu alaihi 
wa sallam adalah lebih baik daripada banyak tetapi menyalahi jalan hidup dan 
sunnah Nabi Shalallahu alaihi wa sallam. Maka lihatlah amal kamu, baik 
banyak maupun sedikit, agar yang demikian itu sesuai dengan jalan hidup dan 
sunnah nabi Shalallahu alaihi wa sallam” [1]

Itulah kata mutiara yang memberikan metode yang agung bagi seorang Muslim 
yang ingin mengikuti kebenaran dalam amal dan ucapannya agar sesuai dengan 
aturan syari’at. Kata mutiara tersebut disadur dari beberapa hadits shahih, 
diantaranya:

[1]. Sabda Nabi Shalallahu alaihi wa sallam,

“Artinya : Hindarilah olehmu melampaui batas dalam agama”. [Hadits Riwayat 
Nasa’i :V/268, Ibnu Majah:3029, dan Ahmad : I/215&347, dengan sanad hasan]

[2]. Sabda Nabi Shalallahu alaihi wa sallam,

“Artinya : Amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang 
berkesinambungan, meskipun sedikit.” [Hadits Riwayat Bukhary : I/109 dan 
Muslim no.782 dari Aiysah]

[3]. Sabda Nabi Shalallahu alaihi wa sallam :

“Artinya : Sesungguhnya setiap amal terdapat masa giat, dan disana ada masa 
jeda. Maka siapa yang jedanya kepada bid’ah sesungguhnya dia sesat, dan 
siapa yang jedanya kepada sunnah maka dia terbimbing.” [2]

Dan hadits-hadits lain.

Sunnguh para shahabat -Radhiallahu anhum- dan tabi’in Rahimahumllahu ta’ala, 
benar-benar mengaplikasikan kaidah tersebut dengan sangat cermat. Mereka 
sangat antusias untuk mengikuti sunnah walau hanya dengan sedikit amal.Tidak 
hanya itu,tetapi mereka juga sangat jauh dari bid’ah, meskipun ada orang 
yang menyangka bahwa bid’ah itu terdapat tambahan kebaikan.

Abu Ahwash [3] berkata kepada dirinya sendiri ,”Wahai Sallam,tidurlah kamu 
menurut sunnah.Itu lebih baik daripada kamu bangun malam untuk melakukan 
bid’ah.” [4]

Dan Ibrahim An-Nalkha’i berkata, ”Seandainya para shahabat Nabi Muhammad 
Shalallahu alaihi wa sallam mengusap kuku, niscaya aku tidak membasuhnya 
karena mencari keutamaan dalam mengikuti mereka.” [5]

Betapa indahnya firman Allah dalam menetapkan kaidah tersebut :

“Artinya : Supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik 
amalnya.” [ Al Mulk : 2]

Allah tidak mengatakan,” Yang banyak amalnya” sebagaimana dijelaskan Ibnu 
Katsier dalam tafsirnya (IV/619).

Dan barangsiapa merasa sempit pada jalan Rasulullah Shalallahu alaihi wa 
sallam dan jalan orang-orang mukmin terdahulu maka Allah tidak memberi 
kelapangan kepadanya.[6]

Diantara yang penting untuk diingatkan disini adalah cara menyimpulkan dalil 
yang salah oleh sebagian orang yang ditegur ketika melakukan bid’ah, seperti 
shalat yang tidak ada contohnya dalam Sunnah. Mereka menggunakan dalil, 
"Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang shalat kepada seorang 
hamba?" [Al-Alaq : 9-10]

Sungguh demikian ini cara menyimpulkan dalil yang batil dan pendapat yang 
salah tentang ayat Al Qur’an!!

Imam Abu Syamah dalam Al Baits (hal 114) berkata setelah menyebutkan 
beberapa hadits dan atsar yang melarang shalat yang tidak sesuai dengan 
Sunnah Nabi Shalallahu alaihi wa sallam, ” Apakah boleh bagi seorang Muslim 
bila mendengar beberapa hadits dan atsar ini, dia mengatakan, bahwa Nabi 
Shalallahu alaihi wa sallam melarang shalat dan bahwa Umar dan Ibnu Abbas, 
dikategorikan sebagai orang yang telah disebutkan dalam firmanNya:

“Artinya : Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang, seorang hamba 
ketika dia mengerjakan salat” [Al-Alaq : 9-10] [7]

Demikian pula, setiap orang yang melarang sesuatu yang dilarang syari’at 
Islam tidak boleh dikatakan seperti ini. Sebab orang yang menggunakan dalil 
tersebut dengan menganggap baik setiap amalnya yang tidak sesuai dengan 
sunnah adalah orang bodoh yang merubah kitab Allah dan mengganti firmanNya. 
Sesungguhnya Allah telah mencabut kelezatan pemahaman akan maksud wahyu 
darinya tersebut".

Dan dalam halaman 214, beliau (yakni Imam Abu Syamah) berkata: "Maka sungguh 
nyata dan jelas –dengan pertolongan Allah- kebenaran orang yang mengingkari 
hal-hal yang bid’ah, meskipun bid’ahnya berupa shalat dan memakmurkan 
masjid. Dan janganlah dia memperdulikan kebencian orang bodoh yang 
mengatakan :

“Tidak mungkin Islam memerintahkan membatalkan shalat dan menghancurkan 
masjid?”

Sebab perumpamaan dia seperti orang yang mengatakan:

“Bagaimana diperintahkan menghancurkan masjdi?”

Padahal telah maklum bahwa Nabi Shalallahu alaihi wa sallam pernah 
menghancurkan masjid Dhirar!!! Atau seperti orang yang mengatakan :

"Bagaimana mungkin Islam melarang membaca Al Qur’an dalam ruku dan sujud?”

Padahal terdapat hadits shahih bahwa Ali Radhiallahu anhu berkata:”

“Artinya : Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam melarang aku membaca Al 
Qur’an dalam ruku dan sujud.” [Hadits Riwayat Muslim]

Jadi mengikuti Sunnah lebih utama daripada mempertahankan bid’ah, meskipun 
berupa shalat. Sebab mengikuti sunnah lebih banyak faidahnya dan lebih besar 
pahalanya, meskipun kita menganggap bahwa dalam bentuk shalat tersebut 
terdapat pahala.”

Dan Allah-lah yang memberi taufik kepada kebenaran.

[Disalin dari kitab Al Ilmu Ushul Bida’ Dirasah Taklimiyyah Muhimmah Fi Ilmi 
Ushul Fiqh, Penulis Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari, 
edisi Indonesia Membedah Akar Bid’ah, Penerjemah Asmuji Solihan Zamakhsyari, 
Penerbit Pustaka Al-Kautsar hal, 26-28]
_________
Foote Note
[1] Juga diriwayatkan oleh Al Laalikai no.11,Ibnul Mubarak dalam AzZuhd 
:II/21, dan Abu Nu’aim dalam Al Hilyah :I/252
[2] Hadits shahih dengan berbagai jalan, lihat Al Itmam no.23521 dan Attiba’ 
AsSunnah no.8]
[3] Namanya adalah Sallam bin Sulaim, Lihat Siyar An-Nubala VII/281 oleh 
Adz-Dzahabi.
[4] Al Ibanah no.251
[5] Hadits Riwayat Ad Darimi:I/72 dan Ibnu Baththah :254
[6] Naqd Al Qaumiyyah Al Arabiyyah : 48, Syaikh Abdul Aziz bin Baz
[7] Lihat Musaajalah Ilmiyyah:30-31 Al Izz bin Abdis Salam

_________________________________________________________________
Express yourself instantly with MSN Messenger! Download today it's FREE! 
http://messenger.msn.click-url.com/go/onm00200471ave/direct/01/






Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke