Bila Kasih Sayang Kurang
   
  Jangan sering-sering memeluk anak, nanti dia bisa menjajah orangtuanya. 
Jangan sering-sering mencium anak, nanti dia jadi manja. Bayi jangan 
sering-sering dipeluk atau digendong, taruh saja di tempat tidur biar tidak 
‘bau tangan'.
  Itulah keyakinan sebagian masyarakat kita. Mereka menyakini kalau perhatian 
yang lebih atau kasih sayang yang berlebihan pada anak akan berdampak negatif 
dikemudian hari, sehingga tak jarang ibu-ibu merasa harus sedikit ‘menjauh' 
dari kemanjaan anak.
  Kekhawatiran ini wajar saja karena kalau anak dimanja dan disayangi secara 
berlebihan bisa berefek negatif. Misalnya anak jadi penakut, kuper dan lain 
sebagainya atau bahasa umumnya ‘anak mama'. Akan tetapi kalau kemudian orang 
tua menjauh dari anak sebagai langkah hati-hati dan antisipasi, akan berdampak 
buruk juga pada jiwa sang anak.
  Kedekatan orang tua sangat penting bagi perkembangan anak. Secara khusus 
Rasulullah telah memberikan arahan akan pentingnya kasih sayang yang cukup dari 
orang tua ke anak. Rasulullah bersabda, "Muliakan anak-anakmu, dan didiklah 
mereka dengan ahlak yang baik." (HR. Ibnu Majah/Minhajus Shalihin)
   
  Manfaat Kedekatan Orang Tua
   
  Manfaat kedekatan ini sangat besar bagi anak, diantaranya:
   
  - Menumbuhkan rasa percaya diri
  Perhatian dan kasih sayang orang tua yang stabil, menumbuhkan keyakinan bahwa 
dirinya berharga bagi orang lain. Jaminan adanya perhatian orang tua yang 
stabil, membuat anak belajar percaya pada orang lain.
   
  - Menumbuhkan kemampuan membina hubungan yang hangat
  Hubungan yang diperoleh anak dari orang tua, menjadi pelajaran baginya untuk 
kelak diterapkan dalam kehidupannya setelah dewasa. Kasih sayang yang hangat, 
menjadi tolak ukur dalam membentuk hubungan dengan teman hidup dan sesamanya. 
Namun hubungan yang buruk menjadi pengalaman yang traumatis baginya, sehingga 
menghalangi kemampuan membina hubungan yang stabil dan harmonis dengan orang 
lain.
   
  - Menumbuhkan semangat mengasihi sesama dan peduli pada orang lain
  Anak yang tumbuh dalam hubungan kasih sayang yang hangat, akan memiliki 
sensitivitas atau kepekaan yang tinggi terhadap kebutuhan sekitarnya. Dia 
mempunyai kepedulian sosial yang tinggi, membantu kesusahan orang lain menjadi 
kebutuhannya.
   
  - Melatih disiplin
  Kasih sayang orang tua terhadap anak, membuat orang tua dapat lebih memahami 
anak. Sehingga orang tua lebih mudah memberikan arahansecara proposional, 
empati, penuh kesabaran dan pengertian yang dalam. Anak juga akan belajar 
mengembangkan kesadaran diri, dari sikap orang tua yang menghargai anak. Sikap 
menghukum hanya akan menyakiti harga diri anak dan tidak mendorong kesadaran 
diri. Anak patuh karena takut.
   
  - Berpengaruh pada pertumbuhan intelektual dan psikologis
  Bentuk kasih sayang yang terjalin, kelak mempengaruhi pertumbuhan fisik, 
intelektual dan kongnitif serta perkembangan psikologis anak.
   
  Dampak Kurang Kasih Sayang
   
  Dampak yang dirasakan seorang anak yang kurang kasih sayang menurut ahli 
psikologi sangat rentan terjadi pada anak yang berumur sekitar 2 tahun. Pada 
masa ini traumatis anak karena merasa diabaikan oleh orang tuanya mampu 
membekas dalam dirinya sampai dewasa kelak. Anak-anak yang kebutuhan 
emosionalnya tidak terpenuhi akibat problem kasih sayang, berpotensi mengalami 
masalah intelektual, masalah emosional dan masalah moral sosial di kemudian 
hari. 
  Berikut di antara dampak negatif anak kurang kasih sayang dari orang tuanya:
   
  1. Dalam masalah intelektual
   
  - Mempengaruhi kemampuan pikir seperti halnya memahami proses ‘sebab-akibat'.
  Ketidakstabilan atau ketidakkonsistenan sikap orang tua, mempersulit anak 
melihat hubungan sebab akibat dari perilakunya dengan sikap orang tua yang 
diterimanya. Dampaknya akan meluas pada kemampuannya dalam memahami kejadian 
atau peristiwa-peristiwa lain yang dialami sehari-hari. Akibatnya, anak jadi 
sulit belajar dari kesalahan yang pernah dibuatnya.
   
  - Kesulitan belajar
  Kurangnya kasih sayang dengan orang tua, membuat anak lamban dalam memahami, 
baik itu instruksi maupun pola-pola yang seharusnya bisa dipelajari dari 
perlakuan orang tua terhadapnya, atau kebiasaan yang dilihat/dirasakannya.
   
  - Sulit mengendalikan dorongan
  Kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi, membuat anak sulit menemukan 
kepuasan atas situasi/perlakuan yang diterimanya, meski bersifat positif. Ia 
akan terdorong untuk selalu mencari dan mendapatkan perhatian orang lain. Untuk 
itu, ia berusaha sekuat tenaga, dengan caranya sendiri untuk mendapatkan 
jaminan bahwa dirinya bisa mendapatkan apa yang diinginkan.
   
  2. Dalam masalah emosional
   
  - Gangguan bicara
  Menurut sebuah hasil penelitian, problem kasih sayang yang dialami anak sejak 
usia dini, dapat mempengaruhi kemampuan bicaranya. Dalam dunia, psikologi, 
hingga usia 2 tahun dikatakan sebagai masa oral. Pada masa ini anak mendapatkan 
kepuasan melalui mulut (menghisap-mengunyah makanan dan minuman). Oleh sebab 
itulah, proses menyusui merupakan proses yang amat penting untuk membangun rasa 
aman yang didapat dari pelukan dan kehangatan tubuh sang ibu.
  Memang, secara psikologis anak yang merasakan ketidaknyamanan akan kurang 
percaya diri dalam mengungkapkan keinginannya. Atau kurangnya kasih saying 
tersebut membuat anak berpikir bahwa orang tua tidak mau memperhatikannya 
sehingga ia lebih banyak menahan diri. Akibatnya, anak jadi tidak terbiasa 
mengungkapkan diri, berbicara atau mengekspresikan diri lewat kata-katanya. 
Perlu diketahui, melalui komunikasi yang hangat seorang ibu terhadap bayinya, 
lebih memacu perkembangan kemampuan bicara anak karena si anak terpacu untuk 
merespon kata-kata ibunya.
   
  - Gangguan pola makan
  Ada banyak orang tua yang kurang reponsif/ kurang tanggap terhadap tangisan 
bayinya. Mereka takut jika terlalu menuruti tangisan bayinya, kelak ia akan 
jadi anak manja dan menjajah orang tua. Padahal, tangisan seorang bayi adalah 
suatu cara untuk mengkomunikasikan adanya kebutuhan seperti halnya rasa lapar 
atau haus.
   
  - Perkembangan konsep diri yang negatif
  Ketiadaan perhatian orang tua, sering mendorong anak membangun image bahwa 
dirinya mandiri dan mampu hidup tanpa bantuan siapa pun, image itu berusaha 
keras ditampilkan untuk menutupi kenyataan yang sebenarnya. Padahal, dalam 
dirinya tersimpan ketakutan, rasa kecewa, marah, sakit hat terhadap orang tua, 
sementara ia juga menyimpan presepsi yang buruk terhadap diri sendiri. Ia 
merasa tidak diperhatikan, merasa disingkirkan, merasa tidak berharga sehingga 
orang tua tidak mau mendekat padanya- dan, memang ia juga merasa tidak ingin 
didekati. Tanpa sadar semua perasaan itu diekspresikan melalui tingkah laku 
yang aneh-aneh, yang orang menyebutnya ‘nakal', ‘liar', ‘menyimpang'. Mereka 
juga terlihat suka menuntut secara berlebihan, suka mencari perhatian dengan 
cara-cara yang negatif.
   
  - Sulit membedakan sesuatu
  Anak akan sulit melihat mana yang baik dan tidak, yang boleh dan tidak boleh, 
yang penting dan kurang penting, dari keberadaan orang tua yang juga tidak bisa 
menjamin ada tiadanya, yang tidak dapat memberikan patokan moral dan norma 
karena mereka mengalami kesulitan dengan dirinya sendiri.
   
  Tidak jarang anak-anak tersebut memunculkan sikap dan tindakan seperti: suka 
berbohong(yang sudah tidak wajar), mencuri(karena ingin mendapatkan 
keinginannya), suka merusak dan menyakiti(baik diri sendiri maupun orang lain), 
dan menurut sebuah penelitian, mereka cenderung tertarik pada darah, api dan 
benda tajam.
   
  Bagaimana Mendekati Anak
   
  Agar anak tidak merasa jauh dari orang tua maka kedekatan anatar orang tua 
dan anak harus senantiasa dibangun. Untuk membangun hal itu, sebagai orang tua 
anda harus melakukan sesuatu. Faktor orang tua menjadi penentu dalam hal ini. 
Berikut beberapa perkara yang bisa dijadikan arahan untuk membangun kedekatan 
anda dengan anak:
   
  1. Kesiapan mental untuk menjadi orang tua
  Memiliki anak membawa implikasi yang luas, tidak hanya merubah peran dari 
suami/istri,menjadi seorang ayah/ibu. Ada komitmen dan tanggung jawab yang 
harus disadari dan dijalankan. Oleh sebab itu, perlu hati dan pikiran yang 
tenang untuk menjalani proses menjadi orang tua. Selain itu, kesiapan mental 
juga diperlukan, terutama untuk menghindari konflik dan ketegangan yang bisa 
muncul di antara suami-istri akibat perubahan yang terjadi.
   
  2. Ciptakan komunikasi yang hangat sejak dini
  Berkomunikasi dengan anak tidak dimulai sejak anak lahir, melainkan sejak ia 
dalam kandungan. Sejak itu proses kasih sayang pun dimulai. Berbicaralah 
kepadanya meski ia masih belum tampak secara lahiriah. Sapalah dia, senyumlah 
untuknya dan pertahankan kestabilan emosi.
  Banyak penelitian yang menyatakan bahwa seorang anak bisa memahami apa yang 
terjadi dalam diri sang ibu meski ia belum lahir. Hal itu bisa dibuktikan dari 
munculnya kecenderungan tertentu yang ada pada anak, misalnya pencemas, super 
sensitif atau pemarah- dihubungkan dengan persoalan yang sedang dihadapi sang 
ibu pada masa dan pasca kehamilannya.
   
  3. Upayakan program menyusui
  Proses menyusui, bukan hanya sekedar memberikan ASI yang berkualitas. Namun 
menyusui merupakan proses yang melibatkan dua belah pihak, bahkan tiga belah 
pihak: suami, istri dan anak. Kegiatan menyusui merupakan momen yang ideal 
untuk membangun kontak batin yang erat, melalui kelekatan fisik dan kontak mata 
yang insentif. Proses ini membutuhkan hati yang tenang dan penuh kasih, karena 
produksi ASI akan terpengaruh oleh factor fisik dan emosional.
   
  4. Tanggapailah tangisan bayi/anak secara positif
  Melalui tangisan seorang bayi dapat mengkomunikasikan ketakutannya, 
kelaparan, kehausan, keinginannya akan kehangatan, keinginannya untuk dibelai, 
rasa tidak enak, kedinginan, kepanasan, dan rasa tidak enak yang lain. Bayi 
adalah mahluk paling tidak berdaya dan tidak berdosa, serta tidak punya maksud 
buruk. Jadi, tangisannya adalah murni muncul dari kebutuhannya. Bayangkan, jika 
orang tua menunda respon terhadap ketakutannya, maka bayi akan merasa frustasi.
   
  5. Upayakan kebersamaan dalam keluarga inti
  Banyak keluarga yang menggunakan jasa baby sitter untuk mengasuh anak. 
Ironisnya, ada ibu rumah tangga yang tidak bekerja, tidak mempunyai kegiatan 
apapun kecuali arisan, ke salon atau shopping, mempunyai banyak asisten dan 
pembantu. Anaknya pun sepenuhnya diurus oleh baby sitter. Tidaklah mengherankan 
jika kelak antara dia dengan anaknya tidak terlihat suatu kedekatan yang 
positif, karena anaknya lebih dekat dengan pengasuhnya. Situasi ini tidak 
mendorong proses perkembangan psikologis dan identitas yang sehat. Anak melihat 
dirinya diabaikan oleh ibunya, sementara dang ibu memperhatikan anak melalui 
berbagai barang dan mainan yang dibeli atau uang jajan yang berlebihan.
   
  Kedekatan yang positif, membutuhkan kerja sama setiap anggota keluarga. Perlu 
disediakan waktu kebersamaan yang konsisten, dipenuhi perasaan tenang, senang 
dan santai, agar anak bisa merasakan senagnya kebersamaan dengan ‘abi dan 
ummi'. Tetapi, orang tua juga harus belajar dari anaknya, dan melihat hasil 
didikannya selama ini melalui sikap dan perilaku anak. Semoga bermanfaat.
   
  Sumber : - Majalah Nikah Vol. 2, No. 6, September 2003, hal. 52-54
               - Pustaka Aisyah www.safuan.wordpress.com
   

       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.

Kirim email ke