Ingin menambahkan persoalan asma' wa shifah Alloh ini, sebagaimana yang
disampaikan oleh Ust.Abdulloh Taslim di radio Rodja, bahwa para ulama
mengatakan ketika kita meyakini tentang asma' dan shifat Alloh tidak berarti
kita menyamakan Alloh dengan makhluk karena *kesamaan di satu sisi tidak
memastikan adanya kesamaan di sisi lain. *Sebagai contoh, jika dikatakan apa
defenisi kaki, maka sesungguhnya antara satu makhluk Alloh dengan makhluk
lainnya saja berbeda bentuknya. Demikian juga jika manusia makan pisang,
monyet makan pisang apakah otomatis manusia itu kelompok monyet? Tentu
tidakkan !?!

Dengan demikian, ketika AhluSunnah meyakini asma' dan shifah Alloh tidak
berarti kita menyamakan Alloh dengan makhluk-Nya dan apa yang diyakini
tentang asma' dan shifah itu pun bersumber dari Rosululloh Shollallohu
'Alaihi wa Sallam yang shohih dan shorih sedangkan Rosululloh tidak
mengatakan selain wahyu dari Alloh (AnNajm : 3-4).
Wallohu A'lam.

2010/9/23 Abu Harits <[email protected]>

> From: [email protected]
> Date: Wed, 1 Sep 2010 11:22:07 +0800
> assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
> ana lg diskusi dg seorang kyai muda yg sangat anti dg wahabi. dia
> mengatakan, jangan dekati wahabi kalau ingin selamat dunia akhirat. ana
> ingin menanyakan subhat subhat berikut ini:
> pertanyaan ana:
> Dia mengatakan wahabi adalah mujasimmah yg menyamakan Allah dg makhluk.
> contoh; Allah bersemayam di arsy, Allah turun ke langit dunia pada sepertiga
> malam terakhir.
> mohon bantuan ikhwan fillah dan disertakan dg dalilnya.
> jazakumullah khairan
> wassalam,
> zoelrahmi
> ----------
> Penjelasan bersemayamnya Allah di arsy dan Allah turun ke langit dunia,
> silakan buka penjelasan dibawah ini. Wallahu a'lam
>
> AHLUS SUNNAH MENGIMANI TENTANG AN-NUZUL (TURUNNYA ALLAH KE LANGIT DUNIA)
> http://www.almanhaj.or.id/content/2402/slash/0
> AHLUS SUNNAH MENETAPKAN ISTIWA' (BERSEMAYAM)
> http://www.almanhaj.or.id/content/2396/slash/0
> ARSY (SINGGASANA) ALLAH AZZA WA JALLA
> http://www.almanhaj.or.id/content/2171/slash/0
> AHLUS SUNNAH MENETAPKAN MA'IYYAH (KEBERSAMAAN ALLAH)
> http://www.almanhaj.or.id/content/2397/slash/0
>
> Ahlus Sunnah wal Jama’ah sepakat tentang wajibnya beriman tentang turunnya
> Allah Subhanahu wa Ta’ala (an-nuzul) ke langit dunia pada setiap malam.
> (an-Nuzul) termasuk di antara Sifat-Sifat Khabariyah Fi’liyyah. Terdapat
> sejumlah dalil yang menyatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala turun ke
> langit terendah (langit dunia) pada setiap malam. Dari Abu Hurairah
> Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
>
> “Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun pada setiap malam ke langit dunia
> ketika tinggal sepertiga malam, seraya menyeru: ‘Siapa yang berdo’a
> kepada-Ku, maka Aku memperkenankan do’anya, siapa yang meminta kepada-Ku,
> maka Aku memberinya, dan siapa yang memohon ampunan kepada-Ku, maka Aku
> mengampuninya.”[2]
>
> Abu ‘Utsman ash-Shabuni (wafat th. 449 H) rahimahullah berkata: “Para ulama
> ahli hadits menetapkan turunnya Rabb Azza wa Jalla ke langit terendah pada
> setiap malam tanpa menyerupakan turun-Nya Allah itu dengan turunnya makhluk
> (tasybih), tanpa mengumpamakan (tamtsil) dan tanpa menanyakan bagaimana
> turun-Nya (takyif). Tetapi menetapkannya sesuai dengan apa-apa yang
> ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengakhiri
> perkataan padanya (tanpa komentar lagi), memperlakukan kabar shahih yang
> memuat hal itu sesuai dengan zhahirnya, serta menyerahkan ilmunya kepada
> Allah.”[3]
>
>
> ------------------------------------
>
> Website anda http://www.almanhaj.or.id
> Berhenti berlangganan: [email protected]
> Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>

Kirim email ke