Assalamu'alaykum warohmatullohi wabarokaatuh Afwan kalau ana nulisnya di atas email yang asli. Sebenarnya perbedaan-perbedaan itu ada karena adanya turutan hawa nafsu, dan juga kurangnya ilmu. Sebenarnya ulama-ulama pada masa dulu ketika ada perbedaan pendapat mereka baik-baik saja, tidak ada saling tuduh, saling membid'ahkan dan hingga sampai taraf mengkafirkan.
Yang pasti kita harus berpegang kepada Al Qur'an dan Sunnah, dan setiap ada perkataan ulama yang tidak sesuai dengan Al Qur'an dan As Sunnah maka kita ikuti Al Qur'an dan As Sunnah. Kenapa? Karena pada dasarnya semua manusia bisa berbuat salah dan tidak ada yang sempurna kecuali rasululloh shallallohu'alaihi wa sallam. Orang yang setingkat Umar bin Khattab radhiyallahu'anhu saja bisa lupa terhadap hadits dan ayat, kemudian diingatkan oleh shahabat bagaimana dengan para ulama? Mereka tidak ma'shum, juga kita sebagai manusia. Maka dari itu kalau kita memperturuti hawa nafsu niscaya banyak sekali ulama-ulama yang salah dalam memberikan dalil sehingga mungkin kita bertanya dan ragu, "Apakah ulama ini ahlussunnah?" dsb. Inilah serangan setan kepada kaum muslim. Yang pasti ingat kata mereka juga, "Apabila engkau ketahui perkataanku tidak sesuai dengan hadits rasulullah yang shohih maka jangan kau ikuti perkataanku tapi ambillah hadits rasululloh shallallahu'alaihi wasallam yang shohih itu karena itu adalah mahzabku." Lalu tentang orang-orang yang asal tuduh dan sebagainya itu, kita berlepas tangan dari mereka. Yang bisa saya fahami adalah, setiap orang yang kelakuannya sholih, beraqidah shohihah, sesuai dengan Al Qur'an dan As Sunnah, dan ia menamakan dirinya apapun maka dia tetap dianggap sebagai golongan yang besar dari umat ini. Lalu siapakah golongan yang menyimpang?? Golongan yang menyimpang itu adalah golongan yang secara terang-terangan melanggar ayat dan hadits rasululloh shallallahu'alaihi wasallam dan tetap pada pendirian mereka sekalipun sudah diingatkan dengan benar. Lalu bagaimana kita bisa tahu pendapat benar dan salah?? Ya dengan cara belajar. Perbanyak ilmu dien. Itu lebih baik bagi orang-orang awam dan orang-orang yang masih belum faham tentang dien, kemudian dipersoalkan dengan berbagai problematika umat dan perpecahan. Belajar dien dengan baik dan benar bisa menghindarkan seseorang terjerumus ke dalam kesalahan ataupun jurang kesesatan. Wallahu'alam bishawab. Wassalamu'alaykum warohmatullohi wabarokaatuh On 8/12/06, ABU NAWANG ABU NAWANG <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh > Afwan ya ihwatillah, ana baru bergabung pd millis ini. ana mau nimbrung > nih, boleh kan? Ttg PERBEDAAN ini ana juga bingung sebab dari dulu selalu > dikedepankan diantara kita padahal itu hanya masalah furu' shg kita selalu > curiga mencurigai & melihat mereka dari kelompok mana. Hal ini tentu membuat > ukuwah islamiah terdegradasi! semua kelompok mengklaim sbg ahlus sunnah wal > jamaah, lebih fokus lagi menklaim sbg salafiyun tapi kenapa masih ada > aktifis da'wahnya yg suka menghujat, menta'zir bahkan menganggap salafiyun > yg lain itu surruri, hizbi dll. Jadi tdk hanya krn perbedaan pemikiran yg > terkontaminasi barat saja yg tdk di hargai tapi sekarang sama2 menuntut ilmu > di timur tengahpun juga saling menta'zir serta mengupas tuntas kesalahan (yg > sebenarnya hanya perbedaan pemahaman) ustad yg lain pd halaqohnya (bisa di > baca pada situs salaf yg lain) shg menimbulkan benih kebencian. jadi menurut > ana, mari kita rajut kembali ukuwah islamiah kita agar perbedaan yg ada tdk > semakin renngang. > wasalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. > > > dhea s <[EMAIL PROTECTED]> menulis: > wa alaikumus salam warahmatullah wabarakatuh > ikutan ngejawab: > 1. Benar. perkataan itu benar sekali. Penjelasannya begini: jika kita > masih satu aqidah, misalnya aqidah ahlus sunnah wal jamaah, maka kita kudu > saling hargai perbedaan. Kenapa?? sebab, perbedaan di kalangan ahlus sunnah > itu tidak lain karena perbedaan tashhih hadits dan istinbath fiqhhiyah > semata. Perbedaan itu bukan karena ingin keluar dari 3 pokok dalil: qur'an > sunnah dan ijma'. > > 2. Adapun jika perkataan itu diartikan kita kudu saling hargai perbedaan > kepada SIAPA saja yg ngaku muslim, meskipun otak dan fikirannya sosialis, > atau demokrasi, atau yahudi, atau nahsari, mu;tazilah, jabariyah, syiah, > dll. maka ini tidak benar. Misalnya, ada orang ngaku muslim, baru pulang > dari kuliah doktoralnya di amerika 20 tahun di sana, terus pulang ke > indonesia. lalu ngomong macem-macem tentang Islam. Maka, berarti orang itu > ngakunya muslim tapi otak dan fikirannya bukan Islam. Dan laen-laen. > > NB. maaf jika ada kata yg kurang berkenan. > > dhea > ==== > > > SAGITA SAMSUNJAYA <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Assalaamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, > > Mohon tanya ada seorang yang mengatakan kita harus saling menghargai > perbedaan pendapat asalkan masih se - aqidah? > apakah perkataan itu benar? > > Wa'alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh, -- Y!: mr_redflower Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id Website audio: http://assunnah.mine.nu Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED] Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/assunnah/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
