SIAPAKAH SURURI ?

Oleh
Syaikh Abu Anas Muhammad bin Musa Alu Nashr Hafizhahullah
sumber http://www.almanhaj.or.id

Pertanyaan:
Syaikh Muhammad bin Musa Alu Nashr ditanya : "Kita telah mengetahui bahwa 
dakwah Salafiyyah adalah dakwah yang bersih dan benar. Tetapi sangat 
disayangkan telah datang pencemaran nama dan keburukan dari pihak lain. Seperti 
dari Sururiyyin (para pengikut surur). Maka bagaimanakah Sururiyyah (pemahaman 
surur) itu? Dan apakah kaedah-kaedah dan prinsip-prinsip faham Sururiyah itu, 
agar kita dapat mengetahui dan menghukuminya?"

Jawaban:
Sururiyah (pemahaman Surur) adalah Jamaah Hizbiyyah. Muncul pada tahun-tahun 
terakhir ini. Tidak dikenal kecuali pada seperempat akhir abad ini. Karena 
semenjak dahulu hingga sekarang, ia berselimut Salafiyyah. Pada hakekatnya, 
Sururiyah memiliki prinsip-prinsip Ikhwanul Muslimin, bergerak secara sirriyah 
(sembunyi-sembunyi/rahasia). Merupakan pergerakkan politik, takfir, mencela dan 
menyindir para ulama Rabbaniyyin, seperti Imam-imam kita yang tiga: Bin Baaz, 
Al-Albani dan Utsaimin. Menuduh mereka sebagai ulama haidh dan nifas. Setelah 
perang Teluk II serangannya terhadap dakwah Salafiyyah secara terang-terangan, 
bertambah keras baik secara aqidah dan pemberitaan. Sampai menuduh para 
masyayikh dan ulama kita bahwa mereka tidak mengetahui waqi’ (situasi dan 
kondisi/kenyataan), ilmunya dalam perkara nifas dan wanita-wanita nifas. Mereka 
sesuai dengan ahli bidah zaman dahulu, yang mengatakan: Fiqh (Imam) Malik, 
Auzai dan lainnya tidak melewati celana perempuan. Alangkah besar dosanya. 
Kalimat yang keluar dari mulut mereka.

Orang yang tidak menghormati para ulama, dia adalah para penyeru fitnah. 
Orang-orang yang merendahkan Al-Albani, Bin Baz dan Utsaimin di zaman kita, 
maka dia tenggelam (di dalam kesesatan), pembuat fitnah, dia berada di pinggir 
jurang yang dalam. Karena dia berkehendak memalingkan wajah manusia kepadanya 
dan menghalangi manusia dari para ulama dan imam mereka yang Rabbani.

Sehingga walaupun mereka mengaku beraqidah Salafiyyah, tetapi manhaj mereka 
Ikhwani. Bahkan (mungkin) mereka lebih berbahaya dari Ikhwanul Muslimin, karena 
mereka berbaju Salafiyyah.

Kita memohon kepada Allah Taala agar mereka diberi petunjuk menuju jalan yang 
lurus, dan agar kelak mereka bersama dengan Salafiyyah yang murni, yang para 
Sahabat Rasulullah dan para tabiin berada diatasnya.

Tambahan Redaksi Majalah As-Sunnah:

Sururiyah adalah nisbat kepada seseorang yang bernama Muhammad Surur bin Nayif 
Zainal Abidin. Dia pernah menjadi guru di Arab Saudi dalam waktu yang cukup 
lama, sehingga memungkinkan menjalankan rencananya dan menyebarkan racunnya di 
tengah-tengah para pemuda. Tetapi setelah nampak keburukan niatnya, dia pergi, 
lalu bermukim di kota London, Inggris, sebuah negara kafir.

Di antara kesesatan dan penyimpangan Muhammad Surur ini adalah:

[1.] Merendahkan Kitab-Kitab Aqidah Salafiyyah Dan Berlebihan Dengan Fiqhul 
Waqi.

Dia berkata di dalam bukunya, Manhajul Ambiya fi Dakwah Ila Allah I/8: Aku 
memperhatikan kitab-kitab aqidah, maka aku lihat kitab-kitab itu ditulis bukan 
pada zaman kita. Sehingga kitab-kitab itu sebagai solusi berbagai permasalahan 
dan kemusykilan pada zaman ditulisnya kitab-kitab tersebut. Sedangkan pada 
zaman kita terdapat berbagai kemusykilan yang membutuhkan solusi yang baru. 
Kerena itulah model kitab-kitab aqidah itu sangat kering, karena hanya berisi 
nash-nash dan hukum-hukum. Karena inilah kebanyakan pemuda berpaling darinya 
dan tidak menyukainya.

Perkataan orang ini tentulah sangat menyesatkan, karena kitab-kitab aqidah yang 
berisi nash-nash dan hukum-hukum merupakan kebenaran hakiki. Sedangkan 
berpaling darinya akan menjerumuskan kepada pendapat si Fulan dan Fulan yang 
tidak jelas kebenarannya.

[2.] Beraqidah Takfir Bil Mashiyah, Yaitu Mengkafirkan Kaum Muslimin Dengan 
Sebab Maksiat.

Dia mengkafirkan para penguasa zhalim, sehingga dia banyak mencela para 
penguasa dan menerjuni medan politik ala Barat!

Dia berkata di dalam majalahnya yang terbit di London, majalah As-Sunnah no: 
26, Jumadal Ula 1413H, hal: 2-3 (Tidak ada hubungan sama sekali dengan Majalah 
As-Sunnah kita ini): Dizaman ini perbudakan memiliki tingkatan-tingkatan yang 
berbentuk piramida:

Tingkatan Pertama: 
Presiden Amerika Serikat, George Bush, duduk bersila di atas singgasananya, 
yang besok akan diganti Clinton.

Tingkatan Kedua:
Tingkatan penguasa negara-negara Arab. Mereka ini berkeyakinan bahwa kebaikan 
dan bahaya mereka di tangan Bush (Bagaimana dia bisa memastikan aqidah mereka 
seperti itu? Apakah dia telah membedah dada mereka? Atau mereka memberitahukan 
kepadanya? Maha suci Engkau wahai Allah, sesungguhnya hal ini merupakan 
kedustaan yang besar!-red). Oleh karena inilah mereka berhajji kepada 
(mengunjungi) nya, serta mempersembahkan nadzar-nadzar dan kurban-kurban 
(Perkataan ini merupakan pengkafiran secara nyata kepada Penguasa yang zhalim! 
-red).

Tingkatan Ketiga:
Para pengiring penguasa negara-negara arab, dari kalangan menteri, wakil 
menteri, komandan tentara, dan para penasehat. Mereka ini bersikap nifaq kepada 
tuan-tuan mereka, menghias-hiasi segala kebatilan dengan tanpa malu dan ahlaq.

Tingkatan Keempat, Kelima dan Keenam:
Para penjabat tinggi pada kementerian. Sesungguhnya perbudakan pada zaman 
dahulu sederhana, karena seorang budak memiliki seorang tuan secara langsung, 
tetapi sekarang perbudakan itu kompleks. Aku tidak habis fikir, tentang orang 
yang membicarakan tauhid, tetapi mereka adalah budak-budak, yang dimiliki oleh 
budak-budak, yang dimiliki oleh budak-budak, yang dimiliki oleh budak-budak, 
yang dimiliki oleh budak-budak. Tuan mereka yang akhir adalah seorang Nashrani 
(Alangkah keji dan lancangnya perkataan yang ditujukan kepada para ulama yang 
dimuliakan oleh Allah Taala “red).
Perkataan orang ini dengan jelas menunjukkan kesesatan dan kedustaan yang 
nyata!.

[3.] Juga Mengkafirkan Rakyat Karena Maksiat Yang Mereka Lakukan.

Dia berkata di dalam bukunya, Manhajul Ambiya Fi Dakwah ila Allah I/158: 
Tidaklah aneh jika problem laki-laki mendatangi laki-laki (homo seksua) 
merupakan permasalahan paling penting di dalam dakwah Nabi Luth. Kerena 
seandainya kaumnya menyambut dakwahnya untuk beriman kepada Allah dan tidak 
menyekutukan-Nya, maka sambutan mereka itu tidak ada maknanya, jika mereka 
tidak meninggalkan kebiasaan keji yang telah mereka sepakati itu.

Itulah aqidah sesat Surur! Adapun aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah terhadap 
pelaku dosa besar telah mansyur, yaitu tidak keluar dari iman, tetapi imannya 
berkurang, dan dia dikhawatirkan terkena siksaaan Allah Taala.

[4.] Memusuhi Dan Mencela Para Ulama Ahlus Sunnah As-Salafiyyin.

Dia berkata di majalahnya yang terbit di London, Majalah As-Sunnah no. 23, 
Dzulhijjah-1412 H hal. 29-30: Dan jenis manusia yang lain (Yang dimaksudkan 
adalah para ulama Arab Saudi “red) mengambil (yakni mengambil bantuan resmi) 
dan mengikatkan sikap-sikap mereka dengan sikap para tuan mereka (yang dimaksud 
dengan tuan mereka disini adalah para penguasa Arab Saudi). Maka jika sang tuan 
minta bantuan Amerika (Dia membicarakan masalah permintaan tolong kepada 
Amerika pada waktu perang teluk-red), para budak pun berlomba mengumpulkan 
dalil-dalil yang membolehkan perbuatan ini, dan mengingkari orang-orang yang 
menyelisihi mereka. Jika sang tuan berselisih dengan Iran Rafidhah, para 
budakpun membicarakan kebusukan Rafidhah. Dan jika perselisihan berhenti, para 
budakpun diam dan berhenti membagikan buku-buku yang diberikan kepada mereka. 
Jenis manusia ini: mereka berdusta, memata-matai, menulis laporan-laporan, dan 
melakukan segala sesuatu yang diminta oleh sang tuan kepada mereka. Mereka ini 
jumlahnya sedikit al-hamdulillah-, mereka adalah orang-orang asing di dalam 
dakwah dan amal islami. Dokumen mereka telah terbongkar, walaupun mereka 
memanjangkan jenggot, memendekkan pakaian, dan menyangka sebagai penjaga 
sunnah. Adanya jenis manusia tersebut tidaklah membahayakan dakwah Islam. 
Kemunafikan sudah ada sejak dahulu.

Alangkah sesatnya perkataan ini, karena memperolok-olok sunnah Nabi dapat 
membawa kepada kekafiran! Membenci ulama Ahlus Sunnah adalah ciri utama Ahli 
Bidah! Dan kesesatan-kesesatan lainnya.

Lihat:
[1] Fitnah Takfir Wal Hakimiyah, hal: 93, Karya: Muhammad bin Abdullah 
Al-Husain.
[2] Al-Ajwibah Al-Mufidah ‘An As-ilah Al-Manhaji Al-Jiddah, Bagian Pertama 
hal. 45-48
[3] Nazharat Fi Kitab Manhajul ambiya’ Fi Dakwah ila Allah, karya : Syaikh 
Ahmad Sallam.
[4] Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuuha, karya: Abu Ibrahim Ibnu Sulthan 
Al-‘Adnani
[5] Al-Irhab, Karya: Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al-Makhdali.
[6] Dan lain-lain.

Peringatan:
Sebagian orang menuduh kami (redaksi dan ustad-ustad Salaf lainnya “pen) 
sebagai sururi, yakni mengikuti pemahaman sesat Muhammad bin Surur, kemudian 
mereka memperingatkan kaum muslimin agar menjauhi kami.

Padahal sifat-sifat sururi tidak ada pada kami. Bahkan sifat-sifat itu banyak 
melekat pada orang-orang yang telah menuduh.

Maka disini kami nasehatkan dengan beberapa ayat dan hadits tentang bahaya 
menyakiti kaum muslimin, dan memfitnah mereka dengan perkara yang tidak ada 
pada mereka. Semoga Allah Taala memberikan petunjuk-Nya kepada mereka sehingga 
segera kembali ke jalan yang benar. Ingatlah bahwa seluruh perkataan pasti akan 
dicatat dan tidak akan dilupakan! 

Allah Taala berfirman:

Artinya : (Yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang 
duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu 
usapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang 
selalu hadir [Al-Israa : 17-18]

Ingatlah bahwa seluruh perkataan pasti dimintai pertanggung-jawaban! 

Allah Taala berfirman:

Artinya : Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai 
pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, 
semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya. [Al-Israa : 36]

Ketahuilah bahwa menyakiti orang-orang mumin dan muminat tanpa kesalahan yang 
mereka perbuat, merupakan kebohongan dan dosa yang nyata!

Allah taala berfirman:

Artinya : Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mumin dan muminat tanpa 
kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul 
kebohongan dan dosa yang nyata. [Al-Ahzab :58]

Ketahuilah bahwa satu kalimat saja dapat menyebabkan seseorang terjerumus ke 
dalam neraka lebih jauh dari jarak antara timur dan barat!.

Rasulullah bersabda:

Artinya : Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang dia 
fikirkan (baik atau buruknya) pada kalimat itu. Kalimat itu menyebabkan dia 
terjerumus ke dalam neraka lebih jauh dari timur dan barat. [HR. Bukhari, 
Muslim, dari Abu Hurairah].

Rasulullah memperingatkan bahaya tuduhan yang tidak benar dengan sabdanya:

Artinya  Tidaklah seseorang menuduh orang lain dengan kefasikan, dan tidaklah 
dia menuduh orang lain dengan kekafiran, kecuali tuduhan itu kembali kepadanya 
jika yang dituduh tidak seperti itu. [HR. Bukhari dari Abu Dzar].

Beliau juga memberitakan ancaman bagi orang yang membuat fitnah atas seorang 
mukmin dengan abdanya:

Artinya : Barangsiapa berbicara tentang seorang mukmin apa yang tidak ada 
padanya, niscaya Allah tempatkan dia di dalam lumpur racun penghuni neraka 
sampai dia keluar dari apa yang telah dia ucapkan, dan dia tidaklah akan 
keluar! [HR. Abu Dawud, Ahmad, dan Baihaqi, dari Ibnu Umar, di shahihkan Syaikh 
Ali bin Hasan Al-Halabi di dalam Ruyah Waqiiyyah hal: 84]

Hendaklah saudara-saudaraku mengetahui, kalau hanya sekedar tuduhan, maka 
dengan sangat mudah setiap orang akan dapat melakukannya.
Tetapi hal itu bukanlah manhaj Salaf. Karena manhaj mereka adalah mengawasi apa 
saja yang muncul dari lisan, atau apa yang digerakkan oleh lisan, dan 
menegakkan hujjah terhadap setiap kalimat yang dibicarakan oleh bibir. Adapun 
melepaskan tuduhan-tuduhan, melepaskan istilah-istilah kasar, menyelinapkan 
prasangka-prasangka rusak, memunculkan gelar-gelar keji, semua itu merupakan 
kebatilan dan perkataan yang dusta.

Sesungguhnya Allah Taala mengetahui seluruh isi hati hamba-Nya terakhir, 
ingatlah sabda Rasulullah :

Cukuplah seorang itu berdusta, jika dia menceritakan segala yang telah dia 
dengar. [HR. Muslim di dalam Muqaddimah dari Hafsh bin Ashim]

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun VI/1423H/2002M Hal.4-7]

HAKIKAT SURURIYAH

Oleh
Syaikh Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaily Hafidzohullah
sumber http://www.almanhaj.or.id

Pertanyaan
Syaikh Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaily Hafidzohullah ditanya : Semoga Allah menjaga 
Anda. Sering sekali kita mendengar tentang Sururiyah, harap Anda jelaskan 
hakikatnya ..! jazakumullahu khairan..

Jawaban.
Sururiyah termasuk istilah yang muncul akhir-akhir ini. Sebagian ulama telah 
berbicara tentang mereka, dan tentunya ini dikembalikan pada orang yang telah 
banyak meneliti pemikiran-pemikiran mereka secara rinci. Adapun globalnya, 
Sururiyah adalah : Mereka yang menisbatkan dirinya pada Muhammad bin Surur 
Zainal Abidin, yang di dalam manhajnya ada penyelewengan dari manhaj Ahlus 
Sunnah dalam masalah da'wah dan muamalah terhadap pemerintah, yang diambil dari 
manhaj-manhaj lain seperti manhaj Ikhwanul Muslimin juga lainnya. 

Dan orang-orang yang menisbatkan diri kepadanya sebagian mereka -terkadang 
berpemikiran sesuai dengan pemikirannya pada sebagian dasar-dasar manhaj mereka 
dengan sengaja atau tidak. Akan tetapi tidak benar untuk menisbatkan setiap 
orang yang menyeleweng dalam masalah ini kepada Sururiyah, karena barangkali 
seseorang itu aqidahnya sesuai dengan aqidah Ahlus Sunnah dan tidak ada 
hubungannya sama sekali dengan mereka, tapi dia telah menyimpang dan 
penyimpangan itu telah terbetik dalam pikiran mereka sebagaimana penyimpangan 
itu terbetik dalam pikiran Sururiyyin, maka tidak boleh kita memecah belah 
manusia.

Adapun orang yang menisbatkan dirinya pada Muhammad bin Surrur serta ridho
dengan pemikirannya dan berguru padanya, maka ini lain lagi urusannya, karena 
ada sebagian orang yang terkadang sesuai dengan sebagian pendapat mereka. Maka 
kita tidak boleh memecah belah, sebab jika kita golong-golongkan manusia dan 
menisbatkan mereka, sangat susah mereka itu untuk kembali kepada al-haq setelah 
itu, lain halnya jika kita katakan : Anda mempunyai kesalahan dalam hal ini, 
kembalilah pada al-haq..! maka mudah baginya untuk kembali.

Kemudian, pengetahuan tantang jamaah-jamaah yang ada pada zaman sekarang dan 
pendalaman pemikiran-pemikiran mereka, mungkin sulit bagi seorang penuntut ilmu 
dan tidak wajib bagi dia, tapi wajib untuk mengetahui keburukan itu secara 
global, sebagaimana kata Hudzaifah radhiallaahuanhu : Orang-orang bertanya 
kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tentang kebaikan dan saya 
bertanya kepadanya tentang keburukan karena takut terjerumus ke dalamnya, dalam 
hal ini dengan mengetahui penyimpangan mereka secara global. Adapun menyibukkan 
diri dengan perkataan-perkataan mereka, apa yang dikatakan Fulan, apa yang 
ditulis Fulan tentang mereka dan apa bantahannya serta menghabiskan umur dengan 
hal ini akan memalingkan kita dari menuntut ilmu, padahal umur itu pendek

Maka kewajiban kita adalah untuk mengetahui pokok-pooko aqidah Ahlus Sunnah, 
dasar-dasar ilmu dan mengetahui masalah-masalah syari yang dengannya kita dapat 
membedakan ahlul haq dan ahlul batil. Jika kita telah menguasainya maka tak 
akan terpengaruh dengan perkataan Fulan, apakah kita mengetahui perkataaannya 
atau tidak, karena kita mempunyai landasan yang kuat. Misalnya, kita telah tahu 
aqidah ahlus sunnah dalam masalah takfir (pengkafiran), terkadang kita tidak 
butuh untuk mengetahui hukum seseorang karena kita mempunyai kaidah benar yang 
dengannya kita dapat menghukumi setelah itu, jika kita telah tahu manhaj ahlus 
sunnah dalam masalah hajr (pengucilan), kita tidak butuh lagi untuk bertanya 
apakah si Fulan pantas untuk dihajr (dikucilkan) atau tidak, karena jika telah 
mengetahui kaidahnya, kita dapat menerapkannya pada orang lain.

Oleh karena itu, manusia butuh pada ilmu syari dan dasar-dasar ilmu. Adapun 
memperdalam tentang keadaan manusia, menukil perselisihan dan perkataan mereka, 
mungkin sulit dan melalaikan kita dari menuntut ilmu. Pendapat manusia dan apa 
yang ada mereka ada-adakan berupa bidah dan perselisihan tak akan ada habisnya, 
maka kita sibukkan diri dengan ilmu dan tashil, kemudian setelah itu kita punya 
kaidah yang benar dalam bermuamalah dengan yang menyimpang.


[Diterjemahkan dari Nasehat Syaikh Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaily hafidzohullah, 
dan risalah ini disusun oleh Abu Abdirrahman Abdullah Zaen dan Abu Bakr Anas 
Burhanuddin dkk Mahasiswa Universitas Islam Madinah]
_____  

From: [email protected] 
Sent: Monday, August 14, 2006 9:24 AM
To: [email protected]
Subject: [assunnah] Tanya : Tentang Manhaj Surury
Assalamu'alikum warohmatullahi wabarokatuh,
Ikhwahfillah, ana mau menanyakan tentang SURURY, 
Karena ada orang yg mengaku salafy dan mengatakan kepada Ana bahwa mengaji 
kpada ustadz selian dari golongan mereka, adalah Surury. 
Orang tersebut menyuruh ana datang ke tempatnya mengaji di masjid Jl.jend 
sudirman dan dekat fashion cafe (kalo tdk salah).
Yang ana tanyakan adalah:
Siapakah mereka ???
Apakah SURURY itu ?
Apa Ciri2 nya ?
Mohon dijawab dengan ILmiah dan berdasarkan dalil.
Wassalamu'alaikumwarohmatullahi wabarokatuh..





Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke