Assalamu'alaykum warohmatullohi wabarokaatuh Alhamdulillah, Asyhaduallailaahailallahu wahdahulaasyarikalahu, wa asyhadu anna muhammadan 'abduhu wa rasuluh. Allahumma sholi 'ala muhammadin wa 'ala 'alihi wa ashabihi wa man tabi'uhum bi ishan illaa yaumiddin.
Seorang ulama pernah mengatakan, "Orang yang berilmu itu adalah orang yang bisa memilih antara dua hal yang ada mudharatnya, dan ia tahu mana yang lebih baik dari keduanya." Sebenarnya tidak ada yang lebih baik selain kembali kepada Al Qur'an dan Sunnah karena itulah apapun masalahnya, apapun penyakitnya sebenarnya sudah ada di dalam keduanya. Kita sebagai manusia Islam harus mematuhinya dan menjadikannya obat dalam segala penyakit yang dihinggapi oleh manusia. Alloh adalah sebaik-baik penolong dan Alloh adalah sebaik-baik pemberi petunjuk. Tidak ada yang lebih baik petunjuk itu selain petunjuk Alloh dan rasul-Nya. Dan tidak ada jalan yang lebih baik selain dari jalan Alloh dan Rasul-Nya. Mengenai ilmu psikologi, sebenarnya ada 2 yang perlu diperhatikan. Yaitu: 1. Psikologi yang menggunakan filsafat sebagai dasar ilmunya. 2. Psikologi yang menggunakan Al Qur'an dan As Sunnah sebagai dasar ilmunya. Alhamdulillah, sudah banyak para ulama yang mengembangkan psikologi yang nomor 2 ini. Para ulama terdahulu sudah menulis berbagai buku yang sampai sekarang ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Ana sering kali membaca buku yang ditulis oleh Ibnu Al Qayyim Al Jauziyah rohimulloh, karena tidak ada ulama sebelum dan setelah beliau yang pandai dalam masalah hati. Beliau menulis berbagai buku dengan keahlian sastra, keahlian pengobatan, keahlian ushul fiqih, keahlian hadits, dan tafsir. Dan beliau adalah satu-satunya ulama yang benar-benar luar biasa dibidangnya. Dan banyak sebutan-sebutan baik oleh para ulama sesudahnya. Lalu apakah yang harus dilakukan oleh seorang muslim dengan psikologi? Yang pasti tugas utama seorang muslim adalah belajar dien ini dengan benar. Dengan begitu seorang muslim akan tahu mana yang benar dan mana yang salah. Karena pada dasarnya hati manusia itu lemah, karena hatinya lemah itulah maka harus diperkuat dengan cara menambahkan ilmu diennya, karena satu-satunya yang bisa menyelamatkan seseorang baik di dunia maupun di akhirat adalah ilmu dien. Sehingga nantinya apabila dia memperoleh ilmu baru maka dia akan tahu ilmu ini ada filsafatnya atau tidak. Karena itulah dasarnya selalu ada. Toh para ulama juga sudah berkali-kali menjelaskan tentang jalan yang benar. Menasehati kita semuanya dengan buku-buku mereka. Jadi menurut ana, ilmu psikologi yang tidak perlu disingkirkan dan gantilah dengan ilmu dien. Karena ilmu dien ini mencakup segalanya. Mencakup dari manusia itu lahir sampai mati. Dari anda bangun tidur sampai anda tidur lagi. Dan cukuplah obat manusia itu Al Qur'an dan Sunnah. Bukankah itu yang lebih buat orang-orang yang bersedih? Bukankah itu lebih baik buat orang-orang yang sedang dalam kesulitan? Keduanya adalah petunjuk, maka dari itu selamatlah orang-orang yang berpegang dengan keduanya dan celakalah orang-orang yang melepaskan keduanya dan keluar dari apa yang telah ditunjukkan. Ilmu psikolog itu membahas tentang perilaku manusia, tentang psikis manusia, tentang emosi mereka, tentang jiwa mereka, tentang intelektual, tentang spiritual. Nah ilmu manakah yang sudah mewakili itu semua. Jawabnya adalah ilmu dien. Ilmu dien mempelajari tentang perilaku manusia yang benar, mempelajari juga tentang psikis manusia yang benar, tentang emosi manusia secara benar, mempelajari tentang kejiwaan manusia secara benar, mempelajari tentang intelektual manusia secara benar, mempelajari juga tentang spiritual. Dan cukuplah ilmu dien sebagai pengganti dari ilmu psikologis. Yang dicapai di dalam ilmu psikologis bukankah seorang manusia yang sehat dalam hal spiritualnya, sehingga tubuhnya pun ikut sehat. Mental itu tak akan bisa diobati dengan obat-obat biasa yang biasa dijual di apotik atau rumah sakit, tetapi mental itu diobati dengan belajar dien. Dengan memahami ayat-ayat Alloh dan memahami hadits-hadits rasululloh shallallohu'alaihi wa sallam. Maka dari itu dalam hal kejiwaan ilmu dien itu diatas segalanya. Wallahu'alam bishawab. Wassalamu'alaykum warohmatullohi wabarokaatuh On 8/8/06, DhanyArifianto <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Saya tertarik dengan perkataan antum (Abu Maryam) yang mengutip > perkataan Ustadz Yazid (semoga Allah Ta'ala menjaga > beliau):'(psikologi adalah) ilmu dusta ya akhi.' > Apakah tidak ada penjelasannya lebih lanjut ? > Kalau sepotong2 seperti itu bisa "misleading" (kalau pakai kata > "menyesatkan" bisa berkonotasi lain; maksud saya tidak ada kaitan > dengan makna "sesat" karena akidah yang salah). Seolah-olah semua > bagian dari ilmu psikologi adalah ilmu dusta. > > Ilustrasinya begini, ilmu psikologi yang akrab dengan keseharian kita. > Kalau berdiri diatas rel kereta api, di kejauhan seolah-olah rel > tersebut bersatu. Padahal nyatanya tidak. > Fenomenon yang lain lagi misalnya fatamorgana. > Atau panca-indra yang lain, seperti telinga; seringkali keliru > seolah-olah mendengar suaranya A ternyata B. > Kaitannya dengan cara kerja otak menginterpretasikan informasi yang > masuk dari indera. > > Mungkin yang dimaksud "syubhat" oleh akh Rizki Mulyawan, bagian mana > dari psikologi ? > > Mohon klarifikasinya disertai landasan dalil yang jelas agar terhindar > dari katanya fulan dari katanya fulan. > > Dhany Arifianto > 1973M; Auditory Neuroscience, Lancaster UK. > > > --- In [email protected], lulu aliudin <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Wallohu a'lam. seorang teman saya seorang psikolog bercerita kepada > saya: ketika saya bertemu dengan ustadz yazid jawwas dan > memperkenalkan diri kepada beliau dan mengatakan bahwa saya adalah > psikolog, al ustadz yazid langsung berkomentar '(psikologi adalah) > ilmu dusta ya akhi.' > > Sebenarnya kita bisa menilai dari materi pelajaran psikologi yang > dibangun dari ilmu filsafat (kalam) yang jelas jelas diharomkan oleh > dinul islam. Adapun rujukan kita ketika menghadapi masalah adalah > ulama bukan psikolog. > > > > Al Faqir Abu Maryam > > > > > > Rizki Mulyawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Assalaamu 'alaykum wa rachmatullaahi wa barakaatuh, > > Ayyuhal Ikwah, > > > > Izinkanlah saya untuk bertanya: bagaimana fatwa para 'ulamaa salafi > tentang Psikologi? > > > > Sesungguhnya, hatinurani saya merasakan banyak syubhat ketika > membaca ulasan2 psikologi, tapi tentu saja hati tidak dapat dijadikan > dalil. Maka saya mengharapkan penjelasan dari ikhwah sekalian. > > > > Jazakallaahu khayran, > > Wassalaam > > Rizki Mulyawan -- Y!: mr_redflower Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id Website audio: http://assunnah.mine.nu Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED] Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/assunnah/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
