MENJAGA LISAN AGAR SELALU BERBICARA BAIK

Oleh
Syaikh Abdul Muhsin Bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr
Bagian Terakhir dari Dua Tulisan 2/2
sumber http://www.almanhaj.or.id


Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Shahihnya no. 6477 dan 
Muslim dalam kitab Shahihnya no. 2988 [3] dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah 
bersabda.

“Artinya : Sesungguhnya seorang hamba yang mengucapkan suatu perkataan yang 
tidak dipikirkan apa dampak-dampaknya akan membuatnya terjerumus ke dalam 
neraka yang dalamnya lebih jauh dari jarak timur dengan barat”

Masalah ini disebutkan pula di akhir hadits yang berisi wasiat Nabi kepada 
Muadz yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 2616 yang sekaligus dia 
komentari sebagai hadits yang hasan shahih. Dalam hadits tersebut Rasulullah 
bersabda.

“Artinya : Bukankah tidak ada yang menjerumuskan orang ke dalam neraka 
selain buah lisannya ?”

Perkataan Nabi di atas adalah sebagai jawaban atas pertanyaan Mu’adz.

“Artinya : Wahai Nabi Allah, apakah kita kelak akan dihisab atas apa yang 
kita katakan ?”

Al-Hafidz Ibnu Rajab mengomentari hadits ini dalam kitab Jami’ Al-Ulum wa 
Al-Hikam (II/147), “Yang dimaksud dengan buah lisannya adalah balasan dan 
siksaan dari perkataan-perkataannya yang haram. Sesungguhnya setiap orang 
yang hidup di dunia sedang menanam kebaikan atau keburukan dengan perkataan 
dan amal perbuatannya. Kemudian pada hari kiamat kelak dia akan menuai apa 
yang dia tanam. Barangsiapa yang menanam sesuatu yang baik dari ucapannya 
maupun perbuatan, maka dia akan menunai kemuliaan. Sebaliknya, barangsiapa 
yang menanam Sesuatu yang jelek dari ucapan maupun perbuatan maka kelak akan 
menuai penyesalan”.

Beliau juga berkata dalam kitab yang sama (hal.146), “Hal ini menunjukkan 
bahwa menjaga lisan dan senantiasa mengontrolnya merupakan pangkal segala 
kebaikan. Dan barangsiapa yang mampu menguasai lisannya maka sesungguhnya 
dia telah mampu menguasai, mengontrol dan mengatur semua urusannya”.

Kemudian pada hal. 149 beliau menukil perkataan Yunus bin Ubaid, “ Seseorang 
yang menganggap bahwa lisannya bisa membawa bencana sering saya dapati baik 
amalan-amalannya”.

Diriwayatkan bahwa Yahya bin Abi Katsir pernah berkata, “Seseorang yang baik 
perkataannya dapat aku lihat dari amal-amal perbuatannya, dan orang yang 
jelek perkataannya pun dapat aku lihat dari amal-amal perbuatannya”.

Muslim meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Shahihnya no. 2581 dari Abu 
Hurairah Rasulullah bersabda.

“Artinya : Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut ? Para sahabat pun 
menjawab, ‘Orang yang bangkrut adalah orang yang tidak memiliki uang dirham 
maupun harta benda. ‘Beliau menimpali, ‘Sesungguhnya orang yang bangkrut di 
kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa 
pahala shalat, puasa dan zakat, akan tetapi, ia juga datang membawa dosa 
berupa perbuatan mencela, menuduh, memakan harta, menumpahkan darah dan 
memukul orang lain. Kelak kebaikan-kebaikannya akan diberikan kepada orang 
yang terzalimi. Apabila amalan kebaikannya sudah habis diberikan sementara 
belum selesai pembalasan tindak kezalimannya, maka diambillah dosa-dosa yang 
terzalimi itu, lalu diberikan kepadanya. Kemudian dia pun dicampakkan ke 
dalam neraka”.

Muslim meriwayatkan sebuah hadits yang panjang dalam kitab Shahihnya no. 
2564 dari Abu Hurairah, yang akhirnya berbunya.

“Artinya : Cukuplah seseorang dikatakan buruk jika sampai menghina 
saudaranya sesama muslim. Seorang muslim wajib manjaga darah, harta dan 
kehormatan orang muslim lainnya”

Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Shahihnya hadits no. 1739 
; begitu juga Muslim [4] dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah pernah berkhutbah 
pada hara nahar (Idul Adha). Dalam khutbah tersebut beliau bertanya kepada 
manusia yang hadir waktu itu, “Hari apakah ini?” Mereka menjawab, “Hari yang 
haram”. Beliau bertanya lagi, “Negeri apakah ini?” Mereka menjawab, “Negeri 
Haram”. Beliau bertanya lagi, “Bulan apakah ini ?” Mereka menjawab, “Bulan 
yang haram”. Selanjutnya beliau bersabda.

“Artinya : Sesungguhnya darah, harta dan kehormatan kalian haram bagi 
masing-masing kalian (merampasnya) sebagaimana haramnya ; hari, bulan dan 
negeri ini. Beliau mengulangi ucapan tersebut beberapa kali, lalu berkata, 
“Ya Allah bukankah aku telah menyampaikan (perintah-Mu)? Ya Allah, bukankah 
aku telah menyampaikan (perintah-Mu) ?”

Ibnu Abbas mengomentari perkataan Nabi di atas, “Demi Allah yang jiwaku 
berada di tanganNya, sesungguhnya ini adalah wasiat beliau untuk umatnya. 
Beliau berpesan kepada kita, ‘Oleh karena itu, hendaklah yang hadir 
memberitahukan kepada yang tidak hadir. Janganlah kalian kembali kepada 
kekafiran sepeninggalku nanti, yaitu kalian saling memenggal leher”.

Muslim meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Shahihnya no. 2674 dari Abu 
Hurairah bahwa Rasulullah bersabda.

“Artinya : Barangsiapa yang menyeru kepada kebaikan maka dia mendapatkan 
pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi 
pahala-pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang menyeru kepada 
kesesatan maka baginya dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa 
mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun”

Al-Hafidz Al-Mundziri dalam kitab At-Targhib wa At-Tarhib (I/65) 
mengomentari hadits.

“Artinya : Apabila seorang manusia wafat, maka terputuslah jalan amal 
kecuali dari tiga perkara …dst”

Beliau berkata, “Orang yang mebukukan ilmu-ilmu yang bermanfaat akan 
mendapatkan pahala dari perbuatannya sendiri dan pahala dari orang yang 
membaca, menulis dan mengamalkannya, berdaasrkan hadits ini dan hadits yang 
semisalnya. Begitu pula, orang-orang yang menulis hal-hal yang membuahkan 
dosa, maka dia akan mendapatkan dosa dari perbuatannya sendiri dan dosa dari 
orang-orang yang membaca, menulis atau mengamalkannya, berdasarkan hadits.

“Artinya : Barangsiapa yang merintis perbuatan yang baik atau buruk, maka 
….”

Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Shahihnya no. 6505 dari 
Abu Hurairah, Rasulullah bersabda.

“Artinya : Sesungguhnya Allah berfirman, “Barangsiapa yang memusuhi 
kekasih-Ku, maka kuizinkan ia untuk diperangi”

[Disalin dari buku Rifqon Ahlassunnah Bi Ahlissunnah Menyikapi Fenomena 
Tahdzir dan Hajr, Penulis Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al’Abbad Al-Badr, 
Terbitan Titian Hidayah Ilahi]
_________
Foote Note
[3] Tetapi lafaz hadits tersebut adalah yang terdapat dalam riwayat muslim
[4] Tetapi lafaz yang tersebut terdapat dalam riwayat Bukhari

_________________________________________________________________
FREE pop-up blocking with the new MSN Toolbar - get it now! 
http://toolbar.msn.click-url.com/go/onm00200415ave/direct/01/





Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke