Ikhwanul Muslimin itu Hakikatnya adalah Shufiyyah
 
Perkataan tersebut bukanlah perkataan dusta untuk mendeskreditkan Ikhwanul 
Muslimin, namun perkataan tersebut adalah benar-benar perkataan Hasan al Banna, 
pendiri Ikhwanul Muslimin, yang diucapkan dalam Muktamar kelima Ikhwanul 
Muslimin pada tanggal 13 Dzulhijjah 1357 H yang bertepatan dengan akhir 
Desember 1938 M.
 
Dan tinta-tinta pun telah mencatat perkataan tersebut dalam Kitab Majmu'atur 
Rasail Hasan al Banna serta telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia 
dengan judul Kumpulan Risalah Dakwah Hasan al Bana, dengan penerbit al 
I'thisham Cahaya Umat, Jakarta.
 
Berikut perkataan Hasan al Bana dalam Buku Kumpulan Risalah Dakwah Hasan al 
Banna Jilid 1, halaman 192-193,
 
"Wastathii'u an taquula wa laa haraja 'alayka, innal ikhwaanal muslimiina : 
Da'watun salafiyyatun ., wa thariiqatun sunniyyatun ., wa haqiiqatun 
shuufiyyatun ."
 
yang artinya,
 
"Setelah itu, anda akan bisa mengatakan tanpa ragu bahwa Ikhwanul Muslimin 
adalah : Dakwah salafiyah ., thariqah sunniyah ., haqiqah shufiyah ."
 
Kemudian Sa'id Hawwa, salah satu tokoh Ikhwanul Muslimin menegaskan,
 
"Hasan al Banna misalnya, menyebutkan dalam Risalatut Ta'lim, bahwa salah satu 
jenjang dakwahnya dirancang oleh seorang sufi dari satu sisi.  Dalam makalahnya 
pada muktamar yang kelima, disebutkan salah satu keistimewaan dakwahnya adalah 
hakikat kesufian.
 
Beliau juga meninggalkan dalam catatan-catatannya -untuk murid-muridnya di 
Pendidikan Khusus yang Merdeka (at Tarbiyah al Khashah al Hurriyyah)- agar para 
murid menapaki jalan (thariq).  Hal ini beliau sebutkan juga dalam 
penjelasan-penjelasannya tentang tasawuf" (Jalan Ruhani, hal. 19)
 
Dan Sa'id Hawwa, dalam bukunya, Tarbiyyatuhum ar Ruuhiyyah, menyebutkan bahwa 
Hasan al Banna adalah al Mursyidul Kaamil, suatu sebutan kaum sufi bagi 
orang-orang yang telah mencapai maqam tertentu,
 
"Sesungguhnya shufiyyah memiliki istilah al Mursyidul Kaamil.  Dan Sesungguhnya 
al Ustadz al Banna adalah Mursyid Kamil dengan persaksian tokoh shufiyyah 
sendiri" (Tarbiyyatuhum ar Ruuhiyyah hal. 21)
 
Apa itu al Mursyidul Kaamil ?.  Dijelaskan oleh Sa'id Hawwa sendiri di dalam 
Tarbiyyatuhum ar Ruuhiyah,
 
"Al Mursyidul Kaamil adalah pewaris Nabi yang sempurna" (Tarbiyyatuhum ar 
Ruuhiyah hal. 159)
 
Jelasnya, bahwa sufisme telah masuk menjadi bagian dari Ikhwanul Muslimin 
dikarenakan kedekatan Hasan al Banna dengan salah satu thariqah sufi di Mesir 
yaitu thariqah Hashafiyah pada perjalanan hidupnya, bahkan beliau belajar 
kepada syaikh-syaikh di thariqah ini.  Perhatikan perkataan Hasan al Banna ini, 
"Aku berteman dengan teman-teman tarekat Hashafiyah di Damanhur dan aku rajin 
berkumpul di Mesjid Taubah setiap malam" (Mudzakirah ad Dakwah wad Da'iyah hal. 
27)
 
Dan Umar Timilsani, salah seorang mursyid 'am al Ikhwan, membenarkannya, 
"Semenjak muda, beliau (Hasan al Bana) telah berguru kepada syaikh-syaikh 
tarekat Hashafiyah" (Dzikkrayaatun laa Mudzakkiraat, hal. 56)

Imam asy Syafi'i rahimahullah, seorang imamnya ulama mengatakan tetang sufisme 
ini, "Tidaklah seseorang menekuni tasawuf selama 40 hari, lalu akalnya (masih 
bisa) kembali normal selamanya" (Talbis Iblis, hal. 371 oleh Imam Ibnul Jauzi)


best regards
adi cahyadi
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"LAUKAANA KHAIRAN LASABAQUUNAA ILAIHI"
seandainya perbuatan itu baik tentulah para sahabat radhiallahu'anhu telah 
mendahului kita mengamalkannya 

----- Original Message ----- 
From: hadi putra 
To: [email protected] 
Sent: Monday, September 22, 2008 9:33 PM
Subject: [assunnah] Minta Bukti Penyimpangan IM

assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh

ana minta bukti-bukti yang antum punya tentang penyimpangan IM klo
bisa semuanya atau klo itu dari tmen-tmen antum juga boleh. Ntar mo
ana kroscek supaya ana mantebb di manhaj salaf.

wassalamualaikum warahmatullahi wabrakatuh 

Kirim email ke