Bismillaah Mm, ternyata masih dalam usia sekolah ya.. Maaf juga kalo penjelasan saya sebelumnya masih bersifat teoretis dan sulit dipahami. Iya, sepertinya memang trauma kalau begitu. 3x ditabrak motor dalam jangka waktu hanya 20 hari memang merupakan pengalaman tidak menyenangkan yang berulang. Saya mungkin cukup memahami bagaimana penghayatannya, meskipun penghayatannya tersebut bisa jadi ada yang keliru, sehingga tidak berani ke sekolah lagi. Mengingat sudah tidak ke sekolahnya mungkin hampir 3 minggu atau sebulan (perkiraan saya), lama juga ya.. Bagaimanapun, kondisi ini tidak layak dipertahankan. Wallohu a'lam Lagi-lagi, banyak pertanyaan untuk anamnesa (mendapatkan data yang lengkap sebelum menegakkan diagnosis dan memberikan treatment), sebenarnya:
Usianya berapa tahun? Jenis kelamin? Pendidikan? Pas kecelakaan, sedang jalan kaki atau bagaimana? Bagaimana dampak/luka2 yang dimiliki? Phobia kah? dll Bagaimana reaksi keluarga, sekolah atau lingkungan sosial terhadapnya ketika dan setelah kecelakaan? (dibujuk dengan bagaimana?) Bagaimana pandangannya terhadap kecelakaan tersebut? Ada masalah lain kah di sekolah, sebenarnya? Sebelumnya, pnah mengalami hal yang sama kah? Ketika ada masalah, biasanya bagaimana cara mengatasinya? Kira2 seperti apa sifat atau kepribadiannya? Bagaimana pola asuh orang tua/lingkungan selama ini? dll Mungkin Mba Anie juga nggak tau jawabannya.. tak apa.. Ga perlu minta maaf, saya udah salut sekali karena Mba mau memikirkan temannya.. Hanya saja, jawaban saya mungkin cukup panjang karena mencakup beberapa kemungkinan yang saya juga tidak tau yang mana yang sebenarnya terjadi.. Baiklah, ketika ingin menasehati, sebenarnya, setelah menanyakan perasaannya selama ini (pas ditabrak, setelah ditabrak kedua, ketiga, setelah ga masuk 2 bulan ke sekolah), coba tanyakan lagi, alasannya apa nggak mau ke sekolah lagi dan bagian mana dari perjalanan ke sekolah yang membuatnya takut untuk pergi ke sekolah kembali. (FYI: Perlu ditanyakan karena sepertinya ada beberapa kemungkinan, 1. apakah ia takut sengaja ditabrak oleh orang lain 2. ketika melewati jalan yang sama, pengalaman ditabraknya muncul kembali sehingga merasakan sakit yang sama 3. benar2 takut mengalami peristiwa ditabrak lagi atau kemungkinan lain). Oya, ada perubahan fisik pasca kecelakaan, tidak? Misalnya cacat bagian tubuh tertentu atau lainnya...? Kalau ada, mungkin ia merasa malu juga, sedih, dll. Coba tanyakan juga, (ketika kondisinya tenang untuk ditanya2), kira2 apa yang menyebabkan ia bisa mengalami ditabrak 3x, (FYI: apakah mungkin ia nggak konsentrasi di jalan, ada yang sengaja mengincar, atau murni kecelakaan) Apapun jawabannya, coba arahkan secara tidak langsung, kok mpe sekarang masih bisa hidup? Masih bisa bernafas, masih bisa tinggal di rumah, dll. Dengan keadaan seperti ini, terpikir tidak, kalo sebenarnya ia masih punya kesempatan untuk sekolah lagi kalau mau. Kalo soal nyawa, emm, apakah seseorang yang hanya di rumaah saja, sudah pasti akan selalu hidup...ga akan merasakan rasa sakit.. kalo nggak sekolah, gimana teman-temannya.. gimana juga masa depannya.. atau apa yang mau dilakukan...apa iya, ia akan merasa bahagia dan senang nggak melanjutkan sekolah.. padahal kita kan nggak tau umurnya sampe kapan, padahal masih punya banyak modal untuk pergi ke sekolah.. Atau apakah sebenarnya, ia memiliki masalah lain di sekolah yang membuatnya kehilangan motivasi ke sekolah? (jadi masalahnya bukan karena kecelakaan itu, tapi lebih karena faktor sesuatu yang ada di sekolah yang kita tidak tau).. Misalnya, tidak suka dengan guru, teman, tertekan dengan pelajaran yang tidak dikuasai, ujian, takut masuk sekolah lagi karena banyak pelajaran yang tertinggal, harus ikut ujian susulan, dll. Banyak kemungkinan memang.. Selama ini, bagaimana peran orang tua dan pihak sekolah, misalnya guru.. Dukungan keluarga, guru, teman-teman, sangat membantu lho.. Ingatkan ia juga, apa2 saja yang membuatnya senang di sekolahnya dulu. Bisa tidak, pas berangkat ke sekolah, ajak berangkat bareng2, ganti rute jalan atau rute angkot kalo ada. Kalau tidak ada jalan lain juga, coba ganti jam berangkat ke sekolah. Atau bisa juga ajak jalan2 ke sekolahnya di hari libur. Mulai dari jarak terdekat dulu, trus balik lagi ke rumah, dll.Banyak cara sebenarnya, tapi saya tidak tau yang mana yang tepat untuk teman Ukh Anie. Sebenarnya, lebih tepat kalo ada orang dewasa (Minta bantuan guru Mba Anie juga, gimana? guru BK, mungkin.. atau wali kelas/guru lain yang paham kondisinya). Kalau perlu, bisa kasih semacam tantangan, yang melibatkan hadiah, atau malah hukuman yang sesuai. Terkadang, keberanian muncul karena terpaksa. Yang terpenting, ingatkan ia juga untuk selalu bersabar, bersyukur, berdoa, takut boleh, tapi teruslah meminta perlindungan dari Alloh, dan tawakkal.. karena semuanya, Alloh yang mengatur, pasti ada hikmahnya. Kalaupun ia merasa memiliki kecemasan2 tertentu/rasa takut, coba yakinkan kalau ia nggak sendirian kok, banyak teman yang ingin membantu, keluarga dan teman2 juga pengen dan akan sangat senang kalo ia mau sekolah kembali. Ingatkan dia, dulu sebelum kecelakaan ke3, ia berani ke sekolah dua kali setelah kecelakaan yang pertama dan kedua, kan.. kok bisa.. Sekarang, bisa nggak dicoba lagi memunculkan keberanian itu lagi.. tentunya dengan persiapan2 dan khusnudzhon sama Alloh. Kalaupun, memang tidak mau sekolah lagi (tapi saya tidak yakin temannya seperti ini) arahkan temannya (mungkin sangat baik dg melibatkan peran orang tua/guru) untuk memikirkan apa yang akan ia lakukan saat ini dan bagaimana ia merancang masa depannya. Jadi, temannya tetap produktif atau melakukan hal yang bermanfaat.meskipun tidak melanjutkan sekolah. Barokalloh.. --- On Thu, 11/25/10, anie salamah <[email protected]> wrote: From: anie salamah <[email protected]> Subject: RE: [assunnah] OOT : Mensihati orang yang trauma To: "assunnah" <[email protected]> Date: Thursday, November 25, 2010, 6:39 AM Maaf,dia anak petani..,dan masalahnya krn dalam waktu 20 hari ketika ke skolah ia ditabrak org 3x dng speda motor.itu udah 2bln yg lalu.udah dibujuk dgn cara apapun,ia tetap tk mau skolah lagi dgn alasan tkut kejadian itu terulang.maaf krn saya hanya bantu teman dan tak tau langsung keadaan ini.itulah cerita dari ibu dia.mohon maaf. From: Dr.Salamun Sastra <[email protected]> Subject: RE: [assunnah] OOT : Mensihati orang yang trauma To: [email protected] Date: Wednesday, November 24, 2010, 6:23 PM Wassalamualaikum wr wb sdri Anie, kalau betul kondisinya orang dengan trauma (karena saya tidak faham, anda memiliki latar berlakang pendidikan apa (keguruan/psikologi/kedokteran/keperawatan/konseling); tidak lain karena trauma itu harus didefinisikan dengan baik (Ketiban balok itu trauma fisik, kecelakaan LL itu trauma llalulintas, ditinggal istri/suami tanpa sebab yang benar itu trauma keluarga). Harus hati-hati....!!!! Nah terangkan dulu kejadiannya, baru kami dapat menjeklaskan bagaimana mengatasinya. Contoh: suami ditinggal istrinya dengan istri ditinggal suaminya itu sudah suatu keadaan yang sangat berbeda. Kami dari profesi ingin membantu dengan sesungguhnya dan tepat (!). Wassalam Prof DR Dr KH Salamun Sastra To: [email protected] From: [email protected] Date: Tue, 23 Nov 2010 17:35:39 +0800 Subject: [assunnah] OOT : Mensihati orang yang trauma Maaf,mohon sarannya gimana menasehati orang yg trauma.wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh wa jazaakumullahu khayron.
