Jika Nabi salah dalam menyampaikan sesuatu, niscaya akan ada teguran tentang
hal tersebut melalui Kalam Allah maupun Hikmahnya. Adapun penyembuhan
menggunakan madu dijelaskan oleh Allah langsung. Hanya saja dalam
mempraktikkan suatu dalil, kita harus mengumpulkan semua dalil terlebih
dahulu. Tentunya kita sudah tahu tentang hadits bahwasanya ada seseorang
yang mengabarkan pada nabi bahwa temannya sakit perut lalu diberikanlah
madu. setelah beberapa lama, orang tersebut mengeluhkan bahwa temannya belum
sembuh. Lalu terus disarankan dengan madu. Sampai suatu ketika Rasulullah
bersabda, "Berikanlah ia madu karena Allah tidak mungkin berbohong. Jika
masih sakit juga, perut temanmu itulah yang bohong". Aw kama qala
Rasulullah.

Imam Ibnul Qayyim (periksa Thibbun Nabawi atau Zaadul Ma`ad jilid
4-Mu`asasah Ar Risalah) mengatakan bahwa hadits ini merupakan dalil tentang
adanya dosis. Jika madu diberikan pada jangka waktu yang kurang dari
seharusnya, maka tidak akan memberikan efek yang memuaskan. Begitu juga jika
diberikan dalam jangka waktu yang terlalu panjang, maka akan mengakibatkan
efek samping. Karena hal itulah Rasulullah tidak menyuruh orang tersebut
mengobati dengan madu lagi setelah pertemuan ketiga karena akan kelebihan
dosis.

Adapun metode kedokteran eropa merupakan salah satu metode penyembuhan
kesehatan yang sederajat dengan metode-metode lainnya. Kedokteran eropa
diakui memiliki kelebihan dalam mengobati infeksi bakteri. Tetapi dalam
kasus-kasus lain seperti syaraf, tulang, kanker, dan virus, kedokteran eropa
belum bisa terlalu dipercaya. Mungkin karena kurangnya penelitian. Saya
pribadi lebih percaya akupunktur dan pijat refleksi (kedokteran cina) untuk
syaraf, ketabiban jepang untuk tulang, dan ramuan tradisional indonesia
untuk kanker dan virus.

Ambil contoh AIDS. jika kita membaca Thibbun Nabawi, kasus AIDS pada kaum
homoseksual sudah ada semenjak zaman Ibnul Qayyim. Tetapi kedokteran eropa
masih kaget dan belum bisa mengantisipasi penyakit ini. Di sisi lain, kaum
pelacur di berbagai wilayah di dunia selama berabad-abad tidak pernah
dilaporkan mengidap AIDS. Sehingga sebagian ahli ramuan tradisional
Indonesia mengklaim bahwa mereka semenjak lama telah menemukan obat
penyembuh AIDS. Dan ternyata berdasarkan salah satu penelitian, habbatus
Sauda memang bermanfaat meningkatkan sistem imun dan membantu penderita AIDS
untuk kembali hidup normal. Penelitian ini dijadikan muqadimah dalam salah
satu skripsi di Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor. Dan
saya membacanya dengan kedua mata kepala saya sendiri.

Perlu diingat bahwa saya pribadi berpendapat bahwa penelitian klinis memang
merupakan penelitian paling shahih dalam ranah ilmu alam. Tetapi hal
tersebut tidak menafikan keshahihan penelitian lain. Dan saya berani menukil
adanya kesepakatan para ilmuwan Codex Alimenterius Comission (oraganisasi
PBB dalam bidang makanan, di bawah FAO) bahwa penelitian empirik
(berdasarkan pengalaman sebagaimana jamu) jauh lebih kuat daripada
penelitian semi-klinis (yang menggunakan hewan uji). Dan kesepakatan ini ana
nukil dari kasus sakarin.

Berdasarkan penelitian dengan tikus uji, sakarin diklaim bisa mengakibatkan
kanker hati dan pendapat ini dibantah oleh negara-negara berkembang yang
telah menggunakan sakarin cukup lama. sehingga CAC kala itu memerintahkan
penelitian ulang. Perdebatanpun terjadi sampai sepuluh tahun lamanya. Pada
saat itu negara-negara berkembang masih tetap menggunakan sakarin. Karena
tidak pernah dilaporkan terjadi peningkatan penderita kanker hati selama
pelegalan sakarin di negera-negara berkembang (10 tahun). Para penelitipun
meneliti kembali penelitian tersebut.

Disimpulkan. Sakarin tidak dapat menembus usus manusia dan dibuang lagi
melalui feses (kotoran) sedangkan pada tikus sakarin diserap dan masuk ke
saluran darah. Dari sini saya simpulkan bahwa jika penelitian semi-klinis
bertentangan dengan penelitian empirik, maka penelitian semi klinislah yang
harus diragukan keshahihannya. Jika memang shahih, maka kedua dalil harus
dijama`

Dari sini kami berpandangan bahwa jika dunia kedokteran masih menganggap
penelitian semi klinis sebagai dalil yang cukup kuat, maka secara otomatis
dunia kedokteran harus lebih mengakui penelitian empirik. dan madu secara
empirik telah digunakan beribu-ribu tahun untuk berbagai penyakit. Tentunya
saya tidak bilang bahwa semua penyakit harus diperlakukan sama. misalnya
luka bakar. saya tidak akan menyuruh penderita luka bakar hanya minum madu.
tetapi hendaknya madu itu dioleskan di luka bakar tersebut. Walaupun secara
pribadi saya lebih memilih minyak zaitun untuk menyembuhkan luka-luka yang
saya derita.

Kirim email ke