PENTINGNYA TAUHID ASMA’ DAN SIFAT
Oleh
Dr. Muhammad bin Khalifah At Tamimi
http://almanhaj.or.id/content/3027/slash/0

Sesungguhnya, termasuk yang penting bagi seorang pencari kebenaran, sebelum
mempelajari sisi-sisi tauhid yang rinci dan mendetail dari Asma’ dan Sifat,
hendaklah ia mengerti pentingnya tauhid ini, kedudukan, peranannya secara
khusus dan dalam seluruh sisi agama ini secara umum.

Pembentukan pemahaman tentang penting dan agungnya kedudukan tauhid Asma' wa
Sifat dalam benak seorang muslim, dengan izin Allah, manfaatnya akan kembali
kepada diri seorang muslim dalam mengimani Allah Azza wa Jalla. Sehingga
dapat menekuni sisi ini sesuai dengan proporsi kepentingan yang semestinya.
Demikian pula dapat menambah kesenangannya untuk mempelajari, menekuni dan
membahas masalah Asma' wa Sifat dengan segala cabangcabangnya, dimana
seorang pencari kebenaran yang bersemangat meningkatkan ilmunya yang
bermanfaat, tidak dapat mengabaikan persoalan tauhid Asma' wa Sifat.

Hanya saja sangat disesalkan, sebagian orang mempunyai pandangan meremehkan
ketika melihat urgensi dan kedudukan tauhid ini. Mereka menyangka bahwa
membahas masalah ini, tidak lebih dari (sekedar) menyebutkan perbedaan
pendapat yang saling bertentangan tentang mana di antara nama dan
sifat-sifat Allah yang di akui adanya atau tidak diakui. (Menurut mereka),
perkaranya tidak melebihi hal itu dan tidak akan keluar darinya.

Perkataan dan pendapat demikian tidak akan lahir, kecuali dari salah satu di
antara dua jenis manusia. Mungkin dari orang bodoh (jahil) yang tidak
mengetahui bahwa dalam pembahasan ini terdapat masalah-masalah bermanfaat
dan memiliki tingkat kepentingan yang untuk memahami permasalahannya tidak
bisa diabaikan oleh seorang muslim.

Atau mungkin, dari orang yang menyimpang aqidahnya. Ia menyangka bahwa
perkara ini tidak bertentangan dengan yang diyakini ahli bathil, yang
(mereka itu), dalam permasalahan ini atau masalah lain tidak bernaung di
bawah terangnya cahaya Al Qur'an dan Sunnah. Sebagai akibatnya, ketika
mereka berbicara masalah (Asma' wa Sifat) ini, (pembicaraan mereka) tidak
keluar dari kerangka caci makian terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allah,
serta membuat keragu-raguan tentang Asma' dan Sifat tersebut atau tentang
sebagian besar darinya.

Oleh karena itu mereka enggan untuk memahaminya. Apalagi menerangkan
pembahasan yang terdapat disana, berupa peran dan kedudukannya dalam aqidah
seorang muslim dan keimanannya terhadap Allah

Dalam rangka membimbing pencari kebenaran dan mengajari orang-orang bodoh
yang lalai, serta mengajak orang-orang yang menyimpang, juga sebagai
pengingat kembali bagi orang alim, maka kami tulis bahasan ini, yang
mengisyaratkan sebagian dari yang terdapat dalam tauhid ini, yaitu berupa
faidah dan keistimewaan-keistimewaannya. Semoga Allah memberi manfaat dengan
tulisan ini kepada orang yang sudi mentelaah serta mengkajinya.

Maka dengan taufiq Allah, dan hanya kepada-Nya saya memohon pertolongan
serta kebenaran, saya ketengahkan secara ringkas apa yang ingin saya
sampaikan pada poinpoin berikut:

TAUHID ASMA’ WA SIFAT ADALAH SEPARUH BAB IMAN KEPADA ALLAH
Bagi seorang muslim, sungguh sangat jelas pentingnya iman kepada Allah.
Karena, rukun tersebut merupakan rukun iman pertama, bahkan terbesar.
Rukun-rukun selainnya mengikut kepadanya dan cabang dari padanya. Itulah
tujuan diciptakan makhluk, diturunkan kitab-kitab, diutus dan rasul-rasul,
serta agama ini dibangun di atasnya. Jadi, iman kepada Allah merupakan asas
segala kebajikan dan sumber hidayah serta sebab segala kebahagiaan.

Yang demikian itu, karena manusia sebagai makhluk yang diciptakan dan
dipelihara, segala ilmu dan amalnya kembali (tergantung) kepada pencipta dan
pemeliharanya. DariNya-lah petunjuk, untukNya beramal, dan kepadaNya akan
dikembalikan. Manusia tidak bisa bebas dariNya. Berpaling dariNya, berarti
kebinasaan dan kehancuran itu sendiri.

Seorang hamba tidak akan mendapat kebaikan dan tidak pula kebahagiaan,
kecuali dengan mengenal Rabb-nya dan beribadah kepadaNya. Bila ia melakukan
yang demikian itu, maka itulah puncak yang dikehendakiNya, yaitu untukNya ia
diciptakan. Adapun selain itu, mungkin suatu yang utama dan bermanfaat, atau
keutamaan yang tidak ada manfaatnya, atau suatu tambahan yang membahayakan.
Oleh karena itulah, dakwah para rasul kepada ummatnya adalah (menyeru) untuk
beriman kepada Allah dan beribadah kepadaNya. Setiap rasul memulai dakwahnya
dari hal itu, sebagaimana (dapat) diketahui dari sejarah dakwah para rasul
yang diterangkan dalam Al Qur’an.

Untuk memiliki kebahagiaan dan keselamatan serta keberuntungan, yaitu dengan
merealisasikan tauhid yang dibangun di atas keimanan kepada Allah. Dan untuk
mewujudkan keduanya, (maka) Allah mengutus utusanNya. Itulah yang
didakwahkan para rasul, dari yang pertama (Nuh) hingga yang terakhir
(Muhammad).

Pertama : Yaitu tauhid ‘ilmi khabari al i’tiqadi. Meliputi penetapan
sifat-sifat kesempurnaan Allah dan menyucikanNya dari segala penyerupaan dan
penyamaan, serta mensucikan dari sifat-sifat tercela.

Kedua : Yaitu beribadah kepadaNya saja, tidak menyekutukanNya dan memurnikan
kecintaan kepadaNya, serta mengikhlaskan kepadaNya perasaan khauf, raja’,
tawakal kepadaNya dan ridha terhadapNya sebagai Rabb, ilah dan wali. Tidak
menjadikan untukNya tandingan dalam perkara apapun.

Allah telah mengumpulkan kedua jenis tauhid ini dalam surat Al Ikhlas dan Al
Kafirun. Surat Al Kafirun mencakup ilmi khabari iradi dan surat Al Ikhlash
juga mencakup tauhid ilmi khabari.

Di dalam surat Al Ikhlash terdapat keterangan yang wajib dimiliki Allah,
yaitu berupa sifat-sifat sempurna. Juga menegaskan apa-apa yang wajib
disucikan dariNya, yaitu berupa sifat-sifat tercela dan penyerupaan. Adapun
surat Al Kafirun, menerangkan wajibnya beribadah hanya kepadaNya, tidak
menyekutukanNya dan berlepas diri dari segala peribadatan kepada selainNya.

Salah satu dari dua tauhid diatas tidak akan terjadi, kecuali bila disertai
tauhid yang satunya lagi. Oleh karena itu, Nabi sering membaca dua surat ini
dalam shalat sunnah Fajar, Maghrib dan Witir. Karena kedua kedua surat itu
merupakan pembuka amal dan penutup amal. Sehingga permulaan siang harinya
(dimulai) dengan tauhid dan ditutup dengan tauhid. [1]

Jadi, separuh (sebagian) tauhid yang dituntut dari seorang hamba, dan
separuhnya adalah tauhid Asma’ wa Sifat.

TAUHID ASMA’ DAN SIFAT, SECARA MUTLAK ADALAH ILMU YANG MULIA DAN PENTING
Sesungguhnya mulianya suatu ilmu, tergantung pada isi ilmu itu sendiri,
karena tingkat kepercayan seseorang pada dalil-dalil serta bukti-bukti
tentang adanya. Disamping isi ilmu itu amat perlu difahami dan sangat besar
manfaatnya bila difahami.

Tidak diragukan, bahwa sesuatu yang paling agung, paling mulia dan paling
besar untuk diketahui adalah tentang Allah. Dzat yang tidak ada sesuatupun
berhak diibadahi kecuali Dia, Rabb alam semesta, Pemelihara langit, Maha
Raja Yang Haq, yang disifati dengan semua sifat sempurna. Dzat yang Maha
Suci dari segala kekurangan dan cela, Maha Suci dari keserupaan serta
kesamaan dalam kesempurnaanNya. Maka tidak diragukan bahwa mengilmui
nama-nama dan sifat-sifat serta perbuatan-perbuatanNya merupakan pengetahuan
paling agung dan paling utama. [2]

Bila dikatakan bahwa ilmu adalah sarana bagi amal, ia dimaksudkan untuk
diamalkan, dan amal adalah tujuan ilmu. Padahal telah diketahui, tujuan
lebih utama dari sarana. Dengan demikian, bagaimana sarana lebih diutamakan
daripada tujuannya?

Perlu dijawab, masingmasing ilmu maupun amal dibagi menjadi dua. Diantaranya
ada yang menjadi sarana (wasilah), dan diantaranya ada yang menjadi tujuan
(ghayah). Jadi, tidak seluruh ilmu adalah sarana untuk mendapatkan yang
lainnya. Karena sesungguhnya ilmu tentang Allah, nama-nama dan
sifat-sifatNya adalah ilmu yang paling mulia secara mutlak. Jadi ilmu ini
adalah ilmu yang dituntut dan kehendaki itu sendiri. Allah berfirman.

اللهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ اْلأَرْضِ مِثْلَهُنَّ
يَتَنَزَّلُ اْلأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ
شَىْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَىْءٍ عِلْمًا

Allah yang telah menciptakan tujuh lapis langit dan bumi semisalnya.
PerintahNya berlaku padanya. Agar kamu mengetahui, bahwa Allah Maha Kuasa
atas segala sesuatu dan sesungguhnya Allah, ilmuNya benar-benar meliputi
segala sesuatu. [Ath Thalaq : 12].

Allah telah mengabarkan, bahwa Dia menciptakan langit dan bumi, dan
memberlakukan perintahNya kepadanya, supaya hamba-hambaNya mengetahui bahwa
Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Jadi, ilmu ini sebagai puncak (tujuan)
penciptaan yang dituntut (untuk diketahui). Allah berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لآإِلَهَ إِلاَّاللهُ

Ketahuilah, bahwasanya tidak ada yang diibadahi dengan benar, kecuali Allah.
[Muhammad : 19].

Jadi, mengilmui ke-Maha-Esaan Allah menjadi keharusan, dan tidak cukup
dengan itu saja, tetapi harus disertai dengan beribadah kepadaNya semata,
tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun. Keduanya adalah dua perkara
yang dituntut. Pertama, untuk mengenal Allah dengan namanama, sifat-sifat,
perbuatanperbuatan dan hukumhukumnya. Kedua, untuk beribadah sebagai
konsekwensi dan kewajibannya.

Jadi, mengilmui ke-Maha Esaan Allah menjadi keharuasan, dan tidak cukup
dengan itu saja, tetapi harus disertai dengan beribadah kepadaNya semata,
tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun. Keduanya adalah dua perkara
yang dituntut. Pertama, untuk mengenal Allah dengan nama-nama, sifat-sifat,
perbuatan-perbuatan dan hukum-hukumnya. Kedua, untuk beribadah sebagai
konsekwensi dan kewajibannya.

Jadi seperti halnya beribadah kepadaNya itu dituntut dan dikehendaki,
demikian pula mengilmui tentangNya, karena sesungguhnya ilmu termasuk
seutama-utama ibadah. [3]

TAUHID ASMA’ DAN SIFAT ADALAH DASAR ILMU AGAMA
Tauhid asma’, sifat dan af’al, adalah ilmu yang paling agung, paling mulia
dan paling mulia dan paling besar, yang merupakan ashlu (prinsip) agama.
Semua ilmu mengikut pada ilmu ini dan sangat membutuhkannya. Sehingga
mengilmui tentangnya termasuk prinsip keilmuan dan permulaannya. Karena,
barangsiapa mengenal Allah, maka akan mengenal yang lainnya. Dan barangsiapa
yang tidak mengenal Rabb-nya, maka terhadap yang lainnya (pun) dia tidak
lebih mengetahui. Allah berfirman,

وَلاَتَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللهَ فَأَنسَاهُمْ أَنفُسَهُمْ أُوْلَئِكَ
هُمُ الْفَاسِقُونَ

Dan janganlah engkau menjadi seperti orang-orang yang melalaikan Allah, lalu
mereka melalaikan diri mereka sendiri. [Al Hasyr : 19].

Amatilah ayat ini, engkau akan mendapatkan makna yang mulia dan agung.
Yaitu, barangsiapa yang melalaikan diri dan pribadinya, sehingga ia tidak
mengetahui hakikat dirinya dan tidak pula (mengetahui) kemaslahatan dirinya.
Bahkan melalaikan kemaslahatan dan kebahagiaan dirinya di dunia dan di
akhirat. Karena ia (telah) keluar dari fitrah, yang untuk itu ia diciptakan.
Sehingga, karena ia melalaikan Rabb-nya, maka dilalaikanlah dia dari
dirinya, sifatnya, (dilalaikan dari) apa saja yang dapat menyempurnakan diri
dan membersihkan dirinya, serta apa saja yang dapat membahagiakan dirinya
dalam kehidupan dunia dan akhiratnya. Allah berfirman,

وَلاَتُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ
وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

Dan janganlah engkau mentaati orang-orang yang Kami lalaikan hatinya dari
mengingat Kami dan mengikuti hawa nafsunya, dan adalah keadaannya melewati
batas. [Al Kahfi:28]

Jadi, lalai dari mengingat Rabb-nya akan mengakibatkan persoalan diri dan
hatinya melampui batas. Sehingga ia terpalingkan dari menadapatkan
kemaslahatan, kesempurnaan, dan apa yang dapat membersihkan jiwa dan
hatinya. Bahkan yang demikian itu (dapat) mencabik-cabik hati dan
menghancurkannya, membingungkannya dan tidak mengetahui jalan.

Begitulah, ilmu tentang Allah adalah pangkal semua ilmu. Dan ilmu ini
merupakan pangkal ilmu pengetahuan seorang hamba tentang kebahagiaannya,
kesempurnaanya, kemaslahatan dunia dan akhiratnya.

Sedangkan tidak berilmu tentang Allah, akan mengakibatkan kebodohan terhadap
dirinya, kemaslahatannya, kesempurnaannya, dan apa saja yang dapat
membersihkan serta membahagiakan dirinya. Maka memahami Allah, berarti
kebahagiaan bagi seorang hamba. Dan bodoh terhadapNya berarti pangkal
kebinasaan baginya. [4]

(Naskah yang diterjemahkan oleh Abu Hawari ini, merupakan nukilan dari kitab
Mu’taqad Ahlu Sunnah Wal Jama’ah Fi Tauhid As Asma’ Wa As Sifat, karya Dr.
Muhammad bin Khalifah At Tamimi, Cet. Dar Al Hariri, Qahirah, hlm. 7-13)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun VIII/1425H/2004M Diterbitkan
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton
Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]


------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke