MENJAGA LISAN AGAR SELALU BERBICARA BAIK

Oleh
Syaikh Abdul Muhsin Bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr
Bagian Pertama dari Dua Tulisan 1/2
sumber http://www.almanhaj.or.id


Allah berfirman :

“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada 
Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki 
amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barangsiapa mentaati Allah dan 
RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenengan yang besar” 
[Al-Ahzab : 70-71]

Dalam ayat lain disebutkan.

“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, 
karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka itu adalah dosa. 
Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah kamu 
sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang 
diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Tentu kamu merasa 
jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha 
Penerima taubat lagi Maha Penyayang” [Al-Hujurat : 12]

Allah juga berfirman.

“Artinya : Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui 
apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada 
urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, 
seorang duduk disebelah kanan dan yang lain duduk disebelah kiri. Tiada 
suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di dekatnya malaikat pengawas 
yang selalu hadirs” [Qaf : 16-18]

Begitu juga firman Allah Ta’ala.

“Artinya : Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu’min dan mu’minat 
tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesunguhnya mereka telah memikul 
kebohongan dan dosa yang nyata” [Al-Ahzab : 58]

Dala kitab Shahih Muslim hadits no. 2589 disebutkan.

“Artinya : Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu 
‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada para sahabat, “Tahukah kalian apa 
itu ghibah ?” Para sahabat menjawab, “Allah dan RasulNya yang lebih 
mengetahui. “Beliau berkata, “Ghibah ialah engkau menceritakan hal-hal 
tentang saudaramu yang tidak dia suka” Ada yang menyahut, “Bagaimana apabila 
yang saya bicarakan itu benar-benar ada padanya?” Beliau menjawab, “Bila 
demikian itu berarti kamu telah melakukan ghibah terhadapnya, sedangkan bila 
apa yang kamu katakan itu tidak ada padanya, berarti kamu telah berdusta 
atas dirinya”

Allah Azza wa Jalla berfirman.

“Artinya : Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. 
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai 
pertanggungjawaban” [Al-Israa : 36]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah 
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Sesungguhnya Allah meridhai kalian pada tiga perkara dan membenci 
kalian pada tiga pula. Allah meridhai kalian bila kalian hanya menyembah 
Allah semata dan tidak mempersekutukannya serta berpegang teguh pada tali 
(agama) Allah seluruhnya dan janganlah kalian berpecah belah. Dan Allah 
membenci kalian bila kalian suka qila wa qala (berkata tanpa berdasar), 
banyak bertanya (yang tidak berfaedah) serta menyia-nyiakan harta” [1]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu 
‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Setiap anak Adam telah mendapatkan bagian zina yang tidak akan 
bisa dielakkannya. Zina pada mata adalah melihat. Zina pada telinga adalah 
mendengar. Zina lidah adalah berucap kata. Zina tangan adalah meraba. Zina 
kaki adalah melangkah. (Dalam hal ini), hati yang mempunyai keinginan 
angan-angan, dan kemaluanlah yang membuktikan semua itu atau 
mengurungkannya” [2]

Diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahihnya hadits no.10 dari Abdullah 
bin Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam 
bersabda.

“Artinya : Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat 
dari ganguan lisan dan tangannya”

Hadits di atas juga diriwayatkan oleh Muslim no.64 dengan lafaz.

“Artinya : Ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 
‘alaihi wa sallam, “Siapakah orang muslim yang paling baik ?’Beliau 
menjawab, “Seseorang yang orang-orang muslim yang lain selamat dari gangguan 
lisan dan tangannya”.

Hadits diatas juga diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir hadits no. 65 dengan 
lafaz seperti yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Abdullah bin Umar.

Al-Hafizh (Ibnu Hajar Al-Asqalani) menjelaskan hadits tersebut. Beliau 
berkata, “Hadits ini bersifat umum bila dinisbatkan kepada lisan. Hal itu 
karena lisan memungkinkan berbicara tentang apa yang telah lalu, yang sedang 
terjadi sekarang dan juga yang akan terjadi saat mendatang. Berbeda dengan 
tangan. Pengaruh tangan tidak seluas pengaruh lisan. Walaupun begitu, tangan 
bisa juga mempunyai pengaruh yang luas sebagaimana lisan, yaitu melalui 
tulisan. Dan pengaruh tulisan juga tidak kalah hebatnya dengan pengaruh 
tulisan”.

Oleh karena itu, dalam sebuah sya’ir disebutkan :

Aku menulis dan aku yakin pada saat aku menulisnya
Tanganku kan lenyap, namun tulisan tangannku kan abadi

Bila tanganku menulis kebaikan, kan diganjar setimpal
Jika tanganku menulis kejelekan, tinggal menunggu balasan.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya hadits no. 6474 dari Sahl 
bin Sa’id bahwa Rasulullah bersabda.

“Artinya : Barangsiapa bisa memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) apa 
yang ada di antara dua janggutnya dan dua kakinya, maka kuberikan kepadanya 
jaminan masuk surga”

Yang dimaksud dengan apa yang ada di antara dua janggutnya adalah mulut, 
sedangkan apa yang ada di antara kedua kakinya adalah kemaluan.

Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya no. 6475 dan Muslim dalam kitab Shahihnya 
no. 74 meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda.

“Artinya : Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka 
hendaknya dia berkata yang baik atau diam”

Imam Nawawi berkomentar tentang hadits ini ketika menjelaskan hadits-hadits 
Arba’in. Beliau menjelaskan, “Imam Syafi’i menjelaskan bahwa maksud hadits 
ini adalah apabila seseorang hendak berkata hendaklah ia berpikir terlebih 
dahulu. Jika diperkirakan perkataannya tidak akan membawa mudharat, maka 
silahkan dia berbicara. Akan tetapi, jika diperkirakan perkataannya itu akan 
membawa mudharat atau ragu apakah membawa mudharat atau tidak, maka 
hendaknya dia tidak usah berbicara”. Sebagian ulama berkata, “Seandainya 
kalian yang membelikan kertas untuk para malaikat yang mencatat amal kalian, 
niscaya kalian akan lebih banyak diam daripada berbicara”.

Imam Abu Hatim Ibnu Hibban Al-Busti berkata dalam kitabnya Raudhah Al-‘Uqala 
wa Nazhah Al-Fudhala hal. 45, “Orang yang berakal selayaknya lebih banyak 
diam daripada bicara. Hal itu karena betapa banyak orang yang menyesal 
karena bicara, dan sedikit yang menyesal karena diam. Orang yang paling 
celaka dan paling besar mendapat bagian musibah adalah orang yang lisannya 
senantiasa berbicara, sedangkan pikirannya tidak mau jalan”.

Beliau berkata pula di hal. 47, “Orang yang berakal seharusnya lebih banyak 
mempergunakan kedua telinganya daripada mulutnya. Dia perlu menyadari bahwa 
dia diberi telinga dua buah, sedangkan diberi mulut hanya satu adalah supaya 
dia lebih banyak mendengar daripada berbicara. Seringkali orang menyesal di 
kemudian hari karena perkataan yang diucapkannya, sementara diamnya tidak 
akan pernah membawa penyesalan. Dan menarik diri dari perkataan yang belum 
diucapkan adalah lebih mudah dari pada menarik perkataan yang telah 
terlanjur diucapkan. Hal itu karena biasanya apabila seseorang tengah 
berbicara maka perkataan-perkataannya akan menguasai dirinya. Sebaliknya, 
bila tidak sedang berbicara maka dia akan mampu mengontrol 
perkataan-perkataannya.

Beliau menambahkan di hal. 49, “Lisan seorang yang berakal berada di bawah 
kendali hatinya. Ketika dia hendak berbicara, maka dia akan bertanya 
terlebih dahulu kepada hatinya. Apabila perkataan tersebut bermanfaat bagi 
dirinya, maka dia akan bebicara, tetapi apabila tidak bermanfaat, maka dia 
akan diam. Adapun orang yang bodoh, hatinya berada di bawah kendali 
lisannya. Dia akan berbicara apa saja yang ingin diucapkan oleh lisannya. 
Seseorang yang tidak bisa menjaga lidahnya berarti tidak paham terhadap 
agamanya”.

[Disalin dari buku Rifqon Ahlassunnah Bi Ahlissunnah Menyikapi Fenomena 
Tahdzir & Hajr, Penulis Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al’Abbad Al-Badr, 
Terbitan Titian Hidayah Ilahi]
_________
Foote Note.
[1] Diriwayatkan oleh Muslim hadits no. 1715. Hadits tentang tiga perkara 
yang dibenci ini juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Mughirah hadits 
no.2408 dan diriwayatkan juga oleh Muslim.
[2] Diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahihnya hadits no. 6612 dan 
Muslim hadits no.2657. Lafaz di atas adalah yang terdapat dalam riwayat 
Muslim

_________________________________________________________________
Express yourself instantly with MSN Messenger! Download today it's FREE! 
http://messenger.msn.click-url.com/go/onm00200471ave/direct/01/





Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke