RUMAHKU SORGAKU, MENCIPTAKAN KELUARGA ISLAMI UNTUK MENGGAPAI RIDHA ILAHI [1]

Oleh 

Syaikh Shalih ibn Abdullah ibn Al-Humaid.
http://www.almanhaj.or.id/content/2761/slash/0

Kebanyakan manusia tentu mendambakan kebahagiaan, menanti ketentraman dan 
ketenangan jiwa. Tentu pula semua berusaha menghindar dari berbagai pemicu 
gundah gulana dan kegelisahan. Terlebih lagi dalam lingkungan keluarga.

Ingatlah, semua ini tak mungkin akan terwujud kecuali dengan iman kepada Allah, 
tawakal dan mengembalikan semua masalah kepada-Nya, disamping melakukan beragam 
usaha yang sesuai dengan syariat.

PENTINGNYA MENCIPTAKAN KEHARMONISAN DALAM KELUARGA
Yang paling berpengaruh buat pribadi dan masyarakat adalah pembentukan keluarga 
dan komitmennya pada kebenaran. Allah Ta’ala dengan hikmah-Nya telah 
mempersiapkan tempat yang mulia buat manusia untuk menetap dan tinggal dengan 
tentram di dalamnya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا 
إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ 
لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

"Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri- 
istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya 
dan dijadikan-Nya di antara kamu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang 
demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir". 
[ar-Rum: 21]

Ya...... "supaya engkau cenderung dan merasa tentram kepadanya" (Allah tidak 
mengatakan "supaya kamu tinggal bersamanya"). Ini menegaskan makna tenang dalam 
perangai dan jiwa serta menekankan wujudnya kedamaian dalam berbagai bentuknya.

Maka suami istri akan mendapatkan ketenangan pada pasangannya di kala datang 
kegelisahan dan mendapati kelapangan di saat dihampiri kesempitan.

Sesungguhnya pilar hubungan suami istri adalah kekerabatan dan persahabatan 
yang terpancang di atas cinta dan kasih sayang. Hubungan yang mendalam dan 
lekat ini sangat mirip dengan hubungan seseorang dengan dirinya sendiri.

Al-Qur’an menjelaskan:

هُنَّ لِبَاسُُ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسُُ لَّهُنَّ 

"Mereka itu adalah pakaian bagimu dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” 
[Al-Baqarah: 187]

Terlebih lagi ketika mengingat apa yang dipersiapkan bagi hubungan ini, 
misalnya pendidikan anak dan jaminan kehidupan, yang tentu saja tak akan 
terbentuk kecuali di dalam atmosfir keibuan yang lembut dan kebapaan yang 
semangat dan serius. Adakah di sana komunitas yang lebih bersih dari suasana 
hubungan yang mulia ini?

PILAR PENYANGGA KELUARGA ISLAMI
Ada banyak faktor yang menjadi penopang tegaknya keluarga islami, -yang di 
dalamnya terjalin kuat hubungan suami istri serta jauh dari perselisihan dan 
perpecahan- (yaitu antara lain) :

1. Iman Dan Taqwa Kepada Allah Ta’ala
Faktor pertama dan terpenting yaitu berpegang teguh kepada tali keimanan: iman 
kepada Allah dan Hari Akhir, takut kepada Dzat Yang mempemerhatikan segala yang 
tersembunyi serta senantiasa bertaqwa dan bermuraqabah (merasa terawasi oleh 
Allah Azza wa Jalla –red) lalu menjauh dari kezaliman dan kekeliruan di dalam 
mencari kebenaran.

ذَلِكُمْ يُوعَظُ بِهِ مَن كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ وَمَن 
يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا . وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ 
وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

"Demikianlah diberi pengajaran dengan itu, orang yang beriman kepada Allah dan 
Hari Akhirat. Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan 
mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak 
disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah 
akan mencukupkan keperluannya". [At-Thalaq: 2-3]

Di antara yang menguatkan keimanan ini yaitu bersungguh-sungguh dan serius 
dalam ketaatan dan ibadah serta saling ingat-mengingatkan dalam masalah itu.

Perhatikanlah sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam :

رَحِمَ اللَّهُ رَجُلاً قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ 
فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ رَحِمَ اللَّهُ امْرَأَةً قَامَتْ 
مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِي 
وَجْهِهِ الْمَاءَ 

"Semoga Allah merahmati suami yang bangun malam hari lalu shalat dan 
membangunkan istrinya lalu shalat pula. Apabila enggan maka dipercikkannya air 
di wajahnya. Dan semoga Allah merahmati seorang istri yang bangun malam hari 
lalu shalat dan membangunkcan suaminya lalu shalat pula. Apabila enggan maka 
dipercikkannya air di wajahnya." [2].

Hubungan suami istri bukanlah hubungan duniawi atau hubungan hawa nafsu hewani, 
namun berupa interaksi jiwa yang luhur. Jadi ketika hubungan ini sahih (benar) 
maka akan berlanjut hingga ke kehidupan akhirat setelah meninggal dunia kelak.

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَن صَلَحَ مِنْ ءَابَآئِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ 
وَذُرِّيَّاتِهِمْ

"Yaitu surga ‘Adn yang mereka itu masuk ke dalamnya bersama-sama dengan 
orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri- istri nya dan anak cucunya 
". [Ar¬-Ra’du : 23]

2. Menjalin Hubungan Baik
Termasuk di antara yang mengawetkan hubungan ini adalah pergaulan antara suami 
istri dengan baik. Ini tidak akan tercipta kecuali dengan saling mengerti dan 
memahami hak dan kewajibannya masing-masing.

Adapun mencari-cari kesempurnaan dalam keluarga dan anggotanya adalah sesuatu 
yang mustahil. Dan merasa prustasi dalam usaha melakukan penyempurnaan setiap 
sifat mereka atau yang lainnya termasuk sia-sia juga.

3. Tugas Suami
Termasuk berpikir cerah adalah (apabila suami dapat-red) mengkondisikan jiwa 
untuk menerima beberepa kesempitan dan mengabaikan sebagian kesusahan. Seorang 
suami —sebagai pemimpin keluarga- dituntut untuk lebih bersabar ketimbang 
istrinya, di mana seorang istri itu lemah secara fisik maupun pribadinya. 
Apabila dituntut untuk melakukan segala sesuatu maka ia akan buntu dari semuanya

Terlalu berlebihan dalam meluruskannyapun akan berarti mematahkannya dan 
mematahkannya sama saja dengan menceraikannva.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا فَإِنَّهُنَّ خُلِقْنَ مِنْ ضِلَعٍ وَإِنَّ 
أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلاَهُ فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ 
وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا 

"Nasihatilah wanita dengan yang baik. Sesungguhnya mereka diciptakan dari rusuk 
dan bagian terbengkok dari rusuk adalah bagian atasnya. Seandainya kau luruskan 
maka berarti kamu mematahkannya. Dan seandainya kamu biarkan maka akan terus 
saja bengkok. Untuk itu nasihatilab wanita dengan yang baik" [3]

Jadi kelemahan pada wanita sudah ada semenjak pertama kali diciptakan. Maka mau 
tidak mau harus bersabar menghadapinya.

Untuk itu seyogyanya seorang suami tidak terus-terusan mengingat apa yang 
merupakan bahan kesempitan pada keluarganya. Alihkan pandangan dari beberapa 
sisi kekurangan mereka. Dan perhatikanlah sisi kebaikan mereka niscaya akan 
didapatinya banyak sekali.

Dalam konteks ini Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا 
آخَرَ 

"Seorang mukmin (suami) tidaklak membenci dan marah kepada mukminah (istri) 
Apabila ia membencinya karena sesuatu dari pribadinyn maka ia ridla darinya 
dengan hal-hal lainnya". [4]

Dalam hal ini maka berprilakulah lemah lembut. Sebab jika ia sudah melihat 
sebagian yang dibencinya maka tidak tahu lagi di mana sumber-sumber kebahagiaan 
itu berada.

Allah Ta’ala berfirman:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِن كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَن تَكْرَهُوا 
شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

"Dan bergaullah bersama mereka dengan patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai 
mereka maka bersabarlah karena mungkin kamu tidak menyukai sesuata padahal 
Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak" [An-Nisa: 19]

Apabila tidak begitu, lalu bagaimana mungkin akan tercipta ketentraman, mana 
kedamaian dan cinta kasih itu : jika pemimpin keluarga itu sendiri berperangai 
keras, jelek pergaulannya, sempit wawasan, dungu, terburu-buru, tidak pemaaf, 
pemarah, jika masuk terlalu banyak mengungkit-ungkit kebaikan dan jika keluar 
selalu berburuk sangka.

Padahal sudah dimaklumi bahwa interaksi yang baik dan sumber-sumber kebahagiaan 
itu tidaklah akan tercipta kecuali dengan kelembutan dan menjauhkan diri dari 
prasangka yang tak beralasan. Dan kecemburuan -pada sebagian orang- terkadang 
berubah menjadi prasangka buruk yang menggiringnya untuk senantiasa menyalah 
tafsirkan omongan dan meragukan segala tingkah laku. Ini tentu saja akan 
membikin hidup terasa sempit dan hati gelisah dengan tanpa alasan yang jelas 
dan benar.

أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنتُم مِّن وُجْدِكُمْ وَلاَتُضَآرُّوهُنَّ 
لِتُضَيِّقُوا عَلَيْهِنَّ

"Tempatkanlah mereka - para istri- di mana kamu bertempat tinggal menurut 
kemampuanmu. Dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan hati 
mereka... " [(Ath-Thalaq: 6]

Padahal Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُ كُمْ لأَهْلِهِ وَ أَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِيْ 

"Sebaik-baik kamu adalah yang paling baik kepada keluarganya. Dan aku adalah 
yang terbaik di antara kamu kepada keluargaku" [5]

4. Tugas Istri 
Adapun seorang istri maka ketahuilah bahwa kebahagiaan, cinta dan kasih sayang 
tidaklah akan sempurna kecuali ketika si pemilik kesucian dan agama (baca : 
istri) mengetahui kewajibannya dan tidak melalaikannya.

Berbakti kepada suaminya sebagai pemimpin, pelindung, penjaga dan pemberi 
nafkah. Taat kepadanya, menjaga dirinya sebagai istri dan menjaga harta 
suaminya merupakan kewajiban seorang istri. Demikian juga menguasai tugas istri 
dan mengerjakannya serta memerhatikan diri dan rumahnya.

Inilah istri yang shalihah sekaligus ibu yang penuh kasih sayang, pemimpin di 
rumah suaminya dan bertanggungjawab atas yang dipimpinnya. Juga mengakui 
kecakapan suaminya dan tidak mengingkari kebaikan pelayanannya. Nabi 
Shallallahu 'alaihi wa sallam telah mewanti-wanti jangan sampai melakukan 
pengingkaran (terhadap suaminya-red) ini. Sabda beliau:

أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ يَكْفُرْنَ قِيلَ 
أَيَكْفُرْنَ بِاللَّهِ قَالَ يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ وَيَكْفُرْنَ الْإِحْسَانَ 
لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا 
قَالَتْ مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ 

"Diperlihatkan kepadaku neraka. Ternyata sebagian besar penghuninya adalah 
perempuan yang kufur (ingkar). Ditanyakan kepada beliau: Apakah mereka kufur 
kepada Allah?” Beliau menjawab: “Tidak, tapi mengingkari kebaikan suaminya 
.Jika kalian berbuat baik kepada salah seorang isteri kalian sepanjang hari, 
lalu ia mendapati padamu suatu kejelekan maka ia berkata : tak pernah aku 
dapatkan darimu kebaikan sama sekali" [6]

Untuk itu seyogyanya memaafkan kekeliruan dan mengabaikan kekhilafan. Janganlah 
berprilaku jelek ketika suami hadir dan janganlah rnengkhianatinya ketika ja 
sedang bepergian.

Dengan ini sudah barang tentu akan tercapai saling meridhai, akan langgeng 
hubungan mesra, cinta dan kasih sayang.

Dalam sebuab hadits dikatakan:

أَيُّمَا امْرَأَةٍ مَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَنْهَا رَاضٍ دَخَلَتِ الْجَنَّةَ 

"Siapapun perempuan yang meninggal dunia lalu sang suami meridhainya, maka dia 
masuk sorga" [7] 

Maka bertakwalah kepada Allah, wahai ummat Islam. Ketahuilah bahwa dengan 
dicapainya keharmonisan maka akan tersebarlah semerbak kebahagiaan dan 
terciptalah suasana yang kondusif untuk tarbiyah.

Selain itu tumbuh pula kehidupan di rumah yang mulia dengan dipenuhi cinta 
kasih dan saling pengertian antara sifat keibuan yang penuh kasih sayang dan 
kebapaan yang tegas, jauh dari cekcok, perselisihan dan saling menzalimi satu 
sama lain. Juga tak ada permusuhan dan saling menyakiti.

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا 
قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

"Dan orang-orang yang berkata : ya Tuhan kami anugrahkanlah kepada kami istri- 
istri kami dan keturunan kami, sebagai penyenang hati kami Dan jadikanlah kami 
imam bagi orang-orang yang bertaqwa". [al-Furqan : 74]

PENUTUP
Lurusnya keluarga, menjadi media untuk menciptakan keamanan masyarakat. 
Bagaimana bisa aman apabila di sana ikatan keluarga telah amburadul. Padahal 
Allah telah memberi kenikmatan ini yaitu nikmat kerukunan keluarga, kemesraan 
dan keharmonisannya.

Allah Ta’ ala berfirman:

وَاللهُ جَعَلَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُم مِّنْ 
أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ 
أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَتِ اللهِ هُمْ يَكْفُرُونَ

"Allah menjadikan bagi kamu istri-istri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan 
bagimu dari istri-istri kamu itu anak-anak dan cucu-cucu. Dan memberimu rezeki 
dari yang baik- baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan 
mengingkari nikmat Allah?" [An-Nahl : 72]

Hubungan suami istri yang sangat solid dan (fungsinya) sebagai orang tua 
ditambah anak-anaknya yang tumbuh dalam asuhan mereka, merupakan gambaran umat 
terkini dan masa depan.

Karena itu ketika setan berhasil mencerai-beraikan hubungan keluarga, dia tidak 
sekedar menggoncangkan satu rumah saja dan tidak pula hanya menyebarkan 
kerusakan yang sebatas begitu saja. Namun menjerumuskan masyarakat seluruhnya 
ke dalam kebobrokan yang merajalela. Realita sekarang ini menjadi bukti nyata.

Semoga Allah merahmati pria yang perilakunya terpuji, baik hati, pandai bergaul 
(terhadap keluarga-red), lemah lembut, pengasih, penyayang, tekun, tidak 
berlebihan dan tidak lalai dengan kewajibannya.

Begitupula semoga Allah merahmati wanita yang tidak mencari-cari kekeliruan, 
tidak cerewet, shalihah, taat dan memelihara dirinya ketika sang suami tidak 
ada, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memeliharanya.

Bertaqwalah, wahai para suami istri, wahai kaum muslimin. Sesungguhnya 
barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya dimudahkan urusannya.

وصلى الله على خير خلقه نبينا محمد و على آله و أزواجه الطيبين الطاهرين و على 
صحبه الغر الميامين و تابيعهم بإحسان إلى يوم الدين.

Madinah Nabawiyah, 22 Rajab 1422 H

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun V/1422/2001M. Penerbit Yayasan 
Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 
57183 Telp. 0271-761016]
_______
Footnote
[1]. Diterjemahkan oleh: Muhamad Asundee, dari al-Bait as-Sa’id yang ditulis 
oleh Syaikh Shalih ibn Abdullah ibn Al-Humaid.
[2]. Hadits Shahih riwayat Ahmad, Abu Daud (1308), An-Nasa’i (3/205), dan Ibnu 
Majah (1336). Dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah (1148) dan Hakim serta disepakati 
oleh Adz-Dzahabi]
[3]. HR.Bukhari: 5186 —Muslim: 1468
[4]. HR. Muslim: (1469) lbnu Hajar berkomentar: “ini mengisyaratkan akan 
perlunya pembenahan (-red) dengan lemah-lembut dalam artian tidak berlebihan 
sehingga mengakibarkan kepatahan. Namun tidak pula membiarkannya sehingga 
berlalu begitu saja dalam kebengkokan.
Rumusannya begini: tidak dibiarkan bengkok jika tabiat serba kurangnya ini
mengakibatkan terjerumus ke dalam kemaksiatan atau melalaikan kewajiban. Dan 
dibiarkan saja dalam kebengkokannya sepanjang ada dalam hal-hal yang dimubahkan
[5]. Hadits Shahih. HR. At-Tirmidzi 3892, Ibnu Maajah, Ibnu Hibban 1312]
[6]. HR. Bukhari 5197
[7]. HR. at-Tirmidzi (1161), beliau mensahihkannya. Juga Ibnu Majah: (1854) dan 
Hakim: 4/173. Beliau (Hakim) berkata: isnadnya sahih 
                                          

Kirim email ke