DEFENISI AQIDAH

'Aqidah menurut bahasa berasal dari kata al-'Aqdu yang berarti ikatan,
at-Tautsiqu yang berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat, al-Ihkamu
artinya mengokohkan/ menetapkan, dan ar-rabthu biquwwah yang berarti
mengikat dengan kuat.[1]

Sedangkan menurut istilah adalah iman yang teguh dan pasti, yang tidak
ada keraguan sedikitpun bagi orang yang meyakininya.

Jadi, 'Aqidah Islamiyah adalah: Keimanan yang teguh dan bersifat pasti
kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan segala pelaksanaan kewajiban,
bertauhid [2] dan ta'at kepada-Nya, beriman kepada
Malaikat-Malaikat-Nya, Rasul-Rasul-Nya, Kitab-Kitab-Nya, hari akhir,
taqdir baik dan buruk dan mengimani seluruh apa-apa yang sudah shahih
tentang Prinsip-Prinsip Agama (Ushuluddin), perkara-perkara yang ghaib,
beriman kepada apa yang menjadi ijma' (kon-sensus) dari Salafush Shalih,
serta seluruh berita-berita qath'i (pasti), baik secara ilmiah maupun
secara amaliyah yang telah ditetapkan menurut al-Qur-an dan as-Sunnah
yang shahih serta ijma' Salafush Shalih.[3]

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Oleh Yazid
bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, Po Box 264 Bogor
16001, Cetakan Pertama Jumadil Akhir 1425H/Agustus 2004M]
_________
Foote Note
[1] Lisaanul 'Arab (IX/311:) karya Ibnu Manzhur (wafat th. 711 H)
Rahimahullah dan Mu'jamul Wasiith (II/614:)
[2] Tauhid Rububiyyah, Uluhiyyah dan Asma' dan Shifat Allah.
[3] Lihat Buhuuts fii 'Aqiidah Ahlis Sunnah wal Jamaa'ah (hal. 11-12)
oleh Dr. Nashir bin 'Abdil Kariem al-'Aqil, cet. II, Daarul
'Ashimah-1419 H, 'Aqiidah Ahlis Sunnah wal Jamaa'ah (hal. 13-14) karya
Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd dan Mujmal Ushuul Ahlis Sunnah wal
Jamaa'ah fil 'Aqiidah oleh Dr. Nashir bin 'Abdil Kariem al-'Aqil.

==============================================

>> OBJEK KAJIAN ILMU 'AQIDAH <<

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Bagian Terakhir dari Dua Tulisan 1/2

'Aqidah jika dilihat dari sudut pandang sebagai ilmu -sesuai konsep
Ahlus Sunnah wal Jama'ah- meliputi topik-topik: Tauhid, Iman, Islam,
masalah ghaibiyat (hal-hal ghaib), kenabian, taqdir, berita-berita
(tentang hal-hal yang telah lalu dan yang akan datang), dasar-dasar
hukum yang qath'i (pasti), seluruh dasar-dasar agama dan keyakinan,
termasuk pula sanggahan terhadap Ahlul Ahwa' wal Bida', semua aliran dan
sekte yang menyempal lagi menyesat-kan serta sikap terhadap mereka.

Disiplin ilmu 'Aqidah ini mempunyai nama lain yang sepadan dengannya,
dan nama-nama tersebut berbeda antara Ahlus Sunnah dengan firqah-firqah
(golongan-golongan) lainnya.

Di antara nama-namanya menurut ulama Ahlus Sunnah adalah:

[1]. 'Aqidah (I'tiqad dan 'Aqa-id)
Para ulama Ahlus Sunnah sering menyebut istilah 'Aqidah Salaf, 'Aqidah
Ahlul Atsar di dalam kitab-kitab mereka.[2]

[2]. Tauhid
Karena pembahasannya berkisar seputar Tauhid atau peng-esaan kepada
Allah di dalam Uluhiyyah, Rububiyyah dan Asma' wa Shifat. Jadi, Tauhid
merupakan kajian ilmu 'aqidah yang paling mulia dan merupakan tujuan
utamanya. Maka, dari itulah ilmu ini disebut ilmu Tauhid secara umum
menurut Ulama Salaf [3]

[3]. As-Sunnah
As-Sunnah artinya jalan. 'Aqidah Salaf disebut as-Sunnah karena para
penganutnya mengikuti jalan yang ditempuh oleh Rasulullah j dan para
Shahabat g di dalam masalah 'aqidah. Dan istilah ini merupakan istilah
masyhur (populer) pada tiga ge-nerasi pertama.[4]

[4]. Ushuluddin dan Ushuluddiyanah
Ushul artinya rukun-rukun Iman, rukun-rukun Islam dan masalah-masalah
yang qath'i serta hal-hal yang telah menjadi ke-sepakatan para ulama.[5]

[5]. Al-Fiqh al-Akbar
Ini adalah nama lain Ushuluddin dan kebalikan dari al-Fiqh al-Ashghar,
yaitu kumpulan hukum-hukum ijtihadi.[6]

[6]. Asy-Syari'ah
Maksudnya adalah segala sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah Azza wa
Jalla dan Rasul-Nya berupa jalan-jalan petunjuk, terutama dan yang
paling pokok adalah Ushuluddin (masalah-masalah 'aqidah).[7]

Itulah beberapa nama lain dari Ilmu 'Aqidah yang paling terkenal, dan
adakalanya kelompok selain Ahlus Sunnah menamakan 'aqidah mereka dengan
nama-nama yang dipakai oleh Ahlus Sunnah, seperti sebagian aliran
Asyaa'irah (Asy'ariyah), terutama para ahli hadits dari kalangan mereka.
_________
Foote Note
[1] Lihat Buhuuts fii 'Aqiidah Ahlis Sunnah wal Jama'ah (hal. 12-14).
[2] Seperti 'Aqiidatus Salaf Ash-haabil Hadiits karya ash-Shabuni (wafat
th. 449 H), Syarh Ushul I'tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama'ah (hal. 5-6)
oleh Imam al-Laalika-iy (wafat th. 418 H) dan al-I'tiqaad oleh Imam
al-Baihaqy (wafat th. 458 H). Rahimahullah
[3] Seperti Kitabut Tauhid di dalam Shahih al-Bukhari karya Imam
al-Bukhari (wafat th. 256 H), Kitabut Tauhid wa Itsbaat Shifaatir Rabb
karya Ibnu Khuzaimah (wafat th. 311 H), Kitab I'tiqaad at-Tauhid oleh
Abu 'Abdillah Muhammad bin Khafif (wafat th. 371 H), Kitabut Tauhid oleh
Ibnu Mandah (wafat th. 359 H) dan Kitabut Tauhid oleh Muhammad bin
'Abdil Wahhab (wafat th. 1206 H). Rahimahullah
[4] Seperti kitab as-Sunnah karya Imam Ahmad bin Hanbal (wafat th. 241
H), as-Sunnah karya 'Abdullah bin Ahmad bin Hanbal (wafat th. 290 H),
as-Sunnah karya al-Khallal (wafat th. 311 H) dan Syarhus Sunnah karya
Imam al-Barbahary Rahimahullah
[5] Seperti kitab Ushuuluddin karya al-Baghdadi (wafat th. 429 H),
asy-Syarh wal Ibaanah 'an Ushuuliddiyaanah karya Ibnu Baththah al-Ukbari
(wafat th. 378 H) dan al-Ibaanah 'an Ushuuliddiyaanah karya Imam Abul
Hasan al-Asy'ari (wafat th. 324 H).
[5] Seperti kitab al-Fiq-hul Akbar karya Imam Abu Hanifah t (wafat th.
150).
[6] Seperti kitab asy-Syari'ah oleh al-Ajurri (wafat th. 360 H) dan
al-Ibaanah 'an Syari'atil Firqah an-Naajiyah karya Ibnu Baththah.
[7] Seperti kitab asy-Syari'ah oleh al-Ajurri (wafat th. 360 H) dan
al-Ibaanah 'an Syari'atil Firqah an-Naajiyah karya Ibnu Baththah.

==========================================

>> OBJEK KAJIAN ILMU 'AQIDAH <<

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Bagian Terakhir dari Dua Tulisan 2/2

Ada beberapa istilah lain yang dipakai oleh firqah/sekte selain Ahlus
Sunnah sebagai nama dari ilmu 'Aqidah, dan yang paling terkenal di
antaranya adalah:

[1]. Ilmu Kalam
Penamaan ini dikenal di seluruh kalangan aliran teologis mutakallimin,
seperti aliran Mu'tazilah, Asyaa'irah[1] dan kelompok yang sejalan
dengan mereka. Nama ini tidak boleh dipakai, karena ilmu Kalam itu
sendiri merupakan suatu hal yang baru lagi diada-adakan dan mempunyai
prinsip taqawwul (mengatakan sesuatu) atas Nama Allah dengan tidak
dilandasi ilmu.

Dan larangan tidak bolehnya nama tersebut dipakai juga karena
bertentangan dengan metodologi ulama Salaf di dalam menetapkan
masalah-masalah 'aqidah.

[2]. Filsafat
Istilah ini dipakai oleh para filosof dan orang yang sejalan dengan
mereka. Ini adalah nama yang tidak boleh dipakai dalam 'aqidah, karena
dasar filsafat itu adalah khayalan, rasionalitas, fiktif dan
pandangan-pandangan khurafat tentang hal-hal yang ghaib.

[3]. Tashawwuf
Istilah ini dipakai oleh sebagian kaum Shufi, filosof, orientalis serta
orang-orang yang sejalan dengan mereka. Ini adalah nama yang tidak boleh
dipakai dalam 'aqidah, karena merupakan pena-maan yang baru lagi
diada-adakan. Di dalamnya terkandung igauan kaum Shufi, klaim-klaim dan
pengakuan-pengakuan khurafat mereka dijadikan sebagai rujukan di dalam
'aqidah.

Kata Tashawwuf dan Shufi tidak dikenal pada awal Islam. Ia terkenal
(ada) setelah itu atau masuk ke dalam Islam dari ajaran agama dan
keyakinan selain Islam.

Dr. Shabir Tha'imah memberi komentar dalam kitabnya, ash-Shuufiyyah
Mu'taqadan wa Maslakan: "Jelas bahwa Tashawwuf me-miliki pengaruh dari
kehidupan para pendeta Nashrani, mereka suka memakai pakaian dari bulu
domba dan berdiam di biara-biara, dan ini banyak sekali. Islam
memutuskan kebiasaan ini ketika ia membebaskan setiap negeri dengan
tauhid. Islam memberikan pe-ngaruh yang baik terhadap kehidupan dan
memperbaiki tata cara ibadah yang salah dari orang-orang sebelum Islam."
[2]

Syaikh Dr. Ihsan Ilahi Zhahir (wafat th. 1407 H) Rahimahullah berkata di
dalam bukunya at-Tashawwuf al-Mansya' wal Mashaadir: "Apabila kita
memperhatikan dengan teliti tentang ajaran Shufi yang pertama dan
terakhir (belakangan) serta pendapat-pendapat yang di-nukil dan diakui
oleh mereka di dalam kitab-kitab Shufi baik yang lama maupun yang baru,
maka kita akan melihat dengan jelas per-bedaan yang jauh antara Shufi
dengan ajaran al-Qur-an dan as-Sunnah. Begitu juga kita tidak pernah
melihat adanya bibit-bibit Shufi di dalam perjalanan hidup Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sllam dan para Shahabat beliau Radhiyallahu
'anhum, yang mereka adalah (sebaik-baik) pilihan Allah Subhanahu wa
Ta'ala dari para hamba-Nya (setelah para Nabi dan Rasul). Sebaliknya,
kita bisa melihat bahwa ajaran tasawwuf diambil dari para pendeta
Kristen, Brahmana, Hindu, Yahudi, serta kezuhudan Budha, konsep
asy-Syu'ubi di Iran yang merupakan Majusi di periode awal kaum Shufi,
Ghanusiyah Yunani, dan pemikiran Neo-Platonisme, yang dilaku-kan oleh
orang-orang Shufi belakangan." [3]

Syaikh 'Abdurrahman al-Wakil Rahimahullah berkata di dalam kitab-nya,
Mashra'ut Tashawwuf: "Sesungguhnya Tashawwuf itu adalah tipuan (makar)
paling hina dan tercela. Syaitan telah membuat hamba Allah tertipu
atasnya dan memerangi Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu
'alaihi wa sallam. Sesungguhnya Tashawwuf adalah (sebagai) kedok Majusi
agar ia terlihat sebagai seorang yang ahli ibadah, bahkan juga kedok
semua musuh agama Islam ini. Bila diteliti lebih mendalam, akan ditemui
bahwa di dalam ajaran Shufi terdapat ajaran Brahmanisme, Budhisme,
Zaratuisme, Platoisme, Yahudisme, Nashranisme dan Paganisme." [4]

[4]. Ilahiyyat (Teologi)
Ini adalah nama yang dipakai oleh Mutakallimin, para filosof, para
orientalis dan para pengikutnya. Ini juga merupakan penamaan yang salah
sehingga nama ini tidak boleh dipakai, karena yang mereka maksud adalah
filsafatnya kaum filosof dan penjelasan-penjelasan kaum Mutakallimin
tentang Allah Subhanahu wa Ta'ala menurut persepsi mereka.

[5]. Kekuatan di Balik Alam Metafisika
Sebutan ini dipakai oleh para filosof dan para penulis Barat serta
orang-orang yang sejalan dengan mereka. Nama ini tidak boleh dipakai,
karena hanya berdasar pada pemikiran manusia semata dan bertentangan
dengan al-Qur-an dan as-Sunnah.

Banyak orang yang menamakan apa yang mereka yakini dan prinsip-prinsip
atau pemikiran yang mereka anut sebagai keyakinan sekalipun hal itu
palsu (bathil) atau tidak mempunyai dasar (dalil) 'aqli maupun naqli.

Sesungguhnya 'aqidah yang mempunyai penger-tian yang benar yaitu 'aqidah
Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang ber-sumber dari al-Qur-an dan
hadits-hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang shahih serta Ijma'
Salafush Shalih.

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Oleh Yazid
bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, Po Box 264 Bogor
16001, Cetakan Pertama Jumadil Akhir 1425H/Agustus 2004M]
_________
Foote Note
[1] Seperti Syarhul Maqaashid fii 'Ilmil Kalam karya at-Taftazani (wafat
th. 791 H).
[2] Ash-Shufiyyah Mu'taqadan wa Maslakan (hal. 17), dikutip dari
Haqiiqatut Tashawwuf karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin 'Abdillah al
Fauzan (hal. 18-19).
[3] Hal. 50, cet. I, Idaarah Turjuman as-Sunnah, Lahore-Pakistan, 1406
H.
[4] Hal. 10, cet. Riyaasah Idaarah al-Buhuuts al-'Ilmiyyah wal Iftaa',
th. 1414 H.





Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke