On 5/10/07, aristia pm <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Assalaamu'alaykum wa rahmatullaahi wa barakaatuh
> Saya masih aktif kuliah dan berorganisasi. Dalam organisasi banyak sekali 
> harakah
> yang ada. Hingga pada suatu ketika ada ta'lim yang ustadznya memberikan
> wejangan-wejangan bahwa Islam harus bersatu.
> Ustadz itu mengatakan bahwa walaupun hanya sendiri, asalkan dia
> berpegangteguh pada tali agama Alloh, maka dia masuk jama'ah.
> Tetapi, ujung-ujungnya dia mengatakan "Tapi bagaimana mungkin ada jama'ah
> sendirian? jadi kita harus bergabung di harakah."
> Saya mohon penjelasannya, yang dimaksud jama'ah pada zaman sekarang itu
> apa?
> apakah zaman sekarang masih ada jama'ah?
> Syukran atas jawabannya. Jazaakumullaahu khairan jazaa.
>Wa'alaikum salam wa rahmatullaahi wa barakaatuh

CIRI KHAS PENGIKUT HAROKAH

Oleh
Syaikh Abdul Malik Ramadhaaniy Al-Jazaairy
Sumber :
http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1565&bagian=0

Orang-orang harokah adalah suatu kaum yang (kelihatannya) berjuang untuk
Islam. Mereka berpendapat bahwa memahami agama ini tidaklah cukup untuk
memperjuangkan Islam, sampai setiap individu bergabung di dalam suatu
gerakan dakwah, yang didalamnya mereka diperintah dan dilarang, (mereka
harus) mendengar dan taat. Kegiatan ini kebanyakan disertai dengan bai'at
dan sumpah setia, meskipun mereka berada di dalam suatu negara yang dipimpin
oleh penguasa muslim.

Oleh karena itu, kita bisa memahami sebab penamaan diri mereka dengan
sebutan "Para Pengikut Harokah", yaitu karena persangkaan buruk mereka bahwa
fikih agama ini tidak bisa menggerakkan [2], maksudnya tidak bisa
menggerakkan (manusia) untuk memberontak singgasana para penguasa. Mereka
menganggap para ulama tak ubahnya seperti gelandangan yang tidak diatur oleh
suatu gerakan. Hal itu dikarenakan para ulama tersebut telah menjadi kaki
tangan para penguasa, sedangkan mereka tidak sadar.

Adapun harokah, bagi para pengikutnya merupakan suatu hal yang bisa
menjadikan para ulama tersebut mengetahui rencana-rencana pemerintah, serta
berbagai kelemahan peraraturan-peraturannya. Harokah juga membuka mata para
ulama tersebut dari suatu fikih yang mereka masih buta terhadapnya, yang
dinamakan 'Fiqhul Waqi" (Fikih Kenyataan). Mereka itulah orang-orang harokah
yang sebenarnya, dimanapun mereka berada.

Jadi, mereka (orang-orang harokah) itu bergerak atas nama Islam untuk
menggulingkan singgasana para penguasa dan para pemimpin yang mereka anggap
tidak berbuat adil [3]. Maka mereka secara lahir bergerak untuk Islam, tapi
secara batin (mereka) sangat haus dengan kekuasaan. Bukti semua ini adalah :
Mereka tidak memelihara hukum-hukum Allah di dalam pergerakan mereka. Jika
perasaan mereka bertentangan dengan batasan-batasan syari'at, maka mereka
akan mendahulukan perasaan mereka. Bukankah kalian telah melihat, bahwa
mereka benar-benar menolak hukum Allah tentang haramnya memberontak terhadap
penguasa muslim yang dholim [4], dan mereka memberikan opini kepada
masyarakat, bahwa tindakan tersebut [5] merupakan bentuk penghinaan terhadap
rakyat !!

Kadang-kadang anda akan menjumpai diantara orang-orang harokah tersebut, ada
seseorang yang siap untuk menerima segala sesuatu yang bersumber dari aqidah
salaf, kecuali di dalam satu permasalahan ini. Sungguh hati-hati mereka
dengki terhadapnya, padahal Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah
memberitakan bahwa seorang mukmin hatinya suci dari rasa dengki terhadap
para penguasa. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Tiga hal yang hati seorang muslim.tidak akan dengki terhadapnya :
Mengikhlaskan amal perbuatan karena Allah, menasehati para pemimpin kaum
muslimin, serta menetapi jama'ah kaum muslimin, karena sesungguhnya do'a
berada di belakang mereka" [Hadits ini diriwayatkan oleh At-Turmudzy (2582)
dan lainnya, serta derajatnya shohih, asal hadits ini ada pada shahih Muslim
(1715)]

Di dalam "Miftah Daaris Sa'adah" (hal : 79) Ibnul Qoyyim mengatakan :

((Hati seorang muslim tidak akan menyimpan kedengkian, dan kedengkian itu
sendiri tidak bersemayam di dalam hatinya bersama dengan tiga hal tersebut ;
karena tiga hal tadi akan menolak kedengkian, kecurangan, serta
perusak-perusak hati.

Seorang yang ikhlas karena Allah, keikhlasannya tersebut akan mencegah
kedengkian di dalam hatinya. Keikhlasannya juga akan mengeluarkan penyakit
tersebut dan membersihkannya secara total ; karena, betikan dan keinginan
hatinya telah beralih menuju keridhoaan Rabbnya.

Sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam : (serta menetapi jamaah kaum
muslimin) : ini juga termasuk hal yang mensucikan hati dari kedengkian dan
kecurangan. Pemilik hati ini karena kesetiannya terhadap jama'ah kaum
muslimin, dia akan mencintai (bagi kaum muslimin) sesuatu yang dia cintai
bagi dirinya sendiri, dan dia akan membenci (bagi kaum muslimin) sesuatu
yang dia benci jika menimpa dirinya sendiri. Dia juga akan merasa susah
terhadap sesuatu yang menyusahkan kaum muslimin, dan dia akan merasa senang
terhadap sesuatu yang menjadikan senang kaum muslimin.

Ini semua berbeda dengan orang yang memisahkan diri dari jamaah kaum
muslimin, serta sibuk mencela, mencaci dan mencemooh mereka, seperti
perbuatan orang-orang rofidhoh, khowarij, mu'tazilh dan selain mereka [6],
karena sesungguhnya hati mereka penuh dengan kedengkian dan kecurangan, maka
dari itu anda akan mendapati bahwa orang-orang rofidhoh mereka adalah
manusia yang paling jauh dari keikhlasan, mereka adalah manusia yang paling
curang terhadap para penguasa muslim, dan juga mereka adalah manusia yang
paling jauh dari jama'ah kaum muslimin))

Barangsiapa yang telah mengenal dakwah orang-orang harokah, maka dia pasti
mengetahui kecurangan mereka di dalam tiga hal ini.

Adapun kecurangan mereka terhadap tauhid, dikarenakan mereka adalah manusia
yang paling jauh dari memperhatikan tauhid, sampai-sampai mereka akan
melarang (dakwah) tauhid itu jika diperkirakan akan menjadi sebab menjauhnya
massa dari diri mereka, bahkan sungguh anda akan mendapati diantara
tokoh-tokoh mereka, ada yang tidak bisa membedakan antara syirik dengan
tauhid, sebagaimana yang akan adan lihat setelah pembahasan ini.[7]

Adapun kecurangan mereka terhadap jama'ah kaum muslimin, maka seluruh
aksi-aksi mogok yang terjadi di negeri-negeri Islam, mereka berada
dibelakangnya. Bahkan cirri khas (yang menonjol dari) mereka adalah : Mereka
tidak akan mengumpulkan massa kecuali untuk memprovokasi agar melawan
penguasa, dan hampir-hampir mereka tidak pernah insaf, walaupun mereka
melihat rakyat berjungkir balik antara dipenjara, dibunuh, dan dirampas
(harta dan kehormatan mereka), karena termasuk prinsip mereka, yang
dengannya mereka menipu rakyat jelata adalah : Tidak mengapa, bahkan harus
terjadi pemusnahan suatu generasi untuk memberikan kesempatan kepada
generasi selanjutnya ! (resiko perjuangan –kata mereka- edit)

Permasalahan ini[8], begitu mengakar didalam hati mereka begitu juga dengan
hal-hal yang berkaitan dengannya seperti masalah fikih dan hukum-hukum amal
perbuatan yang akan mendukung tujuan pergerakan mereka, seperti permasalahan
bai'at, politik, fanatisme partai dengan kedua sisinya, baik dalam wujud
propaganda maupun dalam wujud nyata yaitu parlemen, sandiwara, drama, nasyid
dan selainnya.

Meskipun ruh seorang harokah keluar, dia tidak akan mengharamkan hal-hal
diatas (nasyid dll) yang merupakan (ruh) pembangkit dakwahnya. Oleh
karenanya, berdialog bersamanya dalam masalah ini ibaratnya berdialog dengan
orang-orang tua/awam dari kaum muslimin dalam masalah ushuluddin
(prinsip-prinsip agama).

Seorang harokah terkenal dengan semangatnya yang membara, dimanapun dia
berada. Anda akan melihatnya bersemangat mengumpulkan massa meski bukan
lewat jalur yang benar. Dia sangat antusias mencari info dalam pemerintahan
dan amat berlebihan menukil berita-berita tersebut. Dia sangat mudah sekali
membenarkan berita tentang aib-aib pemerintah/penguasa dan amat bersemangat
dalam menyebarluaskannya. Dia sangat mudah memuji orang-orang yang menentang
penguasa. Dan dia kurang memperhatikan masalah-masalah tauhid melainkan apa
yang mereka namakan tauhid "Hakimiyah" ![9] Sunnah menurutnya adalah sekedar
kulit (kurang berharga/penting) dan belajar agama adalah ilmu yang telah
dimakan waktu.

[Tulisan ini dialihbahasakan dari buku "Khuroofah Harokiy" karangan Syaikh
Abdul Malikj bin Ahmad bin Al-Mubaraak Ramadhaany Al-Jazaairy, halaman
16-18, Dan dimuat Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Isamiyyah Edisi 15 Th. III Rajab
1426H/Agustus 2005M. Penerjemah Abu Zahroh Imam Wahyudi Lc]
_________
Foote Note
[1]. Tulisan ini dialihbahasakan dari buku "Khuroofatah Harokiy" karangan
Syaikh Abdul Malik bin Ahmad bin Al-Mubaarok Romadhooniy Al-Jazaairy,
halaman : 16-18. Beliau seorang penuntut ilmu agama yang disegani, berasal
dari Aljazair, dan sempat menyaksikan sendiri tragedi pembantaian umat Islam
di Aljazair. Sekarang beliau berdomisilli di Madinah dan belajar kepada ahli
hadits Madinah, Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad Hafidhohullah.

Bab ini, kami pilih untuk diangkat dengan harapan bisa menjadi bekal
berharga bagi kaum muslimin yan sudah bermanhaj salaf, atau yang sudah
mengenalnya, akan tetapi masih bingung dikarenakan syubhat yang dilontarkan
oleh kelompok yang benci terhadap manhaj salaf, setelah melihat begitu
besarnya antusias masyarakat untuk menerima dakwah yang diberkahi ini,
mereka (para pengikut pergerakan) tidak memiliki pilihan lain untuk
membendung dan menghancurkannya kecuali dengan cara masuk dan mengaku
sebagai penganut manhaj salaf, lalu menyebarkan pemahaman kelompoknya dengan
nama salaf.

[2]. Karena, harokah di dalam bahasa arab bermakna : gerakan –pent
[3]. Inilah yang selalu mereka gembar gemborkan dari zaman leluhur mereka
yaitu Dzul Khuwaisiroh yang pernah memprotes/mengkritik Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika beliau membagikan harta rampasan perang
(lihat kitabus sunnah oleh Ibnu Abi 'Ashim hadits (910) dengan takhrij
Syaikh Al-Albani hal.430 (editor)

[4]. Ini adalah salah satu prinsip Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang amat mulia.
Anda bisa mendapatkan pembahasannya dengan lebih luas dan terperinci di
dalam buku-buku aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, di antaranya : buku
"Al-Aqidah Ath-Thohawiyyah" beserta penjelasan, jilid 2 halaman 576-579.
Prinsip Ahlus Sunnah Wal Jama'ah yang satu ini akan terlihat semakin
berkilau dan bercahaya keagungannya, ketika kita merenungi kisah ketegaran
Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah dalam mempertahankan salah satu aqidah
Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang lain, yaitu bahwa Al-Qur'an adalah firman
Allah, dan bukan makhlukNya, di hadapan kholifah bani Abbasiyah yang
bergelar Al-Ma'mun. Sampai-sampai beliau dipenjara dan dicambuki, dan begitu
banyak para ulama yang dibunuh pada masa itu. Jika seandainya Imam Ahmad bin
Hanbal adalah seorang politkus sekuler, atau seorang pimpinan partai, atau
seorang khawarij, atau seorang syi'ah, atau seorang yang haus dengan
kekuasaan, niscaya beliau akan melakukan pemberontakan, atau minimal
menyerukan demonstrasi menentang pemerintah.

Akan tetapi bliau adalah seorang ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah (Salafiyyah)
yang takut dan taat kepada Allah dan rasulNya, memiliki pandangan yang jauh,
serta lebih mengutamakan keselamatan umat daripada diri sendiri, maka beliau
tetap bersabar dan tidak memberontak sampai bergantinya kekhalifahan,
kemudian beliau dibebaskan dan aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah dikukuhkan
lagi, serta umatpun diselamatkan aqidah dan jiwa mereka. Semoga Allah Ta'ala
memudahkan kami untuk menukilkan secara lengkap kisah emas tersebut
dikemudian hari, amin. –pent
[5]. Yaitu : tindakan tunduk dan tidak memberontak terhadap penguasa muslim
yang dholim –pent
[6]. Penyebutan tiga firqoh ini disebabkan oleh karena mereka adalah firqoh
yang paling menonjol di dalam hal menyerukan pemberontakan terhadap para
penguasa muslim
[7]. Akan kami muat pada edisi berikutnya, insya Allah, -pent
[8], Prinsip memberontak atau membangkang terhadap pemerintah yang dholim
[9]. Ini adalah istilah baru (bid'ah) ….Sebagian ulama menyerupakannya
dengan aqidah Syi'ah yang menjadikan masalah "Imamah" sebagai hal terpenting
dalam aqidah (mereka) !! (Ta'liq dalam "At-Tahdzir min Fitnatit Takfir" Oleh
Syaikh Ali bn Hasan –Hafidhullah- hal.6) –editor

DIDALAM AL-QUR'AN DAN AS-SUNNAH TIDAK TERDAPAT SESUATU YANG MEMBOLEHKAN
BERBILANGNYA JAMA'AH DAN PARTAI

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah ada nash-nash dalam
Kitabullah dan Sunnah NabiNya Shallallahu 'alaihi wa sallam yang menunjukkan
kebolehan berbilangnya jama'ah-jama'ah Islamiyah ?

Jawaban
Tidak ada di dalam Al-Qur'an dan tidak pula dalam As-Sunnah yang membolehkan
berbilangnya jama'ah-jama'ah dan partai-partai. Bahkan sesungguhnya yang ada
di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah adalah sesuatu yang mencela hal tersebut.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.

"Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka
(terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabnya
terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada
Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah
mereka perbuat" [Al-An'am : 159]

Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.

"Artinya : Yaitu orang-orang yang memecah belah agamanya mereka dan mereka
menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang
ada pada golongan mereka" [Ar-Rum : 32]

Dan tidak diragukan lagi bahwa partai-partai ini menafikan apa yang
diperintahkan Allah, bahkan (menyelisihi) apa yang dianjurkan Allah
Subhanahu wa Ta'ala dalam firmanNya.

"Artinya : Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama
yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku" [Al-Mu'minun :
52]

Apalagi ketika kita melihat kepada akibat-akibat perpecahan dan
berpartai-partai ini, setiap partai dan setiap kelompok menuduh yang lain
dengan menjelek-jelekan, mencela dan menuduh fasik, dan boleh jadi akan
menuduh dengan sesuatu yang lebih besar dari itu. Oleh karena itu maka saya
melihat bahwa berkelompok-kleompok ini adalah suatu kesalahan.

Dan perkataan sebagian orang bahwa tidak mungkin berdakwah akan kuat dan
tersebar kecuali jika berada di bawah sebuah partai ? Maka kami katakan :
Perkataan ini tidaklah benar, bahkan dakwah itu akan semakin kuat dan
tersebar jika seseorang semakin kuat berpegang teguh kepada Kitabullah dan
Sunnah Rasulullah, dan semakin ittiba' (mengikuti) jejak-jejak Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam serta para Khulafa' beliau yang Rasyidun.


[Disalin dari kitab Ash-Shahwah Al-Islamiyah Dhawabith wa Taujihat, edisi
Indonesia Panduan Kebangkitan Islam, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih
Al-Utsaimin, terbitan Darul Haq]

Sumber :
http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1534&bagian=0


>



Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : http://www.assunnah.or.id/ragam/aturanmilis.php 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke