السؤال

السلام عليكم ورحمه الله وبركاته السؤال هل يجوز فتح صالون نساء للتجميل ؟
وجزاكم الله خيرا .



*Pertanyaan:*

Assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh. Apakah boleh membuka salon
kecantikan wanita. Jazakumullahu khairan.

 الفتوى

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه وسلم وبعد:

فإن على المرأة أن تتجمل لزوجها، وهذا مطلب شرعي لدوام الألفة بينهما والمحبة.
وهذا التجميل قد لا يتأتى لبعض النساء إلا بوجود امرأة تقوم بهذا العمل. إن لم
تكن الزوجة ممن يحسن القيام به، وعلى هذا ففتح صالونات لتجميل النساء لا حرج
فيه إن اقتصر العمل فيه على تجميل من تتجمل لزوجها، ولا تبرز زينتها للأجانب،
ولا تفتن الناس بذلك، وخلا من عمل محرم، كنمص الحواجب ووصل الشعر والاطلاع على
العورات



*Fatwa*

Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada
rasulullah, keluarganya, dan para sahabat beliau.

Sesungguhnya telah menjadi kewajiban wanita untuk mempercantik diri bagi
sang suami. Hal ini merupakan tuntutan syari’at untuk melanggengkan
kemesraan dan kecintaan pasutri. Namun, terkadang sebagian wanita tidak
mampu melakukannya seorang diri kecuali terdapat wanita lain yang dapat
membantunya. *Berdasarkan hal ini, maka membuka berbagai salon kecantikan
tidak menjadi masalah, apabila sebatas membantu konsumen yang memang khusus
mempercantik diri bagi suaminya, tidak menampakkan perhiasan dirinya kepada
non mahram, dan tidak membuat orang-orang terfitnah. Selain itu, salon
tersebut tidak mempraktekkan hal yang diharamkan seperti mencabut alis,
menyambung rambut, dan membuka aurat.*



وأما إن كانت هذه الصالونات ترتادها البرة والفاجرة والمتحجبة والمتبرجة أو
اشتملت على محرم فلا يجوز فتحها ولا العمل فيها، لما في ذلك من التعاون على
معصية الله وقد قال جل وعلا: (وتعاونوا على البر والتقوى ولا تعاونوا على الإثم
والعدوان) [المائدة: 2].

Jika konsumen berbagai salon kecantikan ini adalah wanita yang shalihah dan
tidak, wanita yang konsisten berhijab dan wanita pesolek, serta mencakup
berbagai perkara haram, maka tidak boleh membuka dan bekerja disana, karena
hal tersebut termasuk ke dalam praktek tolong-menolong untuk bermaksiat
kepada Allah, padahal Allah ta’ala telah berfirman (yang artinya), “Dan
tolong-menolonglah dalam kebajikan dan ketakwaan dan janganlah kalian
tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” (Al Maidah: 2).”

فإن كنت تعلمين من نفسك عدم التهاون في هذا الأمر والتساهل في تسهيل معصية الله
لمن تعصي الله تعالى بتبرجها. فلا حرج فيه إن شاء الله. وإن كنت لا تستطيعين
التحكم بمن تأتي إلى هذا المحل فإن عليك أن تبتعدي عن هذا المجال وتبحثي عن
مجال آخر مباح. والله أعلم.

Apabila saudari mengetahui bahwa anda tidak meremehkan berbagai hal tersebut
di atas dan bertoleran terhadap wanita yang bermaksiat kepada Allah dengan
tabbaruj (bersolek) yang dilakukannya, maka tidak masalah membuka saln
kecantikan, insya Allah. *Namun, apabila saudari tidak mampu menyeleksi
konsumen yang datang ke tempat tersebut, maka anda wajib untuk menjauhi mata
pencaharian itu dan mencari yang sumber lain yang diperbolehkan*. Wallahu
a’lam.

*Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah; Asy Syamilah*

* *

*Kesimpulan*

Dari fatwa di atas, membuka salon kecantikan diperbolehkan dengan
memperhatikan beberapa ketentuan sebagai berikut:

   1. Konsumen salon tersebut diperuntukkan bagi wanita yang komitmen
   terhadap agama, dalam artian dia memakai jilbab yang syar’i dan dirinya
   mempercantik diri untuk suaminya, bukan untuk dipamerkan kepada khalayak
   ramai sehingga orang lain terfitnah dengan kecantikannya.
   2. Salon tersebut tidak melakukan praktek-praktek salon yang haram
   seperti mencabut alis, menyambung rambut (menyanggul) karena keduanya
   tercakup ke dalam larangan merubah ciptaan Allah tanpa adanya kebutuhan yang
   dibenarkan syari’at.
   3. Tidak boleh membuka aurat konsumen. Aurat yang dimaksudkan disini
   adalah aurat wanita yang haram dilihat oleh wanita muslimah lainnya. Para
   ahli fikih menyatakan bahwa aurat muslimah bagi muslimah lainnya adalah
   bagian tubuh yang terletak di antara pusar dan lutut, sehingga boleh bagi
   wanita memandang anggota tubuh wanita lain selain bagian tubuh yang
   disebutkan tadi dengan syarat tanpa syahwat dan tidak
terfitnah.[1]<http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftn1>
   4. Pemilik salon harus mampu menyeleksi konsumennya, artinya dia mampu
   menolak untuk melayani wanita yang secara zhahir *mutabarrijah* (bersolek
   di depan non mahram) apabila wanita tersebut datang ke salonnya.



Jika seluruh ketentuan di atas dapat dilaksanakan oleh mereka yang hendak
membuka salon kecantikan, maka silahkan membuka salon tersebut. Namun, jika
tidak, maka ada baiknya anda mencari lahan penghasilan yang lain.

*Wallahu a’lam. *
------------------------------

[1]<http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftnref1>Badai’ush
Shanai’ 6/2961; Tabyinul Haqa-iq 6/18; Asy Syarhush Shaghir 1/288;
Mawahibul Jalil 1/498. Dikutip dari Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah
31/48.

Kirim email ke