-----Original Message-----
From: Fariq Anuz 
Sent: Tuesday, November 18, 2008 10:48 PM
Subject: kirim makalah

Ketika Musibah Menimpa
 
Filed under: Al-Shabru 
(Al Balagh Ed.74/Th.II/30 Dzulhijjah/1427 H) 

   Apabila musibah menimpa kita, maka kita harus segera mengambil sikap agar 
beban menjadi ringan bahkan menjadi rahmat.

   Pertama, apabila ditimpa musibah hendaknya kita membaca innaa lillaahi 
wainnaa ilaihi raaji’uun sessungguhnya kita milik Allah dan kepadaNyalah kita 
akan dikembalikan. Allah berfirman:” yaitu orang-orang yang ditimpa musibah 
mereka mengucapkan innaalillaahi wa-innaa ilaihi raaji’un”. Rasulullah 
bersabda:”tidaklah seorang hamba ditimpa musibah lalu beristirjaa’ niscaya 
Allah Ta’ala akan memberi ganjaran pada  musibahnya dan akan menggantikannya 
dengan yang lebih baik darinya”(HR.Muslim)
Ucapan istirjaa’ mengandung pengertian bahwa bahwa diri kita, keluarga dan 
harta benda adalah milik Allah. Ketika kita lahir, kita tidak memiliki apa-apa. 
Demikian sampai kita meninggal nanti kita tidak akan membawa apa-apa. Semua itu 
kita akan tinggalkan dan kita tidak akan membawa sesuatu kecuali amal shalih 
kita. Karena itu, persiapan diri adalah mutlak untuk menghadapi hari tersebut.

   Kedua, hendaknya kita yakin dengan takdir  Allah baik dan buruknya. Ini 
penting, karena keyakinan dengan rukun iman yang keenam ini akan meringankan 
beban kita. Iman kepada takdir memberi kita semacam ‘kekebalan dini’ dengan 
kesadaran sedalam-dalamnya bahwa segala sesuatu yang telah, sementara dan akan 
terjadi itu telah tertulis di lauh al-mahfuzh. Dengan demikian, apapun yang 
menimpa kita tetap berada dibingkai dalam bingkai kesadaran sehingga musibah 
akan terasa lebih ringan. Rasulullah bersabda dalam do’anya yang terkenal: 
“…anugrahkanlah pada kami keyakinan yang menjadikan musibah terasa 
ringan…”(HSR. Tirmidzi dan Hakim). 
Allah Ta’ala berfirman yang artinya:
“Tiada satu bencanapun yang menimpa di muka  bumi  dan tidak pula pada dirimu 
kecuali telah tertulis pada kitab sebelum kami menciptakannya. Sunggguh, yang 
demikian itu mudah bagi Allah. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang 
luput dari kamu dan agar kamu tidak terlalu gembira dengan apa yang diberikan 
Allah padamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan 
membanggakan diri“(QS. Al-Hadiid: 22-23)
Ketika ada hal-hal yang luput, mengalami penderitaan, menghadapi kesulitan, 
kita tidak terlalu bersedih hati dan menjadikan kita bersangka buruk kepada 
Allah.

   Ketiga, hendaknya kita bersyukur karena musibah yang menimpa kita tidaklah 
lebih besar dari yang menimpa orang lain. Begitu banyak orang yang mendapatkan 
musibah jauh lebih mengenaskan dari kita. Seberat apapun musibah dunia yang 
menimpa kita, yakinlah masih ada yang lebih berat dari kita. Tidak sedikit 
orang yang sebenarnya terkena musibah tapi dia tidak menyadarinya, ia tertimpa 
dalam agamanya. Yang mengherankan adalah tidak sedikit orang terjatuh pada 
musibah agama (musibah diniyah) dan ia sedikitpun tidak merasa sedih. Terjatuh 
pada perzinahan, makan riba, membunuh jiwa yang tidak halal,  pergi kedukun 
atau tukang ramal dan membenarkannya adalah di antara musibah diniyah, bahkan 
yang terakhir bisa menggelincirkan pelakunya dari Islam.. Itulah sebabnya 
Rasulullah mengajarkan kita sebuah do’a agar kita tidak tergelincir dari 
musibah ini. Dalam do’anya beliau bersabda:”ya Allah jangan engkau jadikan 
musibah kami  dalam agama kami “(HSR.
 Tirmidzi dan Hakim)

   Keempat, hendaknya kita sedapat mungkin tidak berkeluh kesah, menggerutu 
atas musibah yang melanda kita. Sebab itu semua tidak akan mengembalikan apa 
yang telah hilang. Berkeluh kesah juga menunjukkan seseorang tidak ridha dengan 
takdir Allah. Bagi mereka yang menjaga shalatnya, menjaga kehormatannya, 
menunaikan zakat, beriman kepada Allah dan hari kemudian tidak akan berkeluh 
kesah.
Mengeluh kepada manusia juga tidak tidak memberi banyak manfaat karena bisa 
menodai kesabaran dan keridhaan. Para salafus shalih jika mereka ditimpa 
musibah sekecil apapun, ia langsung mengeluhkannya kepada Allah. Bahkan di 
antara mereka ada yang mengeluh kepada Allah karena tali sendalnya putus. Kalau 
musibah mereka tergolong berat, seperti kematian anak, orang tua, kerabat dan 
lain-lain mereka berusaha menyembunyikannya dan tidak mengabarkannya kecuali 
untuk urusan memandikan, menshalatkan, dan menguburkannya.

   Kelima, kita harus yakin bahwa apa yang menimpa jika kita sabar dan ridha, 
maka Allah pasti memberikan gantinya. Allah akan memberi kenikmatan, berkah, 
kelezatan,  kebaikan yang berlipat ganda. Bahkan musibah yang melanda akan 
menghapuskan dosa-dosa dan akan menyucikan jiwa-jiwa kita. Allah ta’ala 
berfirman:” mereka itulah yang akan mendapatkan shalawat dari Tuhannya, rahmat 
dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk” (QS.al-Baqarah: 157).
Semoga kita menyikapi setiap bencana yang menimpa kita dengan baik dan benar. 
Sabar dan ridho serta selalu bersyukur kepada Allah Ta’ala, insya Allah kita 
akan mendapatkan kelezatan iman.

Sumber : Hikmah dibalik Musibah 
(Risalah untuk orang-orang yang tertimpa musibah dan dirindung duka). 
Oleh: Fariq bin Gazim Anuz
Penerbit: Darus Sunnah, Jakarta
 

------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Download MP3 -Free kajian Islam- http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke