Assalamu alaykum warahmatullahi wabarakatuh,
Dalam kehidupan kita bersaudara, bertetangga dan bekerja, kita beberapa 
kali mendengar tudingan bahwa Salafy dan Salaf merupakan kelompok salaf. 
Dari pengalaman saya, berikut pemahaman orang-orang yang menuding Salafy 
dan Salaf merupakan kelompok Salaf:
1. Salafy atau salaf dipahami sebagai kelompok yang tidak mengerti agama
2. Salafy atau salaf dinisbatkan sebagai kelompok yang selalu menyalahkan 
orang lain untuk pembenaran sendiri
Ungkapan yang mereka sering bawakan adalah "...Benar dan salah biarlah 
Allah yang menilai..."
3. Salafy atau salaf dianggap sering membuat tulisan atau pernyataan2 
sepihak
4. Salafy atau salaf dianggap memvonis tanpa kajian mendalam
5. Salafy atau salaf mencela ulama dan jama'ah lain yang berbeda cara 
berjuang...
Dan masih banyak lagi tuduhan dan tudingan yang lainnya. 
Syaikh Salim bin Ied-Al-Hilaaly yang insya Allah akan bertemu dengan umat 
besok pagi, merupakan salah seorang 'Ulama yang menjelaskan Salaf dan 
Salafy secara istilah, secara tafshil. Berikut bahasannya. Mudah-mudahan 
bermanfaat, bagi kita, saudara kita, tetangga dan teman kerja kita. 
Mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi ana pribadi dan kita.
Abu Hanan Fachri
21 Muharram 1428H
SALAF DAN SALAFIYAH SECARA BAHASA ISTILAH DAN PERIODISASI ZAMAN
Oleh
Syaikh Abu Usamah Salim bin 'Ied Al-Hilaaly
Saya menginginkan orang yang berjalan di atas manhaj salaf dengan ilmu, 
dan ini syaratnya :
"Artinya : Katakanlah : Inilah (agama)ku, aku dan orang-orang yang 
mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha 
Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik" [Yusuf : 108]
Untuk mengetahui bahwa penunjukkan dan pecahan kata ini mengalahkan ikatan 
fanatisme kelompok yang merusak dan melampui lorong sempit kerahasiaan 
karena dia itu sangat jelas seperti jelasnya matahari di siang hari.
"Artinya : Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang 
menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang salih dan berkata : 
'Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri" [Fush shilat : 
33]
Kata salaf secara bahasa bermakna orang yang telah terdahulu dalam ilmu, 
iman, keutamaan dan kebaikan.
Berkata Ibnul Mandzur (Lisanul Arab 9/159) : Salaf juga berarti 
orang-orang yang mendahului kamu dari nenek moyang, orang-orang yang 
memiliki hubungan kekerabatan denganmu dan memiliki umur lebih serta 
keutamaan yang lebih banyak. Oleh karena itu, generasi pertama dari 
Tabi'in dinamakan As-Salafush Shalih.
Saya berkata : Dan dengan makna ini adalah perkataan Rasulullah 
Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada putrinya Fathimah Radhiyallahu 'anha.
"Artinya : Sesungguhnya sebaik-baik pendahulu (salaf) bagimu adalah aku" 
[Hadits Shahih Riwayat Muslim No. 2450]
Dan diriwayatkan dari beliau Shallallahu 'alihi wa sallam bahwa beliau 
berkata kepada putri beliau Zainab Radhiyallahu 'anha ketika dia 
meninggal.
"Artinya : Susullah salaf shalih (pendahulu kita yang sholeh) kita Utsman 
bin Madz'un" [Hadits Shahih Riwayat Ahmad 1/237-238 dan Ibnu Saad dalam 
Thobaqaat 8/37 dan di shahihkan oleh Ahmad Syakir dalam Syarah Musnad No. 
3103, akan tetapi dimasukkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Dhoifh No. 
1715]
Adapun secara istilah, maka dia adalah sifat pasti yang khusus untuk para 
sahabat ketika dimutlakkan dan yang selain mereka diikutsertakan karena 
mengikuti mereka.
Al-Qalsyaany berkata dalam Tahrirul Maqaalah min Syarhir Risalah (q 36) : 
As-Salaf Ash-Shalih adalah generasi pertama yang mendalam ilmunya lagi 
mengikuti petunjuk Rasulullah dan menjaga sunnahnya. Allah Subhanahu wa 
Ta'ala telah memilih mereka untuk menegakkan agamaNya dan meridhoi mereka 
sebagai imam-imam umat. Mereka telah benar-benar berjihad di jalan Allah 
Subhanahu wa Ta'ala dan menghabiskan umurnya untuk memberikan nasihat dan 
manfaat kepada umat, serta mengorbankan dirinya untuk mencari 
keridhoan-Nya.
Sungguh Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memuji mereka dalam kitabNya 
dengan firmanNya.
"Artinya : Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama 
dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama 
mereka" [Al-Fath : 29]
Dan firman Allah.
"Artinya : (Juga) bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung 
halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah 
dan keridhaan(Nya) dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah 
orang-orang yang benar" [Al-Hasr : 8]
Di dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebut kaum muhajirin dan 
Anshor kemudian memuji itiba' (sikap ikut) kepada mereka dan meridhoi hal 
tersebut demikian juga orang yang menyusul setelah mereka dan Allah 
Subahanahu wa Ta'ala mengancam dengan adzab orang yang menyelisihi mereka 
dan mengikuti jalan selain jalan mereka, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala 
berfirman.
"Artinya : Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran 
baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu'min. Kami 
biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami 
masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat 
kembali" [An-Nisa' : 115]
Maka merupakan suatu kewajiban mengikuti mereka pada hal-hal yang telah 
mereka nukilkan dan mencontoh jejak mereka pada hal-hal yang telah mereka 
amalkan serta memohonkan ampunan bagi mereka, Allah Subhanahu wa Ta'ala 
berfirman.
"Artinya : Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan 
Anshar) mereka berkata : "Ya Rabb kami, beri ampunilah kami dan 
saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan 
janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap 
orang-orang yang beriman Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun 
lagi Maha Penyayang" [Al-Hasr : 10]
Istilah ini pun diakui oleh orang-orang terdahulu dan mutaakhirin dari 
ahli kalam.
Al-Ghazaali berkata dalam kitab Iljaamul Awaam an Ilmil Kalaam hal 62 
ketika mendefnisikan kata As-Salaf : Saya maksudkan adalah madzhab sahabat 
dan tabiin.
Al-Bajuuri berkata dalam kitab Syarah Jauharuttauhid hal. 111 : Yang 
dimaksud dengan salaf adalah orang-orang yang terdahulu yaitu para Nabi, 
sahabat, tabi'in dan tabiit-tabiin.
Istilah inipun telah dipakai oleh para ulama pada generasi-generasi yang 
utama untuk menunjukkan masa shohabat dan manhaj mereka, diantaranya :
[1]. Berkata Imam Bukhari (6/66 Fathul Bariy) : Rasyid bin Sa'ad berkata : 
Dulu para salaf menyukai kuda jantan, karena dia lebih cepat dan lebih 
kuat.
Al-Hafidz Ibnu Hajar menafsirkan perkataan Rasyid ini dengan mengatakan : 
Yaitu dari para sahabat dan orang setelah mereka.
Saya berkata : Yang dimaksud adalah shahabat karena Rasyid bin Saad adalah 
seorang Tabi'in maka sudah tentu yang dimaksud di sini adalah shahabat.
[2]. Berkata Imam Bukhari (9/552 Fathul Bariy) : Bab As-Salaf tidak pernah 
menyimpan di rumah atau di perjalanan mereka makanan daging dan yang 
lainnya.
Saya berkata ; Yang dimaksud adalah shahabat.
[3]. Imam Bukhari berkata (1/342 Fathul Bariy) : Dan Az-Zuhri berkata 
tentang tulang-tulang bangkai seperti gajah dan yang sejenisnya : Saya 
menjumpai orang-orang dari kalangan ulama Salaf bersisir dan berminyak 
dengannya dan mereka tidak mempersoalkan hal itu.
Saya berkata : Yang dimaksud adalah sahabat karena Az-Zuhri adalah seorang 
tabiin.
[4]. Imam Muslim telah mengeluarkan dalam Muqadimah shahihnya hal.16 dari 
jalan periwayatan Muhammad bin Abdillah, beliau berkata aku telah 
mendengar Ali bin Syaqiiq berkata ; Saya telah mendengar Abdullah bin 
Almubarak berkata - di hadapan manusia banyak- : Tinggalkanlah hadits Amru 
bin Tsaabit, karena dia mencela salaf.
Saya berkata : Yang dimaksud adalah sahabat.
[5]. Al-Uza'iy berkata : Bersabarlah dirimu di atas sunnah, tetaplah 
berdiri di tempat kaum tersebut berdiri, katakanlah sebagaimana yang 
mereka katakan, tinggalkanlah apa yang mereka tinggalkan dan tempuhlah 
jalannya As-Salaf Ash-Shalih, karena akan mencukupi kamu apa saja yang 
mencukupi mereka [Dikeluarkan oleh Al-Aajury dalam As-Syari'at hal.57]
Saya berkata : Yang dimaksud adalah sahabat. Oleh karena itu, kata 
As-Salaf telah mengambil makna istilah ini dan tidak lebih dari itu. 
Adapun dari sisi periodisasi (perkembangan zaman), maka dia dipergunakan 
untuk menunjukkan generasi terbaik dan yang paling benar untuk dicontoh 
dan diikuti, yaitu tiga generasi pertama yang telah dipersaksikan dari 
lisan sebaik-baiknya manusia Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa 
mereka memiliki keutamaan dengan sabdanya.
"Artinya : Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi 
sesudahnya kemudian generasi sesudahnya lagi kemudian datang kaum yang 
syahadahnya salah seorang dari mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya 
mendahului syahadahnya" [Dan dia adalah hadits Mutawatir akan datang 
Takhrijnya]
Akan tetapi periodisasi ini kurang sempurna untuk membatasi pengertian 
salaf ketika kita lihat banyak dari kelompok-kelompok sesat telah muncul 
pada zaman-zaman tersebut, oleh karena itu keberadaan seseorang pada zaman 
tersebut tidaklah cukup untuk menghukum keberadaannnya di atas manhaj 
salaf kalau tidak sesuai dengan para sahabat dalam memahami Al-Kitab dan 
As-Sunnah. Oleh karena itu para Ulama mengkaitkan istilah ini dengan 
As-Salaf Ash-Shalih.
Dengan ini jelaslah bahwa istilah Salaf ketika dipakai tidaklah melihat 
kepada dahulunya zaman akan tetapi melihat kepada para sahabat Nabi dan 
yang mengikuti mereka dengan baik. Dan diatas tinjauan inilah dipakai 
istilah salaf yaitu dipakai untuk orang yang menjaga keselamatan aqidah 
dan manhaj di atas pemahaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan 
para sahabatnya Radhiyallahu a'nhuma sebelum terjadinya perselisihan dan 
perpecahan.
Adapun nisbat Salafiyah adalah nisbat kepada Salaf dan ini adalah 
penisbatan terpuji kepada manhaj yang benar dan bukanlah madzhab baru yang 
dibuat-buat.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam Majmu' Fatawa 
4/149 : Tidak ada celanya atas orang yang menampakkan manhaj Salaf, 
menisbatkan kepadanya dan bangga dengannya, bahkan pernyataan itu wajib 
diterima menurut kesepakatan Ulama, karena madzhab Salaf tidak lain adalah 
kebenaran itu sendiri.
Sebagian orang dari orang yang mengerti akan tetapi berpaling ketika 
menyebut Salafiyah, mereka terkadang menyangka bahwa Salafiyah adalah 
perkembangan baru dari Jama'ah Islamiyah yang baru yang melepaskan diri 
dari lingkungan Jama'ah Islam yang satu dengan mengambil untuk dirinya 
satu pengertian yang khusus dari makna nama ini saja sehingga berbeda 
dengan kaum muslimin yang lainnya dalam masalah hukum, 
kecenderungan-kecenderungan bahkan dalam tabia'at dan norma-norma etika 
(akhlak).[1]
Tidaklah demikian itu ada dalam manhaj salafi, karena salafiyah adalah 
Islam yang murni (bersih) secara sempurna dan menyeluruh baik kitab maupun 
sunnah dari pengaruh-pengaruh endapan peradaban lama dan warisan 
kelompok-kelompok sesat yang beraneka ragam sesuai dengan pemahaman Salaf 
yang telah dipuji oleh nash-nash al-Kitab dan As-Sunnah.
Prasangka itu hanyalah rekaan prasangka salah dari suatu kaum yang tidak 
menyukai kata yang baik dan penuh barokah ini, yang asal kata ini memiliki 
hubungan erat dengan sejarah umat Islam sampai bertemu generasi awal, 
sehingga mereka menganggap bahwa kata ini dilahirkan dari gerakan 
pembaharuan yang dikembangkan oleh Jamaluddin Al-Afghaniy dan Muhammad 
Abduh pada masa penjajahan Inggris di Mesir.[2]
Orang yang menyatakan persangkaan ini atau yang menukilkannya tidak 
mengetahui sejarah kata ini yang bersambung dengan As-Salaf Ash-Shalih 
secara makna, pecahan kata dan periodisasi. Padahal para ulama terdahulu 
telah mensifatkan setiap orang yang mengikuti pemahaman para sahabat dalam 
aqidah dan manhaj dengan Salafi. Seperti ahli sejarah Islam Al-Imam 
Adz-Dzahaabiy dalam Siyar 'Alam an-Nubala 16/457 menukil perkataan 
Ad-Daroquthniy : Tidak ada sesuatu yang paling aku benci melebihi ilmu 
kalam. Kemudian Adz-Dzahaabiy berkata : Dia tidak masuk sama sekali ke 
dalam ilmu kalam dan jidal (ilmu debat) dan tidak pula mendalami hal itu, 
bahkan di adalah seorang Salafi.
[Disalin dari Kitab Limadza Ikhtartu Al-Manhaj As-Salafy, edisi Indonesia 
Mengapa Memilih Manhaj Salaf (Studi Kritis Solusi Problematika Umat) oleh 
Syaikh Abu Usamah Salim bin 'Ied Al-Hilaly, terbitan Pustaka Imam Bukhari, 
penerjemah Kholid Syamhudi]
_________
Foote Note.
[1] Lihatlah tulisan Dr. Al-Buthiy dalam kitabnya As-Salafiyah Marhalatun 
Zamaniyatun Mubarokatun La Madzhabun Islamiyatun, kitab ini lahiriyahnya 
rahmat tetapi sebaliknya merupakan adzab.
[a] Dia berusaha mencela As-Salaf dalam manhaj ilmiyah mereka dalam 
talaqiy, pengambilan dalil (istidlal) dan penetapan hukum (istimbath), 
dengan demikian dia telah menjadikan mereka seperti orang-orang ummiy yang 
tidak mengerti Al-Kitab kecuali hanya dengan angan-angan.
[b] Dia telah menjadikan manhaj Salaf (As-Salafiyah) fase sejarah yang 
telah lalu dan hilang tidak akan kembali ada kecuali kenangan dan 
angan-angan. 
[c] Mengklaim bid'ahnya intisab (penisbatan) kepada salaf, maka dia telah 
mengingkari satu perkara yang sudah dikenal dan tersebar sepanjang zaman 
secara turun temurun. 
[d] Dia berputar seputar manhaj Salaf dalam rangka membenarkan madzhab 
khalaf dimana akhirnya dia menetapkan bahwa manhaj khalaf adalah penjaga 
dari kesesatan hawa nafsu dan menyembunyikan kenyataan-kenyataan sejarah 
yang membuktikan bahwa manhaj khalaf telah mengantar kepada kerusakan 
peribadi muslim dan pelecehan manhaj Islam.
[2] Dakwaan-dakwaan ini memiliki beberapa kesalahan :
[a] Gerakan yang dipelopori oleh Jamaludin Al-Afghaniy dan Muhammad Abduh 
bukanlah salafiyah akan tetapi dia adalah gerakan aqliyah kholafiyah 
dimana mereka menjadikan akal sebagai penentu daripada naql (nash-nash 
Al-Kitab dan As-Sunnah). 
[b] Telah muncul penelitian yang banyak seputar hakikat Al-Afghaniy dan 
pendorong gerakannya yang memberikan syubhat (keraguan) yang banyak 
seputar sosok ini yang membuat orang yang memperhatikan sejarahnya untuk 
was-was dan berhati-hati darinya. 
[c] Bukti-bukti sejarah telah menegaskan keterlibatan Muhammad Abduh pada 
gerakan Al-Masuniyah dan dia dianggap tertipu oleh propagandanya dan tidak 
mengerti hakikat gerakan Masoni tersebut. 
[d] Pengkaitan As-Salafiyah dengan gerakan Al-Afghaniy dan Muhammad Abduh 
adalah tuduhan jelek terhadapnya walaupun secara tersembunyi dari apa yang 
telah dituduhkan mereka kepadanya dari keterikatan dan motivasi yang tidak 
jelas.
Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=456&bagian=0

KAP Aryanto Amir Jusuf dan Mawar
PLAZA ABDA
Lantai 10
Jl Jenderal Sudirman Kav 59
Jakarta Selatan 12190
Indonesia
Phone : (62) (21) 5140 1340 Ext. 2038/2054
Fax      : (62) (21) 5140 1350

Kirim email ke