Pada intinya, trauma merupakan suatu kondisi yang tidak menyenangkan atau buruk 
yang datang secara spontanitas dan merusak seluruh sendi/fungsi pertahanan diri 
individu, sehingga membuat individu tidak berdaya dalam mengendalikan dirinya. 
Dalam kajian psikologi dikenal beberapa jenis trauma sesuai dengan penyebab dan 
sifat terjadinya trauma, yaitu trauma psikologis, trauma neurosis, trauma 
psikosis, dan trauma diseases. Penjelasan singkat dari masing-masing trauma:
1.  Trauma Psikologis:
Trauma ini merupakan akibat dari suatu peristiwa/ pengalaman yang luar biasa, 
yang terjadi secara spontan (mendadak) pada diri individu tanpa berkemampuan 
untuk mengontrolnya (loss control and loss helpness) dan dapat merusak fungsi 
ketahanan mental individu secara umum. Akibat dari jenis trauma ini dapat 
menyerang individu secara menyeluruh (fisik dan psikis).
2.  Trauma Neurosis:
Trauma ini merupakan suatu gangguan yang terjadi pada saraf pusat (otak) 
individu, akibat benturan-benturan benda keras atau pemukulan di kepala. 
Implikasinya, kondisi otak individu mengalami pendarahan, iritasi, dsb. 
Penderita trauma ini biasanya saat terjadi tidak sadarkan diri, hilang 
kesadaran, dsb
3.  Trauma Psychosis:
Trauma psikosis merupakan suatu gangguan yang bersumber dari kondisi atau 
problema fisik individu, seperti cacat tubuh, amputasi salah satu anggota 
tubuh, dsb. ––yang menimbulkan shock dan gangguan emosi. Pada saat-saat 
tertentu gangguan kejiwaan ini biasanya terjadi akibat bayang-bayang pikiran 
terhadap pengalaman/ peristiwa yang pernah dialaminya, yang memicu timbulnya 
histeris atau fobia.
4.  Trauma Diseases:
Gangguan kejiwaan jenis ini oleh para ahli ilmu jiwa dan medis dianggap sebagai 
suatu penyakit yang bersumber dari stimulus-stimulus luar yang dialami individu 
secara spontan atau berulang-ulang, seperti keracunan, terjadi pemukulan, 
teror, ancaman, dsb.
 
Perlu diketahui, kondisi trauma yang dialami orang (anak, remaja dan dewasa), 
memiliki sifatnya masing-masing sesuai dengan pengalaman, peristiwa atau 
kejadian yang menyebabkan rasa trauma. Ada trauma yang bersifat ringan, 
sedang/menengah dan trauma berat. Kondisi trauma yang ringan, biasanya 
perkembangannya tidak berlarut-larut, mudah diatasi dan hanya dalam batas waktu 
tertentu saja serta penanganannya tidak membutuhkan waktu lama, demikian pula 
halnya dengan kondisi trauma yang bersifat sedang atau menengah. Namun, jika 
keadaan trauma yang dialami individu bersifat berat, ini biasanya agak sulit 
ditangani dan membutuhkan waktu yang lama dalam penyembuhan. Dalam situasi ini, 
dibutuhkan penanganan yang berkelanjutan, penuh kesabaran, penuh keikhlasan dan 
betul-betul ada kesadaran dari para profesional (orang-orang yang terlatih) 
untuk menanganinya secara baik. Tentunya dalam hal penerapan metode dan 
pendekatan, harus berorientasi pada budaya, tradisi,
 tata nilai dan moralitas sosial penderita trauma.
 
Nah, sebenarnya, saya memiliki beberapa pertanyaan, seperti data biografis 
(usia, ttl, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, status pernikahan, dll) orang 
menderita trauma, bagaimana trauma yang dimaksud, dan bagaimana nasehat yang 
dimaksudkan pula untuk diberikan.  Jadi, butuh data yang “cukup” dulu untuk 
menjawab pertanyaan Ukhti Anik dengan efektif.
 
Namun, saya tetap akan mencoba menjawab secara psikologis praktis bagaimana 
‘menasehati’ seseorang, terlepas apakah benar orang yang dinasehati mengalami 
trauma atau tidak dan bagaimana trauma yang dimaksud. Jadi, untuk kata “trauma” 
saya ganti dengan “masalah” (tentunya yang saya maksud adalah masalah yang 
cukup berat dan menganggu).
 
Dalam banyak kasus, seseorang ‘bermasalah’ merasa butuh untuk dapat menerima 
kondisinya dulu serta merasa bahwa kondisinya dapat diterima oleh orang lain. 
Jadi, ketika ingin menolong orang yang berada dalam kondisi tersebut, bukan 
nasehat yang mereka butuhkan dari orang lain, melainkan penerimaan, pengertian, 
empati (Setelah seseorang merasa diterima oleh orang lain yang ingin membantu 
dan ia ingin menerima bantuan tersebut, perlahan-lahan, kita baru dapat 
‘menasehati’ orang tersebut). Nah, semuanya butuh proses.
 
Orang yang berada dalam kondisi ini, kondisinya tidak stabil dan tidak dapat 
langsung dihadapkan dengan fakta-fakta, cara berpikir yang ’logis’ ataupun 
nasehat-nasehat tentang nilai-nilai (termasuk nilai agama)
>>mungkin bisa, namun sulit.
 
Coba Anda keluarkan emosinya terlebih dahulu, misalnya, berikan waktu/ katakan 
padanya untuk menangis, marah, atau berteriak saja jika diperlukan, (mungkin 
sekitar sepuluh menit). Kemudian berikan rileksasi (setidaknya tarik nafas 
dalam2 dan hembuskan perlahan, 3x) dan sugesti positif (misalnya, tangisan yang 
tadi Anda keluarkan sebenarnya membantu Anda untuk dapat lebih menenangkan 
diri, dan sekarang kondisi Anda sudah jauh lebih baik dari sebelumnya). 
Kemudian tanyakan bagaimana perasaannya, apakah ingin mengobrol atau sendirian 
dulu. Yakinkan pula bahwa penting baginya untuk bercerita dan Anda bersedia 
untuk mendengarkan karena Anda sangat ingin dapat membantunya. Setelah ia siap 
untuk bercerita, barulah dengarkan. Dengarkan saja. Ketika ada 
pendapat-pendapat yang Anda rasa tidak sesuai, terima duluuuu saja. Setelah ia 
puas untuk bercerita, coba ceritakan apa yang Anda tangkap, liat responnya, 
kemudian baru Anda patahkan pikiran-pikiran yang
 ’salah’ (pikiran yang salah, misalnya: ingin mati saja/bunuh diri, merasa diri 
tidak lagi berharga, merasa tidak memiliki siapapun lagi di dunia ini, tidak 
ada lagi yang dapat dilakukan, atau pikiran2 lain yang merusak diri) dengan 
penyampaian yang baik. Penyampaian yang baik itu yang bagaimana, hmmmph.. sulit 
juga dijelaskan. Tapi pada dasarnya, ketika Anda menyampaikan suatu kalimat, 
pastikan orang itu tidak merasa sakit hati sehingga malah berbalik menjauhi 
Anda dan tidak mau menerima nasehat apapun dari Anda, sampaikan dengan 
pelan-pelan saja. Wallohu alam. Hal yang sangat penting, terus ingatkan dan 
kuatkan orang tersebut untuk terus mendekatkan diri pada Alloh, untuk bersabar 
atas semua yang terjadi, dan bersyukur untuk ’kelebihan’/ ’hal positif’ atau 
’keberuntungan’ yang tetap ia miliki saat ini, sekecil apapun itu (tanyakan 
saja saat ini hal positif apa yang ia miliki, bisa dari aspek fisik, psikis, 
harta, spiritual, dll). Kalo
 masalahnya berat, saya sarankan untuk datang ke tenaga ahli/ profesional. 
Oiya, dukungan psikis dari keluarga (kalo ada keluarganya) sangat membantu. 
Wallohu a’lam, semoga bermanfaat.
--- On Wed, 11/24/10, Dr.Salamun Sastra <[email protected]> wrote:


From: Dr.Salamun Sastra <[email protected]>
Subject: RE: [assunnah] OOT : Mensihati orang yang trauma
To: [email protected]
Date: Wednesday, November 24, 2010, 6:23 PM


 



Wassalamualaikum wr wb
sdri Anie, kalau betul kondisinya orang dengan trauma (karena saya tidak faham, 
anda memiliki latar
berlakang pendidikan apa (keguruan/psikologi/kedokteran/keperawatan/konseling); 
tidak lain karena
trauma itu harus didefinisikan dengan baik (Ketiban balok itu trauma fisik, 
kecelakaan LL itu trauma llalulintas,
ditinggal istri/suami tanpa sebab yang benar itu trauma keluarga).
Harus hati-hati....!!!!
Nah terangkan dulu kejadiannya, baru kami dapat menjeklaskan bagaimana 
mengatasinya.
Contoh: suami ditinggal istrinya dengan istri ditinggal suaminya itu sudah 
suatu keadaan yang sangat berbeda.
Kami dari profesi ingin membantu dengan sesungguhnya dan tepat (!).
Wassalam
Prof DR Dr KH Salamun Sastra

To: [email protected]
From: [email protected]
Date: Tue, 23 Nov 2010 17:35:39 +0800
Subject: [assunnah] OOT : Mensihati orang yang trauma
Maaf,mohon sarannya gimana menasehati orang yg trauma.wassalamu'alaykum 
warahmatullahi wabarakatuh wa jazaakumullahu khayron.









      

Kirim email ke