Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Mencoba menanggapi masalah yang sedang antum hadapi...

Memang hal tersebut sering terjadi dalam perjalanan hidup manusia, wal 
iyadzubillah terkadang itu pun bisa terjadi pada diri kita sendiri.

Hal itupun pernah saya alami, pada saat saya mendapati teman dalam masalah yang 
sama "futur".

Tapi satu hal yang perlu kita lakukan adalah jangan sampai kita menghukumi 
saudara-saudara kita dengan cara kita sendiri.

Kita pun harus sadar, mungkin apa yang terjadi pada diri saudara-saudara kita 
ada penyebab yang sangat mungkin kita tidak tahu penyebabnya. Dalam hal ini 
setting masalah tiap pribadi akan berbeda-beda...

Dan wa'iyadzubillah kalau seandainya Allah taqdirkan kita yang mengalami, belum 
tentu kita pun sanggup untuk menjalaninya....

Akhi.. kita harus berhati-hati dalam menghadapi hal seperti ini, bisa jadi 
semua tujuan kebaikan yang kita harapkan berbuah kemudharatan karena salah 
dalam menerapkan atau menyampaikannnya.

Satu cara yang harus dilakukan adalah persuasif dengan pendekatan syar'i dan 
cara hikmah, kita berusaha untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi...
Adakah kemelut fikiran yang bersifat duniawiyah atau subhat yang sedang dia 
hadapi dari perjalanan dakwah ini..

Kita harus teliti dalam mempelajari kasus yang sedang terjadi pada saudara 
kita..

Pada prinsipnya yang namanya hidayah adalah bukan wewenang kita... yang bisa 
kita lakukan hanyalah berdo'a semoga Allah subhana wa ta'ala selalu menjaga 
kita semua dalam hidayahNya...setelah kita berusaha semampu kita untuk 
mengembalikan saudara kita pada rel manhaj yang lurus ini...

Berbaik sangka adalah senjata utama bagi seorang muslim dalam bermuamalah yang 
harus selalu terhunus dalam menghadapi saudaranya seiman.

Jangan coba-coba kita menghajr (memboikot) kalau kita tak tahu cara menghajr 
seperti apa. Karena pada prinsipnya hajr adalah obat, apabila berlebihan 
dosisnya akan berbahaya dan jika berkurang dosisnya tidak akan berdampak 
apa-apa. Makanya dalam hal ini kita harus tahu takaran ilmiah yang syar'i agar 
kita tidak salah langkah dalam bermuamalah.

Perbanyak silaturahim, biar kita tahu, apa yang sebenarnya sedang terjadi... 
jadikan diri kita sebagai teman yang baik yang mampu memberikan masukan yang 
bermanfaat pada saudara kita... berusaha dengan seksama dan teliti dan pelajari 
masalah yang sedang terjadi. Usahakan kita harus selalu objektiv dari apa yang 
kita dengar, jangan percaya dengan qola wa qila (katanya dan katanya), karena 
banyak saudara2 kita yang sudah ta'lim pun masih sering menggunakan kaidah 
tersebut (mudah-mudahan Allah mengampuni kita semua)...

Apa yang dapat saya sampaikan ini jauh dari kesempurnaan, semoga Allah 
memudahkan kita untuk dapatkan lagi cara yang terbaik untuk mengembalikan kita 
dan saudara kita pada manhaj yang haq ini.

Dari saya yang fakir dan dhaif


On 7/30/06, atir m <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu
>
> mohon nasehat kepada antum semua.
>
> Ana ini bingung dalam mengamalkan "saling menasehati" sesama saudara
> seiman
>
> jika teman2 kajian mulai ada tanda2 futur (mulai ndak dateng kajian,
> jarang berkumpul lagi bersma penuntut ilmu yg lain), keseringan sifat ana
> itu milih "jangan su'udzon to, mungkin dia lagi...".
> apakah benar sikap ana ini dan sampai batas manakah kita boleh
> "khusnudzon" sama seseorang sebelom menasehatinya?
>
> jazakumullah khairan
>
> Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu
> AtiR




Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke