Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Mohon tanya bagaimana dengan hadits dari Abu Humaid Sa'idy yang diriayatkan 
oleh Bukhari dalam shahihnya bab al-Adzan hadits no. 785, mengenai duduk pada 
rakaat akhir. Menurut sebagian ahli, hadits tersebut shahih, dan dijadikan 
dalil untuk duduk tawaruk. Bahwa shubuh hanya terdiri dari dua raka'at 
sebagaimana juga shalat-shalat sunat lainnya, maka raka'at terakhirnya adalah 
pada raka'at yang kedua tersebut.

Saya memandang kedua hadits mengenai cara duduk tersebut shahih, maka 
dua-duanya dapat dilaksankan. Mohon penjelasan. Terima kasih.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
========
DALIL MADZHAB TAWARUK 
http://www.almanhaj.or.id/content/923/slash/0

�Artinya : Dari Muhammad bin Amr bin �Atha�,sesungguhnya ia pernah duduk 
bersama sepuluh orang Shahabat Nabi shallallahu �alaihi wa sallam. Lalu kami 
menyebut shalat Nabi Shallallahu �alaihi wa sallam, maka berkata Abu Humaid As 
Saa�idiy, �Aku lebih hafal dari kamu tentang shalat Rasulullah Shallallahu 
�alaihi wa sallam. Aku pernah melihat beliau apabila bertakbir, beliau jadikan 
kedua tangannya berhadapan dengan kedua pundaknya. Dan apabila beliau ruku�, 
beliaumeletakkan kedua tangannya di kedua lututnya, kemudian beliau meluruskan 
punggungnya. Maka apabila beliau mengangkat kepalanya (dari ruku�), beliau 
berdiri lurus (i�tidal) sehingga kembali setiap tulang belakang ke tempatnya. 
Kemudian apabila beliau sujud, beliau meletakkan kedua tangannya dengan tidak 
menghamparkan dan tidak menggenggam keduanya, dan beliau (ketika sujud) 
menghadapkan ujung-ujung jari kedua kakinya ke arah kiblat. Kemudian apabila 
beliau duduk pada dua raka�at, beliau duduk di atas (hamparan) kaki kirinya 
dengan menegakkan kaki kanannya (sifat duduk iftirasy). Dan apabila beliau 
duduk pada raka�at akhir, beliau majukan kaki kirinya dengan menegakkan kaki 
kanannya dan beliau duduk di tempatnya (ditanah, yakni sifat duduk tawarruk).�

----- Pesan Asli ----
Dari: alghurahy <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Jumat, 28 September, 2007 12:28:09
Topik: Re: [assunnah]>>duduk tahiyat untuk shalat sunat<<

assalaamualaikum warahmatullah wabarakaatuh,
 
betul akhi apa yang antum maksudkan tentang penjelasan syaikh al-Albani bahwa 
beliau memilih yang rajih adalah sifat duduk iftirosy. Akan tetapi antum harus 
hati-hati, bahwa tulisan yang antum nukil diberi keterangan dalam kurung 
sebagai "HR an-Nasai" atau "HR al-Bukhori ..." itu bukanlah bagian matan hadits 
aslinya (sebagaimana kita maklumi umumnya penggunaan isyarat HR siapa-siapa 
adalah untuk terjemah matan hadits). Tetapi itu adalah bagian dari perkataan 
syaikh al-Albani sendiri, bahkan di kitab beliau (shifat shalat) -kalo tidak 
salah ingat- disana tidak tertulis persis seperti itu, tetapi ditulis dengan 
angka index, kemudian HR nya berada di footnote. Jadi hati-hati menganggap 
matan haditsnya adalah persis itu.
 
Dan perlu antum ketahui yang ana maksudkan dengan email sebelumnya hanyalah 
nasihat supaya kita berusaha merujuk kepada dalilnya, karena ana lihat 
kebanyakan ikhwan berhujjah dengan buku shifat shalat tersebut, sementara 
disana tidak dibahas panjang lebar tentangnya yang ada hanya diisyaratkan 
hadits-haditsnya atau dinukil sebagian matan haditsnya. Bahkan sama sekali 
bukan maksud ana untuk melemahkan atau menolak sifat duduk yang seperti ini 
(iftirosy untuk tasyahud shalat yang 2 rakaat), karena ana sendiri selama ini 
juga lebih condong untuk mengikuti dan mengamalkan apa yang syaikh al-Albani 
jelaskan itu (dalam hal ini sesuai dengan madzhab imam Ahmad, sebagimana 
hujjahnya dibawakan oleh as-Syaikh dalam kitab beliau Al-Ashl).
 
Dan karenanya itu ana juga telah mengisyaratkan supaya melihat kepada kitab 
beliau al-Ashl, kitab induknya shifat shalat (bisa didownload di 
http://waqfeya. com/open. php?cat=21&book=531 , dalam bahasa Arab) dan 
belakangan ana baru tahu ternyata juga sudah ada terjemahannya penerbit Griya 
Ilmu. Tetapi karena ana belum mampu untuk menukilkan terjemahannya (apalagi 
menerjemahkannya sendiri), yang sementara ana ketahui telah ada di internet 
pembahasan yang menyebut hadits-haditsnya secara lebih mendetail adalah 
-diantaranya- tulisan ustadz Abdul Hakim Abdat dalam kitab al-Masail beliau 
(yang telah sebelumnya pernah diposting ke milis ini), jadi itu kemaren yang 
biaa ana sebutkan linknya, istifadah hadits-hadits yang disebutkan didalamnya.
 
Dan ana rasa ini tidak ada salahnya, (CMIIW) : beristifadah dengan tulisan yang 
membawakan hujjah menguatkan suatu pendapat tetapi kita tidak mengikutinya. 
Karena --ana juga berhusnudhon- - bahwa ustadz Abdul Hakim yang tentunya telah 
jauh-jauh lebih dahulu mengetahui dan menelaah apa yang ada dalam kitab syaikh 
al-Albani, beliau juga beristifadah dengan kitab as-Syaikh walau kesimpulan 
akhirnya beliau berbeda. Sebagaimana dijumpai beberapa gaya bahasa yang mirip 
dengan di kitab as-Syaikh (al-Ashl), misalnya perkataan : "Maka orang yang 
paling berbahagia dalam mengamalkan hadits Abu Humaid secara utuh adalah Imam 
asy-Syafii bersama Imam ibnu Hazm." [tulisan ust Abdul Hakim]. Kalo di kitab 
syaikh al-Albani : "Wahuwa as'adul aimmah fi hadzal makan bis sunnah / beliau 
(imam Ahmad) adalah orang yang paling berbahagia di dalam (mengamalkan) sunnah 
(diantara) para imam dalam pembahasan ini."
 
Sekiranya ikhwan yang jago berbahasa Arab (melirik kepada ikhwah yang biasa 
menerjemahkan tulisan-tulisan ulama di blog-blog mereka), supaya membantu untuk 
menerjemahkan bagian ini insyaAllah akan sangat bermanfaat dan membantu banyak 
orang. 
 
waAllahu a'lam bis Shawab.
 
--abu Tsabitah, 
 
----- Original Message ----- 
From: Guntur S 
To: [EMAIL PROTECTED] s.com 
Sent: Tuesday, September 25, 2007 11:20 AM
Subject: Re: Re: [assunnah] duduk tahiyat untuk shalat sunat


Assalamu'alaikum warohmatulloHi wabarokatuH.

Bagaimana dengan pendapat Syaikh al Albani rahimahullah menjelaskan sifat duduk 
Nabi ShallallaHu 'alaiHi wa sallam ketika tasyahud dalam Sifah Shalaatin Nabi :

"Kemudian setelah selesai mengerjakan raka'at kedua, beliau duduk untuk 
melakukan tasyahud. Apabila shalat yang beliau lakukan hanya dua raka'at, 
seperti shalat shubuh, 'Beliau duduk iftirasy' (HR. an Nasai I/173), seperti 
cara beliau duduk pada duduk diantara dua sujud. Seperti itu pula jika, "Beliau 
duduk tasyahhud awal" (HR. al Bukhari dan Abu Dawud), dalam shalat tiga raka'at 
atau empat raka'at"

-- Guntur --


Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : http://www.assunnah.or.id/ragam/aturanmilis.php 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke