BAHAYA MENCEMOOH AGAMA
Oleh
Ustadz Abu Isma’il Muslim Atsari
http://almanhaj.or.id/content/3017/slash/0
Diantara sifat orang beriman adalah mengagungkan Allah dan
mengagungkan apa-apa yang diagungkan oleh Allah. Allah Subhanahu wa
Ta'ala berfirman:
وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ
Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan
syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati.
[Al Hajj:32]
Namun di zaman ini, banyak orang meremehkan, merendahkan, dan
memperolok-olok sesuatu yang berkaitan dengan agama. Hal ini merupakan
perkara yang sangat berbahaya. Maka sepantasnya seseorang mengetahui
bahaya istihza’ terhadap agama.
Istihza’, artinya: mengejek, memperolok-olok, atau mencemooh. Istihza’
terhadap Allah, ayat-ayatNya, RasulNya, agamaNya, dan istihza’ kepada
orang-orang yang beriman, merupakan perilaku orang kafir, dan termasuk
perkara yang menyebabkan murtad jika dilakukan oleh orang Islam.
ISTIZHA’ TERHADAP ALLAH
Allah berfirman.
وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ
قُلْ أَبِاللهِ وَءَايَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِءُونَ
Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan
itu), tentu mereka akan menjawab: "Sesungguhnya kami hanya bersenda
gurau dan bermain-main saja". Katakanlah:"Apakah dengan Allah,
ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?[At Taubah:65].
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan, bahwa
semata-mata istihza’ terhadap Allah merupakan kekafiran, istihza’
terhadap Rasul merupakan kekafiran, dan istihza’ terhadap ayat-ayat
Allah juga merupakan kekafiran. Istihza’ terhadap perkara-perkara di
atas saling berkaitan.[1]
Sebab turunnya ayat ini, Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'anhu berkata:
Pada suatu hari, di satu majelis dalam perang Tabuk, seorang laki-laki
berkata “Aku tidak pernah melihat semisal para qari’ (ahli Al Qur’an
atau ahli agama) kita ini, lebih rakus perutnya, lebih dusta lidahnya,
dan lebih penakut di saat pertempuran”. Lalu seorang laki-laki di
majelis itu berkata: “Engkau dusta, tetapi engkau seorang munafik. Aku
benar-benar akan memberitahukan kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam.” Dan Al Qur’an turun.
Abdullah bin Umar berkata: “Maka aku melihat laki-laki itu bergantung
pada kendali onta Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, batu-batu
melukai kakinya, dan dia mengatakan: “Wahai, Rasulullah. Sesungguhnya
kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. Rasulullah, berkata:
“Katakanlah: Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu
selalu berolok-olok?” [At Taubah:65] [2]
Istihza’ yang mereka lakukan di atas menyebabkan kemurtadan mereka,
sebagaimana pada ayat berikutnya:
لاَ تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ
Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah keimanan
kamu. [At Taubah:66].
Sebagian orang berpendapat, mereka itu semenjak awalnya adalah
orang-orang munafik. Namun pendapat ini tidak kuat.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Pendapat orang
yang mengatakan tentang semisal ayat-ayat ini bahwa mereka telah kafir
sesudah keimanan mereka dengan lidah mereka, sedangkan hati mereka
kafir semenjak awal; pendapat ini tidak benar. Karena iman dengan
lidah bersamaan dengan kekafiran hati, berarti kekafiran selalu
menyertainya, sehingga tidak dikatakan: “kamu telah kafir sesudah
keimanan kamu”, karena hakikatnya mereka terus sebagai orang kafir.
Dan jika dimaksudkan “bahwa kamu menampakkan kekafiran setelah kamu
menampakkan keimanan”, maka mereka itu tidaklah menampakkan kekafiran
kepada semua manusia, kecuali kepada orang-orang dekat mereka. Mereka
bersama orang-orang dekat mereka selalu begitu. Bahkan (yang benar),
ketika mereka berbuat nifak dan takut akan diturunkan terhadap mereka
surat yang menerangkan kemunafikan yang tersembunyi di dalam hati
mereka, mereka(pun) berbicara dengan istihza’. Mereka menjadi
orang-orang kafir setelah keimanan mereka. Lafazh itu tidak
menunjukkan bahwa mereka munafik semenjak dahulu”.[3]
ISTIZHA’ TERHADAP AYAT
Ini merupakan perbuatan orang kafir yang akan mendapatkan siksa yang
pedih! Allah berfirman:
وَيْلٌ لِّكُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ يَسْمَعُ ءَايَاتِ اللهِ تُتٍلَى
عَلَيْهِ ثُمَّ يُصِرُّ مُسْتَكْبِرًا كَأَن لَّمْ يَسْمَعْهَا
فَبِشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ وَإِذَا عَلِمَ مِنْ ءَايَاتِنَا شَيْئًا
اتَّخَذَهَا هُزُوًا أُوْلَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ
Kecelakaan yang besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta
lagi banyak berdosa, dia mendengar ayat-ayat Allah yang dibacakan
kepadanya kemudian dia tetap menyombongkan diri seakan-akan dia tidak
mendengarnya. Maka beri khabar gembiralah dia dengan adzab yang pedih.
Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka
ayat-ayat itu dijadikan olok-olok. Merekalah yang memperoleh adzab
yang menghinakan. [Al Jatsiyah:7-9]
.
Allah k telah melarang umat Islam duduk bersama orang-orang kafir yang
sedang memperolok-olok ayat-ayatNya. Allah berfirman.
وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ
ءَايَاتِ اللهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلاَ تَقْعُدُوا
مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا
مِّثْلُهُمْ إِنَّ اللهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي
جَهَنَّمَ جَمِيعًا
Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa
apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan
(oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka,
sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya
(kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka.
Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan orang-orang munafik dan
orang-orang kafir di dalam jahannam. [An Nisa’:140]
Oleh karena itu, barangsiapa mendengar orang-orang yang
memperolok-olok ayat-ayat Alloh, sedangkan dia duduk bersama mereka
dengan ridha, maka dia semisal mereka di dalam dosa, kekafiran, dan
keluar dari Islam.
Imam Asy Syafi’i rahimahullah ditanya tentang orang yang
bersendau-gurau dengan sesuatu dari ayat-ayat Allah, beliau berkata:
“Dia kafir”. Beliau berdalil dengan ayat 65 surat At Taubah yang telah
kami sebutkan di atas. [4]
ISTIZHA’ TERHADAP RASUL
Demikian juga istihza’ terhadap Rasul, merupakan kebiasaan orang-orang
kafir semenjak dahulu. Allah berfirman.
وَلَقَدِ اسْتُهْزِئَ بِرُسُلٍ مِّن قَبْلِكَ فَحَاقَ بِالَّذِينَ
سَخِرُوا مِنْهُم مَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِءُونَ
Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa rasul sebelum kamu, maka
turunlah kepada orang-orang yang mencemoohkan diantara mereka balasan
(adzab) olok-olokkan mereka. [Al An’am:10].
Adapun orang yang hatinya terdapat keimanan, tidak mungkin mencela dan
memperolok-olok manusia pilihan Allah; manusia yang wajib dicintai,
dihormati, dan diagungkan sesuai dengan kedudukannya yang agung di
sisi Allah.
ISTIZHA’ AGAMA
وَإِذَا نَادَيْتُمْ إِلَى الصَّلاَةِ اتَّخَذُوهَا هُزُوًا وَلَعِبًا
ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمُُ لاَّ يَعْقِلُونَ
Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) shalat, mereka
menjadikan buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena
mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal. [Al
Maidah:58].
Istihza’ terhadap agama juga merupakan kekafiran. Seperti istihza’
terhadap pahala dan siksa Allah, istihza’ terhadap shalat, istihza’
terhadap syari’at memelihara lihyah (jenggot dan jambang) bagi
laki-laki, istihza’ terhadap larangan isbal (pakaian laki-laki
menutupi mata kaki), dan lainnya.
ISTIZHA’ ORANG BERIMAN
Hai ini juga merupakan kebiasaan orang-orang kafir. Mereka akan
mengetahui balasannya di hari kiamat kelak. Mereka biasa menertawakan
orang-orang yang beriman di dunia, karena keimanan mereka, maka
orang-orang beriman akan membalas menertawakan mereka. Allah
berfirman.
إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ ءَامَنُوا
يَضْحَكُونَ {29} وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang berdosa adalah mereka yang dahulunya (di
dunia) menertawakan orang-orang yang beriman. Apabila orang-orang
beriman berlalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan
matanya. [Al Muthaffifin:29-30]
BENTUK ISTIHZA’
Dilihat dari bentuknya, sebagian ulama membagi istihza’ terhadap agama
menjadi dua bagian.
Pertama. Istihza’ Sharih (nyata, terang-terangan). Contohnya:
• Perkataan orang yang menjadi sebab turunnya ayat 65 surat At Taubah,
yang mengatakan tentang Nabi dan para sahabat dengan perkataan: “Aku
tidak pernah melihat semisal para qari’ (ahli Al Qur’an atau ahli
agama) kita ini, lebih rakus perutnya, lebih dusta lidahnya, dan lebih
penakut di saat pertempuran”.
• Mengejek agama dengan perkataan “agama kamu ini agama ke lima”.
• Mengejek agama dengan perkataan “agama kamu ini sudah usang (kuno)”.
• Ketika melihat orang beramar ma’ruf nahi munkar, mengatakan “datang
ahli agama”, “datang orang ‘alim”, yang maksudnya untuk merendahkan
dan menertawakan. Dan semacamnya.
Kedua. Istihza’ Ghairush Sharih (tidak nyata, tidak terang-terangan). Contohnya:
• Mengedipkan mata, menjulurkan lidah, mencibirkan bibir, mencubit
dengan tangan, saat dibacakan Al Qur’an atau hadits Nabi atau ketika
seseorang melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar.
• Mengatakan “agama Islam tidak pantas pada abad ini, hanya pantas
untuk abad pertengahan, abad onta”.
• Mengatakan “agama Islam agama kemunduran, terbelakang”.
• Mengatakan “hukuman dalam agama Islam kejam, biadab, buas, dan semacamnya”.
• Mengatakan “agama Islam menzhalimi wanita, karena membolehkan poligami”.
• Perkataan “hukum buatan manusia lebih baik dari pada hukum Islam”.
• Terhadap orang yang mendakwahkan tauhid dan melarang syirik
mengatakan “orang ini ekstrimis, fundamentalis”, atau “orang ini ingin
memecah-belah umat Islam”, atau “orang ini Wahhabi”, dan semacamnya.
• Terhadap orang yang menyerukan Sunnah Nabi mengatakan “agama bukan
pada rambut”, atau “agama bukan pada pakaian”, atau semacamnya. [5]
Sebagai penutup tulisan ini, kami sampaikan firman Allah yang
memberitakan tentang balasan pedih terhadap orang-orang yang
menjadikan ayat-ayat Allah sebagai ejekan. Allah berfirman.
وَقِيلَ الْيَوْمَ نَنسَاكُمْ كَمَا نَسِيتُمْ لِقَآءَ يَوْمِكُمْ هَذَا
وَمَأْوَاكُمُ النَّارُ وَمَالَكُم مِّن َّناصِرِينَ , ذَلِكُم
بِأَنَّكُمُ اتَّخَذْتُمْ ءَايَاتِ اللهِ هُزُوًا وَغَرَّتْكُمُ
الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَالْيَوْمَ لاَيُخُرَجُونَ مِنْهَا وَلاَهُمْ
يُسْتَعْتَبُونَ ,
Dan dikatakan (kepada mereka):"Pada hari ini Kami melupakan kamu
sebagaimana kamu telah melupakan pertemuan (dengan) harimu ini dan
tempat kembalimu ialah neraka dan kamu sekali-kali tidak memperoleh
penolong. Yang demikian itu, karena sesungguhnya kamu menjadikan
ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan dan kamu telah ditipu oleh
kehidupan dunia, maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari
neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertaubat. [Al
Jatsiyah:34-35].
Semoga Allah selalu membimbing kita di atas kebenaran.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun VIII/1425H/2004M
Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi
Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]
------------------------------------
Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/assunnah/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/