Fitnah Terhadap Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
Ibnu Bathuthah di dalam Kitabnya, Rihlah, mengatakan,
Aku masuk Balabak siang hari, lalu aku keluar darinya pada pagi hari,
karena sangat rinduku terhadap kota Damsyik. Dan aku sampai ke kota Damsyik,
Syam, pada hari Kamis, 9 Ramadhan yang berbarakah tahun 726 H. Aku pun singgah
disana, di Madrasah al Malikiyah yang dikenal asy Syarabisyiyah.
Di Damsyik, salah seorang ulama fikih terkemuka dari kalangan madzhab Hanbali
adalah Taqiyuddin bin Taimiyah, sesepuh Syam, ia berbicara mengenai
cabang-cabang ilmu (funun).
Lalu aku mendatanginya (Ibnu Taimiyyah) pada hari Jumat, saat ia berada di
atas mimbar Masjid Jami sedang menasehati kaum muslimin dan mengingatkan
mereka. Adapun dari sekian perkataannya, ia (Ibnu Taimiyyah) berkata,
Sesungguhnya Allah turun ke langit dunia seperti turunku ini, lalu ia turun
satu tangga dari mimbar. Maka seorang ahli fikih bermadzhab Maliki yang
dikenal dengan nama Ibnu az Zahra menentangnya
Bantahan terhadap kisah di atas :
Pada Kitab Syarah Qashiidah Ibnul Qayyim (Juz 1, hal. 497) dikatakan,
Kebohongannya sudah tampak jelas, tidak memerlukan lagi berpanjang ulasan.
Dan Allah-lah Yang Maha Penghitung kebohongan pendusta ini. Dia (Ibnu
Bathuthah) menyebutkan dia masuk ke Damsyik 9 Ramadhan 726 H, padahal Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyyah ketika itu sudah ditahan di benteng (al Qalah)
sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama terpercaya, seperti murid beliau
sendiri, al Hafizh Muhammad bin Ahmad bin Abdul Hadi dan al Hafizh Abil Faraj
Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab dalam kitab Thabaqat Hanabilah.
Ia berkata mengenai biografi Syaikh (Ibnu Taimiyyah) dalam Thabaqat-nya
tersebut,
Syaikh telah ditahan di benteng itu dari bulan Syaban tahun 726 H sampai
Dzulqadah tahun 728 H.
Ibnu Abdul Hadi menambahkan, Ia (Ibnu Taimiyyah) memasuki (tahanan) di
benteng itu pada 6 Syaban
Maka lihatlah pendusta ini (Ibnu Bathuthah) yang menyebutkan bahwa dia telah
menyaksikan Ibnu Taimiyyah sedang memberi nasihat kepada kaum muslimin di atas
mimbar mesjid jami. Padahal Syaikh (Ibnu Taimiyyah) rahimahullah setelah
masuk ke benteng (tahanan) tersebut pada tanggal tersebut pula, maka beliau
tidak pernah keluar darinya kecuali di atas kereta jenazah (pada hari wafatnya,
Dzulqadah 728 H)
Sumber Bacaan
Tarekat, Tasawuf, Tahlilan dan Maulidan, Hartono Ahmad Jaiz, Wacana Ilmiah
Press, Solo, Cetakan Pertama, 2006.
Mudah-mudahan Bermanfaat.
Catatan : Salah satu penulis Syarah Qashiidah Ibnul Qayyim adalah Syaikh
Khalil Harras.
Allah Ta'ala berfirman, "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa
syirik, dan Dia mengampuni dosa selain (syirik) itu bagi siapa yang
dikehendaki-Nya. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah
berbuat dosa yang besar" (QS. An Nisaa' : 48)
Dari Abu Dzar ra., Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Jibril
berkata kepadaku, 'Barangsiapa diantara umatmu yang meninggal dunia dalam
keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka pasti dia masuk
surga'" (HR. Bukhari) [Hadits ini terdapat pada Kitab Shahih Bukhari]
---------------------------------
Be a better pen pal. Text or chat with friends inside Yahoo! Mail. See how.