Assalamu'alaikum, Mekanisme yang antum sampaikan tepat sekali, itulah yang terjadi. Seharusnya Bank harus bertransaksi dulu dengan Bpk. Budi dengan membeli rumahnya seharga 300 juta sehingga rumah tersebut juga masuk dalam pembukuan bank dan secara pencatatan/akuntansinya juga sesuai aturan yang ditetapkan dan rumah tersebut menjadi stok barang murabahah.
Setelah itu baru bank melakukan transaksi jual beli (murabahah) dengan Bpk Amir. Dengan menjual ke Bpk Amir setinggi2nya terserah bank, sampai 1 milyar juga sah dan halal. Mekanisme yang dilakukan oleh bank seolah2 sah2 aja karena ujung2nya rumah tersebut akan jadi milik pak Amir dan selama kredit sertifikat akan tetap berada di bank, jadi langsung aja bank kasih uang ke Pak Amir 100 juta karena pak amir udah punya 200 juta dan kasih wakalah/kuasa ke pak amir untuk membayar ke pak Budi sebesar Rp. 300 juta dibuktikan nanti dengan tanda terima/ajb/sertifikat. Bank tidak berfikir bahwa dengan mekanime yang dilakukan itu, banyak aspek yang dilanggar terutama aspek syariahnya. Bank hanya berfikir terlalu ribet dan muter2 transaksinya. Demikian. Wallahu'alam. > Abdus Shomad Muhammad<[EMAIL PROTECTED]> Wrote: > > Dari pengamatan ana Bank Syariah yang ada sekarang khusunya di Indonesia > (ana tidak begitu tau yg di luar Indonesia) praktek operasinya sama dengan > bank konvensional. Hanya saja ada pergantian beberapa istilah seperti bunga > diganti margin, kredit diganti pembiayaan, perjanjian diganti akad. > > Sebagai contoh praktek murabahah (jual beli). Rukun jual beli itu harus ada > penjual dan pembeli, ada barang, ada kesepakatan harga dan ada akad. > > Praktek di Bank Syariah di Indonesia seperti ini. Misal Bapak Amir akan beli > rumah, ybs menemukan rumah yang akan dijual, katakanlah yang menjual Bapak > Budi. Dari tawar menawar harga terjadi kesepakatan harga rumah Rp. 300 juta. > Bapak Amir hanya mempunyai tabungan Rp.200 juta. kekurangannya yang Rp.100 > juta ybs mengajukan pembiayaan rumah (KPR) di Bank Syariah. Oleh Bank > Syariah pengajuan pembiayaan rumah Bapak Amir diproses, Bapak Amir > menyerahkan beberapa data dan dokumen sebagai bahan analisa petugas Bank, > petugas Bank Syariah juga melakukan survey atas rumah yang akan di beli > Bapak Amir tsb. Setelah ada keputusan aproval, proses selanjutnya, adalah > tanda tangan akad pembiayaan, dalam akad tsb dokumen-dokumen asli seperti > sertifikat tanah diserahkan ke Bank Syariah, sebagai jaminan dan diikat hak > tanggungan. Setelah semuanya ok, pada saat bersamaan dengan tanda tangan > akad pembiayaan, maka transaksi jual beli rumah antara Bapak Amir dengan > Bapak Budi terjadi. Untuk selanjutnya Bapak Amir memiliki kewajiban > mengangsur pokok+margin ke Bank Syariah. (kurang lebih beginilah praktek > yang ada). > > Dalam buku FATWA-FATWA JUAL BELI di terbitkan oleh Pustaka Imam Syafi'i > disusun oleh Ahmad bin 'Abdurrazaq ad-Duwaisy (judul asli Fataawaa al-Laznah > ad-Daa-imah lil Buhuuts al-'Ilmiyyah wal Iftaa'-Al-Buyuu' (1)) fatwa nomor > 17354 halaman 164 dikatakan bahwa praktek seperti ini haram, sebab yang > demikian itu merupakan bentuk kerjasama dengan syarat penambahan, dan itu > jelas riba. > Allaah Ta'ala berfirmn : "Dan Allaah menghalalkan jual beli dan mengharamkan > riba" (Al Baqarah 275) > > Nabi Shalallaahu 'alaihi wassalam bersabda : "Allaah melaknat orang yang > memakan riba, orang yang memberi makan dengannya, kedua orang saksinya, > serta penulisnya. (HR Muslim). > > Mengenai fatwa tersebut, lengkapnya dapat dilihat di almanhaj.or.id > Jual Beli Dengan Perantara http://www.almanhaj.or.id/content/2223/slash/0 > > Sedikit analisa ana : > Bapak Amir tidak melakukan jual beli dengan Bank Syariah, tetapi jual beli > dengan Bapak Budi. Dalam akad pembiayaan Bank Syariah terdapat klausula yg > menyatakan bahwa Bapak Amir bertransaski jual beli dengan Bank Syariah. > (dimana letak jual belinya????). Dalam hal ini Bank hanya melunasi > pembayaran rumah untuk Bapak Amir, kemudian Bank Syariah meminta ganti dari > Bapak Amir memberikan tambahan. Wallaahu a'lam bi showab. Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id Website audio: http://assunnah.mine.nu Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED] Ketentuan posting : http://www.assunnah.or.id/ragam/aturanmilis.php Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/assunnah/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
