--- In [email protected],
>"hermansyahdwiwijaya" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> assalamu'alaikum
> 
> temanku ada yang bertanya kepadaku tentang ALLAH itu asal nya
> darimana. terus aku jawab kalo ALLAH itu ESA, dan tidak beranak dan
> diperanakkan, dan tidak ada satupun yang setara dengan DIA. seperti
> yang dijelaskan di surat ikhlas itu.
> 
> tapi temanku tetep menganggap jawaban itu masih belum memberi jawaban
> tentang darimana asal ALLAH.
> 
> sebaiknya apa yang aku lakukan, soalnya aku sendiri takut terjebak
> dalam diskusi ini, sehingga melemahkan tauhidku.
> 
> tolong saya saudaraku.makasih sebelunya
> 
> assalamu'alaikum
> 
> -Hermansyah-
>

Assalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh

Akhifillah, sebaiknya antum tanyakan saja kepadanya sesuai dengan
pertanyaan yang ada dalam Al-Qur'an :

Artinya : "Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka
yang menciptakan (diri mereka sendiri)?" [Ath Thuur: 35]

Artinya : "Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun, atukah mereka
yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah
menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa
yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Robbmu
atau merekakah yang berkuasa?" [Ath Thuur: 35-37]

Artinya : "Katakanlah: "Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang
ada padanya, jika kamu mengetahui?" Mereka akan menjawab, "Kepunyaan
Allah." Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak ingat?" Katakanlah:
"Siapakah yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya 'Arsy yang
besar?" Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka
apakah kamu tidak bertaqwa?" Katakanlah: "Siapakah yang di tangan-Nya
berada kekuasaan atas segala ssesuatu, sedang Dia melindungi, tetapi
tidak ada yang dapat dililndungi dari (azab)-Nya, jika kamu
mengetahui?" Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah:
"(kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?" [Al
Mu'minuun: 84-89]

Artinya : "Katakanlah: "Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari
langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran
dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang
mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang
mengatur segala urusan?" Maka mereka akan menjawab, "Allah." Maka
katakanlah: "Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?" Maka (Zat yang
demikian) itulah Allah Robb kamu yang sebenarnya. Tidak ada sesudah
kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan
(dari kebenaran)?" [Yunus: 31-32]

Akhi
Pertama, bukankah Allah Maha Perkasa lagi Maha Kuasa Atas Segala
Sesuatu. Dia adalah Dzat Yang Haq dan Yang Esa untuk disembah. Jadi
bagaimana mungkin Dzat Yang Maha Kuasa Atas Segala Sesuatu dulunya
tidak ada? sungguh jika demikian teman antum itu telah hilang akalnya.
Sebab bagaimana mungkin Dzat Yang Maha Kuasa harus diawali oleh Dzat
yang lain?.

Kedua, mengenai wujud Allah maka ana kutibkan penjelasan di situs
http://www.almanhaj.or.id: 

Wujud Allah telah dibuktikan oleh fitrah, akal, syara', dan indera.

[1]. Bukti fitrah tentang wujud Allah adalah bahwa iman kepada sang
Pencipta merupakan fitrah setiap makhluk, tanpa terlebih dahulu
berpikir atau belajar. Tidak akan berpaling dari tuntutan fitrah ini,
kecuali orang yang di dalam hatinya terdapat sesuatu yang dapat
memalingkannya.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

" Artinya : Semua bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ibu
bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi" [Hadits
Riwayat Al-Bukhari]

[2]. Adapun bukti akal tentang wujud Allah adalah proses terjadinya
semua makhluk, bahwa semua makhluk, yang terdahulu maupun yang akan
datang, pasti ada yang menciptakan. Tidak mungkin menciptakan dirinya
sendiri, dan tidak pula tercipta secara kebetulan. Tidak mungkin wujud
itu ada dengan sendirinya, karena segala sesuatu tidak akan dapat
menciptakan dirinya sendiri. Sebelum wujudnya tampak, berarti tidak ada.

Semua makhluk tidak mungkin tercipta secara kebetulan karena setiap
yang diciptakan pasti mebutuhkan pencipta. Adanya makhluk-makhluk itu
di atas undang-undang yang indah, tersusun rapi, dan saling terkait
dengan erat antara sebab-musababnya dan antara alam semesta satu sama
lainnya. Semua itu sama sekali menolak keberadaan seluruh makhluk
secara kebetulan, karena sesuatu yang ada secara kebetulan, pada
awalnya pasti tidak teratur.

Kalau makhluk tidak dapat menciptakan diri sendiri, dan tercipta
secara kebetulan, maka jelaslah, makhluk-makhluk itu ada yang
menciptakan, yaitu Allah Robb semesta alam.

Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan dalil aqli (akal) dan dalil
qath'i dalam surat Ath Thuur:

" Artinya : Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka
yang menciptakan (diri mereka sendiri)?" [Ath Thuur: 35]

Dari ayat di atas tampak bahwa makhluk tidak diciptakan tanpa
pencipta, dan makhluk tidak menciptakan dirinya sendiri. Jadi
jelaslah, yang menciptakan makhluk adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Ketika Jubair bin Muth'im mendengar dari Rasulullah Shallallahu
'Alaihi wa Sallam yang tengah membaca surat Ath Thuur dan sampai
kepada ayat-ayat ini:

"Artinya : Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun, atukah mereka
yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah
menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa
yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Robbmu
atau merekakah yang berkuasa?" [Ath Thuur: 35-37]

Ia, yang tatkala itu masih musyrik berkata, "Hatiku hampir saja
terbang. Itulah permulaan menetapnya keimanan dalam hatiku." [Hadits
Riwayat Al-Bukhari]

Dalam hal ini kami ingin memberikan satu contoh. Kalau ada seseorang
berkata kepada Anda tentang istana yang dibangun, yang dikelilingi
kebun-kebun, dialiri sungai-sungai, dialasi oleh hamparan karpet, dan
dihiasi dengan berbagai perhiasan pokok dan penyempurna, lalu orang
itu mengatakan kepada Anda bahwa istana dengan segala kesempurnaannya
ini tercipta dengan sendirinya, atau tercipta secara kebetulan tanpa
pencipta, pasti Anda tidak akan mempercayainya, dan menganggap
perkataan itu adalah perkataan dusta dan dungu. Kini kami bertanya
kepada Anda, masih mungkinkah alam semesta yang luas ini beserta
apa-apa yang berada di dalamnya tercipta dengan sendirinya atau
tercipta secara kebetulan?!

[3]. Bukti syara' tentang wujud Allah Subhanahu wa Ta'ala bahwa
seluruh kitab langit berbicara tentang itu. Seluruh hukum yang
mengandung kemaslahatan manusia yang dibawa kitab-kitab tersebut
merupakan dalil bahwa kitab-kitab itu datang dari Robb Yang Maha
Bijaksana dan Mengetahui segala kemaslahatan makhluknya. Berita-berita
alam semesta yang dapat disaksikan oleh realitas akan kebenarannya
yang didatangkan kitab-kitab itu juga merupakan dalil atau bukti bahwa
kitab-kitab itu datang dari Robb Yang Maha Kuasa untuk mewujudkan apa
yang dibeitakan itu.

[4]. Bukti inderawi tentang wujud Allah Subhanahu wa Ta'ala dapat
dibagi menjadi dua:

[a] Kita dapat mendengar dan menyaksikan terkabulnya doa orang-orang
yang berdoa serta pertolongan-Nya yang diberikan kepada orang-orang
yang mendapatkan musibah. Hal ini menunjukkan secara pasti tentang
wujud Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Allah berfirman:

" Artinya : Dan (ingatlah kisah) Nuh, sebelum itu ketika dia berdoa,
dan Kami memperkenankan doanya, lalu Kami selamatkan dia beserta
keluarganya dari bencana yang besar." [Al Anbiya: 76]

" Artinya : (Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabbmu,
lalu diperkenankan-Nya bagimu : Sesungguhnya Aku akan mendatangkan
bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang
berturut-turut" [Al Anfaal: 9]

Anas bin Malik Radhiyallahu 'Anhu berkata, "Pernah ada seorang Badui
datang pada hari Jum'at. Pada waktu itu Nabi Shallallahu 'Alaihi wa
Sallam tengah berkhotbah. Lelaki itu berkata' "Hai Rasul Allah, harta
benda kami telah habis, seluruh warga sudah kelaparan. Oleh karena itu
mohonkanlah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk mengatasi kesulitan
kami." Rasulullah lalu mengangkat kedua tanganya dan berdoa. Tiba-tiba
awan mendung bertebaran bagaikan gunung-gunung. Rasulullah belum turun
dari mimbar, hujan turun membasahi jenggotnya. Pada Jum'at yang kedua,
orang badui atau orang lain berdiri dan berkata, "Hai Rasul Allah,
bangunan kami hancur dan harta bendapun tenggelam, doakanlah akan kami
ini (agar selamat) kepada Allah." Rasulullah lalu mengangkat kedua
tangannya, seraya berdoa: "Ya Robbku, turunkanlah hujan di sekeliling
kami dan jangan Engkau turunkan sebagai bencana bagi kami." Akhirnya
beliau tidak mengisyaratkan pada suatu tempat kecuali menjadi terang
(tanpa hujan)." [Hadits Riwayat Al Bukhari]

[b]. Tanda-tanda para nabi yang disebut mukjizat, yang dapat
disaksikan atau didengar banyak orang merupakan bukti yang jelas
tentang wujud Yang Mengurus para nabi tersebut, yaitu Allah Subhanahu
wa Ta'ala, karena hal-hal itu berada di luar kemampuan manusia, Allah
melakukannya sebagai pemerkuat dan penolong bagi para rasul.

Ketika Allah memerintahkan Nabi Musa 'Alaihimus Sallam untuk memukul
laut dengan tongkatnya, Musa memukulkannya, lalu terbelahlah laut itu
menjadi dua belas jalur yang kering, sementara air di antara
jalur-jalur itu menjadi seperti gunung-gunung yang bergulung. Allah
berfirman.

"Artinya : Lalu Kami wahyukan kepada Musa: "Pukullah lautan itu dengan
tongkatmu.: Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah
seperti gunung yang besar." [Asy Syu'araa: 63]

Contoh kedua adalah mukjizat Nabi Isa 'Alaihimus Sallam ketika
menghidupkan orang-orang yang sudah mati; lalu mengeluarkannya dari
kubur dengan ijin Allah.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.

" Artinya :  dan aku menghidupkan orang mati dengan seijin Allah ¦."
[Ali Imran: 49]

"Artinya :  dan (ingatlah) ketika kamu mengeluarkan orang mati dari
kuburnya (menjadi hidup) dengan ijin-Ku." [Al Maidah :110]

Contoh ketiga adalah mukjizat Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa
Sallam ketika kaum Quraisy meminta tanda atau mukjizat. Beliau
mengisyaratkan pada bulan, lalu terbelahlah bulan itu menjadi dua, dan
orang-orang dapat menyaksikannya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman
tentang hal ini.

"Artinya : Telah dekat (datangnya) saat (kiamat) dan telah terbelah
pula bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrik) melihat suatu tanda
(mukjizat), mereka berpaling dan berkata: "(Ini adalah) sihir yang
terus-menerus." [Al-Qomar: 1-2]

Tanda-tanda yang diberikan Allah, untuk memperkuat para rasulNya dan
sebagai pertolongan atas mereka, menunjukkan dengan pasti akan
keberadaan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Ketiga, akhi untuk itu dalam kita sangatlah perlu kita mengenal Allah
dengan cara : 1. Mengenal Allah dengan Ayat-ayat Kauniah-Nya, 2.
Mengenal Allah dengan As'ma dan Sifat Allah Subhanahu Wa Ta'ala

Oleh karena itu ana sarankan antum membaca kitab "3 Landasan Pokok"
karya Syaikh Shaleh Utsaimin, Insya'allah disitu terdapat
penjelasannya. Ana khawatirkan teman antum itu seorang sufi sehingga
nantinya dapat mempengaruhi antum dengan pemikiran-pemikiran sesatnya.
  Dan yang penting diingat bagi antum, bahwa agama tidaklah berasal
dari akal. Jadi jangan sampai mengakali agama apalagi masalah Aqidah.









Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke