ETIKA BERGAUL

Oleh
Ustadz Fariq bin Gasim Anuz
Bagian Terkahir dari Dua Tulisan 2/2
sumber http://www.almanhaj.or.id


SIKAP-SIKAP YANG DISUKAI MANUSIA
[a]. Manusia Suka Kepada Orang Yang Memberi Perhatian Kepada Orang Lain.

Diantara bentuk perhatian kepada orang lain, ialah mengucapkan salam, 
menanyakan kabarnya, menengoknya ketika sakit, memberi hadiah dan 
sebagainya. Manusia itu membutuhkan perhatian orang lain. Maka, selama tidak 
melewati batas-batas syar’I, hendaknya kita menampakkan perhatian kepada 
orang lain. seorang anak kecil bisa berprilaku nakal, karena mau mendapat 
perhatian orang dewasa. orang tua kadang lupa bahwa anak itu tidak cukup 
hanya diberi materi saja. Merekapun membutuhkan untuk diperhatikan, ditanya 
dan mendapat kasih sayang dari orang tuanya. Apabila kasih sayang tidak 
didapatkan dari orang tuanya, maka anak akan mencarinya dari orang lain.

[b]. Manusia Suka Kepada Orang Yang Mau Mendengar Ucapan Mereka.

Kita jangan ingin hanya ucapan kita saja yang didengar tanpa bersedia 
mendengar ucapan orang lain. kita harus memberi waktu kepada orang lain 
untuk berbicara. Seorang suami –misalnya-ketika pulang ke rumah dan bertemu 
istrinya, walaupun masih terasa lelah, harus mencoba menyediakan waktu untuk 
mendengar istrinya bercerita. Istrinya yang ditinggal sendiri di rumah tentu 
tak bisa berbicara dengan orang lain. Sehingga ketika sang suami pulang, ia 
merasa senang karena ada teman untuk berbincang-bincang. Oleh karena itu, 
suami harus mendengarkan dahulu perkataan istri. Jika belum siap untuk 
mendengarkannya, jelaskanlah dengan baik kepadanya, bahwa dia perlu 
istirahat dulu dan nanti ceritanya dilanjutkan lagi.

Contoh lain, yaitu ketika teman kita berbicara dan salah dalam bicaranya 
itu, maka seharusnya kita tidak memotong langsung, apalagi membantahnya 
dengan kasar. kita dengarkan dulu pembicaraannya hingga selesai, kemudian 
kita jelaskan kesalahannya dengan baik.

[c]. Manusia Suka Kepada Orang Yang Menjauhi Debat Kusir.

Allah berfirman. "Artinya: “Serulah kepada jalan Rabbmu dengan hikmah, dan 
nasehat yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang baik,” Syaikh 
Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah dalam kasetnya, menerangkan 
tentang ayat : "Serulah kepada jalan Rabbmu dengan hikmah". Beliau berkata, 
“manusia tidak suka kepada orang yang berdiskusi dengan hararah (dengan 
panas). Karena umumnya orang hidup dengan latar belakang……..dan pemahaman 
yang berbeda dengan kita dan itu sudah mendarah daging……..sehinnga para 
penuntut ilmu, jika akan berdiskusi dengan orang yang fanatik terhadap 
madzhabnya, (maka) sebelum berdiskusi dia harus mengadakan pendahuluan untuk 
menciptakan suasana kondusif antara dia dengan dirinya. target pertama yang 
kita inginkan ialah agar orang itu mengikuti apa yang kita yakini 
kebenarannya, tetapi hal itu tidaklah mudah. Umumnya disebabkan fanatik 
madzhab, mereka tidak siap mengikuti kebenaran. target kedua, minimalnya dia 
tidak menjadi musuh bagi kita. Karena sebelumnya tercipta suasana yang 
kondusif antara kita dengan dirinya. Sehingga ketika kita menyampaikan yang 
haq, dia tidak akan memusuhi kita disebabkan ucapan yang haq tersebut. 
Sedangkan apabila ada orang lain yang ada yang berdiskusi dalam permasalahan 
yang sama, namun belum tercipta suasana kondusif antara dia dengan dirinya, 
tentu akan berbeda tanggapannya.

[d]. Manusia Suka Kepada Orang Yang Memberikan Penghargaan Dan Penghormatan 
Kepada Orang Lain.

Nabi mengatakan, bahwa orang yang lebih muda harus menghormati orang yang 
lebih tua, dan yang lebih tua harus menyayangi yang lebih muda. Permasalahan 
ini kelihatannya sepele. Ketika kita shalat di masjid……namun menjadikan 
seseorang tersinggung karena dibelakangi. Hal ini kadang tidak sengaja kita 
lakukan. Oleh karena itu, dari pengalaman kita dan orang lain, kita harus 
belajar dan mengambil faidah. Sehingga bisa memperbaiki diri dalam hal 
menghormati orang lain. Hal-hal yang membuat diri kita tersinggung, jangan 
kita lakukan kepada orang lain. Bentuk-bentuk sikap tidak hormat dan 
pelecehan, harus kita kenali dan hindarkan.

Misalnya, ketika berjabat tangan tanpa melihat wajah yang diajaknya. Hal 
seperti itu jarang kita lakukan kepada orang lain. Apabila kita diperlakukan 
kurang hormat, maka kita sebisa mungkin memakluminya. Karena-mungkin-orang 
lain belum mengerti atau tidak menyadarinya. Ketika kita memberi salam 
kepada orang lain, namun orang tersebut tidak menjawab, maka kita jangan 
langsung menuduh orang itu menganggap kita ahli bid’ah atau kafir. Bisa 
jadi, ketika itu dia sedang menghadapi banyak persoalan sehingga tidak sadar 
ada yang memberi salam kepadanya, dan ada kemungkinan-kemungkinan lainnya. 
Kalau perlu didatangi dengan baik dan ditanyakan,agar persoalannya jelas. 
Dalam hal ini kita dianjurkan untuk banyak memaafkan orang lain.

Allah berfirman.
"Artinya: “Terimalah apa yang mudah dari akhlaq mereka dan perintahkanlah 
orang lain mengerjakan yang ma’ruf serta berpalinglah dari orang-orang yang 
bodoh.” [Al-A’raaf : 199]

[e]. Manusia Suka Kepada Orang Yang Memberi Kesempatan Kepada Orang Lain 
Untuk Maju.

Sebagai seorang muslim, seharusnya senang jika saudara kita maju, berhasil 
atau mendapatkan kenikmatan, walaupun secara naluri manusia itu tidak suka, 
jika ada orang lain yang melebihi dirinya. Naluri seperti ini harus kita 
kekang dan dikikis sedikit demi sedikit. Misalnya, bagi mahasiswa. Jika di 
kampus ada teman muslim yang lebih pandai daripada kita. Maka kita harus 
senang. Jika kita ingin seperti dia, maka harus berikhtiar dengan rajin 
belajar dan tidak bermalas-malasan. Berbeda dengan orang yang dengki, tidak 
suka jika temannya lebih pandai dari dirinya. Malahan karena dengkinya itu 
dia bisa-bisa memboikot temannya dengan mencuri catatan pelajarannya dan 
sebagainya.

[f]. Manusia Suka Kepada Orang Yang Tahu Berterima Kasih Atau Suka Membalas 
Kebaikan.

Hal ini bukan berarti dibolehkan mengharapkan ucapan terima kasih atau 
balasan dari manusia jika kita berbuat kebaikan terhadap mereka. Akan tetapi 
hendaklah tidak segan-segan untuk mengucapkan terima kasih dan membalas 
kebaikan yang diberikan orang lain kepada kita.

[g]. Manusia Suka Kepada Orang Yang Memperbaiki Kesalahan Orang Lain Tanpa 
Melukai Perasaannya.

Kita perlu melatih diri untuk menyampaikan ungkapan kata-kata yamg tidak 
menyakiti perasaan orang lain dan tetapSampai kepada tujuan yang diinginkan. 
Dalam sebuah buku diceritakan, ada seorang suami yang memberikan ceramah 
dalam suatu majelis dengan bahasa yang cukup tinggi, sehingga tidak bisa 
dipahami oleh yang mengikuti majelis tersebut. Ketika pulang, dia menanyakan 
pendapat istrinya tentang ceramahnya. Istrinya menjawab dengan mengatakan, 
bahwa jika ceramah tersebut disampaikan di hadapan para dosen, maka tentunya 
akan tepat sekali.

Ucapan itu merupakan sindiran halus, bahwa ceramah itu tidak tepat 
disampaikan di hadapan hadirin saat itu, dengan tanpa mengucapkan perkataan 
demikian. Hal ini bukan berarti kita harus banyak berbasa-basi atau bahkan 
membohongi orang lain. Namun hal ini agar tidak melukai perasaan orang, 
tanpa kehilangan maksud untuk memperbaikinya.

SIKAP-SIKAP YANG TIDAK DISUKAI MANUSIA
Kita mempelajari sikap-sikap yang tidak disukai manusia agar terhindar dari 
sikap seperti itu. Maksud dari sikap yang tidak disukai manusia, ialah sikap 
yang menyelisihi syariat. berkaitan dengan sikap-sikap yang tidak disukai 
manusia, tetapi Allah ridho, maka harus kita utamakan. Dan sebaliknya, 
terhadap sikap-sikap yang dibenci oleh Allah, maka harus kita jauhi.

Adapun perbuatan-perbuatan yang tidak disukai manusia ialah sebagai berikut.

Pertama.
Memberi Nasehat Kepadanya Di Hadapan Orang Lain.

Al Imam Asy Syafii berkata dalam syairnya yang berbunyi.

Sengajalah engkau memberi nasehat kepadaku ketika aku sendirian
Jauhkanlah memberi nasehat kepadaku dihadapan orang banyak
Karena sesungguhnya nasehat yang dilakukan dihadapan manusia
Adalah salah satu bentuk menjelek – jelekkan
Aku tidak ridho mendengarnya
Apabila engkau menyelisihiku dan tidak mengikuti ucapanku
Maka janganlah jengkel apabila nasehatmu tidak ditaati

Kata nasehat itu sendiri berasal dari kata nashala, yang memiliki arti 
khalasa, yaitu murni. Maksudnya, hendaklah jika ingin memberikan nasehat itu 
memurnikan niatnya semata –mata karena Allah. Selain itu, kata nasehat juga 
bermakna khaththa, yang artinya menjahit. Maksudnya, ingin memperbaiki 
kekurangan orang lain. maka secara istilah, nasehat itu artinya keinginan 
seseorang yang memberi nasehat agar orang yang diberi nasehat itu menjadi 
baik.

Kedua.
Manusia Tidak Suka Diberi Nasehat Secara Langsung.

Hal ini dijelaskan Al Imam Ibn Hazm dalam kitab Al Akhlaq Was Siyar Fi 
Mudawatin Nufus, hendaklah nasehat yang kita berikan itu disampaikan secara 
tidak langsung. Tetapi, jika orang yang diberi nasehat itu tidak mengerti 
juga, maka dapatlah diberikan secara langsung.

Ada suatu metoda dalam pendidikan, yang dinamakan metoda bimbingan secara 
tidak langsung. Misalnya sebuah buku yang ditulis oleh Syaikh Shalih bin 
Humaid, imam masjidil Haram, berjudul At Taujihu Ghairul Mubasyir (bimbingan 
secara tidak langsung).

Metoda ini perlu dipraktekkan, walaupun tidak mutlak. Misalnya, ketika 
melihat banyak kebid’ahan yang dilakukan oleh seorang ustadz di suatu 
pengajian, maka kita tanyakan pendapatnya dengan menyodorkan buku yang 
menerangkan kebid’ahan-kebid’ahan yang dilakukannya.

Ketiga.
Manusia Tidak Suka Kepada Orang Yang Selalu Memojokkannya Dengan Kesalahan – 
Kesalahannya.

Yang dimaksud dengan kesalahan-kesalahan disini, yaitu kesalahan yang tidak 
fatal; bukan kesalahan yang besar semisal penyimpangan dalam aqidah. Karena 
manusia adalah makhluk yang banyak memiliki kekurangan-kekurangan pada 
dirinya.

Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alus Syaikh menjelaskan dalam ceramahnya, bahwa 
ada empat fenomena yang mengotori dakwah Ahlu Sunnah Wal Jamaah.

[1]. Memandang sesuatu hanya dari satu sisi, yaitu hanya dalam 
masalah-masalah ijtihadiyah.
[2]. Isti’jal atau terburu-buru.
[3]. Ta’ashub atau fanatik.
[4]. Thalabul kamal atau menuntut kesempurnaan.

Syaikh Shalih menjelaskan, selama seseorang berada di atas aqidah yang 
benar, maka kita seharusnya saling nasehat-menasehati, saling mengingati 
antara satu dengan yang lain. bukan saling memusuhi. Rasulullah bersabda 
yang artinya, “janganlah seorang mukmin membenci istrinya, karena jika dia 
tidak suka dengan satu akhlaknya yang buruk, dia akan suka dengan akhlaqnya 
yang baik.

Imam Ibn Qudamah menjelaskan dalam kitabMukhtasar Minhajul Qashidin, bahwa 
ada empat kriteria yang patut menjadi pedoman dalam memilih teman.

[1]. Aqidahnya benar.
[2]. Akhlaqnya baik.
[3]. Bukan dengan orang yang tolol atau bodoh dalam hal berprilaku. Karena 
dapat menimbulkan mudharat.
[4]. Bukan dengan orang yang ambisius terhadap dunia atau bukan orang yang 
materialistis.

Keempat.
Manusia Tidak Suka Kepada Orang Yang Tidak Pernah Melupakan Kesalahan Orang 
Lain.

Sebagai seorang muslim, kita harus bisa memafkan dan melupakan kesalahan 
orang lain atas diri kita. tidak secara terus-menerus mengungkit-ungkit, 
apalagi menyebut-nyebutnya di depan orang lain. terkadang pada kondisi 
tertentu, membalas kejahatan itu bisa menjadi suatu keharusan atau lebih 
utama. Syaikh Utsaimin dalam kitab Syarh Riyadush Shalihin menjelaskan, 
bahwa memaafkan dilakukan bila terjadi perbaikan atau ishlah dengan 
pemberian maaf itu. Jika tidak demikian, maka tidak memberi maaf lalu 
membalas kejahatannya.

Kelima.
Manusia Tidak Suka Kepada Orang Yang Sombong.

Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga, barang 
siapa yang di dalam hatinya ada sifat sombong, walau sedikit saja…….. " 
sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. ada 
beberapa faktor yang bisa menyebabkan manusia menjadi sombong.

[1]. Harta atau uang .
[2]. Ilmu.
[3]. Nasab atau keturunan.

Keenam
Manusia Tidak Suka Kepada Orang Yang Terburu-Buru Memvonis Orang Lain.

Dr. Abdullah Al Khatir rahimahullah menjelaskan, bahwa di masyarakat ada 
fenomena yang tidak baik. Yaitu sebagian manusia menyangka, jika menemukan 
orang yang melakukan kesalahan, mereka menganggap, bahwa cara yang benar 
untuk memperbaikinya, ialah dengan mencela atau menegur dengan keras. 
Padahal para ulama memilik kaedah, bahwa hukum seseorang atas sesuatu, 
merupakan cabang persepsinya atas sesuatu tersebut.

Ketujuh.
Manusia Tidak Suka Kepada Orang Yang Mempertahankan Kesalahannya, Atau Orang 
Yang Berat Untuk Rujuk Kepada Kebenaran Setelah Dia Meyakini Kebenaran 
Tersebut.

Syaikh Abdurrahman bin Yahya Al Mu’allimi rahimahullah berkata, “pintu hawa 
nafsu itu tidak terhitung banyaknya”. oleh karena itu, kita harus berusaha 
menahan hawa nafsu dan menundukkannya kepada kebenaran. Sehingga lebih 
mencintai kebenaran daripada hawa nafsu kita sendiri.

Kedelapan.
Manusia Tidak Suka Kepada Orang Yang Menisbatkan Kebaikan Kepada Dirinya Dan 
Menisbatkan Kejelekan Kepada Orang Lain.

Syaikh Utsaimin rahimahullah dalam kasetnya yang menjelaskan syarh Hilyatul 
‘ilm, tentang adab ilmu. Beliau menjelaskan, bahwa jika kita mendapati atsar 
dari salaf yang menisbatkan kebaikan kepada dirinya, maka kita harus 
husnudzan. Bahwa hal itu diungkapkan bukan karena kesombongan, tetapi untuk 
memberikan nasehat kepada kita.

Dalam kitab Ighasatul Lahfan, Al Imam Ibn Qayyim menjelaskan, bahwa manusia 
diberi naluri untuk mencintai dirinya sendiri. Sehingga apabila terjadi 
perselisihan dengan orang lain, maka akan menganggap dirinya yang berada di 
pihak yang benar, tidak punya kesalahan sama sekali. sedangkan lawannya, 
berada di pihak yang salah. Dia merasa dirinya yang didhalimi dan 
lawannyalah yang berbuat dhalim kepadanya. Tetapi, jika dia memperhatikan 
secara mendalam, kenyataannya tidaklah demikian.

Oleh karena itu, kita harus terus introspeksi diri dan hati-hati dalam 
berbuat. Agar bisa menilai apakah langkah kita sudah benar. Wallahu a’lam.

[Sumber : Majalah As-Sunnah edisi 03 – 04/ V11/ 1424/ 2003 M. Diterbitkan 
oleh Yayasan Lajnah Istiqomah, Jl Solo Purwodadi Km 8 Selokaton Gondangrejo 
Solo 57183]

_________________________________________________________________
Express yourself instantly with MSN Messenger! Download today it's FREE! 
http://messenger.msn.click-url.com/go/onm00200471ave/direct/01/





Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke