Wa'alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Tentang penyimpangan IM, itu pembahasannya sangat luas sekali. Mulai dari 
penyimpangan konsep Aqidahnya, penyimpangan manhajnya, penyimpangan Al-Wala wal 
Barro, sampai kepada penyimpangan Da'wah.

Pada email ini ana ingin mengajak antum melihat apa dan bagaimana IM dalam hal 
Al Wala wal Baro.

MENGENAL HAKIKAT "AL IKHWANUL MUSLIMUN" (IM)

Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, Lc.
http://muslim.or.id/

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه
أجمعين، أما بعد،

Berikut ini adalah keterangan ringkas tentang hakikat kelompok "AL
IKHWANUL MUSLIMUN" (untuk selanjutnya kami singkat dengan IM)
berdasarkan ucapan yang langsung kami nukil dari tokoh-tokoh besar
mereka dan dari buku-buku yang mereka tulis sendiri. Keterangan ini
akan kami susun dalam bentuk pembahasan-pembahasan yang kami beri
judul kecil untuk memudahkan pembaca yang ingin mengambil manfaat dari
bacaan ini.

Sikap IM Terhadap Yahudi dan Nashrani

Dalam kitab "Al Ikhwanul Muslimun Ahdaatsun Shana'atit Taarikh" (cet.
Daarud Da'wah, tiga juz) yang ditulis oleh salah seorang pendiri dan
tokoh besar IM yang bernama Mahmud 'Abdul Halim, pada sub judul "Fii
Qadhiyyati Falisthiin (Masalah Palestina)" (juz 1/hal. 409), ketika
penulis berbicara tentang sebuah tim gabungan Amerika dan Inggris yang
berkunjung ke negara-negara Arab untuk membicarakan masalah Palestina,
dalam sebuah pertemuan di Mesir dengan tim tersebut, Hasan Al Banna
(pimpinan IM) hadir sebagai wakil dari Pergerakan Islam dan
menyampaikan sebuah ceramah, yang redaksinya adalah sebagai berikut
(langsung kami terjemahkan):

… Dan pembahasan yang akan kami sampaikan merupakan sebuah point
yang simpel dari tinjauan agama, (akan tetapi) karena point ini
mungkin saja tidak dipahami di dunia barat, oleh karena itulah saya
ingin menjelaskan point ini dengan ringkas: maka saya ikrarkan bahwa
permusuhan kita terhadap orang-orang Yahudi bukanlah merupakan
permusuhan (atas dasar) agama, karena Al Quran yang mulia menganjurkan
(kita) untuk bersahabat karib dan berteman dekat dengan mereka(*), dan
(syariat) islam (sendiri) adalah syariat yang bersifat kemanusiaan
sebelum menjadi syariat yang bersifat qaumiyyah (untuk kaum/bangsa
tertentu), dan sungguh Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memuji mereka
(orang-orang Yahudi) serta menjadikan adanya kesesuian antara kita dan
mereka, (Allah berfirman):
"Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan
cara yang paling baik." (QS. Al 'Ankabuut: 46)
Dan ketika Al Quran ingin membicarakan masalah orang-orang Yahudi,
Al Quran membicarakannya dari segi ekonomi dan undang-undang (saja),
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas
mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan
bagi mereka, …" (QS. An Nisaa': 160)(**)"

(*) Silahkan pembaca menilai sendiri betapa jauhnya ucapan ini
menyimpang dari kebenaran, karena semua orang muslim – bahkan orang
awam sekalipun – mengetahui bahwa inti permusuhan kita terhadap
orang-orang yahudi dan semua orang-orang kafir lainnya adalah
permusuhan karena agama, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga
kamu mengikuti agama mereka" (QS. Al Baqarah: 120), Allah juga
berfirman:

"Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu"
(QS. An Nisaa': 101)

Dan masih banyak ayat-ayat yang semakna dengan dua ayat di atas.

(**) Penggalan terakhir ayat ini justru menunjukkan bahwa permusuhan
kita dengan orang-orang Yahudi adalah karena agama:

" … dan karena mereka (orang-orang Yahudi) banyak menghalangi
(manusia) dari jalan (agama) Allah" (QS. An Nisaa': 160)

Ucapan Hasan Al Banna ini juga dinukil oleh salah seorang tokoh besar
IM lainnya, 'Abbas As Siisy dalam kitabnya "Hasan Al Banna, Mawaaqifu
fiid Da'wati Wat Tarbiyyah" (hal. 288, cet. Daarul Qabas, cet.
ketiga). Kemudian juga dalam kitab tersebut hal. 319, pada sub judul:
Bayaanu Fadhiilatil Mursyid fiil Mu'tamarish Shahafiy bil Markazil
'Aam (Penjelasan yang Mulia Mursyid/Pimpinan IM Dalam Sebuah
Konferensi Pers di Markas Besar IM)", berkata 'Abbas As Siisy:

"Dalam konfrensi pers yang diselenggarakan di gedung markas besar
(IM) dalam rangka ulang tahun ke-20 berdirinya kelompok IM, ustadz
mursyid IM (Hasan Al Banna) menyampaikan sebuah ceramah, yang di
dalamnya dia berkata: … Pergerakan IM bukanlah kelompok pergerakan
yang ditujukan untuk melawan akidah (ideologi), agama, ataupun
kelompok tertentu, karena sesungguhnya perasan yang menguasai
jiwa-jiwa pendiri pergerakan ini adalah bahwa sesungguhnya
kaidah-kaidah pokok yang semua agama yang dibawa oleh para Rasul
'alaihi salam saat ini sungguh telah terancam oleh Al Ilhaadiyyah
(pemahaman yang menentang dan mengingkari agama) dan Al Ibaahiyyah
(pemahaman yang menghalalkan/membolehkan segala sesuatu yang
diharamkan dalam agama), maka wajib bagi orang-orang yang beriman
kepada agama-agama ini untuk saling bahu-membahu dan mengarahkan usaha
keras mereka untuk menyelamatkan umat manusia dari dua bahaya yang
sedang menyusup secara perlahan-lahan ini. Dan IM tidaklah membenci
dan menyembunyikan rasa antipati (dalam hati mereka) terhadap
orang-orang asing yang tinggal sementara di negara-negara arab dan
negara-negara Islam, sampai pun orang-orang Yahudi yang tinggal di
negara ini (Mesir) tidak ada yang lain antara kita dan mereka kecuali
hubungan-hubungan yang baik".

Ucapan Hasan Al Banna ini juga dinukil oleh As Siisy sendiri dalam
kitabnya yang lain yang berjudul "Fii Qaafilatil Ikhwaanil Muslimin"
(1/262, cet. Daaruth Thibaa'ati Wan Nasyri Wash Shautiyyaat juz 1-2
dan Daarul Qabas juz 3-4, 4 juz).

Masih dalam kitab "Hasan Al Banna, Mawaaqifu fiid Da'wati Wat
Tarbiyyah" (hal. 163) penulis menukil ceramah Hasan Al Banna ttg
beberapa kewajiban yang sangat ditekankan bagi media massa islam, di
dalam ceramah tersebut dia berkata:

"Yang keempat: menetapkan suatu hakekat yang mulia dan agung yang
pura-pura dilalaikan oleh banyak kalangan yang mempunyai tendensi
tertentu dan mereka berusaha untuk mengaburkan dan menyembunyikan
hakekat ini, yaitu: bahwa (agama) islam yang hanif (lurus) ini
tidaklah memusuhi suatu agama (tertentu), atau memerangi ideologi
(tertentu), serta tidak berbuat zhalim terhadap orang-orang yang tidak
beriman (non muslim) sedikit pun, dan tidaklah ajaran islam (dianggap)
membuahkan hasil (yang baik) sampai ajaran tersebut (mampu)
menumbuhkan (dalam diri) suatu masyarakat yang yang setanah air
perasaan cinta, keharmonisan, tolong-menolong dan kedamaian (di antara
mereka) bagaimanapun berbedanya agama (yang) mereka (anut) dan
bertentangannya ideologi (yang) mereka (yakini)".

Dan masih banyak ucapan dan sikap Hasan Al Banna dan tokoh-tokoh IM
secara umum selain yang kami sebutkan di atas, yang untuk lebih
ringkas kami akan sebutkan kesimpulannya sebagai berikut:

Dalam sebuah perayaan IM Hasan Al Banna mengundang beberapa tokoh dan
pendeta Nashrani dan menempatkan tempat duduk mereka di antara
orang-orang anggota IM, dan dalam kesempatan tersebut juga Hasan Al
Banna menyampaikan sebuah pidato yang di dalamnya dia
memanggil/menyebut orang-orang Nashrani dengan sebutan "Ikhwaaninaal
Masiihiyyiin" (saudara-saudara kami yang beragama Nashrani), lihat
kitab "Hasan Al Banna, Mawaaqifu fiid Da'wati Wat Tarbiyyah" (hal.
120).

Dalam kitab yang sama (hal. 264-265), Hasan Al Banna menyebutkan bahwa
(agama) Islam melarang (seorang) muslim untuk berfanatik terhadap
agamanya.

Lihat juga surat yang ditulis oleh Hasan Al Banna kepada orang-orang
Yahudi (yang tinggal di Mesir), yang dinukil oleh 'Abbas As Siisy
dalam kitabnya "Fii Qaafilatil Ikhwaanil Muslimin" (1/194).

Juga surat Hasan Al Banna kepada seorang pembesar agama Nashrani di
Mesir dalam kitab Hasan Al Banna sendiri yang berjudul "Mudzakkiraatid
Da'wati Wad Daa'iyah" (hal. 282, cet. Mathaabi'uz Zahraa' lil I'laamil
'Araby, thn 1410 H).

Kenyataan di atas juga dipertegas oleh salah seorang tokoh generasi
pertama IM yang bernama Jabir Rizq dalam kitabnya "Hasan Al Banna bi
Aqlaami Talaamidzatihi wa Mu'aashiriihi" (hal. 185, cet. Daarul
wafaa', cet. 3, thn 1410 H), yang menukil ucapan salah seorang tokoh
generasi pertama IM lainnya Dr. Hassaan Hathuut yang menceritakan
hubungan mesra Hasan Al Banna dan anggota IM secara umum dengan
orang-orang yang beragama Nashrani, ucapan ini juga dinukil dalam
majalah "Al Ummah" yang terbit di Qathar (hal 188, edisi ke-55, bulan
Rajab 1405 H).

Dalam kitab "Tashawwurul Ikhwanil Muslimiin lil Qadhiyyatil
Falisthiiniyyah" (hal.23, cet. Daarut Tauzii' wan Nasyril
Islaamiyyah), penulis Dr. 'Abdul Fattaah Muhammad Al 'Uwais
menyebutkan bahwa untuk membuktikan ketidakfanatikan mereka terhadap
agama islam, IM menyertakan dua orang yang beragama Nashrani yang
bernama Wuhaib Daus dan Akhnuukh Luwis Akhnuukh, sebagai anggota
sebuah tim di bawah naungan IM yang membidangi masalah politik
(Keterangan ini juga disebutkan dalam majalah "Liwa-ul Islam" (hal.
39, edisi pertama tahun ke-45, bulan Ramadhan 1410 H).. Bahkan dalam
kitab tersebut penulis menegaskan bahwa sikap ini dipegang teguh dan
dipertahankan oleh para mursyid (pimpinan) IM dari dulu sampai
sekarang, dalam bentuk kunjungan pimpinan-pimpinan IM tersebut ke
beberapa tokoh-tokoh Nashrani dan yayasan-yayasan mereka, seperti yang
dilakukan oleh pimpinan-pimpinan IM: Hasan Al Banna, Hasan Al
Hudhaiby, 'Umar At Tilmisaany, dan Muhammad Haamid Abun Nashr.

Dalam kitab "Fii Qaafilatil Ikhwaanil Muslimin" (2/35) tulisan 'Abaas
As Siisy, penulis mencantumkan sebuah foto bersama pimpinan umum IM
yang didampingi seorang wakil dari pihak gereja di sebelah kirinya.
Juga dalam kitab yang sama (2/46), foto bersama pada perayaan maulid
Nabi 'alaihi salam di Iskandariyyah: pimpinan umum IM di samping
kanannya seorang wakil dari pihak gereja.

Kenyataan di atas juga dipertegas oleh pimpinan umum IM yang ke-3
'Umar At Tilmisaany dalam sebuah makalahnya yang berjudul: "Wa Aina
Nashiibuna Min Haadzal Hubb?" yang dinukil dalam majalah IM yang
bernama "Majallatud Da'wah" (hal. 2-3, edisi ke-14 thn ke-26/388, bln
Sya'baan 1397 H).

Juga oleh pimpinan umum IM berikutnya Muhammad Haamid Abun Nashr dalam
kitabnya "Haqiiqatul Khilaafi Bainal Ikhwaanil Muslimiin wa 'Abdun
Naashir" (hal. 33, cet. Daarut tauzii' wan nasyril islaamiyyah, cet
ke-2 thn 1408 H).

Berkata salah seorang tokoh besar IM yang terkenal, Yusuf Al Qardhaawy
dalam kitabnya "Aulawiyyatul Harakatil Islaamiyyah fiil Marhalatil
Qaadimah" (hal. 168, cet. Muassasatur Risaalah, cet. ke-12 thn 1411
H):

"Aku ingat, beberapa tahun yang lalu aku pernah diundang untuk
berpartisipasi dalam sebuah pertemuan (yang bertajuk) "Ash Shahwatul
Islaamiyyah wa Humuumul Wathanil 'Araby (kebangkitan islam dan
cita-cita bangsa arab)" yang diselenggarakan oleh "Muntadal fikril
'araby" di ibukota negara Yordania, 'Amman. Yang diundang untuk
menghadiri pertemuan tersebut adalah orang-orang muslim, Nashrani,
orang-orang yang berpaham komunis, kebangsaan (nasionalis), dari
berbagai macam kelompok dan pemikiran… Dan termasuk hal yang tidak aku
lupakan, apa yang disampaikan kepadaku oleh salah seorang ikhwan
peserta yang beragama Nashrani yang (berpaham) nasionalis, ketika kami
sedang (menyantap) hidangan makan siang, dia berkata kepadaku:
"Sungguh kami telah merubah penilaian kami terhadap Anda saat ini
juga", aku bertanya: "Bagaimana penilaian kalian terhadapku (sebelum
petemuan ini)?" , dia menjawab: "(Kami menilai) anda adalah orang yang
fanatik (terhadap agama islam) dan ekstrim", aku bertanya (lagi):
"Dari mana timbulnya penilaian kalian tersebut?", dia menjawab: "Aku
tidak tahu, akan tetapi, terus terang itulah pandangan dan penilaian
kami terhadap anda dulunya" , (kemudian) aku bertanya: "Sekarang
(bagaimana penilaian kalian)?", dia menjawab: "Kami mengetahui setelah
kami mendengar, menyaksikan, berdialog dan berinteraksi secara
langsung, suatu (kenyataan) yang (membuat) kami (harus) merubah
penilaian buruk kami yang dulu kami tujukan kepada Anda, sungguh kami
dapati anda sebagai seorang yang menghargai pembicaraan, selalu
menggunakan pertimbangan akal, mau mendengarkan berbagai macam sudut
pandang yang berbeda, tidak tegang dan kaku, bahkan melebihi yang lain
dalam sikap luwes dan toleransi …dst".

Nukilan-nukilan yang kami sampaikan di atas sengaja tidak kami
komentari, karena kebatilan dan penyimpangannya terlalu jelas bagi
orang yang berakal, apalagi orang yang beriman kepada Allah subhanahu
wa ta'ala, Rasul-Nya shollallahu 'alaihi wasallam dan agama islam,
seperti jelasnya matahari di siang bolong!

Sikap IM Terhadap Kelompok Sesat Syi'ah (Raafidhah) dan
Kelompok-Kelompok Sesat Lainnya

Salah satu di antara pemikiran yang sangat menyimpang yang ada pada IM
adalah apa yang mereka namakan dengan dengan "At taqriib bainal
mazdaahibil islaamiyyah (pendekatan antara berbagai kelompok/aliran
dalam islam)" , bagaimanapun sesat dan menyimpangnya kelompok
tersebut, salah satu di antara kelompok yang mereka ingin dekatkan
adalah kelompok Syi'ah (Raafidhah) yang populer dengan segudang
pemahaman sesat bahkan kufur – wal'iyaadzu billaah – yang mereka
sebutkan dalam kitab-kitab mereka sendiri, seperti pengkafiran mereka
terhadap mayoritas Sahabat Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam -
rodiallahu 'anhum -, keyakinan mereka bahwa kitab suci Al Quran yang
ada saat ini sudah berubah dan tidak murni lagi, tuduhan keji dan
dusta mereka terhadap istri Nabi shollallahu 'alaihi salam yang suci,
'Aisyah rodiallahu 'anha, pengkultusan mereka yang berlebihan terhadap
imam-imam mereka, yang bahkan sampai pada tingkatan meyakini adanya
sifat-sifat ketuhanan pada diri imam-imam tersebut, dan masih banyak
pemahaman sesat dan kufur mereka lainnya.

Di antara bukti nyata yang menunjukkan sikap IM di atas adalah pujian,
dukungan dan pembelaan mereka terhadap kelompok Syi'ah, termasuk
dukungan terhadap revolusi Syi'ah di Iran, pertemuan persahabatan
dengan tokoh-tokoh mereka, yang akan terlihat jelas dalam
nukilan-nukilan yang akan kami bawakan sebagai berikut:

- Mursyid (pimpinan) umum IM yang ke-3, 'Umar At Tilmisaany dalam
kitabnya "Dzikrayaat laa mudzakkiraat" (hal. 249-250, cet. Daarul
I'tishaam, thn 1985 M) menukil ucapan Hasan Al Banna tentang Syi'ah,
dia berkata:

"Syi'ah adalah kelompok yang kurang lebih (bisa) disamakan dengan
apa yang ada di antara mazhab yang empat di kalangan Ahlus Sunnah…
(memang) ada perbedaan (antara Ahlus Sunnah dan Syi'ah) tapi mungkin
untuk dihilangkan, seperti: nikah mut'ah, jumlah istri (maksimal) bagi
seorang (laki-laki) muslim – yang ada pada sebagian sekte Syi'ah –,
dan yang semisalnya, yang mana perbedaan ini seharusnya tidak menjadi
sebab pemutusan hubungan antara Ahlus Sunnah dan Syi'ah. Sungguh dua
kelompok ini telah berjalan beriringan sejak ratusan tahun (yang
lalu), tanpa ada saling bersinggungan di antara keduanya, kecuali
(hanya sebatas) dalam tulisan-tulisan saja. Dan untuk diketahui,
sesungguhnya tokoh-tokoh besar Syi'ah telah meninggalkan kepustakaan
islam sebagai perbendaharaan yang selalu memenuhi
perpustakaan-perpustakaan".

- Dalam kitab yang sama, At Tilmisaany berkata:

"Sekitar tahun 40-an – seingatku – yang mulia Al Qummy (salah
seorang tokoh Syi'ah) pernah singgah sebagai tamu IM di markas besar
IM, pada waktu sang Imam (Hasan Al Banna) sedang giat-giatnya
mengusahakan pendekatan antara kelompok-kelompok, (dengan tujuan) agar
musuh-musuh islam tidak menjadikan perselisihan antara
kelompok-kelompok ini sebagai celah untuk memecah belah persatuan
islam. Suatu hari kami pernah bertanya kepada beliau (Hasan Al Banna)
tentang seberapa jauh perbedaan antara Ahlus Sunnah dan Syi'ah, maka
beliau melarang kami membicarakan masalah-masalah pelik seperti ini,
yang tidak pantas bagi kaum muslimin untuk menyibukkan diri dengannya,
sementara kaum muslimin – seperti yang anda saksikan – saling berpecah
dan musuh-musuh islam berusaha untuk semakin menyulut perpecahan
tersebut, maka kami katakan kepada beliau: kami bertanya tentang hal
ini bukan untuk bersikap fanatik atau untuk memperluas jurang
perbedaan di antara kaum muslimin, akan tetapi kami bertanya untuk
pengetahuan, karena (perbedaan) antara Sunnah dan Syi'ah disebutkan
dalam tulisan-tulisan yang sangat banyak jumlahnya, dan kami tidak
punya waktu yang cukup untuk memungkinkan kami membahas (masalah ini)
dalam referensi-referensi tersebut, maka beliau menjawab: ketahuilah,
sesungguhnya Ahlus Sunnah dan Syi'ah (semuanya) adalah kaum muslimin
yang disatukan dengan kalimat "Laa ilaaha illallah (tidak ada sembahan
yang benar kecuali Allah subhanahu wa ta'ala)" dan "Nabi Muhammad
shollallahu 'alaihi wasallam adalah utusan Allah Jalla Jalaaluhu",
inilah landasan akidah yang sama-sama ada pada Sunnah dan Syi'ah, dan
di atas kesucian, adapun perbedaan di antara keduanya, maka hal itu
(hanya) dalam perkara-perkara yang mungkin untuk didekatkan".

- Dalam kitab "Mauqifu 'ulamaa-il muslimiin minasy syii'ati wats
tsauratil islaamiyyah", yang ditulis oleh salah seorang tokoh IM, Dr.
'Izzuddiin Ibrahim (hal.13, cet. Sabhar, Teheran, Iran, cet. ke-2 thn
1406 H), penulis tersebut berkata:

"Di masa sekarang ini terbentuklah "jamaa'atut taqriib bainal
madzaahibil islaamiyyah (kelompok yang bertujuan ingin
mendekatkan/menyatukan aliran-aliran dalam islam)", yang ikut
berpartisipasi di dalamnya Imam Hasan Al Banna…, berkata Ustadz Salim
Al Bahansaawy – salah seorang cendekiawan IM – dalam kitabnya "As
Sunnatu al muftara 'alaiha" (hal. 58): "Sejak terbentuknya "jamaa'atut
taqriib bainal madzaahibil islaamiyyah (kelompok yang bertujuan ingin
mendekatkan/menyatukan aliran-aliran dalam islam)", yang ikut
memberikan andil di dalamnya Imam Al Banna dan Imam Al Qummy (tokoh
Syi'ah), dan saling kerjasama terus berjalan antara IM dan Syi'ah,
yang hal ini menjadi sebab kunjungan Imam Nawwab Shafawy (tokoh
Syi'ah) ke Kairo thn 1954 M". Di halaman yang sama dia berkata: "Tidak
ada yang aneh dalam sikap saling kerjasama tersebut, karena
prinsip-prinsip yang ada pada kedua kelompok inilah (IM dan Syi'ah)
yang melahirkan sikap saling kerjasama tersebut.

- 'Umar At Tilmisaany dalam kitabnya "Al mulhamul mauhuub Hasan Al
Banna ustaadzul jiil" (hal. 78, cet. Daarut tauzii' wan nasyril
islaamiyyah) berkata:

"… Untuk tujuan mempersatukan kelompok-kelompok inilah Hasan Al
Banna pernah menjamu Syaikh yang mulia Muhammad Al Qummy – salah
seorang tokoh besar dan pentolan Syi'ah – di markas besar IM dalam
waktu yang cukup lama, sebagaimana juga diketahui bahwa Imam Al Banna
telah menemui seorang tokoh rujukan Syi'ah, Aayatullah Al Kaasyaany di
sela-sela pelaksanaan ibadah haji tahun 1948 M, yang (pertemuan
tersebut) menghasilkan kesesuaian paham antara keduanya, (sebagaimana
hal ini) diisyaratkan oleh salah seorang figur IM saat ini yang
sekaligus murid Imam Hasan Al Banna, yaitu Ustadz 'Abdul Muta'aal Al
Jabry dalam kitabnya "Limaadza ugtiila Hasan Al Banna"…".

- Berkata salah seorang tokoh IM yang terkenal, Muhammad Al Gazaaly
dalam kitabnya "Difaa'un 'anil 'aqiidati wasy syarii'ati dhiddu
mathaa'inil mustasyrikiin" (sebagaimana yang dinukil oleh tokoh IM
lainnya, Dr. 'Izzuddiin Ibrahim dalam kitabnya "Mauqifu 'ulamaa-il
muslimiin minasy syii'ati wats tsauratil islaamiyyah" (Hal. 22):

"Sesungguhnya jarak perbedaan antara Syi'ah dan Sunnah adalah
seperti jarak perbedaan antara mazhab fikih Abu Hanifah, mazhab fikih
Malik, mazhab fikih Syafi'i … kami memandang semuanya sama dalam
mencari hakekat (kebenaran) meskipun caranya berbeda-beda".

- Dalam kitab di atas (hal. 15) Dr. 'Izzuddiin Ibrahim menukil
keterangan dari tokoh IM lainnya, Dr. Ishak Musa Al Husainy dalam
kitabnya "Al Ikhwaanul Muslimuun kubral harakaatil islaamiyyatil
haditsah" bahwa sebagian mahasiswa dari kalangan Syi'ah yang dulunya
pernah belajar di Mesir telah bergabung dalam kelompok IM, sebagaimana
barisan kelompok IM di Irak beranggotakan banyak orang dari kalangan
Syi'ah "Al Imaamiyyah Al itsnai 'asyariyyah".

- Dukungan dan pujian tokoh-tokoh IM terhadap revolusi Syi'ah di Iran,
yang terlalu panjang untuk kami nukilkan dalam tulisan ini, lihat
kitab "Mauqifu 'ulamaa-il muslimiin minasy syii'ati wats tsauratil
islaamiyyah", yang ditulis oleh salah seorang tokoh IM, Dr. 'Izzuddiin
Ibrahim (hal. 44-50).

Dan masih banyak ucapan dan sikap IM lainnya terhadap Syi'ah dan
kelompok-kelompok sesat lainnya yang karena khawatir tulisan ini
menjadi terlalu panjang sehingga tidak kami nukilkan semuanya.

Sikap IM Terhadap Penerapan Syariat/Hukum Islam

Kita sering mendengar dan membaca seruan yang sering
digembar-gemborkan oleh orang-orang-orang IM, yaitu tuntutan penerapan
syariat/hukum Islam dalam undang-undang kenegaraan. Akan tetapi kalau
kita cermati dengan seksama kenyataan dalam sikap dan ucapan
tokoh-tokoh IM dalam menjelaskan masalah hukum Islam, kita akan dapati
bukti nyata bahwa hukum Islam yang mereka inginkan bukanlah hukum
Islam yang sebenarnya, dalam masalah pemerintahan misalnya, mereka
memuji-muji dan sangat mendukung sistem demokrasi dan keparlemenan
(yang sangat berseberangan dengan syariat islam), kemudian dalam
masalah ekonomi mereka justru mendukung paham Isytiraakiyyah
(sosialisme) yang diterapkan oleh negara-negara yang berpaham komunis,
juga dalam masalah peradilan, mereka memuji-muji sistem peradilan di
Mesir yang notabene tidak berdasarkan syariat islam. Nukilan-nukilan
berikut akan memperjelas kenyataan di atas:

- Banyak tokoh IM yang berprofesi sebagai Qadhi (hakim) dan pengacara
pada peradilan Mesir yang tidak berdasarkan syariat islam, misalnya
Hasan Al Hudhaiby Mursyid umum ke-2 IM adalah seorang penasehat
konsultan perundangan (undang-undang buatan), sebagaimana yang
disebutkan oleh 'Umar At Tilmisaany dalam kitabnya "Dzikrayaat laa
mudzakkiraat" (hal. 180). 'Umar At Tilmisaany mursyid ke-3 IM sendiri
adalah seorang pengacara hukum, yang ketika Hasan Al Banna menawarkan
kepadanya untuk menjadi salah seorang hakim di Mesir, At Tilmisaany
menolak tawaran tersebut dengan tetap mengakui kemulian jabatan
sebagai Hakim di Mesir (?) dan merasa bangga dengan profesinya sebagai
pengacara, lihat kitab "Al Mudzakkiraat" (hal. 261) tulisan At
Tilmisaany. Dalam kitab yang sama (hal. 263) At Tilmisaany berkata:

"Jika mereka bertanya kepadaku tentang hawa nafsu, maka aku adalah
hawa nafsu, anak hawa nafsu, bapak hawa nafsu dan saudara hawa nafsu
(!?)".

Demikian juga salah seorang petinggi IM, 'Abdul Qaadir 'Audah adalah
seorang hakim di Mesir yang sangat dibanggakan oleh orang-orang IM,
seperti yang disebutkan oleh At Tilmisaany dalam kitab yang sama (hal.
281).

- Adapun pujian IM terhadap undang-undang/hukum yang berlaku di
peradilan Mesir, maka terlalu panjang untuk kami sebutkan, sebagai
contoh, bisa pembaca lihat ucapan Hasan Al Banna yang dinukil dalam
kitab "Hasan Al Banna, mabaadi-u wa ushulun fii mu'tamaraatin
khaashshah" (hal. 43, cet. Al Muassasatul islaamiyyah lith thiba'ati
wash shahaafati wan nasyr, cet. pertama). Demikian pula ucapan Mahmud
'Abdul Halim, salah seorang tokoh pendiri IM dalam kitabnya "Al
Ikhwanul muslimun ahdaatsun shana'atit taarikh" (1/267), juga dalam
kitab yang sama (2/283-284). Juga ucapan salah seorang tokoh IM di
Yordania, 'Auni jaduu' Al 'Ubaidy dalam kitabnya "Jama'atul Ikhwaanil
muslimiin fiil Urdun wa Falisthiin" (hal. 145):

"Sejarah dan kejayaan peradilan Mesir menjadi bukti kuat bahwa
peradilan Mesir adalah benteng yang kokoh dan kuat dalam menjaga
keadilan sepanjang masa" (?!).

- Salah seorang tokoh pendiri dan generasi pertama IM, Jaabir Rizq
dalam kitabnya "Hasan Al Hudhaiby, al imaamul mumtahan" (hal. 226,
cet. Daarul liwaa') berkata:

"Hukuman potong tangan dan kondisi kaum muslimin (saat ini):
ketika pemerintah kaum muslimin lalai untuk mempersiapkan bagi
masyrakatnya kehidupan sosial yang bersih dan mulia, mereka mendapati
bahwa hukuman potong tangan tidak sesuai (lagi) dengan kondisi kaum
muslimin (saat ini), sehingga mereka melarang (diterapkannya) hukuman
ini, dan (sikap) mereka benar dalam melarang (diterapkannya) hukuman
ini" (?!).

- Adapun pujian dan dukungan IM terhadap penerapan sistem demokrasi,
maka misalnya terlihat jelas dalam ucapan salah seorang petinggi IM,
Fariid 'Abdul Khaaliq, yang dinukil oleh Mahmud 'Abdul Haliim dalam
kitabnya "Al Ikhwanul muslimun ahdaatsun shana'atit taarikh" (3/27),
Farid berkata:

"Sesungguhnya kami (IM) ingin merealisasikan sistem demokrasi dan
mengembalikan kehidupan (sistem) keparlemenan".

Dalam kitab dan halaman yang sama, ketika Farid berdialog dengan Jamal
'Abdun Naashir, dia berkata:

"Sistem demokrasi, tidak ada pengganti baginya" (?!).

Kemudian dalam kitab yang sama (3/28), Farid berkata:

"Sesungguhnya merubah arah hidup masyarakat tidak mungkin akan
(berhasil dengan) sempurna kecuali dalam iklim kebebasan dan demokrasi
yang membolehkan berkembangnya pemikiran-pemikiran yang benar".

- Dalam kitab "Hasan Al Banna, mabaadi-u wa ushulun fii mu'tamaraatin
khaashshah" (hal. 60), ucapan Hasan Al Banna yang mengatakan bahwa
sistem demokrasi adalah sistem yang sangat sesuai dengan syariat
Islam. Oleh karena itulah Hasan Al Banna dua kali mencalonkan dirinya
sebagai wakil IM dalam parlemen Mesir, sebagaimana yang disebutkan
oleh Jaabir Rizq dalam kitabnya "Hasan Al Banna biaqlaami
talaamidzatihi wa mu'aashiriihi" (hal. 23-24).

- Lihat juga surat yang ditulis oleh mursyid ke-2 IM, Hasan Al
Hudhaiby kepada Jamaal 'Abdun Nashir, yang dinukil oleh Jabir Rizq
dalam kitabnya "Hasan Al Hudhaiby, al imaamul mumtahan" (hal. 206), Al
Hudhaiby berkata:

"Tidak diragukan lagi bahwa kehidupan (dengan sistem) parlemen
(demokrasi) adalah (satu-satunya) landasan yang suci bagi semua hukum
di jaman sekarang ini …"

- Dalam kitabnya "Al Ikhwanul muslimun ahdaatsun shana'atit taarikh"
(3/119-120), Mahmud 'Abdul Haliim menukil tuntutan IM kepada
pemerintah Mesir:

"Yang ketiga: Perbaikan dalam sistem perundang-undangan: …, maka
kalau demikian, tidak ada cara lain (kecuali) memikirkan (upaya) untuk
mengembalikan bangunan kehidupan (sistem) parlemen dan undang-undang
pemilihan umum berdasarkan pokok-pokok yang suci, sehingga sistem ini
mampu menunaikan tugasnya seperti yang dicita-citakan".

- Berkata Yusuf Al Qardhawy dalam kitabnya "Aulawiyyatul harakatil
islaamiyyah fiil marhalatil qaadimah" (hal. 156-159):

"Wajib bagi pergerakan Islam pada tahapan mendatang untuk berdiri
(tegak) menentang hukum diktator yang individualis dan
kesewenang-wenangan dalam berpolitik serta penindasan terhadap hak-hak
masyarakat, dan hendaknya pergerakan Islam selalu berada di barisan
(yang mendukung) kebebasan berpolitik yang terwujud dalam sistem
demokrasi yang murni dan bukan yang palsu …"

- Mahmud 'Abdul Haliim dalam kitabnya "Al Ikhwanul muslimun ahdaatsun
shana'atit taarikh" (3/83) juga menukil tuntutan IM kepada pemerintah
Mesir dalam perbaikan di bidang ekonomi, yaitu penerapan sistem
ekonomi sosialisme yang sangat bertentangan dengan syariat Islam.

Kemudian dalam kitab yang sama (3/84-85) Mahmud 'Abdul Halim menukil
pernyataan IM:

"Pada akhirnya, pemerintah Mesir telah melakukan suatu langkah
besar dalam upaya perbaikan di bidang ekonomi dan sosial dengan
pemerintah menetapkan dasar (sistem) pembatasan kepemilikan (yang
bertujuan) untuk menghilangkan perbedaan (taraf hidup) pada semua
tingkatan dalam masyarakat, …"

- Dalam kitab yang sama (3/110) Mahmud 'Abdul Haliim juga menukil
pertanyaan Al Hudhaiby yang tidak keberatan dengan keberadaan sebuah
partai komunis di Mesir.

Beberapa Contoh Perbuatan Bid'ah yang Dihidupkan Oleh Tokoh-Tokoh IM

1. Perayaan maulid Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam

Berkata Mahmud 'Abdul Haliim dalam kitabnya "Al Ikhwanul muslimun
ahdaatsun shana'atit taarikh" (1/109):

"Kami dulu pergi bersama setiap malam ke masjid Sayyidah Zainab,
lalu kami melaksanakan shalai 'Isya', kemudian kami keluar dari masjid
dan berbaris dalam beberapa shaff (di luar masjid), di depan kami
berdiri ustadz mursyid (Hasan Al Banna) melantunkan salah satu dari
nasyid-nasyid maulid Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam, dan kami
mengikuti lantunannya secara bersama-sama dengan suara yang keras
(sehingga) mengundang perhatian (orang)".

Lihat juga keterangan 'Abbas As Siisy dalam kitabnya "Fii qaafilatil
ikhwaanil muslimin" (1/48) dan (2/46). Juga dalam "Majallatud da'wah"
(hal. 16, edisi ke-21, bulan Rabi'ul awwal Tahun 1398 H) pimpinan
'Umar At Tilmisaany ketika menjadi mursyid IM.

- Perayaan malam Isra' dan Mi'raj. Lihat ucapan At Tilmisaany dalam
"Majallatud da'wah" (hal. 4-5, edisi ke-13, bulan Rajab tahun 1397 H).
Dan ucapan As Siisy dalam kitabnya "Fii qaafilatil ikhwaanil muslimin"
(1/141-142).

2. Perayaan memperingati peristiwa perang Badar

Berkata Mahmud 'Abdul haliim dalam kitabnya "Al Ikhwanul muslimun
ahdaatsun shana'atit taarikh" (3/127):

"IM mengadakan pesta perayaan dalam rangka memperingati peristiwa
perang Badar di cabang IM wilayah 'Abbaasiyyah di Kairo, dalam
perayaan tersebut disampaikan ceramah mursyid umum IM yang kemudian
dimuat dalam surat kabar pada hari berikutnya".

3. Perayaan memperingati peristiwa Hijrah Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam

'Abbas As Siisy dalam kitabnya "Fii qaafilatil ikhwaanil muslimin"
(1/192) menceritakan perayaan IM dalam rangka memperingati peristiwa
Hijrah Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam, pada sub judul: Ceramah
ustadz mursyid umum (Hasan Al Banna) dalam perayaan (memeperingati)
Hijrah Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam di masjid Sayyidah Zainab.

4. Perayaan dalam rangka mengenang Nawwaab Shafawy (tokoh Syi'ah),
yang dilakukan oleh para mahasiswa IM di Iran, sebagaimana yang
diceritakan oleh At Tilmisaany dalam kitabnya "Dzikrayaat laa
mudzakkiraat" (hal. 131).

5. Perayaan ulang tahun (berdirinya) kelompok IM

Berkata 'Abbas As Siisy dalam kitabnya "Fii qaafilatil ikhwaanil
muslimin" (1/260):

"IM merayakan ulang tahun ke-20 berdirinya kelompok tersebut".

6. Menghidupkan peringatan mengenang kematian Hasan Al Banna

Berkata Mahmud 'Abdul haliim dalam kitabnya "Al Ikhwanul muslimun
ahdaatsun shana'atit taarikh" (3/179):

"Pada tanggal 12/2/1953 M para anggota majelis tsaurah menyatakan
keinginan mereka untuk menziarahi tempat pemakaman Hasan Al Banna
(dalam rangka) mengenang kematiannya, maka keinginan tersebut disambut
baik oleh pihak IM, sehingga di tempat pemakaman mereka disambut oleh
sejumlah besar anggota IM, yang dipimpin oleh mursyid umum IM (Hasan
Al Hudhaiby)".

Beberapa Contoh Ucapan dan Perbuatan Lain Tokoh-tokoh IM yang
Menyimpang dari Syariat Islam

- Mursyid umum IM pertama, Hasan Al Banna adalah pengikut tarekat sufi
"Al Hashaafiyyah Asy Syaadzaliyyah" yang menganut paham kebatinan dan
wihadatul wujud (paham yang meyakini bersatunya wujud Allah
shollallahu 'alaihi wa sallam dengan wujud makhluk, maha suci Allah
Subhanahu wa Ta'ala dari keyakinan kotor ini). Berkata Hasan Al Banna
dalam kitabnya "Mudzakkiraatud da'wati wad daa'iyah" (hal. 27):

"Aku menyertai para pengikut tarekat "Al Hashaafiyyah" di
Damanhuur, dan aku rutin menghadiri "Al Hadhrah" (acara berkumpulnya
orang-orang tarekat untuk menari-nari dan menyanyi) di masjid At
Taubah pada setiap malam … dan (ketika) sayyid 'Abdul Wahhab (pemberi
ijazah keanggotaan pada tarekat "Al Hashaafiyyah") datang aku pun
menerima tarekat "Al Hashaafiyyah Asy Syaadzaliyyah" darinya, dan dia
menyampaikan kepadaku gerakan-gerakan dan amalan-amalan tarekat ini".

Bahkan dia termasuk pendiri yayasan sufiyah "Al Hashaafiyyah",
sebagaimana yang diceritakannya sendiri dalam kitabnya tersebut (hal.
28). Dalam kitab "Hasan Al Banna biaqlaami talaamidzatihi wa
mu'aashiriihi" (hal. 70-71) Jabir Rizq menukil ucapan Abdurrahman Al
Banna (saudara kandung Hasan Al Banna) tentang sebuah majelis zikir
tarekat "Al Hashaafiyyah" yang dihadiri Hasan Al Banna, yang pada
waktu itu dilantunkan sebuah nasyid yang isinya mengandung keyakinan
wihdatul wujud (paham yang meyakini bersatunya wujud Allah shollallahu
'alaihi wa sallam dengan wujud makhluk, maha suci Allah Subhanahu wa
Ta'ala dari keyakinan kotor ini). Kemudian pada kitab yang sama (hal.
71-72) sebuah nasyid yang berisi keyakinan bahwa Rasulullah
shollallahu 'alaihi wa sallam hadir bersama mereka dalam acara
peringatan maulid Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam yang mereka
adakan (?!).

- Hasan Al Banna melakukan perjalanan jauh untuk menziarahi kuburan
orang-orang yang dianggap wali (?), sebagaimana yang dia sebutkan
sendiri dalam kitabnya "Mudzakkiraatud da'wati wad daa'iyah" (hal.
33).

- Hasan Al Banna mengingkari keluarnya Imam Al Mahdy di akhir zaman,
padahal hadits-hadits yang menunjukkan keluarnya Al Mahdy adalah
hadits-hadits yang shahih dan jumlahnya banyak sekali, bahkan mencapai
derajat mutawatir. Dalam kitab "Haditsuts tsulaatsa' li Hasan Al
Banna" (hal. 108, cet. maktabatul Quran), penyusun Ahmad 'Isa
'Aasyuur, Hasan Al Banna berkata:

"Termasuk nasib baik, kami tidak melihat dalam Sunnah yang shahih
hadits yang menetapkan (keluarnya) Al Mahdy, hadits-hadits yang
menunjukkan hal ini berkisar antara hadits lemah atau palsu (?!)".

- Mursyid umum IM ke-3, 'Umar At Tilmisany adalah penggemar goyang
disko ala Eropa dan musik, sebagaimana yang diceritakannya sendiri
dalam kitabnya "Dzikrayaat laa mudzakkiraat" (hal. 8), dia berkata:

"Aku mempelajari goyang disko ala Eropa di arena (disko) 'Imaadud
diin, dengan tarif 3 Junaih (mata uang Mesir) untuk setiap pengajaran
satu jenis disko, maka aku mempelajari dansa, fokesterot, charleston
dan tango, dan aku juga mempelajari memetik alat musik 'Uud
(kecapi/biola)".

Kalau ada yang menyangka bahwa hal ini dia lakukan sebelum dia
bertobat dan menjadi mursyid umum IM, maka persangkaan ini dibantah
oleh dia sendiri dalam kitabnya tersebut (hal. 3 dan 17). Tidak cukup
dengan menggemari kemungkaran-kemungkaran tersebut, mursyid IM ini
bahkan mencap orang-orang yang mengingkari dan mencela kegemarannya
tersebut sebagai orang-orang yang terlalu keras dan ekstrim, serta
menyelisihi petunjuk Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam yang selalu
memilihi hal yang mudah dan meninggalkan yang susah (?!), sebagaimana
yang dia katakan dalam kitabnya di atas (hal. 4 dan 284).

- 'Umar At Tilmisaany meninggalkan Shalat Jum'at untuk karena
menyaksikan pertunjukan film, sebagaimana yang dia sebutkan sendiri
dalam kitabnya "Dzikrayaat laa mudzakkiraat" (hal. 13), pada sub judul
"aku pernah shalat di (gedung) pertunjukan film", dia berkata:

"Ketika aku menjalani profesiku sebagai pengacara, aku selalu
datang (ke gedung pertunjukan film) pada hari jum'at untuk menyaksikan
pertunjukan film, biasanya aku menggunakan kesempatan waktu istirahat
untuk melakukan jama' dan qashar shalat zhuhur dan ashar (?!) pada
salah satu sudut gedung pertunjukan film tersebut".

Tidak cukup sampai disitu, bahkan dalam kitab "Mudzakkiraat"nya (hal.
73), At Tilmisaany mewajibkan hal ini (menyaksikan film, drama/theatre
dsb) bagi para da'i, dia berkata:

"Termasuk kewajiban para da'i adalah menguasai penggunaan semua
sarana dan media informasi, termasuk film, drama dan televisi".

- 'Umar At Tilmisaany adalah seorang perokok. Dalam kitabnya
"Dzikrayaat laa mudzakkiraat" (hal. 78) dia berkata:

"Aku adalah seorang perokok …, maka aku (pernah) berkata kepada
imam (Hasan Al Banna): kalau engkau memerintahkan kepadaku (untuk
meninggalkan rokok) maka akan aku tinggalkan, tapi kalau engkau diam
maka aku akan terus (merokok), maka Hasan Al Banna menjawab: aku tidak
memerintahkan dan juga tidak melarangmu".

Lihat juga ucapannya dalam kitab yang sama (hal. 26).

Demikianlah nukilan-nukilan yang dapat kami sampaikan – dengan taufik
dari Allah Subhanahu wa Ta'ala – yang kami rasa cukup untuk menjadi
bukti yang menjelaskan hakikat dari kelompok IM yang sebenarnya.
Tujuan kami menyampaikan ini semua tidak lain adalah untuk menunaikan
kewajiban kami menyampaikan nasehat kepada saudara-saudara kami sesama
kaum muslimin, khususnya bagi mereka yang terpengaruh/minimal kagum
terhadap propaganda yang sering digembar-gemborkan oleh kelompok IM
ini. Akhirnya, kami berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar
senantiasa memberikan petunjuk dan taufik-Nya kepada kita semua, serta
memudahkan kita mengetahui dan mengikuti jalan yang lurus dan benar,
yang telah ditempuh oleh Nabi kita Muhammad shollallahu 'alaihi wa
sallam dan para sahabatnya rodiallahu 'anhum, serta orang-orang yang
mengikuti mereka dengan baik.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلىِ آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان
إلى يوم القيامة, وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

--
AbuAzzam Muzhoffar
Motto : lebih baik sederhana dalam sunnah, daripada bersungguh-sungguh
dalam bid'ah



2008/9/22 hadi putra <[EMAIL PROTECTED]>:
> assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh
>
> ana minta bukti-bukti yang antum punya tentang penyimpangan IM klo
> bisa semuanya atau klo itu dari tmen-tmen antum juga boleh. Ntar mo
> ana kroscek supaya ana mantebb di manhaj salaf.
>
> wassalamualaikum warahmatullahi wabrakatuh

------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Download MP3 -Free kajian Islam- http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke