----- Original Message ----
From: eko <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, June 14, 2007 2:06:14 PM
Assalamu'alaykum warohmatullahi wabarokaatuh,
Setiap bid'ah adalah sesat, dan setiap yang sesat tempatnya neraka. 
Mengusap muka setelah berdoa dan bersalam-salaman setelah sholat
berjamaah termasuk bid'ah. 
Timbul pertanyaan :
- Bid'ah yang bagaimana yang sesat dan tempatnya neraka ?
- Apakah setiap bid'ah tempatnya neraka ?
- Adakah dalil yang menyatakan bahwa bid'ah yang dilarang itu
hanya untuk bid'ah dalam ibadah ?
Hal ini ana tanyakan mengutip ucapan ustadz ketika ta'lim di mesjid
dekat rumah.
Syukron atas bantuannya.
Wassalam
Abu Aga

BID’AH DAN NIAT BAIK

Oleh
Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi Al-Atsari
http://www.almanhaj.or.id/content/2135/slash/0

Ketika sebagian orang melakukan bid’ah, mereka beralasan bahwa amal mereka 
dilakukan dengan niat yang baik, tidak bertujuan melawan syari’at, tidak 
mempunyai pikiran untuk mengoreksi agama, dan tidak terbersit dalam hati untuk 
melakukan bid’ah ! Bahkan sebagian mereka berdalil dengan hadits Nabi 
Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Sesungguhnya segala amal tergantung pada niat” [Muttafaq Alaihi]

Untuk membentangkan sejauh mana tingkat kebenaran cara mereka menyimpulkan 
dalil dan beberapa alasan yang mereka kemukakan tersebut, kami kemukakan bahwa 
kewajiban seorang muslim yang ingin mengetahui kebenaran yang sampai kepadanya 
serta hendak mengamalkannya adalah tidak boleh menggunakan sebagian dalil 
hadits dengan meninggalkan sebagian yang lain. Tetapi yang wajib dia lakukan 
adalah memperhatiakn semua dalil secara umum hingga hukumnya lebih dekat kepada 
kebenaran dan jauh dari kesalahan. Demikianlah yang harus dilakukan bila dia 
termasuk orang yang mempunyai keahlian dalam menyimpulkan dalil.

Tetapi bila dia orang awam atau pandai dalam keilmuan kontemporer yang bukan 
ilmu-ilmu syari’at, maka dia tidak boleh coba-coba memasuki kepadanya, seperti 
kata pepatah : “Ini bukan sarangmu maka berjalanlah kamu!”.

Adapun yang benar dalam masalah yang penting ini, bahwa sabda Nabi Shallallahu 
‘alaihi wa sallam. “Sesunnguhnya segala amal tergantung pada niat” adalah 
sebagai penjelasan tentang salah satu dari dua pilar dasar setiap amal, yaitu 
ikhlas dalam beramal dan jujur dalam batinnya sehingga yang selain Allah tidak 
meretas ke dalamnya.

Adapun pilar kedua adalah, bahwa setiap amal harus sesuai Sunnah Nabi 
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti dijelaskan dalam hadits, “Barangsiapa 
yang mengerjakan suatu amal yang tidak ada keterangannya dari kami maka dia 
tertolak”. Dan demikian itulah kebenaran yang dituntut setiap orang untuk 
merealisasikan dalam setiap pekerjaan dan ucapannya.

Atas dasar ini, maka kedua hadits yang agung tersebut adalah sebagai pedoman 
agama, baik yang pokok maupun cabang, juga yang lahir dan yang batin. Dimana 
hadits : “Sesungguhnya segala amal tergantung pada niat” sebagai timbangan amal 
yang batin. Sedangkan hadits “Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal yang 
tidak ada keterangannya dari kami maka dia tertolak” sebagai tolak ukur 
lahiriah setiap amal.
Dengan demikian, maka kedua hadits tersebut memberikan pengertian, bahwa setiap 
amal yang benar adalah bila dilakukan dengan ikhlas karena Allah dan mengikuti 
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang keduanya merupakan syarat setiap 
ucapan dan amal yang lahir maupun yang batin.

Oleh karena itu, siapa yang ikhlas dalam setiap amalnya karena Allah dan sesuai 
sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was allam, maka amalnya diterima, dan 
siapa yang tidak memenuhi dua hal tersebut atau salah satunya maka amalnya 
tertolak. [1]

Dan demikian itulah yang dinyatakan oleh Fudhail bin Iyadh ketika menafsirkan 
firman Allah : “Supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik 
amalnya” [2] Beliau berkata, ‘Maksudnya, dia ikhlas dan benar dalam 
melakukannya. Sebab amal yang dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar maka 
tidak akan diterima. Dan jika dia benar, tetapi tidak ikhlas maka amalnya juga 
tidak diterima. Adapun amal yang ikhlas adalah amal yang dilakukan karena 
Allah, sedang amal yang benar adalah bila dia sesuai dengan Sunnah Rasulullah” 
[3]

Al-Alamah Ibnul Qayyim berkata [4], “Sebagian ulama salaf berkata, “Tidaklah 
suatu pekerjaan meskipun kecil melainkan dibentangkan kepadanya dua catatan. 
Mengapa dan bagaimana ? Yakni, mengapa kamu melakukan dan bagaimana kamu 
melakukan ?

Pertanyaan pertama tentang alasan dan dorongan melakukan pekerjaan. Apakah 
karena ada interes tertentu dan tujuan dari berbagai tujuan dunia seperti ingin 
dipuji manusia atau takut kecaman mereka, atau ingin mendapatkan sesuatu yang 
dicintai secara cepat, atau menghindarkan sesuatu yang tidak disukai dengan 
cepat ? Ataukah yang mendorong melakukan pekerjaan itu karena untuk pengabdian 
kepada Allah dan mencari kecintaan-Nya serta untuk mendekatkan diri kepada 
Allah Subhanahu wa Ta’ala ?

Artinya, pertanyaan pertama adalah, apakah kamu mengerjakan amal karena Allah, 
ataukah karena kepentingan diri sendiri dan hawa nafsu?

Adapun pertanyaan kedua tentang mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa 
sallam dalam pengabdian itu. Artinya, apakah amal yang dikerjakan sesuai 
syari’at Allah yang disampaikan Rasul-Nya? Ataukah pekerjaan itu tidak 
disyari’atkan Allah dan tidak diridhai-Nya?

Pertanyaan pertama berkaitan dengan ikhlas ketika beramal, sedangkan yang kedua 
tentang mengikuti Sunnah. Sebab Allah tidak akan menerima amal kecuali memenuhi 
kedua syarat tersebut. Maka agar selamat dari pertanyaan pertama adalah dengan 
memurnikan keikhlasan. Sedang agar selamat dari pertanyaan kedua adalah dengan 
mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengerjakan setiap 
amal. Jadi amal yang diterima adalah bila hatinya selamat dari keinginan yang 
bertentangan dengan ikhlas dan juga selamat dari hawa nafsu yang kontradiksi 
dengan mengikuti Sunnah”.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya (I/231) berkata, “Sesungguhnya amal yang di terima 
harus memenuhi dua syarat. Pertama, ikhlas karena Allah. Kedua, benar dan 
sesuai syari’at. Jika dilakukan dengna ikhlas, tetapi tidak benar, maka tidak 
akan diterima”.

Pernyataan itu dikuatkan dan dijelaskan oleh Ibnu Ajlan, ia berkata, “Amal 
tidak dikatakan baik kecuali dengan tiga kriteria : takwa kepada Allah, niat 
baik dan tepat (sesuai sunnah)” [5]

Kesimpulannya, bahwa sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamn, “Sesungguhnya 
segala amal tergantung pada niat” itu maksudnya, bahwa segala amal dapat 
berhasil tergantung pada niatnya. Ini adalah perintah untuk ikhlas dan 
mendatangkan niat dalam segala amal yang akan dilakukan oleh seseorang dengan 
sengaja, itulah yang menjadi sebab adanya amal dan pelaksanaannya. [6]

Atas dasar ini, maka seseorang tidak dibenarkan sama sekali menggunakan hadits 
tersebut sebagai dalil pembenaran amal yang batil dan bid’ah karena semata-mata 
niat baik orang yang melakukannya!

Dan penjelasan yang lain adalah, bahwa hadits tersebut sebagai dalil atas 
kebenaran amal dan keikhlasan ketika melakukannya, yaitu dengan pengertian, 
“Sesungguhnya segala amal yang shalih adalah dengan niat yang shalih”

Pemahaman seperti ini sepenuhnya tepat dengan kaidah ilmiah dalam hal 
mengetahui ibadah dan hal-hal yang membatalkannya.

Dan diantara yang menguatkan bahwa diterimanya amal bukan hanya karena niat 
baik orang yang melakukannya saja, tetapi harus pula sesuai dengan Sunnah 
adalah hadits sebagai berikut.

“Artinya : Bahwa seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : 
“Apa yang Allah kehendaki dan apa yang engkau kehendaki”. Maka Nabi Shallallahu 
‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Apakah kamu menjadikan aku sebagai 
tandingan bagi Allah? Tetapi katakanlah : “Apa yang dikehendaki Allah semata” 
[7]

Niat baik dan keikhlasan hati sahabat yang agung ini tidak diragukan. Tetapi 
ketika ucapan yang keluar darinya bertolak belakang dengan manhaj Nabi 
Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam akidah dan bertutur kata, maka Rasulullah 
mengingkari seraya mengingatkan kesalahannya dan menjelaskan yang benar tanpa 
melihat niatnya yang baik.

Hadits tersebut [8] adalah pokok dalil dalam sub kajian ini.

[Disalin dari kitab Ilmu Ushul Al-Fiqh Al-Bida’ Dirasah Taklimiyah Muhimmah Fi 
Ilmi Ushul Fiqh, edisi Indonesia Membedah Akar Bid’ah,Penulis Syaikh Ali Hasan 
Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari, Penerjemah Asmuni Solihan Zamakhsyari, 
Penerbit Pustaka Al-Kautsar]


Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : http://www.assunnah.or.id/ragam/aturanmilis.php 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke