waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh

kejadian seperti ini memang menjadi dilema
disatu sisi kita ingin mengedepankan sunnah, tapi disisi lain kita punya
kewajiban untuk taat pada orang tua dalam hal apapun terkecuali jika
diperintahkan perbuatan maksiat.
jadi dalam hal ini seharusnya melihat dulu mana yg paling baik atau banyak
mafsadatnya, jika dengan menuruti orang tua dan dikemudian hari sepupu anda
bisa menasihatinya dan ada kemungkinan orang tua berubah, mungkin hal itu
lebih baik. namun jika tidak ada kemungkinan yg demikian, boleh jadi
keputusan yg sudah diambil itu adalah yg terbaik, wallahu a'lam
namun ada baiknya hal seperti ini dikonsultasikan dulu dengan ustad yg lebih
paham sebelum mengambil keputusan


On 03 Apr 2007 21:57:34 -0700, Abu hilmy <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Rasulullah bersabda (yang artinya),
> "Sesungguhnya Islam pertama kali muncul dalam keadaaan asing
> dan nanti akan kembali asing sebagaimana semula.
> Maka berbahagialah orang-orang yang asing (ghuroba)."
> (hadist riwayat Muslim)
> Wa'alaikumussalam warakhmatullahi wabarakatuh.
>
> dalam tulisan antum :
>
> "...Sepupu saya seorang salaf,..."
>
> Barakallahu lahu, Wabaraka 'alaikum.
>
> Subhanallah. Seorang salaf memang akan terpancar dari 'amal-nya yang jelas
> penuh konsekuensi ber-iring dengan ilmu-nya. Kuat dan tidak akan tumbang
> meski badai menerjang-nya.
>
> Sebagaimana digambarkan hadits diatas, se-orang yang teguh dalam sunnah
> akan senantiasa dikatakan asing oleh kebanyakan orang dan keberuntungan pada
> orang-orang dijalan ini. Semoga saja kita termasuk didalamnya.
>
> kemudian tulisan antum selanjutnya :
>
> ".. Bapaknyapun sangat tidak menyukai istrinya yang berjilbab lebar. Belum
> lama ini bapaknya meninggal....."
>
> Qoddarullahu wa masya-a fa'al. Innaalillaahi wa-innaa ilaihi raaji'uun.
> Semoga saja, Allah mengampuni beliau dan memberikan tempat yang sesuai
> dengan ilmu dan 'amal-nya. Belau telah wafat hanya saja dhahirnya
> sebagaimana cerita antum sangat disayangkan, dhahir-nya kita ketahui ada
> yang belum jelas bagi beliau mana yang sunnah dan mana yang bukan. Mana yang
> mengikuti syariat mana yang mengikuti hawa nafsu. Dan bagi anak-anaknya
> (keluarga) jika sudah seperti ini hanya Do'a mohon ampunan, Rahman dan Rahim
> Allah subhanahuwwata'ala saja yang bisa dilakukan. Sebagaimana hadits shahih
> yang diriwayatkan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu menyebutkan.
>
> "Artinya : Jika seseorang meninggal, maka amal perbuatannya terputus
> kecuali dari tiga perkara ; sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan dan anak
> shalih yang mendo'akannya"
>
> Diriwayatkan oleh Muslim no. 1631, dalam kitab Washiyah, bab Pahala yang
> Sampai Kepada Mayat Setelah Kematiannya. Sebagaimana dicantumkan dalam situs
> almanhaj.or.id pada kategori Al-Qur'an dalam judul artikel "Membaca
> Al-Qur'an di atas kuburan orang yang telah meninggal, Mendo'akannya,
> Melakukan pusasa, Shalat dan Haji untuknya.
>
> Maka ketahuilah, seorang anak yang teguh dalam jalan haq (jalan lurus).
> Yakni tegar dalam menjalankan sunnah-lah yang akan mampu membantunya.
> Maka tertolaklah apa mungkin sedang kira-kira dirasakan keluarga
> (dituduhkan), sebagaimana antum tulis :
>
> "...Celakanya hal itu disebabkan oleh sepupu saya (na'udzubillah tsumma
> na'udzubillah)..."
>
> Astagfirullah.., kekeliruan apa lagi ini, tidak-kah ini berarti kita
> mengingkari iman kepada taqdir ?
>
> Ketahuilah akhi, tidak akan terjadi apapun didunia ini kecuali atas
> izin-NYA. Jadi wafat-nya sang ayah adalah karena taqdir yang memang telah
> ditulis waktu dan sebab-sebabnya.(Allohu ta'ala a'lam).
>
> Janganlah yang demikian itu kita panjang-panjangkan prasangka yang akan
> membuat hati kita sakit dan lebih buruk lagi  bisa masuk pada perbuatan
> maksiat kepada Allah.
>
> Bagaimana solusinya dan apa tanggapan teman-teman?
>
> Apa yang harus disolusikan ? apakah Dia telah keliru ? Jika Ya. Maka
> ingatkan. sebagai bagian dari saling tolong menolong dalam kebenaran dan
> kesabaran.
>
> Apabila tidak ada tanda-tanda kekeliruan maka teruslah istiqomah yang
> menjadi dakwah kita dengan perbuatan. Kita perbaiki terus amal kita seiring
> ilmu yang terus menerus kita kejar/gali (Ilmu yang amaliah dan amal yang
> ilmiah).
> Tetapi yang harus kita ingat kalau kita sudah merasa dalam jalan yang haq
> (Insya Allah), bukan berarti kita menjadi asing bagi yang lainnya (sekitar
> kita). Maka contohlah salafus-shalih bagaimana mensikapi kedzoliman
> orang-orang yang jahil pada mereka salafuna shaleh.
>
> Afwan. dan mohon koreksi ikhwan atas kekeliruan yang terjadi atas tulisan
> ini
> Abu Hilmy.


Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : http://www.assunnah.or.id/ragam/aturanmilis.php 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke