On 1/6/07, Desi Kusrini <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> assalamu'alaikum
> saya mau nanya apakah sama antara salafy sama assunnah dan 
> ahlusunnah wal jamaah? mana sih ajaran yang benar? saya jadi 
>bingung? balas ke email yg baru saya ya [EMAIL PROTECTED]
> syukron     

Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabrakatuh
   
  Sebenarnya, antara Salafi, Assunnah atau Ahlussunnah Waljamaah adalah sama. 
itulah jalan yang haq.antum bisa baca di buku Syarah Aqidah AhlusSunnah Wal 
Jamaah tulisan Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas kalo ga salah terbitan 
Pustaka Imam Syafii.di situ dijabarkan secara gamblang bahwa AhlusSunnah Wal 
Jamaah dan Salafi atau Salafiyyah itu sama dan itulah yang disebut Firqatun 
Naajiyah (golongan yang selamat) di antara 73 golongan dalam Islam. dan menurut 
ulama2 AhlusSunnah Wal Jamaah, Salaf itu sama dengan AhlusSunnah Wal 
Jamaah.Bahkan Salaf dan AhlusSunnah Wal JAmaah adalah Islam itu sendiri. atau 
kalo mau lihat di internet bisa buka di www.almanhaj.or.id atau 
www.muslim.or.id 
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

MAKNA SALAF

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
sumber http://www.almanhaj.or.id

Menurut bahasa, Salaf artinya �nenek moyang� yang lebih tua dan lebih utama[1]. 
Salaf berarti para pendahulu. Jika dikatakan "salafu ar-rojuli" = salaf 
seseorang, maksudnya kedua orang tua yang telah mendahuluinya.[2]

Menurut istilah, kata Salaf berarti generasi pertama dan terbaik dari ummat 
(Islam) ini, yang terdiri dari para Shahabat, Tabi�in, Tabi�ut Tabi�in dan para 
Imam pembawa petunjuk pada tiga kurun (generasi/ masa) pertama yang dimuliakan 
oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, sebagaimana Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa 
sallam bersabda:

�Artinya : Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (yaitu masa para 
Shahabat), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi�in), kemudian yang sesudahnya 
(masa Tabi�ut Tabi�in).� [3]

Menurut al-Qalsyani: �Salafush Shalih ialah generasi per-tama dari ummat ini 
yang pemahaman ilmunya sangat dalam, yang mengikuti petunjuk Nabi Shallallahu 
'alaihi wa sallam, menjaga sunnahnya, Allah pilih mereka untuk menemani 
Nabi-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam dan untuk menegakkan agama-Nya...� [4]

Syaikh Mahmud Ahmad Khafaji berkata di dalam kitabnya al-�Aqidah al-Islamiyyah 
baina Salafiyyah wal Mu�tazilah: �Penetapan istilah Salaf tidak cukup dibatasi 
waktu, bahkan harus sesuai dengan al-Qur-an dan as-Sunnah menurut pemahaman 
Salafush Shalih (tentang aqidah, manhaj, akhlaq dan suluk-Pent.). Barangsiapa 
yang pendapatnya sesuai dengan al-Qur-an dan as-Sunnah mengenai �aqidah, hukum 
dan suluknya menurut pemahaman Salaf, maka ia disebut Salafy meskipun tempatnya 
jauh dan berbeda masanya. Sebaliknya, barangsiapa pendapatnya menyalahi 
al-Qur-an dan as-Sunnah, maka ia bukan seorang Salafy meskipun ia hidup pada 
zaman Shahabat, Tabi�in dan Tabi�ut Tabi�in. [5]

Penisbatan kata Salaf atau as-Salafiyyun bukanlah termasuk perkara bid�ah, akan 
tetapi penisbatan ini adalah penisbatan yang syar�i karena menisbatkan diri 
kepada generasi pertama dari ummat ini, yaitu para Shahabat, Tabi�in dan 
Tabi�ut Tabi�in.

Ahlus Sunnah wal Jama�ah dikatakan juga as-Salafiyyun karena mereka mengikuti 
manhaj Salafush Shalih dari Shahabat dan Tabi�in. Kemudian setiap orang yang 
mengikuti jejak mereka serta berjalan berdasarkan manhaj mereka -di sepanjang 
masa-, mereka ini disebut Salafy, karena dinisbatkan kepada Salaf. Dan Salaf 
bukan kelompok atau golongan seperti yang difahami oleh sebagian orang, tetapi 
merupakan manhaj (sistem hidup dalam ber-�aqidah, beribadah, berhukum, 
berakhlaq dan yang lainnya) yang wajib diikuti oleh setiap muslim. Jadi, 
pengertian Salaf dinisbatkan kepada orang yang menjaga keselamatan �aqidah dan 
manhaj menurut apa yang dilaksanakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam 
dan para Shahabat Radhiyallahu 'anhum sebelum terjadinya perselisihan dan 
perpecahan. [6]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah (wafat th. 728 H) [7] berkata : 
�Bukanlah merupakan aib bagi orang yang menampakkan manhaj Salaf dan 
menisbatkan dirinya kepada Salaf, bahkan wajib menerima yang demikian itu 
karena manhaj Salaf tidak lain kecuali kebenaran.� [8]
http://www.almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1092&bagian=0
[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Oleh Yazid bin Abdul 
Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan Pertama 
Jumadil Akhir 1425H/Agustus 2004M]
_________
Foote Note
[1]. Lisanul �Arab (VI/331) karya Ibnu Manzhur (wafat th. 711 H) Rahimahullah
[2]. Lihat al-Mufassiruun baina Ta�wiil wal Itsbaat fii Aayatish Shifaat (I/11) 
karya Syaikh Muhammad bin �Abdirrahman al-Maghraawi. Mu-assasah ar-Risalah 1420 
H.
[3]. Muttafaq �alaih. HR. Al-Bukhary (no. 2652) dan Muslim (no. 2533 (211)) 
dari Shahabat Ibnu Mas�ud Radhiyallahu 'anhu
[4]. Al-Mufassiruun bainat Ta�wiil wal Itsbaat fii Aayatish Shifaat (I/11).
[5]. Al-Mufassiruun bainat Ta�wiil wal Itsbaat fii Aayatish Shifaat (I/13-14) 
dan al-Wajiiz fii �Aqiidah Salafush Shaalih hal 34.
[6]. Mauqif Ahlus Sunnah wal Jama�ah min Ahlil Ahwa� wal Bida� (I/63-64) karya 
Syaikh Dr. Ibrahim bin �Amir ar-Ruhaily, Bashaa-iru Dzawi Syaraf bi Syarah 
Marwiyyati Manhajas Salaf (hal. 21) karya Syaikh Salim bin �Ied al-Hilali dan 
Mujmal Ushul Ahlis Sunnah wal Jama�ah fil �Aqiidah.
[7]. Beliau adalah Ahmad bin �Abdil Halim bin �Abdissalam bin �Abdillah bin 
Khidhr bin Muhammad bin �Ali bin �Abdillah bin Taimiyyah al-Harrani. Beliau 
lahir pada hari Senin, 14 Rabi�ul Awwal th. 661 H di Harran (daerah dekat 
Syiria). Beliau seorang ulama yang dalam ilmunya, luas pandangannya. Pembela 
Islam sejati dan mendapat julukan Syaikhul Islam karena hampir menguasai semua 
disiplin ilmu. Beliau termasuk Mujaddid abad ke-7 H dan hafal al-Qur-an sejak 
masih kecil. Beliau t mempunyai murid-murid yang �alim dan masyhur, antara 
lain: Syamsuddin bin �Abdil Hadi (wafat th. 744 H), Syamsuddin adz-Dzahabi 
(wafat th. 748 H), Syamsuddin Ibnu Qayyim al-Jauziyah (wafat th. 751 H), 
Syam-suddin Ibnu Muflih (wafat th. 763 H) serta �Imaduddin Ibnu Katsir(wafat 
th. 774 H), penulis kitab tafsir yang terkenal, Tafsiir Ibni Katsiir.
�Aqidah Syaikhul Islam adalah �aqidah Salaf, beliau t seorang Mujaddid yang 
berjuang untuk menegakkan kebenaran, berjuang untuk menegakkan al-Qur-an dan 
as-Sunnah menurut pemahaman para Shahabat g tetapi Ahlul Bid�ah dengki kepada 
beliau, sehingga banyak yang menuduh dan memfitnah. Beliau menjelaskan yang haq 
tetapi ahli bid�ah tidak senang dengan dakwahnya sehingga beliau diadukan 
kepada penguasa pada waktu itu, akhirnya beliau beberapa kali dipenjara sampai 
wafat pun di penjara (tahun 728 H). Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya, 
mencurahkan rahmat yang sangat luas dan memasukkan beliau t ke dalam Surga-Nya. 
(Al-Bidayah wan Nihayah XIII/255, XIV/38, 141-145). 
[8]. Majmu� Fataawaa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (IV/149).
   
MAKNA AHLUS SUNNAH WAL JAMA�AH

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawa
sumber http://www.almanhaj.or.id

AHLUS SUNNAH WAL JAMA�AH ialah:
http://www.almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1106&bagian=0
Mereka yang menempuh seperti apa yang pernah ditempuh oleh Rasulullah 'Alaihi 
Asholatu wa Sallam dan para Shahabatnya Radhiyallahu Ajma'in. Disebut Ahlus 
Sunnah, karena kuatnya (mereka) berpegang dan berittiba� (mengikuti) Sunnah 
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para Shahabatnya Radhiyallahu Ajma'in.

As-Sunnah menurut bahasa adalah jalan/cara, apakah jalan itu baik atau buruk[1].

Sedangkan menurut ulama �aqidah, as-Sunnah adalah petun-juk yang telah 
dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para Shahabatnya, 
baik tentang ilmu, i�tiqad (keyakinan), perkataan maupun perbuatan. Dan ini 
adalah as-Sunnah yang wajib diikuti, orang yang mengiku-tinya akan dipuji dan 
orang-orang yang menyalahinya akan dicela.[2]

Pengertian as-Sunnah menurut Ibnu Rajab al-Hanbaly Rahimahullah (wafat 795 H): 
�As-Sunnah ialah jalan yang ditempuh, mencakup di dalamnya berpegang teguh 
kepada apa yang dilaksanakan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para 
khalifahnya yang terpimpin dan lurus berupa i�tiqad (keyakinan), perkataan dan 
perbuatan. Itulah as-Sunnah yang sempurna. Oleh karena itu generasi Salaf 
terdahulu tidak menamakan as-Sunnah kecuali kepada apa saja yang mencakup 
ketiga aspek tersebut. Hal ini diriwayatkan dari Imam Hasan al-Bashry (wafat 
th. 110 H), Imam al-Auza�iy (wafat th. 157 H) dan Imam Fudhail bin �Iyadh 
(wafat th. 187 H).� [3]

Disebut al-Jama�ah, karena mereka bersatu di atas kebenaran, tidak mau berpecah 
belah dalam urusan agama, berkumpul di bawah kepemimpinan para Imam (yang 
berpegang kepada) al-haq/kebenaran, tidak mau keluar dari jama�ah mereka dan 
mengikuti apa yang telah menjadi kesepakatan Salaful Ummah.[4]

Jama�ah menurut ulama �aqidah adalah generasi pertama dari umat ini, yaitu 
kalangan Shahabat, Tabi�in serta orang-orang yang mengikuti dalam kebaikan 
hingga hari kiamat, karena berkumpul di atas kebenaran.[5]

Kata Imam Abu Syammah as-Syafi�i Rahimahullah (wafat th. 665 H): �Perintah 
untuk berpegang kepada jama�ah, maksudnya ialah ber-pegang kepada kebenaran dan 
mengikutinya. Meskipun yang melaksanakan Sunnah itu sedikit dan yang 
menyalahinya banyak. Karena kebenaran itu apa yang dilaksanakan oleh jama�ah 
yang pertama, yaitu yang dilaksanakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallamj 
dan para Shahabatnya tanpa melihat kepada orang-orang yang menyimpang 
(melakukan kebathilan) sesudah mereka.� 

Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Mas�ud Radhiyallahu 'anhu[6]:

� Artinya : Al-Jama�ah adalah yang mengikuti kebenaran walaupun engkau 
sendirian.� [7]

Jadi, Ahlus Sunnah wal Jama�ah adalah orang yang mem-punyai sifat dan karakter 
mengikuti Sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan menjauhi 
perkara-perkara yang baru dan bid�ah dalam agama.

Karena mereka adalah orang-orang yang ittiba� (mengikuti) kepada Sunnah 
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan mengikuti Atsar (jejak Salaful 
Ummah), maka mereka juga disebut Ahlul Hadits, Ahlul Atsar dan Ahlul Ittiba�. 
Di samping itu, mereka juga dikatakan sebagai ath-Thaifah al-Manshuurah 
(golongan yang mendapatkan pertolongan Allah), al-Firqatun Naajiyah (golongan 
yang selamat), Ghuraba� (orang asing).

Tentang at-Thaifah al-Manshuurah, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam 
bersabda:

�Artinya : Senantiasa ada segolongan dari umatku yang selalu dalam kebenaran 
menegakkan perintah Allah, tidak akan mencelakai mereka orang yang tidak 
menolongnya dan orang yang menye-lisihinya sampai datang perintah Allah dan 
mereka tetap di atas yang demikian itu.� [8]

Tentang al-Ghurabaa�, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Artinya : Islam awalnya asing, dan kelak akan kembali asing sebagai-mana 
awalnya, maka beruntunglah bagi al-Ghuraba� (orang-orang asing).� [9]

Sedangkan makna al-Ghuraba� adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh �Abdullah 
bin �Amr bin al-�Ash Radhiyallahu 'anhu ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi 
wa sallam suatu hari menerangkan tentang makna dari al-Ghuraba�, beliau 
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Artinya : Orang-orang yang shalih yang berada di tengah banyaknya orang-orang 
yang jelek, orang yang mendurhakainya lebih banyak daripada yang mentaatinya.� 
[10]

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda mengenai makna 
al-Ghuraba�:

�Artinya : Yaitu, orang-orang yang senantiasa memperbaiki (ummat) di 
tengah-tengah rusaknya manusia.� [11]

Dalam riwayat yang lain disebutkan: �Yaitu orang-orang yang memperbaiki 
Sunnahku (Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam) sesudah dirusak oleh 
manusia.� [12]

Ahlus Sunnah, at-Thaifah al-Manshurah dan al-Firqatun Najiyah semuanya disebut 
juga Ahlul Hadits. Penyebutan Ahlus Sunnah, at-Thaifah al-Manshurah dan 
al-Firqatun Najiyah dengan Ahlul Hadist suatu hal yang masyhur dan dikenal 
sejak generasi Salaf, karena penyebutan itu merupakan tuntutan nash dan sesuai 
dengan kondisi dan realitas yang ada. Hal ini diriwayatkan dengan sanad yang 
shahih dari para Imam seperti, �Abdullah Ibnul Mubarak, �Ali Ibnul Madiiny, 
Ahmad bin Hanbal, al-Bukhary, Ahmad bin Sinan dan yang lainnya, 
Rahimahullah[13].

Imam asy-Syafi�i [14] (wafat th. 204 H) Rahimahullah berkata: �Apabila aku 
melihat seorang ahli hadits, seolah-olah aku melihat seorang dari Shahabat Nabi 
Shallallahu 'alaihi wa sallam, mudah-mudahan Allah memberikan ganjaran yang 
terbaik kepada mereka. Mereka telah menjaga pokok-pokok agama untuk kita dan 
wajib atas kita berterima kasih atas usaha mereka.� [15]

Imam Ibnu Hazm az-Zhahiri (wafat th. 456 H) menjelaskan mengenai Ahlus Sunnah, 
�Ahlus Sunnah yang kami sebutkan itu adalah Ahlul Haq, sedangkan selain mereka 
adalah Ahlul Bid�ah. Karena sesungguhnya Ahlus Sunnah itu adalah para Shahabat 
Radhiyallahu Ajma'in dan setiap orang yang mengikuti manhaj mereka dari para 
Tabi�in yang terpilih, kemudian Ash-habul Hadits dan yang mengikuti mereka dari 
ahli fiqih dari setiap generasi sampai pada masa kita ini serta orang-orang 
awam yang mengikuti mereka baik di timur maupun di barat.� [16]

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Oleh Yazid bin Abdul 
Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan Pertama 
Jumadil Akhir 1425H/Agustus 2004M]
_________
Foote Note
[1]. Lisanul �Arab (VI/399).
[2]. Buhuuts fii �Aqidah Ahlis Sunnah (hal. 16). 
[3]. Jaami�ul �Uluum wal Hikaam (hal. 495) oleh Ibnu Rajab, tahqiq dan ta�liq 
Thariq bin �Awadhullah bin Muhammad, cet. II, Daar Ibnul Jauzy, th. 1420 H.
[4]. Mujmal Ushul Ahlis Sunnah wal Jama�ah fil �Aqiidah.
[5]. Syarah Khalil Hirras, hal. 61.
[6]. Seorang Shahabat Nabi j, nama lengkapnya �Abdullah bin Mas�ud bin Ghafil 
bin Habib al-Hadzali, Abu �Abdirrahman, pimpinan Bani Zahrah. Beliau masuk 
Islam pada awal-awal Islam di Makkah, yaitu ketika Sa�id bin Zaid dan 
isterinya, Fathimah bintu Khaththab, masuk Islam. Beliau melakukan dua kali 
hijrah, mengalami shalat di dua kiblat, ikut serta dalam perang Badar dan 
perang lainnya. Beliau termasuk orang yang paling �alim tentang al-Qur-an dan 
tafsirnya sebagai-mana telah diakui oleh Nabi diakui oleh Nabi. Beliau dikirim 
oleh �Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu 'anhu ke Kufah untuk mengajar kaum 
muslimin dan diutus oleh �Utsman ke Madinah. Beliau Radhiyallahu 'anhu wafat 
tahun 32 H. Lihat al-Ishaabah (II/368 no. 4954).
[7]. Al-Baa�its �alaa Inkaaril Bida� wal Hawaadits hal. 91-92, tahqiq oleh 
Syaikh Masyhur bin Hasan Salman, Syarah Ushuulil I�tiqaad karya al-Laalika-iy 
no. 160.
[8]. HR. Al-Bukhari (no. 3641) dan Muslim (no. 1037 (174)), dari Shahabat 
Mu�awiyah Radhiyallahu 'anhu.
[9]. HR. Muslim no. 145 dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu.
[10]. HR. Ahmad (II/177, 222), Ibnu Wadhdhah no. 168. Hadits ini dishahihkan 
oleh Syaikh Ahmad Syakir dalam tahqiq Musnad Imam Ahmad (VI/207 no. 6650). 
Lihat juga Bashaa-iru Dzawi Syaraf bi Syarah Marwiyyati Manhajas Salaf hal. 125.
[11]. HR. Abu Ja�far ath-Thahawy dalam Syarah Musykilul Atsaar (II/170 no. 
689), al-Laalika-iy dalam Syarh Ushuul I�tiqaad Ahlis Sunnah no. 173 dari 
Shabahat Jabir bin �Abdillah Radhiyallahu 'anhu. Hadits ini shahih li ghairihi 
karena ada beberapa syawahidnya. Lihat Syarah Musykiilul Atsaar (II/170-171) 
dan Silsilah Ahaadits as-Shahiihah no. 1273.
[12]. HR. At-Tirmidzi no. 2630, beliau berkata, �Hadits ini hasan shahih.� Dari 
Shabahat �Amr bin �Auf Radhiyallahu 'anhu.
[13]. Sunan at-Tirmidzi, Kitaabul Fitan no. 2229. Lihat Silsilah Ahaadits 
ash-Shahiihah karya Imam Muhammad Nashiruddin al-Albany Rahimahullah (I/539 no. 
270) dan Ahlul Hadits Humuth Thaifah al-Manshurah karya Syaikh Dr. Rabi� bin 
Hadi al-Madkhaly.
[14]. Nama lengkap beliau, Imam Abu �Abdillah Muhammad bin Idris bin �Abbas 
al-Qurasyi asy-Syafi�i Rahimahullah, yang terkenal dengan sebutan Imam 
asy-Syafi�i, beliau punya hubungan nasab dengan anak paman Rasulullah 
Shallallahu 'alaihi wa sallam, yang bertemu dengannya pada silsilah �Abdi 
Manaf. Beliau dilahirkan tahun 150 H. Para ulama sepakat bahwa beliau adalah 
orang yang tsiqah, amanah, adil, zuhud, wara�, �alim, faqih dan dermawan. 
Beliau wafat di Mesir th. 204 H dalam usia 54 tahun. Di antara kitab-kitab 
karya beliau adalah kitab al-Umm dalam bidang fiqih, ar-Risaalah dalam ushul 
fiqih dan lainnya. Lihat Siyar A�laamin Nubalaa� (X/5-99). Untuk menge-tahui 
lebih jelas tentang manhaj Imam asy-Syafi�i dalam masalah �aqidah dapat dilihat 
pada kitab Manhajul Imam asy-Syafi�i fii Itsbaatil �Aqiidah karya Dr. Muham-mad 
bin �Abdil Wahhab al-�Aqiil, cet. I-1419 H, dalam dua jilid.
[15]. Lihat Siyar A�laamin Nubalaa� (X/60).
[16]. Al-Fishaal fil Milaal wal Ahwaa� wan Nihaal II/271-Daarul Jiil, Beirut


Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : http://www.assunnah.or.id/ragam/aturanmilis.php
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke