>From: "adi yanuar" <[EMAIL PROTECTED]>
>Date: Tue Dec 12, 2006 2:59 pm 
>Tanya: Tentang Tafsir Az Zukhruf 67, Qodho dan Qadar, Birrul Walidai
>Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
>Saya mempunyai seorang teman. Beliau beragama Islam, sedangkan Ibu 
>beliau masih beragama kristen. Beliau pada saat ini sedang gundah 
>setelah membaca surah Az Zukhruf ayat 67. Beliau bersedih dan 
>memohon nasihat tentang keadaan Ibu beliau. Oleh karena itu,
>- Mohon karena Allah, sekiranya dapat membantu tentang tafsir 
>ayat tersebut.
>- Mohon nasihat untuk mengatasi kegundahan dan kesedihan beliau.
>- Mohon nasihat pula tentang berbakti kepada Orangtua.
>Sebelumnya saya sampaikan Jazakallah khairan katsira.
>Terimakasih atas perhatian saudaraku sekalian.
>Jawabannya saya tunggu sekali.
>Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillah
Dibawah ini akan saya salinkan dari situs almanhaj tentang bagaiama sikap 
seharusnya seorang anak kepada orang tua yang masih kafir.

KISAH TELADAN KEPADA ORANG TUA
Sahabat Abu Hurairah sempat gelisah karena ibunya masih dalam jeratan 
kekufuran. Dalam shahih Muslim disebutkan, dari Abu Hurairah, ia bercerita.

Aku mendakwahi ibuku agar masuk Islam. Suatu hari aku mengajaknya untuk 
masuk Islam, tetapi dia malah mengeluarkan pernyataan tentang Nabi yang aku 
benci. Aku (pun) menemui Rasulullah dalam keadaan menangis. Aku mengadu.

“Wahai Rasulullah, aku telah membujuk ibuku untuk masuk Islam, namun dia 
menolakku. Hari ini, dia berkomentar tentang dirimu yang aku benci. Mohonlah 
kepada Allah supaya memberi hidayah ibu Abu Hurairah”. Rasulullah bersabda : 
“Ya, Allah. Tunjukilah ibu Abu Hurairah”. Aku keluar dengan hati riang 
karena do’a Nabi. Ketika aku pulang dan mendekati pintu, maka ternyata pintu 
terbuka. Ibuku mendengar kakiku dan berkata : “Tetap di situ Abu Hurairah”. 
Aku mendengar kucuran air. Ibu-ku sedang mandi dan kemudian mengenakan 
pakaiannya serta menutup wajahnya, dan kemudian membuka pintu. Dan ia 
berkata : “Wahai, Abu Hurairah ! Asyhadu an Laa Ilaaha Illa Allah wa Asyhadu 
Anna Muhammadan Abduhu wa Rasuluhu”. Aku kembali ke tempat Rasulullah dengan 
menangis gembira. Aku berkata, “Wahai, Rasulullah, Bergembiralah. Allah 
telah mengabulkan do’amu dan menunjuki ibuku”. Maka beliau memuji Allah dan 
menyanjungNya serta berkomentar baik” [Hadits Riwayat Muslim]
http://www.almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1997&bagian=0

SIKAP ANAK KEPADA ORANG TUA YANG MASIH KAFIR

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
sumber http://www.almanhaj.or.id

Bagaimana seorang anak harus bersikap terhadap orang tuanya yang masih kafir 
?

Kisah Sahabat Sa'ad bin Abi Waqqas Radhiyallahu 'anhu dan ibunya dapat 
dijadikan sebagai pelajaran.

Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim (Juz. IV hal. 1877 no. 1748 
(43)), Diceritakan bahwa Ummu Sa'ad (ibunya Sa'ad) bersumpah tidak akan 
berbicara kepada anaknya dan tidak mau makan dan minum karena menginginkan 
Sa'ad murtad dari ajaran Islam. Ummu Sa'ad mengetahui bahwa Allah Subhanahu 
wa Ta'ala menyuruh seorang anak berbuat baik kepada kedua orang tuanya. 
Ibunya berkata, "Aku tahu Allah menyuruhmu berbuat baik kepada ibumu dan aku 
menyuruhmu untuk keluar dari ajaran Islam ini". Kemudian selama tiga hari 
Ummu Sa'ad tidak makan dan minum. Bahkan memerintahkan Sa'ad untuk kufur. 
Sebagai seorang anak Sa'ad tidak tega dan merasa iba kepada ibunya. 
berkaitan dengan kisah Sa'ad ini Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan wahyu 
seperti yang terdapat pada surat Al-Ankabut ayat 8 .

"Artinya : Dan Kami berwasiat kepada manusia agar berbakti kepada orang 
tuanya dengan baik, dan apabila keduanya memaksa untuk menyekutukan Aku yang 
kamu tidak ada ilmu, maka janganlah taat kepada keduanya"

Sedangkan wahyu yang kedua dalam surat Luqman ayat 15.

"Artinya : Dan apabila keduanya memaksamu untuk menyekutukan Aku dengan 
apa-apa yang tidak ada ilmu padanya, jangan taati keduanya dan bergaul lah 
dalam kehidupan dunia dengan perbuatan yang ma'ruf (baik) dan ikutilah jalan 
orang-orang yang kembali kepada-Ku kemudian hanya kepada-Ku lah kembalimu, 
maka Ku-beritakan kepadamu apa-apa yang telah kamu kerjakan".

Turunnya ayat ini membuat Sa'ad semakin bertambah mantap keyakinannya dan 
akhirnya Sa'ad membuka mulut ibunya dan memaksa ibunya untuk makan. Dengan 
demikian Sa'ad tidak berbuat kufur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan juga 
bisa berbuat baik kepada ibunya.

Para Ulama mengambil dalil dari ayat ini tentang wajibnya berbakti dan 
bersilaturahmi kepada kedua orang tua meskipun keduanya masih kafir. Kafir 
yang dimaksud pada permasalahan ini bukan kafir harbi (kafir yang menentang 
dan memerangi Islam).

Jika orang tuanya tidak kafir harbi, tidak menyerang kaum muslimin, maka 
hendaklah bergaul dengan mereka dengan baik dan bersilaturahmi kepada 
keduanya. Hal tersebut didasarkan kepada surat Luqman ayat 14.

"Artinya : Dan bergaul-lah kepada keduanya dalam kehidupan dunia dengan cara 
yang ma'ruf"

Kemudian dalam surat Al-Mumtahanah ayat 8, Allah Subhanahu wa Ta'ala 
memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada orang-orang yang tidak 
menyerang kita.

"Artinya : Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil 
terhadap orang-orang yang tidak memerangi kamu karena agama. Dan tidak pula 
mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang 
berlaku adil".

Kisah ini terjadi pada Asma binti Abu Bakar Ash-Shidiq. Ketika ibunya yang 
masih dalam keadaan musyrik akan datang untuk berkunjung kepadanya, Asma 
meminta fatwa kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Kemudian 
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Hendaklah kamu 
menyambung silaturahmi kepada ibumu" [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim]

Secara fitrah, seorang anak akan mencintai orang tuanya karena merekalah 
yang melahirkan serta mengurusnya, tapi jika mencintainya karena iman maka 
tidak dibenarkan. Dengan dasar surat Al-Mujadalah ayat 22.

"Artinya : Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah 
dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang 
Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak 
atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang 
Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka 
dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke 
dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di 
dalamnya. Allah ridla terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap 
(limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa 
sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung"

Jika keduanya kafir harbi, maka tidak boleh berbakti dan bersilaturahmi 
kepada keduanya dengan dasar surat Al-Mumtahanah ayat 9.

"Artinya : Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu 
orang-orang yang memerangimu karena agama. Dan mengusir kamu dari negerimu, 
dan membantu orang lain untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka 
sebagai kawan, maka mereka adalah orang-orang yang zhalim.

Dengan demikian kita tidak boleh berbuat baik kepada orang-orang kafir harbi 
atas dasar ayat tersebut. Bahkan seandainya bertemu di medan perang, 
diperbolehkan untuk dibunuh. Hal ini sudah pernah terjadi terhadap Abu 
Ubaidah Ibnul Jarrah dengan bapaknya pada waktu perang Badar. Bapaknya ikut 
di medan pertempuran dan berada di pihak kaum musyrikin kemudian Abu Ubaidah 
membunuhnya.

Timbul pertanyaan, "Bolehkah mendo'akan orang tua yang masih kafir?" 
Jawabnya adalah, baik kafir harbi atau bukan kafir harbi tidak diperbolehkan 
mendoakannya untuk memintakan ampun dan kasih sayang kepada Allah Subhanahu 
wa Ta'ala, ketika keduanya masih hidup maupun sudah meninggal. Dasarnya 
adalah surat At-Taubah ayat 113, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.

"Artinya : Tidaklah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang beriman memintakan 
ampun kepada Allah bagi orang-orang musyrik walaupun orang-orang musyrik itu 
kaum kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka bahwasanya orang-orang musyrik 
itu adalah penghuni neraka jahannam"

Ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam meminta kepada Allah Subhanahu wa 
Ta'ala supaya mengampuni dosa ibunya, Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak 
mengabulkannya karena ibunya mati dalam keadaan kafir[1] Kedua orang tua 
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mati dalam keadaan kafir[2] Kalau ada 
yang bertanya, "Bukankah pada saat itu belum diutus Rasulullah Shallallahu 
'alaihi wa sallam ?" Saat itu sudah ada millah Ibrahim. Sedangkan kedua 
orang tua Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak masuk dalam millah 
Ibrahim sehingga keduanya masih dalam keadaan kafir [3]

Nabi Ibrahim juga pernah memintakan ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala 
untuk kedua orang tuanya yang masih kafir, karena pada waktu itu Ibrahim 
belum tahu dan belum turun wahyu tentang adanya larangan tersebut. Setelah 
turun wahyu, Ibrahim kemudian menahan diri. Kisah ini bisa dilihat dalam 
surat At-Taubah ayat 114.

"Artinya : Dan permintaan ampun dari Ibrahim kepada Allah untuk bapaknya 
tidak lain hanyalah karena janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya 
itu maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah 
maka Ibrahim berlepas diri daripadanya, sesungguhnya Ibrahim adalah seorang 
yang sangat lembut hatinya dan lagi menyantun"

Jika orang tua masih kafir tetapi bukan kafir harbi, maka diperbolehkan 
mendo'akan agar mereka diberikan hidayah. Dikatakan oleh Imam Al-Qurtubi, 
ayat yang ke-8 tadi merupakan dalil tentang tetapnya menyambung tali 
silaturrahmi kepada orang tua yang masih kafir serta mendo'akan keduanya 
agar mendapatkan hidayah dan kembali ke jalan yang haq.

Walaupun tidak boleh memintakan ampunan dan rahmat kepada orang tua yang 
masih kafir tetapi masih diperbolehkan memintakan hidayah kepada Allah 
Subhanahu wa Ta'ala dan mendakwahkannya jika bukan kafir harbi. Jadi dakwah 
kepada orang tua yang masih kafir harus tetap dilakukan dan dengan cara yang 
baik. Dapat kita lihat bagaimana dakwahnya Ibarahim 'Alaihi Shalatu wa 
sallam kepada orang tuanya. Beliau mendakwahkan dengan kata-kata yang lemah 
lembut. Dakwah kepada orang tua yang masih kafir saja harus dilakukan dengan 
kata-kata yang lemah lembut, terlebih lagi jika orang tuanya tidak kafir 
tetapi masih suka melakukan bid'ah, harus didakwahkan dengan kata-kata lebih 
lemah lembut lagi.

Sikap Nabi Ibrahim terhadap bapaknya yang kafir dapat dilihat dalam surat 
Maryam ayat 41-48.

"Artinya : Ceritakanlah wahai Muhammad kisah Ibrahim di dalam kitab 
Al-Qur'an, sesungguhnya dia seorang yang sangat membenarkan lagi seorang 
Nabi"

Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya, "Wahai bapakku, mengapa engkau 
menyembah sesuatu yang tidak dapat mendengar, tidak melihat dan tidak dapat 
menolongmu sedikitpun juga"

"Wahai bapakku sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan 
yang tidak datang kepadamu. Maka ikutilah aku niscaya aku akan menunjukkan 
kamu ke jalan yang lurus"

"Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaithan sesungguhnya syaitan itu 
durhaka kepada Allah Yang Maha Pemurah"

"Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa adzab dari Allah 
Yang Maha Pemurah maka kamu menjadi kawan bagi syaitah"

Berkata bapaknya, "Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku hai Ibrahim jika kamu 
tidak berhenti niscaya akan aku rajam dan tinggalkanlah aku buat waktu yang 
lama"

Ibrahim berkata, "Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu aku akan meminta 
ampun bagimu kepada Allah sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku"

"Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang engkau seru selain 
Allah dan aku akan berdo'a kepada Rabb-ku mudah-mudahan aku tidak kecewa 
dengan berdo'a kepada Rabb-ku

http://www.almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1327&bagian=0
[Disalin dari Kitab Birrul Walidain, edisi Indonesia Berbakti Kepada Kedua 
Orang Tua oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, terbitan Darul Qolam - 
Jakarta]
_________
Foote Note.
[1]. Hadits Riwayat Muslim Kitabul Jazaaiz 2 hal.671 no. 976-977, Abu Dawud 
3234, Nasa'i 4 hal. 90 dll
[2]. Dalilnya, ada seorang bertanya, "Ya Rasulullah ! Dimana Ayahku" Jawab 
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, "Ayahmu di Neraka". Ketika orang 
itu akan pergi, dipanggil lagi, beliau bersabda, "Ayahku dan ayahmu di 
neraka" [Hadits Shahih Riwayat Muslim Kitabul Iman I/191 no. 203, Abu Dawud 
no. 4718 Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra 7/190] Pada riwayat yang lain, Nabi 
Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada kedua anak Mulaikah, "Ibu kamu 
di Neraka", keduanya belum bisa menerima, lalu Nabi panggil dan beliau 
bersabda, "Sesungguhnya ibuku bersama ibumu di Neraka" [Thabrani dalam 
Mu'jam Kabir (10/98-99 no. 10017)], Hakim 4/364.
[3]. Lihat, Adillah Mu'taqad Abi Hanifah fil A'zham fii Abawayir Rasul 
Alaihis Shalatu wa Salam ta'lif Al-'Alamah Ali bin Sulthan Muhammad Al-Qary 
(wafat 1014)

_________________________________________________________________
FREE pop-up blocking with the new MSN Toolbar - get it now! 
http://toolbar.msn.click-url.com/go/onm00200415ave/direct/01/



Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : http://www.assunnah.or.id/ragam/aturanmilis.php
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke