WAJIB MENGENAL BID’AH DAN MEMPERINGATKANNYA

Oleh
Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi Al-Atsari
sumber http://www.almanhaj.or.id


Telah disebutkan dalam mukaddimah kitab ini bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi 
wa sallam mengulang-ngulang menyebutkan kata bid’ah untuk memperingatkan 
agar dijauhinya. Dan bahwa pengulangan tersebut berarti sebagai bentuk 
pengukuhan urgensi kewajiban mengenali bid’ah untuk menghindarinya.

Pengetahuan tentang bid’ah untuk menghindarinya seperti ini adalah 
berdasarkan sirah para shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang 
terdidik dalam naungan wahyu dan hidup pada masa turunnya wahyu sebagai mana 
dikatakan seorang shahabat yang agung HUdzaifah bin Yaman Radhiyallahu 
‘anhu.

“Artinya : Adalah manusia bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa 
sallam tentang kebaikan, dan saya bertanya kepadanya tentang keburukan 
karena khawatir bila ia menimpaku sehingga aku terjerumus di dalamnya” 
[Muttafaq Alaihi] [1]

Dan dengan mengambil makna hadits tersebut, seorang penyair berkata.

“Aku tahu keburukan, bukan untuk keburukan, tetapi untuk menghindarinya.
Dan barangsiapa yang tidak mengerti antara kebaikan dan keburukan niscaya 
dia terjerumus kedalamnya”

Bahkan mengetahui sesuatu dengan cara mengetahui kebalikannya/lawannya 
adalah sesuai dengan nilai-nilai Al-Qur’an seperti disebutkan dalam firman 
Allah.

“Artinya : Barangsiapa yang ingkar kepada Thogut dan beriman kepada Allah, 
maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada ikatan tali yang amat kuat yang 
tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” 
[Al-Baqarah]

Sebab sebagaimana tauhid tidak diketahui kecuali dengan menjauhi lawannya, 
yaitu syirik, dan iman tidak akan terealisasikan keculi dengan menjauhi 
lawannya, yaitu kufur, maka kebenaran tidak akan didapatkan kecuali dengan 
mencermati kesalahan. Dan yang sepenuhnya sama seperti itu adalah “Sunnah”. 
Maka pemahaman sunnah tidak akan jelas dan tanda-tandanya tidak akan terang 
kecuali dengan mengetahui lawan katanya, yaitu “Bid’ah”. Dan sesungguhnya 
yang demikian itu telah disyaratkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam 
sabdanya.

“Artinya : Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah Kitabullah (Al-Qur’an), 
dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi 
wa sallam, dan seburuk-buruk perkara adalah hal-hal yang baru, dan setiap 
yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah di dalam neraka”

Demikian pula dalam sabdanya.

“Artinya : Maka kewajiban kamu adalah memegang teguh sunnahku dan sunnah 
khulafa’ rasyidin yang terbimbing. Peganglah erat-erat sunnah-sunnah itu dan 
hindarilah olehmu segala hal yang baru. Sebab setiap hal yang baru adalah 
bid’ah, dan setuap bid’ah adalah sesat, dan setiap yang sesat di dalam 
neraka”[2].

Ini adalah perintah yang sangat jelas dan perkataan yang sangat faih yang 
mengharuskan kita mengikuti sunnah dan menjauhi bid’ah.

Betapa indahnya perkataan Ibnu Qudamah, “Hikmah dan kemampuan tidak akan 
tampak sempurna kecuali dengan menciptakan lawannya agar masing-masing 
diketahui dengan pasangannya. Cahaya diketahui dengan adanya gelap, ilmu 
diketahui dengan adanya kebodohan, kebaikan diketahui dengan adanya 
keburukan, kemanfaatan diketahui dengan adanya kemudharatan, dan manis 
diketahui dengan adanya pahit” [3] Dan yang termasuk kepada yang seperti itu 
adalah sunnah, dimana sunnah tidak dikenal kecuali dengan bid’ah.

Yahya bin Mu’adz Ar-Razi berkata, “Perbedaan semua manusia kembali kepada 
tiga hal, dan masing-masing memiliki lawannya. Yitu : Tauhid lawannya 
syirik, sunnah lawannya bid’ah, dan taat lawannya maksiat” [4]

Imam Abu Syamah Al-Maqdisi dalam Al-Ba’its (hal 11) berkata, “Sesungguhnya 
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat serta orang-orang yang 
setelah mereka telah memperingatkan orang-orang yang semasanya dari bid’ah 
dan hal-hal yang baru dalam agama dan memerintahkan mengikuti sunnah yang 
akan menyelamatkan dari segala marabahaya”

Dan dalam Al-Qur’an terdapat perintah mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa 
sallam, yang berarti perintah meninggalkan sesuatu yang tidak datang 
darinya. FirmanNya.

“Artinya : Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah 
aku niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu” [Ali-Imran : 31]

Dan Allah berfirman.

“Artinya : Dan sesungguhnya (yang Kami perintahkan) ini adalh jalanKu yang 
lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang 
lain). Sebab jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalanNya. Yang 
demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa” [Al-An’am : 
153]

Dan diriwayatkan bahwa Al-Hajjaj bin Jabr Al-Makki [5], seorang tokoh 
tabi’in dan ahli tafsir, menjelaskan firman Allah, “Dan janganlah kamu 
mengikuti jalan-jalan (yang lain)”, ia berkata, “Yakni, janganlah kamu 
mengikuti segala bentuk bid’ah dan syubhat” [6]

Dan semoga Allah memberikan rahmat kepada Al-Izz bin Abdussalam yang dalam 
kitabnya Musajalah (hal 10) mengatakan, “Beruntunglah orang yang menjadi 
pemimpin umat Islam, lalu dia memberikan pertolongan dalam mematikan 
bentuk-bentuk bid’ah dan menghidupkan berbagai bentuk sunnah”

Kedua hal tersebut (menghidupkan sunnah dan mematikan bid’ah) adalah sebagai 
titik tolak ilmu ini (Ushul Al-Bida’) dan asas kajiannya untuk mengetahui 
kaidah-kaidahnya dan membeberkan segala hal-hal yang samara darinya.

DAlam Nihayatul Mubtadi’in disebutkan, “Wajib mengingkari segala bentuk 
bid’ah yang menyesatkan dan menegakkan hujjah atas kebatilannya, baik 
diterima atau ditolak oleh pelakunya” [7]

Al-Marrudzi berkata, “Saya berkata kepada Abu Abdullah –yakni Imam Ahmad bin 
Hanbal-, “Bagaimanha pendapatmu tentang seseorang yang tekun shalat dan 
berpuasa, namun dia diam dan tidak membantah ahlu bid’ah?” Maka muramlah 
muka beliau lalu berkata, “jika dia shalat dan puasa, namun menjauh dari 
manusia, bukankah yang demikian itu untuk dirinya sendiri ?” Saya berkata, 
“Benar”. Ia berkata, “Jika dia bicara maka untuk dirinya sendiri dan untuk 
orang lain. Dan berbicara itu lebih utama” [8]

Dan betapa indahnya perkataan Imam Qatadah. “Sesungguhnya seseorang jika 
melakukan suatu bid’ah maka harus diingatkan sehingga bid’ah itu 
ditinggalkan” [9]

[Disalin dari kitab Al Ilmu Ushul Bida’ Dirasah Taklimiyyah Muhimmah Fi Ilmi 
Ushul Fiqh, Penulis Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari, 
edisi Indonesia Membedah Akar Bid’ah, Penerjemah Asmuji Solihan Zamakhsyari, 
Penerbit Pustaka Al-Kautsar]
_________
Foote Note
[1]. Lihat takhrij dan syarahnya dalam buku saya, Ad-Da’wah Ilallah : 98
[2]. Hadits ini dengan beberapa jalan. Lihat Al-Itman Lil Taakhrij Ahadits 
Al-Musnad Al-Imam, hadits nomor 17184. Semoga Allah memudahkan saya untuk 
menyempurnakan buku ini.
[3]. Ta’wil Mukhtalaf Al-Hadits : 14
[4]. Al-I’tisham : I/91
[5]. Yaitu Imam Mujahid
[6]. Ditakhrij Ad-Darimi I/68, Al-Baihaqi dalam Al-Madhal No. 200, dan 
lain-lain. Lihat Ad-Dur Al-Manstur III/386
[7]. Dinukil Oleh Ibnu Muflih Dalam Al-Adab Asy-Syar’iyyah I/210
[8]. Thabaqat Al-Hanabilah II/216
[9]. Syarah Ushul Al-Itiqad No. 256

_________________________________________________________________
Express yourself instantly with MSN Messenger! Download today it's FREE! 
http://messenger.msn.click-url.com/go/onm00200471ave/direct/01/





Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke