Assalamualaikum

Di bawah ada sebuah artikel tentang "PERINGATAN PENTING SEPUTAR KESALAHAN DALAM 
SHALAT", yang ingin saya tanyakan adalah, Adakah yang punya artikel 
kebalikannya? maksudnya yang seharusnya dilakukan dalam sholat atau setelah 
selesai sholat serta gerakan dan bacaannya bagaimana?......... 
Wassalamualaikum
Re: [assunnah]>>Doa dan Zikir Selepas Shalat Fardhu<<
Abu Abdillah
Wed, 21 Dec 2005 17:17:38 -0800
Alhamdulillah
Yang diperintahkan bagi seorang muslim adalah berdzikir kepada Allah sesuai 
dengan apa yang disyariatkan agama, dan berdo'a kepada Allah Azza wa Jalla 
dengan do'a-do'a yang ma'tsur yang datang dari Al-Qur'an dan Sunnah Nabi 
Shallallahu 'alaihi wa sallam yang shahih. Karena itu, wajib atas seorang 
muslim mengikuti (ittiba') yang telah disyariatkan Allah dan apa yang telah 
dicontohkan NabiNya Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Syaikhhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah, berkata "Di antara orang yang 
sangat aib dan tercela ialah orang yang menggunakan hizib atau wirid yang tidak 
ma'tsur (tidak ada contohnya) dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, 
sekalipun hizib atau wirid tersebut berasal dari syaikhnya (tuan gurunya). 
Sementara, ia justru meninggalkan/mengabaikan dzikir dan wirid yang diajarkan 
dan dibaca oleh pemimpin umat manusia dan Imam seluruh makhluk, yaitu Nabi 
Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam yang merupakan hujjah Allah atas 
hamba-hambaNya."

    Di bawah ini akan saya salinkan beberapa kesalahan yang dilakukan setelah 
shalat fardhu.

    PERINGATAN PENTING SEPUTAR KESALAHAN DALAM SHALAT

    Oleh
    Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

    Beberapa hal biasa dilakukan oleh banyak orang setelah shalat fardhu 
(wajib) yang lima waktu, tapi tidak ada contoh dan dalil dari Rasulullah 
Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabat Ridhwaanullaah 'alaihim ajma'iin.

    Di antara kesalahan dan bid'ah tersebut ialah :

    [1]. Mengusap muka setelah salam [1]
    [2]. Berdo'a dan berdzikir secara berjama'ah yang dipimpin oleh imam 
shalat.[2]
    [3]. Berdzikir dengan bacaan yang tidak ada nash/dalilnya, baik lafazh 
maupun bilangannya, atau berdzikir dengan dasar hadits yang dah'if (lemah) atau 
maudhu' (palsu)

    Contoh :
    [a]. Setelah salam membaca "Alhamdulillah"
    [b]. Membaca surat Al-Faatihah setelah salam.
    [c]. Membaca beberapa ayat terakhir surat Al-Hasyr dan lainnya.

    [4]. Menghitung dzikir dengan memakai biji-bijian tasbih atau yang serupa 
dengannya. Tidak ada satupun hadits yang shahih tentang menghitung dzikir 
dengan biji-bijian tasbih, bahkan sebagiannya maudhu' (palsu) [3] Syaikh 
Al-Albani Rahimahullah mengatakan : "Berdzikir dengan biji-bijian tasbih adalah 
bid'ah" [4]

    Syaikh Bakr Abu Zaid mengatakan bahwa berdzikir dengan menggunakan 
biji-bijian tasbih menyerupai orang-orang Yahudi, Nasrani, Budha, dan perbuatan 
ini adalah bid'ah dhalalah.[5]

    Yang disunnahkan dalam berdzikir adalah dengan menggunakan jari-jari tangan.

    "Artinya : Dari Abdullah bin Amr Radhiyallahu 'anhu, ia berkata : Aku 
melihat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menghitung bacaan tasbih 
(dengan hjari-jari) tangan kanannya" [6]

    Bahkan, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan para sahabat 
wanita menghitung : Subhanallah, Alhamdulillah, dan mensucikan Allah dengan 
jari-jari, karena jari-jari akan ditanya dan diminta untuk berbicara (pada hari 
kiamat) [7]

    [5]. Berdzikir dengan suara keras dan beramai-ramai (bersamaan/berjama'ah). 
Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan kiat berdzikir dengan suara yang tidak 
keras (Al-A'raaf : 55, 205, Lihat Tafsir Ibnu Katsir tentang ayat ini)

    Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang berdzikir dengan suara keras 
sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, Muslim dan lain-lain.

    Imam Asy-Syafi'i menganjurkan agar imam atau makmum tidak mengeraskan 
bacaan dzikir.[8]

    [6].Membiasakan/merutinkan do'a setelah shalat fardhu (wajib) dan 
mengangkat tangan pada do'a tersebut (perbuatan ini) tidak ada contohnya dari 
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.[9]

    [7]. Saling berjabat tangan sesuai shalat fardhu (bersalam-salaman). Tidak 
ada seorangpun dari sahabat atau salafush shalih yang berjabat tangan 
(bersalam-salaman) kepada orang disebelah kanan atau kiri, depan atau 
belakangnya apabila mereka selesai melaksanakan shalat. Jika seandainya 
perbuatan itu baik, maka akan sampai (khabar) kepada kita, dan ulama akan 
menukil serta menyampaikannya kepada kita (riwayat yang shahih). [10]

    Para ulama mengatakan : "Perbuatan tersebut adalah bid'ah" [11]

    Berjabat tangan adalah dianjurkan, akan tetapi menetapkannya di setiap 
selesai shalat fardhu tidak ada contohnya, atau setelah shalat shubuh dan 
Ashar, maka perbuatan itu adalah bid'ah. [12]

    Wallahu a'lam bish Shawwab

    [Disalin dari Kumpulan Do'a dari Al-Qur'an dan As-Sunnah Yang Shahih, 
Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi'i]
    _________
    Foote Note
    [1]. Lihat Silsilah Al-Haadiits Adh-Dhaiifah Wal Maudhuu'ah No. 660 oleh 
Imam Al-Albani.
    [2]. Al-I'tishaam, Imam Asy-Syathibi hal.455-456 tahqiq Syaikh Salim 
Al-Hilali, Fataawa Al-Lajnah Ad-Daa'imah VII/104-105, Fataawa Syaikh Bin Baaz 
XI/188-189, As-Sunan Wal Mubtada'aat hal. 70. Perbuatan ini bid'ah, (Al-Qaulul 
Mubiin Fii Akhthaa-il Mushalliin hal. 304-305)
    [3]. Lihat, Silsilah Al-Haadiits Adh-Dha'iifah Wal Mudhuu'ah no. 83 dan 
1002.
    [4]. Silsilah Al-Ahaadiits Adh-Dha'iifah I/185
    [5]. As-Subhah Taariikhuha wa Hukmuha hal. 101 cet.I Daarul Ashimah 1419H, 
Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid.
    [6]. Hadits shahih, riwayat Abu Dawud no. 1502, dan At-Tirmidzi no. 3486, 
Shahih Sunan At-Tirmidzi III/146 no. 2714, Shahih Abi Dawud I/280 no. 1330, 
Al-Hakim I/547, Al-Baihaqi II/253
    [7]. Hadits hasan, riwayat Abu Dawud no. 1501, dan At-Tirmidzi. Dihasankan 
oleh Imam An-Nawawi dan Ibnu Hajar Al-Asqalani
    [8]. Lihat kitab Fat-hul Baari II/326, dan Al-Qaulul Mubin hal. 305
    [9]. Lihat Zaadul Ma'aad I/357 tahqiq Al-Arna'uth, Majmuu Fataawa, Syaikh 
bin Baaz XI/167-168
    [10]. Tamaamul Kalaam fi Bifd'iyyatil Mushaafahah ba'das Salaam. DR 
Muhammad Musa Alu Nashr
    [11]. Al-Qaulul Mubiin fii Akhthaa'il Mushalliin hal. 293-294 Syaikh 
Masyhur Hasan Salman
    [12]. Al-Qaulul Mubiin fii Akhthaa il Mushalliin hal.294-295 dan Silsilah 
Al-Haadiits Ash-Shaahiihah I/53.


Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : http://www.assunnah.or.id/ragam/aturanmilis.php 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke