SALAFIYYUN DAN DAULAH ISLAM

Oleh
Syaikh Salim bin Id Al-Hilali hafizhahullahu
http://www.almanhaj.or.id/content/2130/slash/0

Pertanyaan.
Syaikh Salim bin Id Al-Hilali ditanya : Bagaimana sikap kita dalam 
menghadapi syubhat yang dilontarkan kepada As-Salafiyyun, bahwa 
As-Salafiyyun tidak peduli dengan masalah Iqamatud Daulah atau Khilafah 
Al-Islamiyah (Mendirikan atau membangun negara dan kekuasaan Islam)?

Jawaban
Alhamdulillah, wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa ash 
habihi wa man walah.

Sebagaimana yang tadi telah disebutkan oleh Syaikh Ali Hafizhahullah bahwa 
syubhat-syubhat itu banyak sekali [1]. Sehingga menjawabnya pun membutuhkan 
waktu yang panjang. Oleh karena itu beliau meringkasnya. Dan apa yang telah 
beliau sampaikan sebenarnya sudah cukup.

Namun, tatkala permasalahan yang ditanyakan berkaitan dengan masalah 
kenegaraan dan pemerintahan, maka permasalahan ini merupakan permasalahan 
paling besar, dan merupakan sebab terbesar yang telah membangkitkan dan 
mengobarkan para pemuda untuk sangat mudah melakukan takfir (pengkafiran) 
dan pemberontakan atau demo-demo, dan bahkan perbuatan anarkis. Sebagian 
permasalahan ini telah dijelaskan oleh Syaikh Ali Hafizhahullah dan saya 
akan menjelaskan dari sisi lain, yang kaitannya lebih erat dengan 
permasalahan politik atau kenegaraan secara ringkas pula, insya Allah.

Pertama kali yang semestinya kita pahami adalah, bahwa negara yang 
penduduknya kaum Muslimin, di dalamnya dikumandangkan adzan, ditegakkan 
shalat, mayoritas keadaan kaum muslimin berhukum dengan syari’at Islam, maka 
negara ini adalah negara Islam. Karena perbedaan antara negara Islam dengan 
negara kafir, sebagaimana telah disebutkan oleh Al-Muzani dalam kitab 
Ushulus Sunnah, adalah dikumandangkan adzan dan ditegakkan shalat di 
dalamnya.

Oleh karena itu, terhadap orang-orang yang mengatakan “kalian tidak peduli 
dengan iqamatud Daulatil Islamiyah (mendirikan negara Islam)”, maka kita 
katakan kepada mereka sesungguhnya negara-negara Islam sudah ada dan 
berdiri! Namun yang menjadi permasalahan, mayoritas hukum-hukum yang kini 
diterapkan di sebagian negara-negara Islam, baik dalam bidang perekonomian, 
politik, pendidikan, kebudayaan dan lain-lainnya, hampir secara keseluruhan 
merupakan hukum-hukum buatan manusia, hukum-hukum import (yang di datangkan 
dari negara-negara kafir,-red).

Para ulama telah menjelaskan secara terperinci tentang permasalahan ini [2]. 
Yakni, tentang berhukum dengan hukum-hukum atau undang-undang buatan 
manusia. Para ulama menerangkan, bahwa seseorang yang berhukum dengan hukum 
selain hukum Allah, berarti ia telah melakukan sebuah kekafiran yang kecil, 
yang tidak mengeluarkannya dari agama Islam. Akan tetapi, mungkin saja 
kekafiran kecil yang kecil ini mengeluarkannya kepada kekafiran yang besar 
seperti yang telah saya terangkan secara rinci di Masjid Istiqlal kemarin 
[3].Yaitu apabila ia menganggap dan berkeyakinan halal atau bolehnya 
berhukum dengan selain hukum Allah ; atau ia berkata, saya tidak merasa 
wajib atau harus berhukum dengan hukum Allah ; atau berkata berhukum dengan 
selain hukum Allah lebih baik daripada berhukum dengan hukum Allah ; atau 
berkata, hukum-hukum dan undang-undang lainnya sama saja dengan hukum Allah 
; atau berkata, saya bebas (terserah saya mau berhukum dengan hukum Allah 
atau selainnya, sama saja) ; dan perkataan lainnya yang senada dengannya. 
Maka, berarti ia –dengan kesepakatan ulama Ahlus Sunnah- telah melakukan 
kekafiran yang besar (keluar dari Islam, red). Wal ‘iyadzu billahi tabaraka 
wa ta’ala.

Berarti, selama negara-negara Islam kini sudah ada dan tegak, yang dituntut 
untuk kita lakukan adalah memperbaiki keadaan negara-negara Islam ini, 
dengan metode yang telah diajarkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa 
sallam ; baik dalam cara berdakwah, pembinaan umat berdasarkan metode 
at-tasfiyah wat-tarbiyah (memurnikan umat dari kesyirikan, bid’ah dan 
maksiat, kemudian membina membimbing mereka memahami Islam dengan baik dan 
benar), bukan dengan cara-cara yang saat ini gencar dilakukan oleh sebagian 
golongan-golongan atau partai-partai. Seperti melakukan kudeta-kudeta 
militer, pemberontakan-pemberontakan, aksi-aksi mogok, atau bahkan lebih 
ironis lagi mengadakan aliansi dengan negara-negara kafir, demi mnggulingkan 
pemerintah negara Islam, atau usaha-usaha lainnya.

Ketahuilah ! Justru semua ini semakin menambah perpecahan dan kelemahan kaum 
muslimin di banyak negara-negara Islam!

Jadi, yang kita lakukan ialah mengadakan perbaikan-perbaikan pada pemerintah 
negara-negara Islam saat ini. Kita pun berusaha menyatukan seluruh 
negara-negara Islam, agar mereka saling bekerjasama, bersatu, menolong 
antara yang satu dengan yang lainnya ; dan akhirnya mereka seperti firman 
Allah berikut.

“Artinya : Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian 
mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain…” [At-Taubah : 
71]

Hendaknya kita selalu ingat dan tidak lupa bahwa orang-orang kafir, walaupun 
kekafiran mereka berbeda-beda, negara mereka pun berbeda-beda, namun 
hendaknya kita tetap waspada dan siaga bahwasanya mereka senantiasa 
melakukan penyatuan-penyatuan yang terorganisir sesama mereka, baik dalam 
masalah politik, perekonomian, ilmu pengetahuan, dan lain-lain. Karena 
(merekapun tahu) bahwa bersatu merupakan kekuatan.

Oleh karena itu, di antara tujuan kita (dalam mengadakan perbaikan-perbaikan 
di segala bidang kehidupan) adalah seperti Syaikh kami (Al-Albani 
rahimahullah) selalu menuliskan di dalam buku-buku beliau, berupaya menuju 
kehidupan yang Islami.

Tentu saja, beliau tidak bermaksud bahwa kehidupan Islami saat ini tidak ada 
sama sekali! Akan tetapi yang beliau maksud, bahwa kehidupan Islami yang ada 
saat ini masih banyak kekurangan dan masih jauh dari agama Allah. Maka dari 
itu, kita harus berdakwah kepada manusia dan kaum muslimin seluruhnya, 
menuju penegakkan syari’at Allah dalam seluruh bidang kehidupan mereka ; 
baik dalam bidang politik, perekonmian, ataupun ilmu pengetahuan. Demikian 
pula dalam hubungan nasional maupun internasional, baik bersama kawan atau 
pun lawan.

Inilah sekilas dan pandangan kita (tentang bernegara) secara umum dan 
singkat. Metode kita ialah melakukan perbaikan-perbaikan dengan cara 
berdakwah mengajak manusia kepada Allah, memurnikan mereka dari polusi 
kesyirikan, bid’ah, dan maksiat, lalu membimbing dan membina mereka kepada 
pemahaman dan praktek Islam yang baik dan benar. Seperti firman Allah.

“Artinya : Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan 
pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik….” [An-Nahl : 
125]

Kita juga jangan sampai melupakan, wahai saudara-saudaraku, bahwa tegaknya 
daulah Islamiyah merupakan pemberian dan karunia Allah semata bagi 
hamba-hambaNya yang shalih dan bertakwa. Jika kita beramal, juga orang-orang 
shalih beramal, maka sesungguhnya kekuatan, kekuasaan dan kejayaan Islam 
merupakan janji Allah.

Allah berfirman.

“Artinya : Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di 
antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih, bahwa Dia sungguh-sungguh 
akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah 
menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan 
meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridahiNya untuk mereka, dan Dia 
benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan 
menjadi aman sentosa, mereka tetap menyembahKu dengan tiada mempersekutukan 
sesuatu apapun denganKu…”[An-Nur : 55]

Dan kami berikan kabar gembira kepada anda semua, bahwa masa depan adalah 
milik Islam yang benar dan lurus, yang berada di atas manhaj As-Salafush 
Shalih. Manhaj yang diberkahi Allah, yang mengikat menusia agar senantiasa 
berhubungan dengan Allah dan melaksanakan sunnah Rasulullah Shallallahu 
‘alaihi wa sallam. Yang akan membawa mereka semua kepada keimanan, keamanan 
dan kedamaian.

Kami memohon kepada Allah agar memberikan taufiqNya selalu kepada setiap 
muslim.

[Ceramah Syaikh Salim bin Id Al-Hilali di Jakarta Islamic Center, AHad 23 
Muharram 1428H/11 Februari 2007M]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun XI/1428H/2007. Diterbitkan 
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton 
Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
__________
Foote Note
[1]. Lihat majalah As-Sunah, liputan edisi 01/XI/1428H/1427M, rubrik Manhaj, 
Salafiyyun Menepis Tuduhan Dusta, ceramah Fadhilatusy-Syaikh Ali bin Hasan 
Al-Halabi Al-Atsari –haizhahumullahu, di masjid Islamic center Jakarta, hari 
ahad 23 Muharam 1428H/11 Februari 2007M
[2]. Lihat risalah ilmiah Syaikh Salim bin Id Al-Hilali yang menjelaskan 
masalah ini secara gamblang dan terperinci, Qurratu Uyun fi Tash-hihi 
Tafsiri Abdillah Ibni Abbas Li Qaulihi Ta’ala : Wa Man lamYahkum bi Ma 
Anzalalluhu fa Ula-ika Hummul Kafirun.
[3]. Ceramah di masjid Al-Istiqlal Jakarta, hari Sabtu, 22 Muharram 1428H/10 
Februari 2007. Pembahasan yang dimaksud kami angkat pada edisi ini dalam 
satu rangkaian rubrik Manhaj. Lihat jawaban Fadhilatusy Syaikh Salim bin Id 
Al-Hilali hafizhahullahu tentang Kufrun Duna kufrin.

_________________________________________________________________
Try it now! Live Search: Better results, fast. 
http://get.live.com/search/overview



Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : http://www.assunnah.or.id/ragam/aturanmilis.php 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke