Kemaldini <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Adakah diantara ikhwan/akhwat yang bisa menjelaskan tentang manhaj itu apa, dan 
manhaj apa saja yang bisa kita jadikan pedoman dalam menjalani ajaran islam 
yang benar, karena saya masih awam tentang hal ini,
wasssalamualaikum
====

Wa'alaykumussalam warohmatullohi wabarokatuhu,
   
Berikut ana nukilkan penjelasan mengenai : Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah ( 
Akidah, Ibadah, Ahlak & Dakwah ) dari Blognya al akh Abu Salma. Semoga 
bermanfa'at.
Barokallahu Fiykum
Wassalamu'alaykum warohmatullohi wabarokatuhu.

MAKNA MANHAJ DAN AHLUSSUNNAH
   
I. Makna Manhaj
Secara bahasa kalimat “manhaj“ berasal dari kata –nahaja- yang berati jalan 
yang terang[1]. Bisa juga berarti jalan yang ditempuh seseorang, Allah  
berfirman: 

“Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang 
terang”. [2] 

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu berkata: 
  æóÇááåö ãóÇ ãóÇÊó ÑóÓõæúáõ Çááåö ÍóÊøóì ÊóÑóßó ÇáÓøóÈöíúáó äóåúÌðÇ æóÇÖöÍðÇ 

“Demi Allah, Rasulullah tidak meninggal dunia, hingga meninggalkan jalan yang 
jelas”[3] 

Adapun manhaj yang dimaksud di sini adalah jalan hidup Rasulullah shallallahu 
'alaihi wa sallam  yang kemudian dilalui oleh para sahabat, Tabi’in dan 
pengikutnya dalam kebenaran hingga hari kiamat, sebagaimana firman Allah :

” Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku 
mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku 
tiada termasuk orang-orang yang musyrik". [4]  

II. Makna Ahlussunnah wal jamaah.
Kata “Ahlussunnah” terdiri dari dua suku kata yaitu ahlu yang berarti keluarga, 
pemilik, pelaku atau seorang yang menguasai suatu permasalahan. Dan kata Sunnah 
yang berarti apa yang datang dari Nabi baik berupa syariat, agama, petunjuk 
yang lahir maupun yang bathin, kemudian dilakukan oleh sahabat, tabiin dan 
pengikutnya sampai hari Kiyamat.[5] 

Namun dalam perspektif syariah (fiqh) kata sunnah sering diartikan dengan 
Perbuatan yang kalau dilakukan mendapat pahala, dan kalau ditinggalkan tidak 
mendapat dosa. Namun yang dimaksud dengan As-Sunnah" di sini adalah adalah,” 
Thariqah (jalan hidup) Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam  yang juga dilalui 
oleh para shahabat yang telah selamat dari syubhat dan syahwat". Fudhail bin 
Iyadh berkata,”Ahlus Sunnah adalah orang yang mengetahui apa yang masuk ke 
dalam perutnya dari (makanan) yang halal"[6]. 

Karena tidak memakan yang haram termasuk salah satu sunnah yang dilakukan oleh 
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam  dan para shahabat. 

Dengan demikian maka Ahlus Sunnah adalah mereka yang mengikuti sunnah 
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam  dan sunnah shahabatnya. Imam Ibnul 
Jauzi berkata,” Tidak diragukan bahwa orang yang mengikuti atsar Rasulullah 
shallallahu 'alaihi wa sallam  dan atsar para shahabatnya adalah Ahlus 
Sunnah"[7]. 

Adapun kata jamaah berarti bersama atau berkumpul. Dinamakan demikian karena 
mereka bersama dan berkumpul dalam kebenaran, mengamalkannya dan mereka tidak 
mengambil teladan kecuali dari sahabat, tabiin dan ulama–ulama yang mengamalkan 
sunnah sampai hari Kiyamat.

Sedangkan menurut istilah, dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih 
al-Utsaimin, ” Ahlussunnah wal jamaah adalah orang yang mengamalkan sunah 
Rasulullah dan berkumpul di dalamnya dengan beribadah kepada Allah baik dalam 
masalah aqidah (keyakinan), perkataan, perbuatan, dan panutannya adalah 
Shalafusshalih dari sahabat, tabiin dan pengikut tabiin”. 
  
III. Kreteria Ahlussunnah wal jamaah 
DR. Nashr Al-Aql dalam kitabnya “Mafhum Alhlussunnah inda Ahllussunnah”, 
menyebutkan beberapa kreteria Ahlussunnah wal jamaah di antaranya; 

1. Mereka adalah sahabat Rasulullah yang mengerti, melihat dan mengamalkan 
sunnah Rasullullah pertama kalinya, oleh sebab itulah mereka berhak mendapat 
gelar demikian. Begitu juga para tabiin yang mengambil sunnah dari sahabat dan 
mengamalkannya tanpa menambah dan menguranginya. Dan juga para pengikut tabiin 
dan orang-orang setelahnya sampai hari kiyamat yang berusaha mencontohi dan 
mengikuti mereka dalam masalah akidah dan ibadah. 

2. Ahlussunah adalah para salafusshalih yang mengamalkan Kitab dan Sunah sesuai 
dengan petunjuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam [8], Yang mengikuti 
teladan para sahabat, tabiin dan ulama-ulama yang tidak pernah merubah dan 
membuat hal-hal yang baru dalam agama Allah. 

3. Ahlussunnah wal jamaah adalah firqatunnajiyah (golongan yang selamat) di 
antara golongan-golongan yang ada. Yang selalu mendapatkan pertolongan dari 
Allah sampai hari kiyamat. [9] 

4. Mereka adalah orang–orang yang ghuraba’ (asing) karena tetap berpegang 
kepada al-Qur’an dan as-Sunnah dalam keadaan yang orang lain melupakan dan 
meninggalkannya. Mereka juga memperjuangkan tegaknya As-Sunnah di saat 
tersebarnya bid’ah dan kesesatan dan kerusakan, sebagaimana sabda Nabi 
shallallahu 'alaihi wa sallam ,”Islam muncul pertama kali dalam keadaan asing, 
dan akan kembali menjadi asing sebagaimana semula. Maka beruntunglah 
orang–orang yang asing”[10]. Dalam riwayat lain disebutkan, “Beruntunglah 
al-Ghuraba’ yaitu orang yang shalih di tengah manusia yang jahat, orang yang 
mengingkarinya lebih banyak dari yang mengikutinya”[11].

5. Dinamakan Ahlussunnah karena mereka mengamalkan sunah sebagaimana mestinya. 
Berdasarkan sabda Nabi  shallallahu 'alaihi wa sallam  “Amalkanlah 
sunnahku”[12].

Penamaan Ahlussunnah dilakukan setelah terjadinya fitnah pada awal munculnya 
firqah-firqah. Ibnu Sirin berkata,”Mereka (pada mulanya) tidak pernah 
menanyakan tentang sanad. Ketika terjadi fitnah (para ulama) mengatakan: 
Tunjukkan (nama-nama) perawimu kepada kami. Mereka melihat bila ia termasuk 
Ahlus Sunnah hadits mereka diambil, dan bila termasuk ahlul bi'dah maka hadits 
mereka tidak di ambil".[13] 

Al-Imam Malik pernah ditanya :"Siapakah Ahlus Sunnah itu ?. Beliau 
menjawab,”Ahlussunnah adalah mereka yang tidak mempunyai laqab (julukan) yang 
sudah terkenal seperti Jahmi, Qadari, atau Rafidli".[14] 

Istilah Ahlus Sunnah sudah terkenal dikalangan Ulama Mutaqaddimin (terdahulu) 
sebagai kebalikan dari istilah Ahlul Ahwa' wal Bida' dari kelompok Rafidlah, 
Jahmiyah, Khawarij, Murji'ah dan lain-lain. Ahlus Sunnah adalah orang yang 
tetap berpegang pada sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah e dan para 
shahabatnya. Jadi gelar Ahlussunnah bukanlah hal-hal yang muhdats (dibuat-buat 
baru), tetapi mempunyai sandaran syar’I yaitu: 

1. Sunnah Rasulullah  shallallahu 'alaihi wa sallam karena beliau memerintahkan 
untuk mengamalkan sunnahnya. Dan memerintahkan untuk berjamaah dan melarang 
untuk berpecah belah dan keluar darinya. Jadi Ahlussunnah adalah gelar yang 
diberikan langsung oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam . 

2. Bersumber dari atsar para sahabat dan generasi terbaik umat ini dari sifat 
mereka yang telah disepakati oleh para ulama umat yang mereka tulis dalam 
kitab-kitabnya. 

3. Sebuah nama yang dipakai untuk membedakan mereka dengan pelaku bid’ah, bukan 
seperti yang dituduhkan bahwa istilah ahlussunah tidak muncul kecuali setelah 
terjadi perpecahan di antara umat Islam. 

IV. Apakah mereka terbatas hanya pada satu masa dan tempat?.
Ahlussunnah tidak hanya terbatas pada satu priode dan tempat. Tetapi terkadang 
mereka lebih banyak di suatu tempat atau masa dan berkurang di masa atau tempat 
yang lain. [15]

Beberapa karakteristik dari Ahlussunah yang disebutkan sendiri oleh para 
salafusshalih adalah ; 

1. Mereka yang berpegang pada tali Allah yang kuat.
Abu Bakar al-Shiddik radhiyallahu 'anhu  berkata, “ As-Sunnah adalah tali Allah 
yang kuat, barang siapa yang meninggalkannya maka dia telah memutus talinya 
Allah”[16], Umar bin al-Khattab radhiyallahu 'anhu  menambahkan,“Sesungguhnya 
Ashabussunan (pengamal sunnah) itu lebih mengetahui tentang Kitabullah”[17].  

2. Mereka adalah teladan baik yang mengajak kepada jalan yang benar. 
Umar bin Qais al-Malaiy (wafat tahun 143 H) berkata, “Apabila anda melihat 
seorang pemuda yang tumbuh dewasa bersama Ahlussunnah maka peliharalah, dan 
kalau besar bersama pelaku bid’ah maka jagalah dirimu darinya. Karena sifat 
seorang akan tumbuh dewasa sesuai dengan masa kanaknya”[18]. Dalam kitab kitab 
yang sama ditambahkan, “Sesungguhnya pemuda apabila bergaul dengan orang alim 
maka akan selamat, tetapi apabila bergaul dengan yang lainnya maka akan 
terpengaruh[19] Ibnu Syaudzab (wafat tahun 120 H) berkata, “Termasuk nikmat 
Allah kepada pemuda apabila dewasa diberikan taufik untuk bergaul dengan pelaku 
sunnah”[20]. 

Demikian juga yang dikatakan oleh as-Sahityani (wafat tahun 131 H), “Termasuk 
kebahagiaan bagi seorang apabila diperkenankan oleh Allah untuk bergaul dengan 
Ahlussunnah”[21]. Dan dari Ibnu Abbas diriwayatkan ketika menafsirkan firman 
Allah surat Ali Imran ayat 106 beliau mengatakan,” Adapun orang yang putih 
mukanya adalah Ahlussunnah wal Jamaah, dan orang yang hitam mukanya adalah ahli 
bid’ah dan kesesatan “[22].  

3. Mereka tidak mau diberi gelar dan atribut kecuali dengan nama Ahlussunah. 
Barang siapa yang bergabung pada kelompok yang bukan Ahlussunah maka akan 
mendapatkan kerugian dan kebinasaan karena Ahlussunah-lah golongan yang selamat 
karena mendapatkan pertolongan dari Allah sebagaimana yang dikatakan oleh 
Rasulullah, dan itulah jalannya orang–orang yang mukmin. Ibnu Abbas 
berkata,”Barang siapa yang mengikuti kelompok-kelompok pelaku bid’ah ini maka 
dia telah melepaskan ikatan Islam dari dirinya.“ [23]. Ketika Imam Malik 
ditanya siapakah Ahlussunnah itu ?, beliau menjawab, “Mereka orang yang tidak 
mempunyai nama lain atau identitas yang dikenal dengannya seperti Jahamiy 
(pengikut kelompok Jahamiyah), Rafidhiy (pengukut Rafidhah) atau Qadhariy 
(pengikut Qadariyah)”[24]. 

Begitu juga jawaban Ibnu Al-Qayyim ketika ditanya tentang Ahlussunnah beliau 
berkata, “Sesuatu yang tidak mempunyai nama kecuali Ahlussunnah”[25]. Malik bin 
Maglul lebih tegas lagi mengatakan, “Apabila ada seorang menamakan dirinya 
dengan bukan Islam dan As-Sunnah maka masukkanlah dia pada agama apapun yang 
kamu kehendaki[26]. Maka Maimun bin Mahran menasihatkan untuk jangan 
sekali-kali menamakan dirinya dengan nama selain Islam “[27]. 

Referensi: 
Muzilul Ilbas fi al-Ihkam ‘ala an-Naas, editor Syaikh Sa’d bin habir Abduh. 
Ta’rif al-Khalaf bi Manhaj al-Salaf, DR. Ibrahim bin Muhammad Al-Buraikan 
Al-Minhaj baina al-Ishalah wa al-Tagrib, DR. Muhammad bin Shalih Ali Jan 
 


Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : http://www.assunnah.or.id/ragam/aturanmilis.php 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke