From: [email protected] Date: Wed, 1 Sep 2010 11:22:07 +0800 assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, ana lg diskusi dg seorang kyai muda yg sangat anti dg wahabi. dia mengatakan, jangan dekati wahabi kalau ingin selamat dunia akhirat. ana ingin menanyakan subhat subhat berikut ini: pertanyaan ana: Dia mengatakan wahabi adalah mujasimmah yg menyamakan Allah dg makhluk. contoh; Allah bersemayam di arsy, Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir. mohon bantuan ikhwan fillah dan disertakan dg dalilnya. jazakumullah khairan wassalam, zoelrahmi ---------- Penjelasan bersemayamnya Allah di arsy dan Allah turun ke langit dunia, silakan buka penjelasan dibawah ini. Wallahu a'lam
AHLUS SUNNAH MENGIMANI TENTANG AN-NUZUL (TURUNNYA ALLAH KE LANGIT DUNIA) http://www.almanhaj.or.id/content/2402/slash/0 AHLUS SUNNAH MENETAPKAN ISTIWA' (BERSEMAYAM) http://www.almanhaj.or.id/content/2396/slash/0 ARSY (SINGGASANA) ALLAH AZZA WA JALLA http://www.almanhaj.or.id/content/2171/slash/0 AHLUS SUNNAH MENETAPKAN MA'IYYAH (KEBERSAMAAN ALLAH) http://www.almanhaj.or.id/content/2397/slash/0 Ahlus Sunnah wal Jama’ah sepakat tentang wajibnya beriman tentang turunnya Allah Subhanahu wa Ta’ala (an-nuzul) ke langit dunia pada setiap malam. (an-Nuzul) termasuk di antara Sifat-Sifat Khabariyah Fi’liyyah. Terdapat sejumlah dalil yang menyatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala turun ke langit terendah (langit dunia) pada setiap malam. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun pada setiap malam ke langit dunia ketika tinggal sepertiga malam, seraya menyeru: ‘Siapa yang berdo’a kepada-Ku, maka Aku memperkenankan do’anya, siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku memberinya, dan siapa yang memohon ampunan kepada-Ku, maka Aku mengampuninya.”[2] Abu ‘Utsman ash-Shabuni (wafat th. 449 H) rahimahullah berkata: “Para ulama ahli hadits menetapkan turunnya Rabb Azza wa Jalla ke langit terendah pada setiap malam tanpa menyerupakan turun-Nya Allah itu dengan turunnya makhluk (tasybih), tanpa mengumpamakan (tamtsil) dan tanpa menanyakan bagaimana turun-Nya (takyif). Tetapi menetapkannya sesuai dengan apa-apa yang ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengakhiri perkataan padanya (tanpa komentar lagi), memperlakukan kabar shahih yang memuat hal itu sesuai dengan zhahirnya, serta menyerahkan ilmunya kepada Allah.”[3] ------------------------------------ Website anda http://www.almanhaj.or.id Berhenti berlangganan: [email protected] Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/assunnah/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
