Wa'alaikumussalaam warohmatullahi wabarokaatuh Timbul pertanyaan, "Bolehkah mendo'akan orang tua yang masih kafir?" Jawabnya adalah, baik kafir harbi atau bukan kafir harbi tidak diperbolehkan mendoakannya untuk memintakan ampun dan kasih sayang kepada Allah I, ketika keduanya masih hidup maupun sudah meninggal. Dasarnya adalah surat At-Taubah ayat 113, Allah I berfirman.
"Artinya : Tidaklah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang beriman memintakan ampun kepada Allah bagi orang-orang musyrik walaupun orang-orang musyrik itu kaum kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahannam" Ketika Nabi r meminta kepada Allah I supaya mengampuni dosa ibunya, Allah I tidak mengabulkannya karena ibunya mati dalam keadaan kafir[1] Kedua orang tua Nabi r mati dalam keadaan kafir[2] Kalau ada yang bertanya, "Bukankah pada saat itu belum diutus Rasulullah r ?" Saat itu sudah ada millah Ibrahim. Sedangkan kedua orang tua Nabi r tidak masuk dalam millah Ibrahim sehingga keduanya masih dalam keadaan kafir [3] Nabi Ibrahim juga pernah memintakan ampun kepada Allah I untuk kedua orang tuanya yang masih kafir, karena pada waktu itu Ibrahim belum tahu dan belum turun wahyu tentang adanya larangan tersebut. Setelah turun wahyu, Ibrahim kemudian menahan diri. Kisah ini bisa dilihat dalam surat At-Taubah ayat 114. "Artinya : Dan permintaan ampun dari Ibrahim kepada Allah untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah maka Ibrahim berlepas diri daripadanya, sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya dan lagi menyantun" Jika orang tua masih kafir tetapi bukan kafir harbi, maka diperbolehkan mendo'akan agar mereka diberikan hidayah. Dikatakan oleh Imam Al-Qurtubi, ayat yang ke-8 tadi merupakan dalil tentang tetapnya menyambung tali silaturrahmi kepada orang tua yang masih kafir serta mendo'akan keduanya agar mendapatkan hidayah dan kembali ke jalan yang haq. Walaupun tidak boleh memintakan ampunan dan rahmat kepada orang tua yang masih kafir tetapi masih diperbolehkan memintakan hidayah kepada Allah I dan mendakwahkannya jika bukan kafir harbi. Jadi dakwah kepada orang tua yang masih kafir harus tetap dilakukan dan dengan cara yang baik. Dapat kita lihat bagaimana dakwahnya Ibarahim 'Alaihi Shalatu wa sallam kepada orang tuanya. Beliau mendakwahkan dengan kata-kata yang lemah lembut. Dakwah kepada orang tua yang masih kafir saja harus dilakukan dengan kata-kata yang lemah lembut, terlebih lagi jika orang tuanya tidak kafir tetapi masih suka melakukan bid'ah, harus didakwahkan dengan kata-kata lebih lemah lembut lagi. Sikap Nabi Ibrahim terhadap bapaknya yang kafir dapat dilihat dalam surat Maryam ayat 41-48. "Artinya : Ceritakanlah wahai Muhammad kisah Ibrahim di dalam kitab Al-Qur'an, sesungguhnya dia seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi" Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya, "Wahai bapakku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak dapat mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolongmu sedikitpun juga" "Wahai bapakku sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu. Maka ikutilah aku niscaya aku akan menunjukkan kamu ke jalan yang lurus" "Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaithan sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Allah Yang Maha Pemurah" "Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa adzab dari Allah Yang Maha Pemurah maka kamu menjadi kawan bagi syaitah" Berkata bapaknya, "Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku hai Ibrahim jika kamu tidak berhenti niscaya akan aku rajam dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama" Ibrahim berkata, "Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu aku akan meminta ampun bagimu kepada Allah sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku" "Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang engkau seru selain Allah dan aku akan berdo'a kepada Rabb-ku mudah-mudahan aku tidak kecewa dengan berdo'a kepada Rabb-ku [Disalin dari Kitab Birrul Walidain, edisi Indonesia Berbakti Kepada Kedua Orang Tua oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, terbitan Darul Qolam - Jakarta] At Taubah (9) -Ayat 84- ? ????? ??????? ????? ?????? ???????? ?????? ??????? ????? ?????? ?????? ???????? ????????? ????????? ???????? ??????????? ?????????? ?????? ?????????? ? Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendo'akan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik. ----- Original Message ----- From: Marisa T.A To: [email protected] Sent: Friday, August 31, 2007 9:24 AM Subject: [assunnah] Do'a untuk keluarga yang sudah meninggal dan saudara yang Nasrani? Assalaamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh Saya ingin bertanya: 1. Saya dulu selalu membacakan Al Fatihah dan Surat Yasiin untuk Alm Papa, Alm Kakek dan saudara yang sudah meninggal. Saya baru tahu bahwa kita tidak dianjurkan untuk melakukan hal tersebut, karena tidak ada dalil nya. Nah yang Saya ingin tanyakan adalah do'a apa yang bisa Saya baca untuk saudara2 yang sudah meninggal dunia? karena semenjak ada anjuran itu, Saya berdo'a dalam bahasa Indonesia. 2. Mama Saya penganut Nasrani, lalu apakah Saya tidak bisa mendo'akan Mama Saya dan keluarganya yang beragama Nasrani lainnya? Walaupun hubungan Saya dengan Mama Saya bisa dibilang jauh (Dari kecil Saya dibesarkan oleh keluarga Papa Saya yang mayoritas Muslim), tapi Saya ingiiiin sekali mendo'akan Mama Saya... Jazakumullahi khairan katsiran atas jawabannya.
