Subhanallah, faedah tambahan yang bermanfaat. Jazakallahu khairan Abu
Kayyisa..Barakallaahu fiik..
--
Powered by al-Ghuroba'®
On 14/04/2011 12:08, zak1rach wrote:
Bismillah
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Pembahasan pertama dan kedua,
Semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan kepada kita untuk
senantiasa belajar dan beramal sesuai dengan Al-Qur-an dan Sunnah
Ash_Shohihah, berikut ini saya sampaikan petikan pembahasan dari Kitab
Tamamul Minnah Fi Ta'liq 'ala Fiqhis Sunnah oleh Syaikh Muhammad
Nashiruddin al-Albani hal. 144 cet. Dar Ar-Raayah 1426 H. (lihat
gambar 2) yang membahas tentang bab adzan, dimana beliau rahimahullah
memberikan dalil yang kuat tentang wajibnya adzan dan iqamah bagi
wanita, ini hanya berlaku apabila semua jama'ahnya adalah wanita dan
tidak mendengar suatu adzan pun dari seorang muadzin laki-laki. dan
insya Allah akan dibahas secara panjang lebar dalam seri-seri mendatang.
*ومن ( الأذان ) قوله : " وهو واجب أو مندوب**"*
***قلت : لعل المؤلف حفظه الله تعالى لم تتح له الفرصة ليحقق القول ويبين
الحق من القولين وإلا فإن القول بأن الأذان مندوب لا نشك مطلقا في بطلانه
كيف وهو من أكبر الشعائر الإسلامية التي كان عليه الصلاة و السلام إذا لم
يسمعه في أرض قوم أتاهم ليغزوهم وأغار عليهم فإن سمعه فيهم كف عنهم كما
ثبت في " الصحيحين " وغيرهما وقد ثبت الأمر به في غير ما حديث صحيح
والوجوب يثبت بأقل من هذا فالحق أن الأذان فرض على الكفاية وهو الذي صححه
شيخ الإسلام ابن تيمية في " الفتاوى " ( 1 / 67 - 68 و4 / 20 ) بل وعلى
المنفرد كما يأتي*
***وسنذكر دليلا آخر على الوجوب في بحث " صلاة الجماعة " وقد ذكره
الشوكاني في " السيل الجرار " ( 1 / 196 - 197 ) مع أحاديث أخرى وختم ذلك
بقوله : " والحاصل أنه ما ينبغي في مثل هذه العبادة العظيمة أن يتردد
متردد في وجوبها فإنها أشهر من نار على علم وأدلتها هي الشمس المنيرة ثم
هذا الشعار لا يختص بصلاة الجماعة بل لكل مصل عليه أن يؤذن ويقيم لكن من
كان في جماعة كفاه****أذان****المؤذن لها وإقامته*
***ثم الظاهر أن****النساء****كالرجال لأنهن شقائق الرجال والأمر لهم أمر
لهن ولم يرد ما ينتهض للحجة في عدم الوجوب عليهن فإن الوارد في ذلك في
أسانيده متروكان لا يحل الاحتجاج بهم فإن ورد دليل يصلح لإخراجهن فذاك
وإلا فهن كالرجال**"*
*Tamamul Minnah hal 144, Bab Adzan*
Mu'alif (Syaikh Sayyid Sabiq Penulis Fiqhus Sunnah) berkata: "*Itu
wajib atau sunnah*" (lihat gambar 1) Saya (Syaikh Albani) berkata:
Mungkin mu'alif tidak sempat mengklarifikasi pernyataannya atau
menjelaskan mana yang benar dari kedua pernyataan itu. Jika beliau
memiliki kesempatan, maka pendapat disunnahkannya adzan tidak
diragukan lagi pasti akan gugur. Bagaimana tidak? Adzan itu merupakan
salah satu syi'ar Islam yang paling besar di mana Nabi
Shallallahu'alaihi wassalam sendiri jika tidak mendengar suara adzan
di daerah suatu kaum, maka beliau Shallallahu'alaihi wassalam akan
mendatangi untuk memerangi atau menyerang mereka, jika mendengarnya,
beliau Shallallahu'alahi wassalam menahan diri. Hal ini disebutkan
dalam ash-Shohihain dan yang lainnya.
Perintah adzan bukanlah berdasarkan hadits shohih. Kewajiban ini
ditetapkan oleh hadits di bawah tingkat shohih. Maka yang benar ialah
ketentuan hokum adzan itu fardhu kifayah. Ini yang dishohihkan oleh
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu' Fatawa (1/67-68 dan IV/20)
Bahkan sampai tingkat fardu 'ain, seperti yang dijelaskan nanti.
Saya (Syaikh Albani) akan menyebutkan dalil lain atas kewajiban adzan
ketika membahas "Sholat Jenazah". As-Syaukani telah menyebutkan pada
as-Sailul Jarrar (1/196-197) beserta hadits-hadits yang lainnya dan
menyudahinya dengan pernyataan: "Alhasil, semestinya tidak perlu ada
orang yang meragukan hukum wajib dari ibadah-ibadah besar seperti ini,
sebab ibadah seperti ini lebih terkenal/masyhur daripada api yang
berada di atas bendera dan dalil-dalilnya layaknya matahari yang
bersinar terang benderang. Kemudian syi'ar ini tidak dikhusukan bagi
sholat Jum'at saja namun bagi setiap orang yang akan shalatpun
hendaklah mengumandangkan adzan dan iqamah. Tapi dalam kondisi
berjama'ah cukuplah diadzani dan diiqamati oleh satu orang. Adapun
bagi kaum wanita secara lahiriyah sama seperti kaum laki-laki, mereka
layaknya saudara kandung bagi kaum laki-laki (maksudnya tidak ada
bedanya antara pria dan wanita dalam pembebanan syari'at kecuali ada
dalil yang mengecualikannya – LDDS). Suatu perkara yang disyariatkan
bagi pria adalah berlaku pula bagi wanita. Tidak ada dalil yang
mengarah kepada hujjah tidak diwajibkannya adzan atas kaum
wanita.*Hadits mengenai tidak diwajibkannya (adzan) bagi wanita
memiliki sanad-sanad yang matruk (ditinggalkan), karenanya tidak sah
apabila dijadikan hujjah. Jika ada suatu dalil yang layak untuk
mengeluarkan kaum wanita dari hukum asal maka bisa jadi itu menjadi
pengecualian. Tapi kalau tidak ada, maka kembali kepada kaidah
pembebanan syariat bagi Kaum wanita sama dengan kaum laki-laki.*
Ini adalah pembahasan yang/kedua/ dari judul diatas. LDSS kutipkan
dari Kitab " نظم الفرائد مما في سلسلتي الألباني من فوائد " لعبد
اللطيفNudzumul Fawaid Mimma Fi Silsilatai Al-Albani min Fawaid I/317
oleh Abdul Latif bin Ahmad bin Muhammad bin Abi Rabi' cet. Maktabah
Al-Ma'arif th. 1420 H
*Artinya*
Dari Asma' dia berkata, Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam bersabda:
/"Tidak ada ada adzan dan iqamah bagi wanita, tidak ada pula Sholat
Jum'at, tidak ada mandi (untuk sholat) Jum'at, tidak berlaku bagi
wanita untuk maju kedepan menjadi imam namun hendaknya (yang menjadi
imam bagi jama'ah wanita) berdiri di tengah"/
*Hadits ini Maudhu' /Palsu,*dicantumkan oleh Syaikh Al-Albani dalam
Silsilah Ahaadits adhDhoifah no. 879.
*Faidah:*
Yang benar dalam masalah ini sebagaimana dikatakan oleh Abu Thayyib
Shidiq Khan dalam kitab "Ar-Raudhah An-Nadiyah" I/79, "Adapun bagi
kaum wanita secara lahiriyah sama seperti kaum laki-laki, mereka
layaknya saudara kandung bagi kaum laki-laki (maksudnya tidak ada
bedanya antara pria dan wanita dalam pembebanan syari'at kecuali ada
dalil yang mengecualikannya – LDDS). Suatu perkara yang disyariatkan
bagi pria adalah berlaku pula bagi wanita. Tidak ada dalil yang
mengarah kepada hujjah tidak diwajibkannya adzan atas kaum
wanita.*Hadits mengenai tidak diwajibkannya (adzan) bagi wanita
memiliki sanad-sanad yang matruk (ditinggalkan), karenanya tidak sah
apabila dijadikan hujjah. Jika ada suatu dalil yang layak untuk
mengeluarkan kaum wanita dari hukum asal maka bisa jadi itu menjadi
pengecualian. Tapi kalau tidak ada, maka kembali kepada kaidah
pembebanan syariat bagi Kaum wanita sama dengan kaum laki-laki.*"
Pembahasan Ketiga
LDSS memberikan catatan terhadap seri 3 ini, bahwa apa yang difatwakan
oleh Syaikh Bin Baz adalah ilmu yang ilmiah, namun sebaik-baik
petunjuk adalah petunjuk dari Nabi Shallallahu'alaihi wassalam dimana
kita harus mencari mana yang rajih/yang lebih kuat dengan menimbang
keilmiahan dalil.
*APAKAH DISYARIATKAN ADZAN DAN IQAMAT BAGI KAUM WANITA*
Oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baaz
/Pertanyaan/
//Syaikh Abdul Aziz bin Baaz ditanya : Apakah di Syari'atkan adzan dan
iqamat bagi kaum wanita, baik sedang dalam perjalanan ataupun yang
tidak, dan saat sendiri ataupun sedang bersama-sama ?
/Jawaban/
//Tidak disyariatkan bagi kaum wanita untuk melaksanakan adzan dan
iqamat baik di dalam perjalanan ataupun tidak. Adzan dan iqamat
merupakan hal yang dikhususkan bagi kaum pria sebagaimana disebutkan
dalam hadits-hadits shahih dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
[Fatawa Muhimmah Tata'allaq bish Shalah, syaikh Ibnu Baaz, hal. 23.]
Pembahasan Keempat.
Semoga Allah senantiasa memberikan kepada kita istiqamah dalam
menuntut ilmu nafi' (yang bermanfaat) dan mengamalkannya. Ini adalah
pembahasan yang kedua dari judul diatas. LDSS kutipkan dari Kitab "
نظم الفرائد مما في سلسلتي الألباني من فوائد " لعبد اللطيفNudzumul
Fawaid Mimma Fi Silsilatai Al-Albani min Fawaid I/317 oleh Abdul La
tif bin Ahmad bin Muhammad bin Abi Rabi' cet. Maktabah Al-Ma'arif th.
1420 H
Artinya
Dari Asma' dia berkata, Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam bersabda:
"Tidak ada ada adzan dan iqamah bagi wanita, tidak ada pula Sholat
Jum'at, tidak ada mandi (untuk sholat) Jum'at, tidak berlaku bagi
wanita untuk maju kedepan menjadi imam namun hendaknya (yang menjadi
imam bagi jama'ah wanita) berdiri di tengah"
Hadits ini Maudhu' /Palsu, dicantumkan oleh Syaikh Al-Albani dalam
Silsilah Ahaadits adhDhoifah no. 879.
Faidah:
Yang benar dalam masalah ini sebagaimana dikatakan oleh Abu Thayyib
Shidiq Khan dalam kitab "Ar-Raudhah An-Nadiyah" I/79, "Adapun bagi
kaum wanita secara lahiriyah sama seperti kaum laki-laki, mereka
layaknya saudara kandung bagi kaum laki-laki (maksudnya tidak ada
bedanya antara pria dan wanita dalam pembebanan syari'at kecuali ada
dalil yang mengecualikannya – LDDS). Suatu perkara yang disyariatkan
bagi pria adalah berlaku pula bagi wanita. Tidak ada dalil yang
mengarah kepada hujjah tidak diwajibkannya adzan atas kaum wanita.
Hadits mengenai tidak diwajibkannya (adzan) bagi wanita memiliki
sanad-sanad yang matruk (ditinggalkan), karenanya tidak sah apabila
dijadikan hujjah. Jika ada suatu dalil yang layak untuk mengeluarkan
kaum wanita dari hukum asal maka bisa jadi itu menjadi pengecualian.
Tapi kalau tidak ada, maka kembali kepada kaidah pembebanan syariat
bagi Kaum wanita sama dengan kaum laki-laki."
Dikutip dari http://www.facebook.com/LebihDariSeribuSunnah
<http://www.facebook.com/LebihDariSeribuSunnah?v=wall>
Wassalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh
Abu Kayyisa
Abu Dhabi UAE
*From:*[email protected] [mailto:[email protected]] *On
Behalf Of *Ummu Sulaim Al Brangkaly
*Sent:* Thursday, April 14, 2011 1:56 AM
*To:* assunnah
*Subject:* [assunnah] Tanya : Adzan bagi wanit
Assalaamu'alaikum, maaf, adakah adzan bagi wanita yang sholat sendiri
atau jamaah (sesama wanita) dan bagaimana aturan shaf
wanita...???.jazaakumullahu khairan,mhn maaf kalau sudah pernah dibahas.,
------------------------------------------------------------------------