From: [email protected] 
Sent: Monday, October 16, 2006 9:59 AM
To: [email protected]
Subject: [assunnah] Masalah Penentuan 1 Syawal 1427 H
Assalamu'alaikum warahmatullahiwabarakatuh,
Seperti yang kita ketahui bersama, mungkin juga ada yang blm tahu bahwa 
kalangan Muhammadiyah telah menentukan bahwa tanggal 1 Syawal 1427 H (Idul 
Fitri) akan jatuh pada hari Senin tanggal 23 Oktober 2006, sedangkan pemerintah 
menetapkan bahwa 1 Syawal 1427 H akan jatuh pada hari Selasa tanggal 24 Oktober 
2006.
Pertanyaannya :
1. Manakah yang harus kita ikuti dalam menentukan hari Raya Idul Fitri tahun 
ini, apakah tgl 23 atau 24 Oktober ???
2. Apakah pada tanggal 23 Oktober 2006 kita masih wajib berpuasa, apabila 
pemerintah tetap menetapkan bahwa 1 Syawal itu jatuh pada hari Selasa tgl 24 
Oktober 2006 ?
Mohon tanggapannya, karena saya tidak ingin menjalankan puasa pada hari yang 
diharamkan untuk berpuasa.
Sebelum & sesudahnya saya haturkan beribu terimkasih.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahiwabarakatuh.
Hans

Walaikumusallam Warahmatullahi Wabarakatuh,

Akhi Hans , ana bantu jawab no. 1 yah.

SERING TERJADI PERSELISIHAN AWAL RAMADHAN, HARI RAYA IEDUL FITHRI DAN IEDUL 
ADHA, BAGAIMANA CARA MENYATUKAN HARI RAYA KAUM MUSLIMIN ?

Oleh
Lajnah Da'imah Lil Buhuts Ilmiah Wal Ifta.
sumber http://www.almanhaj.or.id
 

Pertanyaan.
Lajnah Da'imah Lil Buhuts Ilmiah Wal Ifta ditanya : Bagaimana pendapat Islam 
tentang perselisihan hari raya kaum muslimin, yaitu Idul Fithri dan Iedul Adha 
? Perlu diketahui, hal ini dapat menyebabkan berpuasa pada hari yang diharamkan 
berpuasa, yaitu hari raya Iedul Fithri atau berbuka pada hari diwajibkan 
berpuasa? Kami mengharapkan jawaban tuntas tentang permasalahan yang penting 
ini, yang dapat kami jadikan alasan di hadapan Allah. Jika terjadi 
perselisihan, kemungkinan bisa dua hari, (atau) kemungkinan tiga
hari. Seandainya Islam menolak perselisihan, bagaimana jalan yang benar untuk 
menyatukan hari raya kaum Muslimin ?

Jawaban
Para ulama sepakat bahwa Mathla' Hilal berbeda-beda. Dan hal itu diketahui 
dengan panca indera dan akal. Akan tetapi mereka berselisih dalam memberlakukan 
atau tidaknya dalam memulai puasa Ramadhan dan mengakhirinya. Ada dua pendapat :
 
Pertama.
Diantara imam fiqih berpendapat, bahwa berbedanya Mathla berlaku dalam
menentukan permulaan puasa dan penghabisannya.

Kedua.
Diantara mereka tidak memberlakukannya, dan setiap kelompok berdalil dengan 
Kitab, Sunnah serta Qias

Dan kadang-kadang, kedua kelompok berdalil dengan satu nash, karena ada 
persamaan dalam beristidlal (berdalil), seperti firman Allah Ta'ala.

"Artinya : Barangsiapa diantara kalian yang menyaksikan bulan, maka
berpuasalah" [Al-Baqarah : 185]

FirmanNya.
"Artinya :Mereka bertanya tentang hilal. Katakanlah : Sesungguhnya ia adalah 
penentu waktu bagi manusia" [Al-Baqarah : 189]

Dan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam

"Artinya : Berpuasalah kalian dengan melihatnya, dan berbukalah dengan
melihatnya"

Itu semua karena perbedaan mereka dalam memahami nash dalam mengambil
istidlal dengannya.

Kesimpulannya.
Permasalahan yang ditanyakan masuk ke dalam wilayah ijtihad. Oleh karenanya, 
para ulama -baik yang terdahulu maupun yang sekarang- telah berselisih. Dan 
tidak mengapa, bagi penduduk negeri manapun, jika tidak melihat hilal pada 
malam ketiga puluh untuk mengambil hilal yang bukan mathla mereka, jika kiranya 
mereka benar-benar telah melihatnya.

Jika sesama mereka berselisih juga, maka hendaklah mereka mengambil
keputusan pemerintah negaranya -jika seandainya pemerintah mereka Muslim. 
Karena, keputusannya dengan mengambil salah satu dari dua pendapat, akan 
mengangkat perselisihan. Dalam hal ini umat wajib mengamalkannya. Dan jika 
pemerintahannya tidak muslim, maka mereka mengambil pendapat Majlis Islamic 
Center yanga ada di Negara mereka, untuk menjaga persatuan dalam berpuasa 
Ramadhan dan shalat 'Ied.

Semoga Allah memberi taufiq, dan semoga shalawat dan salam tercurahkan
kepada Nabi, keluarga dan para sahabatnya.


Tertanda
Wakil Ketua : Abdur Razzaq Afifi
Anngota ; Abdullah bin Ghudayyan, Abdullah bin Mani
[Fatawa Ramadhan 1/117]

FATWA SYAIKH ABDUL AZIZ BIN ABDULLAH BIN BAZ 

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Saya dari Asia Tenggara. Tahun 
Hijriah kami terlambat satu hari dibandingkan dengan Kerajaan Arab Saudi. Dan 
kami para mahasiswa- akan bersafar pada bulan Ramadhan tahun ini. Rasulullah 
bersabda : "Puasalah kalian dengan melihatnya (hilal, -pen) dan berbukalah 
kalian dengan melihatnya .." Sampai akhir hadits. Kami telah memulai puasa di 
Kerajaan Arab Saudi, kemudian akan bersafar ke negara kami pada bulan Ramadhan. 
Dan di penghujung Ramadhan, puasa kami menjadi 31 hari.
Pertanyaan kami, bagaimana hukum puasa kami dan berapa hari kami harus
berpuasa ?

Jawaban
Jika anda berpuasa di Saudi atau di tempat lainnya, kemudian sisanya
berpuasa di negara anda, maka berbukalah bersama mereka (yaitu berhari raya 
bersama mereka, pen), sekalipun berlebih dari tiga puluh hari. (Ini) sesuai 
dengan sabda Rasulullah.

"Artinya : Puasa adalah hari semua kalian berpuasa. Dan berbuka adalah
ketika semua kalian berbuka"

Akan tetapi jika tidak sampai 29 hari, maka hendaklah disempurnakan, karena 
bulan tidak akan kurang dari 29 hari. Wallahu Waliyyut Taufiq

[Fatawa Ramadhan 1/145]

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Jika telah pasti masuk bulan 
Ramadhan di salah satu negara Islam, seperti Kerajaan Arab Saudi, dan 
selanjutnya negara tersebut mengumumkannya, akan tetapi di negara yang saya 
tempati belum diumumkan masuknya bulan Ramadhan, bagaimanakah hukumnya ?
Apakah kami berpuasa cukup dengan terlihatnya di Saudi ? Atau kami berbuka dan 
berpuasa dengan mereka (negara saya, red), ketika mereka mengumumkan masuknya 
bulan Ramadhan ? Begitu juga denan permasalahan masuknya bulan Syawal, yaitu 
hari 'Ied. Bagaimana hukumnya jika dua negara berselisih.

Semoga Allah membalas dengan sebaik balasan dari kami dan dari kaum
muslimin.

Jawaban
Setiap muslim, hendaklah berpuasa bersama dengan negara tempat ia tinggal,dan 
berbuka dengannya, sesuai sabda Nabi.

"Artinya : Puasa kalian adalah pada hari kalian berpuasa. Dan berbuka
kalian, ialah pada hari kalian berbuka. Dan hari penyembelihan kalian, ialah 
hari ketika kalian (semua) menyembelih"

Wa Billahi Taufiq

[Fatawa Ramadhan 1/112]

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun VIII/1425H/2004M, Diterbitkan 
Yayasan Lajnah Istiqomah, Surakarta, Penyusun Artikel Armen Halim Naro]



Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke