From: Rio Setiawan
Sent: 02 Februari 2008 23:46
Assalamua'laikum
apa hukumnya mendengarkan musik serta menggunakan alat musik
beserta dalilnya
syukran atas jawabannya...
-Rio Setiawan al Kampary

HUKUM NYANYIAN ATAU LAGU

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
http://www.almanhaj.or.id/content/1429/slash/0

Pertanyaan.
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Apa hukum menyanyi, apakah 
haram atau diperbolehkan, walaupun saya mendengarnya hanya sebatas hiburan saja 
? Apa hukum memainkan alat musik rebab dan lagu-lagu klasik ? Apakah menabuh 
genderang saat perkawinan diharamkan, sedangkan saya pernah mendengar bahwa hal 
itu dibolehkan ? Semoga Allah memberimu pahala dan mengampuni segala dosamu.

Jawaban.
Sesungguhnya mendengarkan nyanyian atau lagu hukumnya haram dan merupakan 
perbuatan mungkar yang dapat menimbulkan penyakit, kekerasan hati dan dapat 
membuat kita lalai dari mengingat Allah serta lalai melaksanakan shalat. 
Kebanyakan ulama menafsirkan kata lahwal hadits (ucapan yang tidak berguna) 
dalam firman Allah dengan nyanyian atau lagu.

"Artinya : Dan diantara manusia (ada) orang yang mempergunakan ucapan yang 
tidak berguna".[Luqman : 6]

Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu 'anhu bersumpah bahwa yang dimaksud dengan 
kata lahwul hadits adalah nyanyian atau lagu. Jika lagu tersebut diiringi oleh 
musik rebab, kecapi, biola, serta gendang, maka kadar keharamannya semakin 
bertambah. Sebagian ulama bersepakat bahwa nyanyian yang diiringi oleh alat 
musik hukumnya adalah haram, maka wajib untuk dijauhi. Dalam sebuah hadits 
shahih dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam beliau berpendapat.

"Artinya : Sesungguhnya akan ada segolongan orang dari kaumku yang menghalalkan 
zina, kain sutera, khamr, dan alat musik".[1]

Yang dimaksud dengan al-hira pada hadits di atas adalah perbuatan zina, 
sedangkan yang dimaksud al-ma'azif adalah segala macam jenis alat musik. Saya 
menasihati anda semua untuk mendengarkan lantunan al-Qur'an yang di dalamnya 
terdapat seruan untuk berjalan di jalan yang lurus karena hal itu sangat 
bermanfaat. Berapa banyak orang yang telah dibuat lalai karena mendengar 
nyanyian dan alat musik.

Adapun pernikahan, maka disyariatkan di dalamnya untuk membunyikan alat musik 
rebana disertai nyanyian yang biasa dinyanyikan untuk mengumumkan suatu 
pernikahan, yang didalamnya tidak ada seruan maupun pujian untuk sesuatu yang 
diharamkan, yang dikumandangkan pada malam hari khusus bagi kaum wanita guna 
mengumumkan pernikahan mereka agar dapat dibedakan dengan perbuatan zina, 
sebagaimana yang dibenarkan dalam hadits shahih dari Nabi Shallallahu 'alaihi 
wa sallam

Sedangkan genderang dilarang membunyikannya dalam sebuah pernikahan, cukup 
hanya dengan memukul rebana saja. Juga dalam mengumumkan pernikahan maupun 
melantunkan lagu yang biasa dinyanyikan untuk mengumumkan pernikahan tidak 
boleh menggunakan pengeras suara, karena hal itu dapat menimbulkan fitnah yang 
besar, akibat-akibat yang buruk, serta dapat merugikan kaum muslimin. Selain 
itu, acara nyanyian tersebut tidak boleh berlama-lama, cukup sekedar dapat 
menyampaikan pengumuman nikah saja, karena dengan berlama-lama dalam nyanyian 
tersebut dapat melewatkan waktu fajar dan mengurangi waktu tidur. Menggunakan 
waktu secara berlebihan untuk nyanyian (dalam pengumuman nikah tersebut) 
merupakan sesuatu yang dilarang dan merupakan perbuatan orang-orang munafik.

[Bin Baz, Mjalah Ad-Dakwah, edisi 902, Syawal 1403H]
_________
Foote Note
[1] Al-Bukhari tentang minuman dalam bab ma ja'a fi man yastahillu al-khamr wa 
yusmmihi bi ghairai ismih 

SEORANG PENYANYI YANG BERTAUBAT DITANGAN IBNU MAS�UD

Oleh
Syaikh Abdul Aziz Al Abdul Latif
http://www.almanhaj.or.id/content/1944/slash/0

Sesungguhnya berdakwah kepada Allah adalah tugas para nabi (semoga 
kesejahteraan dilimpahkan atas mereka), dan jalan para ulama rabbaniyyin, oleh 
karena itu berdakwah kepada Allah adalah sebuah amal pendekatan diri kepada 
Allah yang paling utama, dan paling agung kedudukannya.

Allah berfirman.

�Artinya : Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru 
kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata : �Sesungguhnya aku 
termasuk orang-orang yang berserah diri?�[Fushilat : 33]

Dan berdakwah kepada Allah itu, harus benar tujuannya, bersih manhajnya 
(caranya), inilah jalan dakwah nabi kita Muhammad Shallallahu �alaihi wa sallam 
dan siapa saja yang mengikuti beliau Shallallahu �alaihi wa sallam dengan baik, 
sebagaimana firman Allah.

�Artinya : Katakanlah : Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang 
mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci 
Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik� [Yusuf : 108]

Sungguh para Salafush Shalih kita (semoga Allah merahmati mereka) menempuh 
jalan ini, mereka menyuruh kebaikan, mencegah kemungkaran dan mengajarkan 
manusia kebaikan, menyampaikan sejelas-jelasnya melalui berbagai cara, seperti 
pengajaran, harta, nasehat, fatwa, hukum dan selainnya.

Dan sungguh Salafus Shalih telah menegakkan dakwah ini untuk mengharapkan wajah 
Allah, mereka tidak menginginkan dari manusia balasan dan tidak pula ucapan 
terima kasih, dan disaat itu juga mereka menetapi keselamatan manhaj dengan 
mengikuti dan meninggalkan perbuatan bid�ah.

Kebangkitan Islam saat ini membutuhkan pengetahuan pada contoh-contoh perbuatan 
dan fenomena yang nyata dari dakwah Salafus Shalih : agar keadaan-keadaan 
mereka itu menjadi pendorong serta pemberi semangat untuk mencontoh mereka, dan 
berjalan diatas uslub (metode) mereka.

Salah seorang ulama berkata : �Barangsiapa melihat sejarah Salafush Shalih 
pasti ia mengetahui kekurangannya, dan ketertinggalannya dari derajat seorang 
manusia�.

Dan makalah ini berisikan fenomena-fenomena dakwah dari kehidupan Salafush 
Shalih, kami akan memaparkannya sebagaimana yang berikut ini.

�Adalah seorang pemuda yang bernama Dzaadzan seorang peminum khamr (minuman 
keras), dan ia penabuh gendang, lalu Allah memberinya rezki berupa taubat 
ditangan Abdullah bin Mas�ud Radhiyallahu �anhu maka menjadilah Dzaadzan 
termasuk orang-orang yang terbaik dari kalangan tabi�in, dan salah seorang 
ulama yang terkemuka, dan termasuk orang-orang yang masyhur dari kalangan hamba 
Allah ahli zuhud� [Lihat biografinya dalam Hilyatul Aulia 4/199, dan Bidayah 
wan Nihayah 9/74 dan Siyar �Alamun Nubala 4/280]

Inilah kisah taubatnya, sebagaimana Dzaadzan meriwayatkannya sendiri, ia 
berkata :

�Saya adalah seorang pemuda yang bersuara merdu, pandai memukul gendang, ketika 
saya bersama teman-teman sedang minum minuman keras, lewatlah Ibnu Mas�ud, maka 
ia pun memasuki (tempat kami), kemudian ia pukul tempat (yang berisikan minuman 
keras) dan membuangnya, dan ia pecahkan gendang (kami), lalu ia (Ibnu Mas�ud0 
berkata : �Kalaulah yang terdengar dari suaramu yang bagus adalah Al-Qur�an 
maka engkau adalah engaku� engkau�.

Setelah itu pergilah Ibnu Mas�ud. Maka aku bertanya kepada temanku : �Siapa 
orang ini ?� mereka berkata : �Ini adalah Abdullah bin Mas�ud (sahabat Nabi 
Shallallahu �alaihi wa sallam)�.

Maka dengan kejadian itu (dimasukkan) dalam jiwaku perasaan taubat. Setelah itu 
aku berusaha mengejar Abdullah bin Mas�ud sambil menangis, (setelah 
mendapatinya) aku tarik baju Abdullah bin Mas�ud.

Maka Ibnu Mas�ud pun menghadap kearahku dan memelukku menangis. Dan ia berkata 
: �Marhaban (selamat datang) orang yang Allah mencintainya�. Duduklah! lalu 
Ibnu Mas�ud pun masuk dan menghidangkan kurma untukku [Siyar �Alamun Nubala 
4/28]

Kita dapat mengambil pelajaran dari kisah diatas, bahwa kita mengetahui 
kejujuran Abdullah bin Mas�ud dan niatnya yang baik, serta tujuannya yang benar 
dalam berdakwah kepada Dzaadzan yang menyebabkannya mendapat petunjuk dan 
bertaubat, sebagaimana dikatakan Abdul Qadir Jailani (561H) semoga Allah 
merahmati beliau, mengomentari kisah tersebut :

�Lihatlah berkahnya kejujuran (kebenaran), ketaatan dan niat baik, bagaimana 
Allah memberi petunjuk Dzaadzan melalui Abdullah bin Mas�ud dikarenakan 
kejujuran dan tujuan baiknya, maka seorang yang rusak (perangai dan ahlaknya) 
tidak akan dapat engkau perbaiki hingga engkau sendiri menjadi seorang shalih 
(baik) dalam dirimu, takut kepada Rabbmu jika engkau bersendirian, ikhlas 
kepadaNya jika engkau bergaul dengan mahluk dengan tanpa berbuat riya� dalam 
tindakan dan tingkahmu, meng-Esakan Allah dalam seluruh hal ini, dan ketika 
engkau ditambah petunjuk dan bimbingan oleh Allah, engkau menjaga dirimu dari 
hawa nafsu dan dari penyelewangannya oleh syaitan dari kalangan jin dan 
manusia, dan (engkau jaga dirimu) dari seluruh kemungkaran, kefasikan, bid�ah 
dan seluruh kesesatan, maka akan dihilangkan darimu kemungkaran dengan tanpa 
terbebani, sebagaimana hal ini terjadi pada zaman kita ini, seseorang 
mengingkari satu kemungkaran namun terjerumus dalam banyak kemungkaran, dan 
kerusakan yang besar �.� [Al-Ghunyah 1/139-140]

Dan perkara lain yang kita ambil faedah dari kisah diatas bahwasanya Ibnu 
Mas�ud telah menempuh cara yang �syar�iyyah� (cara yang sesuai dengan agama) 
yang paling utama dalam merubah kemungkaran, tatkala ia mampu merubah 
kemungkaran dengan tangannya, maka iapun merubah kemungkaran dengan tangannya, 
ia pecahkan kendang dan ia hancurkan bejana minuman keras.

Sungguh pada diri Abdullah bin Mas�ud terdapat permisalan yang mengagumkan 
dalam keberanian dan maju membela kebenaran, serta dalam merubah kemungkaran. 
Ia tidak takut celaan orang yang suka mencela, padahal ia sendirian dan orang 
yang dilarang dari kemungkaran lebih dari satu, sebagaimana nampak dalam 
konteks cerita. Ditambah lagi padahal Abdullah bin Mas�ud adalah seorang yang 
pendek dan kurus (semoga Allah meridhai beliau).

Akan tetapi karena Abdullah bin Mas�ud adalah seorang yang mengagungkan 
hukum-hukum dan syiar-syiar Allah, maka hal ini mewariskan sikap penghormatan 
dan pengagungan, dan sungguh benarlah Amr bin Abdul Qais ketika ia berkata : 
�Barangsiapa yang takut kepada Allah, maka Allah menjadikan segala sesuatu 
takut kepadanya, dan barangsiapa yang tidak takut kepada Allah maka Allah akan 
menjadikannya takut terhadap segala sesuatu� [Sifatus Sofwah 3/208]

Dan dengan perbuatan Abdullah bin Mas�ud yang merubah kemungkaran dengan 
tangannya, kita akan mendapati seberapa besar belas kasih darinya dan seberapa 
besar kesempurnaan kelembutan dan nasehatnya kepada Dzaadzan. Karena tatkala 
Dzaadzan mendatanginya dalam keadaan bertaubat, iapun menghadapi dan memeluk 
Dzaadzan, lalu menangis lantaran gembira dengan taubat Dzaadzan. Dan Abdullah 
bin Mas�ud menghormatinya dengan ungkapan yang paling indah : �Selamat datang 
orang yang dicintai Allah�.

Sebagaimana firman Allah.

�Artinya : Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai 
orang-orang yang mensucikan diri� [Al-Baqarah : 222]

Bukan itu saja, bahkan Ibnu Mas�ud mempersilahkannya duduk dan mendekatkannya, 
dan menghidangkan kurma untuknya.

Demikianlah, ahli sunnah mengetahui kebenaran dan berdakwah kepada kebenaran, 
ahli sunnah sayang terhadap mahluk dan menasehati mereka.

Sebagaimana kita lihat dari kisah tadi bagaimana cerdas dan pintarnya Abdullah 
bin Mas�ud [Berkata Imam Dzahabi : Sesungguhnya Ibnu Mas�ud dianggap ulama yang 
cerdas, Lihat Siyar �Alamun Nubala 1/462] Lihatlah bagaimana Dzaadzan 
bertaubat. Karena sesungguhnya Dzaadzan adalah seorang penyanyi yang bagus 
suaranya, maka berkatalah Ibnu Mas�ud kepadanya : �Kalaulah yang terdengar dari 
suaramu yang bagus adalah Al-Qur�an maka engkau adalah engkau�engkau�. Dalam 
riwayat lain Ibnu Mas�ud berkata : �Alangkah bagusnya suara ini ! kalau 
seandainya ia membaca Al-Qur�an tentullah lebih baik�.

Sesungguhnya pengarahan yang lurus terdapat pada persiapan-persiapan dan 
kemampuan-kemampuan, dan meletakkannya pada tempatnya sesuai dengan syari�at 
ditambah lagi dengan memperhatikan tabiat jiwa manusia. Dan pengetahuan 
terhadap perasaannnya adalah penopang yang penting untuk kesuksesan dakwah, 
karena sesungguhnya jiwa itu tidak akan meninggalkan sesuatu melainkan diganti 
dengan sesuatu yang lain, maka haruslah memperhatikan pengganti yang sesuai dan 
inilah yang dipahami oleh Abdullah bin Mas�ud dan terlewatkan pemahaman ini 
oleh banyak manusia lainnya.

Ibnu Taimiyah berkata : �Agama Islam menyuruh kebaikan dan melarang 
kemungkaran, tidak akan tegak salah satunya melainkan dengan lainnya, maka 
janganlah seseorang melarang kemungkaran kecuali hendaknya ia juga menyuruh 
kebaikan dan menyingkirkan kemungakaran, sebagaimana ia menyuruh beribadah 
kepada Allah dan juga melarang dari beribadah kepada Allah dan juga melarang 
beribadah kepada selainNya, dimana perkara tertinggi adalah bersaksi bahwasanya 
tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah dan jiwa itu diciptakan 
untuk beramal, bukan untuk meningalkan, dan hanyalah meninggalkan itu tujuan 
lainnya� [Iqtidho Sirotol Mustaqim 2/617]

Inilah fenomena yang mulia dari dakwah Salafush Shalih, dan dalam kitab-kitab 
yang menjelaskan biografi salafush shalih banyak dijumpai kisah-kisah yang 
indah (dalam kehidupan mereka), barangsiapa ingin mengambil contoh maka 
hendaklah mengambil contoh orang yang sudah meninggal dunia (para sahabat 
nabi), karena orang yang masih hidup tidak aman darinya fitnah.

[Majalah Ad-Dakwah Edisi 1863

[Disalin dari Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 09/Th.II /2004M/1424H. 
Terjemahan Dari Majalah Ad-Dakwah Edisi 1863. Penerbit Ma�had Ali Al-Irsyad 
Surabaya, Jl. Sultan Iskandar Muda 46 Surabaya] 

Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/mlbios.php/aturanmilis/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke