From: ary susanti 
Sent: Monday, January 21, 2008 3:12 PM
Assalamu'alaykum
apakah sama sunnah Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam dengan ibadah
sunnah (tidak wajib). Contoh ibadah sholat hukumnya wajib, tapi ibadah  puasa 
senin kamis hukumnya sunnah (tidak wajib).
Dimana sunnah artinya bila dikerjakan mendapat pahala tidak dikerjakan tidak 
apa2.
Terima kasih sebelumnya,
Jazakumullah khoir.
- ummu 'abbas
==========

Wa'alaikumussalam warohmatulloHi wabarokatuH

Dibawah ini ana copy_kan dari situs Almanhaj tentang pengertian sunnah. Semoga 
bermanfaat

PENGERTIAN AS-SUNNAH MENURUT SYARI'AT
Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
http://www.almanhaj.or.id/content/1715/slash/0

[B]. PENGERTIAN AS-SUNNAH MENURUT SYARI'AT
As-Sunnah menurut istilah syari'at ialah segala sesuatu yang bersumber dari 
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam bentuk qaul (ucapan), fi'il 
(perbuatan), taqrir (penetapan), sifat tubuh serta akhlak yang dimaksudkan 
dengannya sebagai tasyri (pensyariatan) bagi ummat Islam [1]

Adapun hadits menurut bahasa ialah sesuatu yang baru.

Secara istilah sama dengan As-Sunnah menurut Jumhur Ulama.

Ada ulama yang menerangkan makna asal secara bahasa bahwa : Sunnah itu untuk 
perbuatan dan taqrir, adapun hadits untuk ucapan. Akan tetapi ulama sudah 
banyak melupakan makna asal bahasa dan memakai istilah yang sudah lazim 
digunakan, yaitu bahwa As-Sunnah muradif (sinonim) dengan hadits.
As-Sunnah menurut istilah ulama ushul fiqih ialah segala sesuatu yang bersumber 
dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam selain dari Al-Qur'an, baik perbuatan, 
perkataan, taqrir (penetapan) yang baik untuk menjadi dalil bagi hukum syar'i.

Ulama ushul fiqih membahas dari segala yang disyari'atkan kepada manusia 
sebagai undang-undang kehidupan dan meletakkan kaidah-kaidah bagi 
perundang-undangan tersebut.

As-Sunnah menurut istilah ahli fiqih (fuqaha) ialah segala sesuatu yang sudah 
tetap dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan hukumnya tidak fardhu dan 
tidak wajib, yakni hukumnya sunnah.[2]

As-Sunnah menurut ulama Salaf adalah petunjuk yang dilaksanakan oleh Rasulullah 
Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para Shahabatnya, baik tentang ilmu, i'tiqaad 
(keyakinan), perkataan maupun perbuatannya.[3]

Contoh-contoh dari definisi Sunnah yang dibawakan oleh ahli hadits antara lain:

[a]. Hadits qauli (Sunnah dalam bentuk ucapan) ialah segala ucapan Nabi 
Shallallahu 'alaihi wa sallam yang ada hubungannya dengan tasyri, sebagaimana 
sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:

"Di antara kebaikan Islam seseorang ialah meninggalkan apa-apa yang tidak 
bermanfaat baginya." [4]

[b]. Hadits fi'li (Sunnah yang berupa perbuatan) ialah segala perbuatan Nabi 
Shallallahu 'alaihi wa sallam yang diberitakan oleh para Shahabatnya tentang 
wudhu, shalat, haji, dan selainnya.
Contoh:
Dari Utsman bin Affan bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam (apabila 
berwudhu), beliau menyela-nyela jenggotnya. [5]

[c]. Hadits taqriri ialah segala perbuatan Shahabat yang diketahui oleh Nabi 
Shallallahu 'alaihi wa sallam dan beliau membiarkannya (sebagai tanda setuju) 
dan tidak mengingkarinya.

Contoh:
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada Bilal setelah selesai shalat 
Shubuh, "Wahai Bilal, kabarkanlah kepadaku sebaik-baik amalan yang telah engkau 
kerjakan dalam Islam, karena aku telah mendengar suara terompahmu di dekatku di 
Surga?" Ia menjawab, "Sebaik-baik amal yang aku kerjakan ialah, bahwa setiap 
kali aku berwudhu, siang atau malam mesti dengan wudhu itu aku shalat (sunnah) 
beberapa raka'at yang dapat aku laksanakan." [6]

Atau kisah dua Shahabat yang melakukan safar, keduanya tidak menemukan air 
(untuk wudhu) sedangkan waktu shalat sudah tiba, lalu keduanya bertayamum dan 
mengerjakan shalat, kemudian setelah selesai shalat mereka menemukan air sedang 
waktu shalat masih ada, maka salah seorang dari keduanya mengulangi wudhu dan 
shalat, kemudian keduanya mendatangi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam 
dan menceritakan kejadian itu. Lalu beliau bersabda kepada Shahabat yang tidak 
mengulangi shalatnya, "Engkau telah berbuat sesuai dengan Sunnah." Dan kepada 
yang lain (Shahabat yang mengulangi shalatnya), beliau bersabda, "Engkau 
mendapatkan dua ganjaran."[7]

Di antara makna Sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah sebagaimana 
yang difahami oleh para Shahabat dan Salafush Shalih ridhwanullaah 'alaihim 
ajma'in adalah sebagai sumber kedua setelah Al-Qur'anul Karim

Sering kita menyebut Kitabullaah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa 
sallam, maksudnya adalah Sunnah sebagai sumber nilai tasyri. Al-Qur'an 
menyifatkan As-Sunnah dengan makna hikmah.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

Artinya : "Ya Rabb kami, utuslah kepada mereka seorang Rasul di antara mereka 
yang akan membacakan ayat-ayat-Mu kepada mereka dan mengajarkan Al-Kitab dan 
Al-Hikmah kepada mereka dan mensucikan mereka (dari kelakuan-kelakuan yang 
keji), sesungguhnya Engkau Mahamulia lagi Mahabijaksana." [Al-Baqarah: 129]

Artinya : "Sesungguhnya Allah telah memberi karunia bagi orang-orang yang 
beriman, ketika Dia mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan 
mereka sendiri, yang membacakan ayat-ayatNya dan membersihkan mereka (dari 
sifat-sifat jahat), dan mengajarkan Al-Kitab (Al-Qur'an) dan Al-Hikmah 
(As-Sunnah). Sesungguhnya mereka sebelum itu dalam kesesatan yang nyata." 
[Ali-Imran: 164]

Artinya : "... Dan Allah telah menurunkan kepadamu Al-Kitab dan Al-Hikmah dan 
mengajarkanmu apa-apa yang tidak kamu ketahui. Dan karunia Allah kepadamu amat 
besar." [An-Nisaa : 113]

Artinya : "Sebutlah apa-apa yang dibacakan dalam rumahmu dari ayat-ayat Allah 
dan hikmah, sesungguhnya Allah Mahalembut lagi Maha Mengetahui."  [Al-Ahzaab: 
34]

Artinya : "Dia-lah yang mengutus kepada ummat yang ummi seorang Rasul dari 
antara mereka yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya. Yang membersihkan 
mereka dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Sesungguhnya 
mereka sebelum itu dalam kesesatan yang nyata."  [Al-Jumu'ah: 2]

Maksud penyebutan Al-Kitab pada ayat-ayat di atas adalah Al-Qur'an. Dan yang 
dimaksud dengan Al-Hikmah adalah As-Sunnah.
Imam asy-Syafi'i rahimahullah berkata, "Allah menyebut Al-Kitab, yang dimaksud 
adalah Al-Qur-an dan menyebut Al-Hikmah. Aku mendengar di negeriku dari para 
ahli ilmu yang mengerti Al-Qur'an berkata bahwa Al-Hikmah adalah As-Sunnah."  
[8]

Qatadah rahimahullah berkata, "Yang dimaksud Al-Hikmah adalah As-Sunnah". 
Begitu pula penjelasan dari al-Hasan al-Bashri. [9]

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya), 
dan ulil amri di antara kamu..."[An-Nisaa : 59]

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, "Taat kepada Allah dengan mengikuti 
Kitab-Nya dan taat kepada Rasul adalah mengikuti dan As-Sunnah." [10]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, "Banyak dari Salafush 
Shalih berkata bahwa Al-Hikmah adalah As-Sunnah. Karena sesungguhnya yang 
dibaca di rumah-rumah isteri Nabi Radhiyalahu anhuna selain Al-Qur-an adalah 
Sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda.

Artinya : "Ketahuilah, sesungguhnya aku diberikan Al-Kitab dan yang sepertinya 
bersamanya." [11]

Hasan bin Athiyyah rahimahullah berkata, "Jibril Aalaihis sallam turun kepada 
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam membawa As-Sunnah sebagaimana Al-Qur'an. 
Mengajarkan As-Sunnah itu sebagaimana ia mengajarkan Al-Qur'an." [12]

Dan lihat pula kitab-kitab tafsir yang menafsirkan ayat ini (QS. Al-Ahzaab: 34) 
dalam Tafsir Ibnu Katsir dan lainnya dari tafsir Al-Qur-an bil ma'tsur..
Para Salafush Shalih memberi makna As-Sunnah dengan agama dan syari'at yang 
dibawa oleh Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam secara mutlak dalam masalah 
ilmu dan amal, dan apa-apa yang diterima oleh para Shahabat, Tabi'in dan 
Salafush Shalih dalam bidang aqidah maupun furu'."
.
Abu Bakar Radhiyallahu 'anhu berkata, "Sunnah itu adalah tali Allah yang 
kuat."[13]

Abdullah bin ad-Dailamy rahimahullah (dari pembesar Tabi'in) berkata,"Telah 
sampai kepadaku bahwa awal hilangnya agama ini adalah karena manusia 
meninggalkan As-Sunnah." [14]

Imam al-Lalika-i membawakan penafsiran ayat.

Artinya : "Kemudian kami jadikan kamu di atas syari'at dari perintah, maka 
ikutilah..."[Al-Jaatsiyah: 18]

"Yakni engkau berada di atas Sunnah." [15]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: "Sesungguhnya As-Sunnah itu adalah 
syari'at, yakni apa-apa yang disyari'atkan Allah Subhanahu wa Ta'ala dan 
RasulNya Shallallahu 'alaihi wa sallam dari agama (ini)." [16]
As-Sunnah adalah yang dimaksud dengan hadits-hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa 
sallam yang shahih.


[Disalin dari buku Kedudukan As-Sunnah Dalam Syariat Islam, Bab I : As-Sunnah 
Dan Definisinya, Penulis Yazid Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, 
PO.Box 264 Bogor 16001, Jawa Barat Indonesia, Cetakan Kedua Jumadil Akhir 
1426H/Juli 2005]
_________
Foote Note.
[1]. Qawaa'idut Tahdits (hal. 62), Muhammad Jamaluddin al-Qasimi, Ushul Hadits, 
Dr. Muhammad 'Ajjaj al-Khathib, cet. IV Darul Fikr 1401 H, Taisir Muthalahil 
Hadits (hal. 15), Dr. Mahmud ath-Thahhan.
[2]. Lihat kitab Irsyaadul Fuhuul asy-Syaukani (hal. 32), Fat-hul Baari 
(XIII/245-246), Mafhuum Ahlis Sunnah wal Jama'ah 'inda Ahlis Sunnah wal Jama'ah 
(hal. 37-43).
[3]. Lihat pada buku penulis, Syarah 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah (hal. 10).
[4]. HR. At-Tirmidzi (no. 2317), Ibnu Majah (no. 3976), Ibnu Hibban 
(Ta'liiqatul Hisaan 'ala Shahiih Ibni Hibban no. 229), hadits ini hasan.
[5]. HR. At-Tirmidzi (no. 31), Ibnu Majah (no. 430), Shahih Ibni Majah (no. 
345), al-Hakim (I/149) dan al-Hakim berkata, "Sanadnya shahih."  At-Tirmidzi 
berkata: "Hasan shahih."  Lihat Shahih Ibni Majah (no. 344) dari Shahabat 
'Ammar bin Yasir.
[6]. HR. Al-Bukhari (no. 1149) dan Muslim (no. 2458), dari Shahabat Abu 
Hurairah Radhiyallahu 'anhu
[7]. HR. Abi Dawud (no. 338-339), an-Nasa-i (I/213) dari Abu Sa'id al-Khudri 
Radhiyallahu 'anhu. Lihat Shahih Sunan Abu Dawud (no. 366), cet. I/ Gharraas, 
th. 1423 H. 
[8]. Ar-Risaalah (hal. 78 no. (252)), tahqiq Syaikh Ahmad Muhammad Syakir 
rahimahullah.
[9]. Lihat Syarah Ushul I'tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama'ah oleh Imam 
al-Lalikaaiy (I/78 no. 70-71), tahqiq Dr. Ahmad Sa'ad Hamdan.
[10]. Tafsir Ibnu Katsir (I/568).
[11]. HSR. Abu Dawud (no. 4604) dan Ahmad (IV/131).
[12]. Fatawaa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (III/366).
[13]. Asy-Syahru wal Ibanah, Ibnu Baththah al-'Ukbary (no. 49).
[14]. Sunan ad-Darimi (I/45).
[15]. Syarah Ushul I'tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama'ah oleh Imam al-Lalika-i 
(I/76-77 no. 66).
[16]. Majmu' Fataawaa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (IV/436).


Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/mlbios.php/aturanmilis/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke