DAKWAH SALAFIYAH MENEPIS TUDUHAN

Oleh
Syaikh DR. Abu Anas Muhammad Musa Alu Nashr
Bagian Kedua dari Empat Tulisan [2/4]
sumber http://www.almanhaj.or.id

[3] DAKWAH SALAFIYAH MENYEPELEKAN POLITIK BAHKAN TIDAK SAMA SEKALI.

Ini juga termasuk kedustaan yang sangat jelas dan kedhaliman yang buruk. 
Salafiyin memandang bahwa politik termasuk agama. Tetapi politik yang mana ? 
Apakah politik surat kabar, majalah dan agen-agen penyiaran Yahudi dan 
Salibis ?! Ataukah politik Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para 
sahabatnya ? Ataukah politik demokrasi, rekayasa orang-orang kafir yakni : 
Pemerintah dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat ?! Ataukah politik 
ulama Islam yang berkata : “Politik adakah hukum Allah karena Allah, dengan 
mendasarkan pada kitab Allah dan sunnah RasulNya, berangkat dari dasar-dasar 
musyawarah yang ditetapkan Islam.

Apakah politik yang berbentuk penetapan kebenaran dengan system voting dalam 
parlemen ? Meskipun dalam rangka mendukung kekejian, kemungkaran, 
kesyirikan, klub malam atau pabrik minum keras ?! Ataukah berupa politik.

“Artinya : Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan 
agar kamu tidak menyembah selain Dia” [Yusuf : 40]

Oleh karena itu salafiyun tidak memakai sarana kebatilan untuk meraih 
kebenaran. Sebab tujuan itu tidak menghalalkan segala cara. Mereka 
(salafiyun) tidak berjihad untuk kemenangan orang-orang brengsek, tidak 
meminta pertolongan kepada orang-orang musyrik, dan selamanya tidak menambah 
jumlah dengan beraliansi dengan orang-orang munafik. Mereka menolak jumlah 
banyak namun seperti buih yang tidak mengandung sifat-sifat syar’i.

[4] BODOH TERHADAP WAQI’ (REALITA UMAT) DAN TIDAK ACUH DENGAN PERKARA UMAT 
INI.

Yang dimaksud fiqhul waqi’ oleh mereka adalah mengetahui rencana-rencana dan 
program-program (musuh) untuk menghancurkan umat Islam berupa 
konferensi-konferensi, mencermati kantor berita dunia dan kemampuan untuk 
mencari solusi dalam bidang politik.

Kita katakan : “Realita umat Islam yang menyakitkan ini tidak samar lagi 
bagi orang yang mempunyai dua mata, dan tidak ada yang tidak mengetahuinya 
kecuali orang yang buta hati dan matanya. Karena realita ini merupakan buah 
pahit dari dampak kemaksiatan dan jauhnya umat dari manhaj Allah. Hal ini 
telah dijelaskan Allah dalam kitabNya dan melalui lisan rasulNya. Solusi 
dari realita pahit ini adalah kembali kepada masa lampau yang bercahaya yang 
tersinari kitab Allah, sunnah (Rasul), ilmu dan amal para salaf dari para 
sahabat dan tabi’in. Inilah yang senantiasa didengungkan oleh salafiyun pagi 
dan sore. Oleh karena itu waktu dan pengalaman membuktikan bahwa orang-orang 
yang memahami kitab dan sunnah di zaman ini semisal Al-Albani rahimahullah, 
Ibnu Baz rahimahullah, Ibnu Utsaimin rahimahullah dan para murid mereka, 
merekalah yang benar-benar memahami realita umat.

Walaupun mereka dituduh sebagai ulama pekerja dan ulama haids dan nifas. 
Sungguh suatu kedhaliman dan kedustaan. (Contohnya) Peringatan syaikh kami 
Al-Albani rahimahullah kepada para pemuda Aljazair yang bersemangat tinggi 
(untuk tidak berkecimpung dalam pesta demokrasi) masih terngiang di telinga 
kami. Beliau telah memperingatkan mereka dari fitnah sebelum meletus. 
Kamipun telah memperingatkan dalam majalah Al-Ashalah Suara Salafi dan 
Mimbar As-Salafi yang istimewa terhadap perang di Yaman sebelum meletus 
empat bulan sebelumnya.

Ulama yang mendalami Al-Kitab dan Sunnah, merekalah orang-orang yang 
memiliki bashiroh (ilmu mendalam) dan ahli perang. Karena mereka itu 
memperhatikan dan mencermati (waqi’) berdasarkan cahaya Allah Azza wa Jalla, 
seperti disebutkan dalam hadits (Qudsi) : “Aku adalah pendengarannya ketika 
ketika dia mendengar, Aku adalah matanya ketika dia melihat dan Aku adalah 
tangannya ketika dia menjangkau…”[Hadits Riwayat Bukhari 6137]

Adapun orang-orang yang selalu mengaok, bertepuk tangan membela orang-orang 
rendahan dan berbekal semangat saja, bagaimana mungkin mereka mengetahui 
realita umat apalagi masa depan mereka. Siapa yang tidak mengetahui masa 
lalu yang bersinar niscaya tidak akan mengetahui kenyataan dirinya yang 
tercebur dalam kerusakan, kesesatan dan penyimpangan. Apakah orang yang 
mendukung Khomeini yang binasa itu dapat mengetahui realita dengan 
semestinya ? Bisa jadi dia menjadi pendukung nomor wahid dan penyanjungnya 
bahkan bertasbih dengan memujinya. Ketika dikemukakan pendapat salafiyun 
tentang jati diri syi’ah dan permusuhan mereka kepada Ahlu Sunnah, mereka 
menuduh : “Kalian para da’i fitnah, da’i pemecah belah umat, kalian membuat 
kerusakan!”. Mereka lebih mengutamakan syi’ah ketimbang saudaranya, Ahlu 
Sunnah, Salafiyuun.

Apakah orang yang beraliansi dengan partai Ba’ts di Irak lalu memerangi 
partai Ba’ts di Suriah padahal keduanya adalah satu agama yaitu Ba’ts 
–memahami fiqhul waqi?’ Slogan mereka adalah Aku mengakui Ba’ts sebagai 
rabbku, tiada sekutu baginya dan Eropa adalah ilahku tiada duanya. Mereka 
semuanya terlahir dari godokan Michael Aflaq, lalu dimana wala’ (loyalitas) 
dan bara’ (lepas diri) ?

“Artinya : Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang 
buta, ialah hati yang di dalam dada” [Al-Hajj : 46]

Apakah orang-orang yang bergabung dalam program mempererat nasionalisme 
memahami fiqhul waqi’? padahal program itu menyelisihi syari’at dan aqidah, 
tidak memperdulikannya, bahkan membuang jauh-jauh syari’at, lantas berhukum 
dengan undang-undang bikinan manusia yang diimpor dari barat dan timur !

Apakah orang yang menghasut para pemuda untuk keluar (dari ketaatan kepada 
pemerintah ,-pen), takfir (mengkafirkan orang) dan melakukan pengeboman di 
pemukiman yang jauh dari medan jihad dan kancah peperangan memahami waqi’? 
Padahal pemukiman itu berada di hotel, tempat umum dan kedutaan-kedutaan 
tanpa membedakan antara orang kafir yang boleh diperangi dengan yang berada 
dalam perlindungan, muslim dengan kafir, anak-anak dan wanita, orang tua dan 
pemuda.

Salafiyun sangat memahami waqi’ berdasarkan firman Allah.

“Artinya : Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga 
mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” [Ar-Ra’du : 11]

Dan sabda Rasulullah.

“Artinya : Jika kalian berdagang dengan system ‘ienah, dan kalian ambil 
ekor-ekor sapi, kalian rela dengan pertanian dan kalian tinggalkan jihad 
niscaya Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian, tidak akan dihilangkan 
kehinaan itu sehingga kalian kembali ke agama kalian” [Hadits Riwayat Abu 
Dawud 3462]

Saudara kami yang mulia Syaikh Sa’d bin Syayim berkata : “ …Orang alim 
adalah orang yang menghabiskan umurnya untuk menorehkan ilmu dan mengabdikan 
diri untuk ilmu, bersumber dari dua wahyu selaras dengan pemahaman salaf 
shalih, meresapkan ilmu dengan darah mereka lalu menancapkan di hati. Mereka 
tidak berbicara kecuali dengan ilmu, hati yang mantap, kokoh pijakan dan 
dari ujung kaki hingga ujung kepala dipenuhi dengan ilmu. Bukanlah orang 
yang berteriak dan berkaok lantas menjadi ulama. Bahkan di jaman kita ini 
terlalu banyak para pengkhotbah dan sedikit ulamanya, seperti dikatakan Ibnu 
Mas’ud.

Siapa yang menolong orang yang berbuat kebatilan sungguh dia telah berbuat 
dhalim. Semua itu adakalanya mencela ulama tersebut karena membela sunnah 
dan memperjuangkannya, atau karena para ulama itu tidak mau mengikuti aturan 
golongan mereka. Ulama yang tidak mau bergabung dengan mereka dijuluki tidak 
paham atau tidak peduli terhadap realita. Lalu membuat tuduhan dusta kepada 
ulama, berupaya menjauhkan manusia dari mereka dan memandang mereka dengan 
muak dan meremehkan. Demikianlah, jembatan dibentangkan mulai dari sekedar 
mencela dan mencerca sampai kata beliau (Syaikh Syayim) : “Dan penghinaan 
kepada ulama tidak terbatas pada diri mereka namun sampai kepada apa yang 
mereka emban berupa ilmu dan agama. Allah akan membela orang-orang yang 
beriman dan memperhatikan orang-orang yang shalih. Bahkan mencela ulama itu 
merupakan pintu menuju kemurtadan”.

“Artinya : Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahNya takut akan 
ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih” [An-Nuur : 63]

Demikian nukilan dari syaikh Sa’d bin Syayim. Saya katakan : “Sesungguhnya 
orang-orang yang terdidik di atas Al-Qur’an, sunnah dan pemahaman generasi 
terbaik merekalah yang memahami realita umat dan masa depan mereka. Sebab 
mereka mengerti masa lalu umat yang bersinar. Sedangkan orang-orang yang 
menggeluti koran, majalah, analisa politikus, pengamat politik dan kantor 
berita asing dan internet ditambah kebodohan mereka yang sangat kentara 
terhadap Al-Qur’an, sunnah, ilmu syar’i, pelecehan dan pencelaan kepada 
ulama rabbani, merekalah sesungguhnya yang paling bodoh terhadap realita 
umat.

Kami tidak mengecilkan pengetahuan tentang rekayasa musuh-musuh Islam dan 
waspada terhadap program dan rencana mereka. Tetapi tuduhan kepada ulama 
rabbani semisal Ibnu Baz rahimahullah, Al-Albani rahimahullah dan Ibnu 
Utsaimin rahimahullah, bahwa mereka bodoh terhadap realita umat adalah 
kedhaliman dan kedustaan, dan membuat para pemuda lari dari ulama mereka. 
Inilah fitnah yang merambah yang membuat kerusakan bagi umat.

[Disalin dari kitab Madza Yanqimuna Minas Salafiyah dan dimuat di majalah 
Al-Furqon edisi 5 Th III, hal 29-33, alih bahasa Abu Nu’aim Al-Atsari]

_________________________________________________________________
FREE pop-up blocking with the new MSN Toolbar - get it now! 
http://toolbar.msn.click-url.com/go/onm00200415ave/direct/01/





Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke