SIAPA YANG MEMBEDAKAN BENTUK-BENTUK BID’AH?

Oleh
Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi Al-Atsari
http://www.almanhaj.or.id/content/1843/slash/0

Ketahuilah bahwa arti sunnah menurut bahasa adalah : “cara atau jalan”. Dan 
tidak diragukan bahwa orang-orang yang mengikuti cara dan jalan hidup 
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya adalah kelompok 
Ahlus Sunnah. Sebab pada masa itu belum terjadi bid’ah. Sesungguhnya 
terjadinya berbagai hal yang baru dan bentuk-bentuk bid’ah adalah setelah 
masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.[1]

Atas dasar ini, maka tidak setiap orang yang membaca tulisan, mendengar 
ceramah atau mencermati suatu masalah dari beberapa buku dapat membedakan 
antara bid’ah dan yang bukan bid’ah dengan gampang dan mudah. Tetapi bagi 
orang yang ingin membedakan antara bid’ah dan yang bukan bid’ah harus 
mengerti dua hal.

Pertama : Mengetahui sirah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan 
sunnah-sunnahnya. Sehingga dia menguasai yang menjadi dasar dan kaidah dalam 
membedakan antara sunnah dengan bid’ah.

Kedua : Mengetahui ilmu dasar-dasar bid’ah untuk memudahkan dalam penerapan 
kaidah dan mengeluarkan hal-hal yang cabang dari hal-hal yang pokok.

Tidak diragukan lagi, bahwa mengetahui dan mampu memahami kedua hal tersebut 
adalah yang memberikan kemahiran pencari ilmu dalam menyimpulkan hukum yang 
kuat dan jauh dari keraguan dan kesalahan.

Dalam hal ini terdapat banyak contoh dalam sejarah keilmuan Islam yang 
menjelaskan bahwa tidak menguasai kedua hal tersebut seringkali 
memutarbalikan kebenaran dalam suatu masalah sehingga yang sunnah menjadi 
bid’ah dan yang bid’ah dianggap sunnah.

Sebagai contoh adalah yang disebutkan As-Suyuthi dalam kitabnya Al-Amru bil 
Ittiba (hal.301), bahwa mendirikan bangunan dengan kapur dan batu adalah 
bid’ah. Padahal yang seperti itu sama sekali bukan dalam masalah ibadah, 
tetapi hanya dalam masalah kebiasaan manusia!

Contoh lain adalah yang diriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waaqash Radhiyallahu 
‘anhu.

“Artinya : Bahwa dia mendengar seseorang yang ketika dalam talbiyah berkata, 
“Labbaika Dzal Ma’arij”. Maka dia berkata kepadanya, “Sesungguhnya Allah 
adalah Dzul Ma’arij, tetapi kami tidak mengatakan demikian itu bersama Nabi 
Shallallahu ‘alaihi wa sallam”.

Ini adalah gambaran yang jelas, yang menunjukkan sejauh mana tingkat 
pengetahuian sahabat yang agung ini dan pemahamannya terhadap kaidah-kaidah 
yang diterima dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga dia 
mengingkari sesuatu yang berkaitan dengan ibadah yang tidak dilakukan 
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tetapi dia –semoga Allah 
meridhainya- tidak mengetahui bahwa talbiyah tersebut pernah didengar 
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari para sahabat dan beliau tidak 
melarang mereka. Abu Dawud (183), Ahmad (14480) dan Al-Baihaqi (V/45) 
meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu tentang 
talbiyah : “Labbaika Allahumma Labbaik” dan didalamnya disebutkan tambahan 
kalimat.

“Artinya ; Dan manusia menambahkan Dzal Ma’arij dan yang sepertinya, sedang 
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar hal tersebut dan tidak 
mengatakan apa pun kepada mereka”.

Ini adalah ketetapan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada mereka 
atas tambahan talbiyah. Dengan demikian, maka talbiyah tersebut sesuai 
sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa 
sallam tidak melarangnya.

Dalam kasus seperti ini, orang yang melakukan atau mengatakannya tidak bisa 
dipersalahkan, kecuali menyatakan satu hal, yaitu bahwa kekurang tahuan 
tentang sirah dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam baik 
ucapan, perbuatan maupun ketetapannya menghantarkan kepada pengambilan 
kesimpulan yang tidak tepat, sebagaimana anda ketahui.

Jadi dua syarat tersebut mempunyai posisi yang penting bagi setiap orang 
yang ingin mengetahui bentuk-bentuk bid’ah dan membedakannya dengan sunnah.

Lihatlah bagaimana seorang sahabat utama yang terbina dalam naungan wahyu! 
Walau kondisi dia seperti itu, tapi masih ada sunnah Nabi Shallallahu 
‘alaihi wa sallam yang luput dari pengetahuannya karena ia tidak 
mencermatinya sehingga dia mengingkari orang yang melakukannya ! Lalu 
bagaimana dengan orang selain dia yang tingkatannya di bawahnya, yaitu 
orang-orang yang hidup pada masa sekarang atau sebelumnya ?!

Contoh lain yang berkaitan dengan dua syarat tersebut adalah seperti kisah 
yang diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahihnya (973) dari Ummil Mukminin 
Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata.

“Artinya : Ketika Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu ‘anhu meninggal, 
isteri-isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus agar mereka (kaum 
Muslim) membawa jenazah ke masjid sehingga mereka (isteri-isteri Nabi) dapat 
menshalatkannya. Maka mereka (para sahabat) melakukan itu, dan jenazah Sa’ad 
Radhiyallahu ‘anhu di simpan di arah kamar isteri-isteri Nabi Shallallahu 
‘alaihi wa sallam dan mereka menshalatkannya. Lalu jenazah dikeluarkan dari 
Babul Janaiz yang ada di Al-Maqa’id. Lalu sampai kepada mereka 
(isteri-isteri Nabi) bahwa manusia mencela hal tersebut seraya berkata, “Ini 
adalah bid’ah!”[2], Tidak pernah ada jenazah yang dibawa masuk ke masjid!”. 
Maka ketika hal itu sampai kepada Aisyah, dia berkata. “Betapa cepatnya 
manusia mencela apa yang mereka tidak tahu! Mereka mencela kami karena 
meminta jenazah di lewatkan di masjid! Demi Allah, Rasulullah Shallallahu 
‘alaihi wa sallam tidak menshalatkan Suhail bin Baidha dan saudaranya 
kecuali di masjid!”

Lihatlah bagaimana keshahihan dalam landasan hukum, yang disertai oleh 
kekurang pahaman secara rinci dalam penerapannya menjadikan seseorang jatuh 
dalam kesalahan!

Di sini kami perlu menyebutkan hal penting yang berkaitan dengan kajian ini, 
yaitu tentang perkataan orang-orang ketika ditetapkan suatu perbuatan 
sebagai bid’ah atau salah, bahwa kebanyakan dari mereka yang menentang 
kebenaran menganggap bahwa para penyeru Sunnah tidak menghargai para imam 
dan meremehkan ulama masa lalu! Mereka menganggap bahwa di antara para 
penyeru Sunnah ada yang menyamakan dirinya dengan para imam dan ulama, 
ketika para penyeru Sunnah mengatakan, “Kami adalah orang dan mereka pun 
juga orang!”

Demikianlah dalih mereka, dan betapa buruknya anggapan mereka!

Sesungguhnya para penyeru Sunnah memahami kedudukan para ulama, menghargai 
mereka dan menjaga hak mereka. Namun para penyeru Sunnah –semoga Allah 
memberikan keberkahan kepada mereka- mengerti bahwa ukuran sesuatu yang 
mendekatkan kepada Allah bukan individu atau ke tokohan seseorang, tetapi 
sifat-sifat mulia yang dimiliki seseorang dalam rangka mendekatkan diri 
kepada Allah, baik dengna ilmu atau ibadah.

Meskipun demikian, maka sesungguhnya para penyeru sunnah menyanggah tuduhan 
yang dilontarkan kepada mereka dengan berpedoman kepada perkataan orang yang 
menjelaskan sifat ulama dan para imam masa lalu.

“Mereka adalah para tokoh, dan aib bila orang yang tidak mempunyai 
sifat-sifat mereka dikatakan sebagai tokoh”

[Disalin dari kitab Ilmu Ushul Al-Fiqh Al-Bida’ Dirasah Taklimiyah Muhimmah 
Fi Ilmi Ushul Fiqh, edisi Indonesia Membedah Akar Bid’ah,Penulis Syaikh Ali 
Hasan Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari, Penerjemah Asmuni Solihan 
Zamakhsyari, Penerbit Pustaka Al-Kautsar]
__________
Foote Note
[1]. Al-Muntaqa An-Nafis : 38 oleh Ibnul Jauzi. Dan darinya As-Suyuthi 
menukil dalam kitabnya Al-Amru bil Ittiba : 81
[2]. Tambahan ini dari Sunan Al-Baihaqi IV/51

_________________________________________________________________
Check it out! Windows Live Spaces is here!  
http://spaces.live.com/?mkt=en-id It’s easy to create your own personal Web 
site.



Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : http://www.assunnah.or.id/ragam/aturanmilis.php 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke