From: [email protected]
Date: Sat, 6 Aug 2011 10:09:52 +080



Assalamu alaikum Warohmatullohi wabarokatuh,
Ana pernah diberitahu oleh ikhwan yang senang berhizbi, dia mengatakan bahwa 
mahasiswa Lulusan Universitas Islam Madinah (UIM) janganlah diklaim semuanya 
sebagai lulusan bermanhaj salaf
Apakah pernyataan itu benar
Jazakakallohu Katsiron.
Ahmad
>>>>>>>>>>>

Dibawah ini saya kutip sedikit penjelasan DR. Ustadz Ali Musri Semjan Putra Lc, 
MA.
http://groups.yahoo.com/group/assunnah/message/36743

Kesan Dan Pesan Dari Penulis
Selama penulis menumpang hidup di salah satu sudut kekuasaan Sang Raja Yang
Bijak ini, tepatnya di kota Madinah Al Munawwarah banyak sekali kesan indah dan
kenangan manis yang penulis rasakan sendiri maupun yang penulis saksikan. Betapa
tidak, karena barokah yang selalu diberikan Allah bagi umat yang berpegang teguh
dengan agamanya. Sudah lebih dari sepuluh tahun lamanya penulis menikmati
kemakmuran di negeri orang. Mulai dari semenjak program S-1 sampai sekarang pada
tingkat penyelesaian S-3 di Universitas Islam Madinah. Mulai dari awal dari
keberangkatan diberi tiket gratis sampai kedatangan semuanya telah tersedia di
kamar yang akan ditempati oleh mahasiswa baru mulai dari kasur yang berseprai
lengkap dengan selimut ditambah lagi meja belajar dengan ruangan yang ber-AC.
Setiap bulan kami menerima bea siswa sebanyak 850 rial. Setiap hari kami diantar
jemput untuk ke masjid Nabawi oleh bus kampus. Setiap sekali setahun diberi uang
pustaka yaitu berupa dana untuk membeli buku-buku kuliah sebanyak 800 rial.
Kemudian setiap libur tahunan musim panas kami diberi tiket untuk berlibur ke
negara masing-masing.

Jumlah Mahasiswa asing di Universitas Madinah sekitar 4000 orang ditambah
Mahasiswa Saudi sekitar 2500 orang. Ini baru untuk satu universitas belum
terhitung yang terdapat di universitas-universitas lain serta cabang-cabangnya
baik di dalam Saudi maupun di luar negeri. Menurut hemat penulis di negara
manapun tidak akan kita dapatkan perhatian seperti ini, apa lagi di negara kita
sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari tidak kita temukan praktek kesyirikan dan bid'ah
maupun maksiat secara terang-terangan. Karena bila diketahui akan menerima
hukuman yang sepantasnya. Bila berobat, ke rumah sakit gratis. Di sana-sini
sering kita mendapatkan bantuan buku-buku. Khusus di bulan Ramadhan suasana
lebih istimewa lagi, kita akan ditarik-tarik para penyaji buka puasa di masjid
Nabawi supaya menyantap perbukaan mereka, anak-anak kecil merayu kita untuk
mendatangi hidangan perbukaan mereka. Tepat di sebelah kiri mesjid Nabawi arah
timur kota Madinah di sana terbentang hidangan perbukaan atas dana pribadi sang
raja yang telah berpulang.

Kalau kita jalan-jalan ke pasar kita akan lumrah melihat terong sebesar kepala
anak kecil, anggur yang sebesar ibu jari, cabe yang panjangnya 20 cm. Begitu
pula ikan yang sebesar anak berumur 5 tahun, harga untuk satu ikat ikan atau
satu ekornya kadangkala mencapai 500 rial atau lebih, bila dirupiahkan sekitar
satu juta lebih. Sering penulis bertanya pada diri sendiri kenapa negeriku yang
subur tidak pernah bertemu hal seperti ini…!?. Ini adalah bukti nyata dari
firman Allah: "Jikalau penduduk suatu negeri mau beriman dan bertaqwa, Sungguh
Kami akan bukakan pintu rezki bagi Mereka dari langit dan bumi". (Q.S Al A'raaf;
96).

Saat maraknya isu teroris Sang Raja tidak gegabah dalam mengambil kebijaksanaan.
Tidak pernah ada pelarangan terhadap para da'i dan ulama dalam berdakwah bahkan
sebaliknya justru mesjid-mesjid diramaikan dengan kajian-kajian tentang aqidah,
seminar-seminar digalakkan di kampus-kampus Universitas. Karena Sang Raja
memiliki ilmu agama yang cukup dalam mengkaji masalah tersebut. Bahkan beliau
telah mengantisipasi akan hal tersebut, dengan mencabut kewarganegaraan Usamah
bin Laden sekalipun Amerika mengkritik keras kebijakan Sang Raja pada saat itu.
Dan pada akhirnya Amerika menuai benih yang Mereka tabur sendiri, terlepas dari
benar atau tidaknya tentang opini yang diciptakan Amerika tentang Bin Laden.
Lain halnya di berbagai belahan dunia para da'i dan pemuda muslim sering menjadi
korban penculikan tanpa perlu ada bukti yang otentik.

Kesan yang tatkala pentingnya adalah terbuktinya kebohongan dan propaganda yang
dibikin oleh musuh Islam dan kelompok-kelompok yang berseberangan dengan paham
Ahlussunnah wal Jam'ah seperti tuduhan orang yang suka dusta dan memfitnah bahwa
teroris diciptakan oleh negara Saudi sendiri. Begitu pula tuduhan tentang bahwa
Saudi berpaham Wahhaby. Sudah sepersepuluh abad lebih penulis berada di Arab
Saudi tidak pernah menemukan indikasi ke arah seperti yang dituduhkan tersebut.
Bahkan seluruh buku-buku aqidah tidak pernah luput dari membongkar kesesatan
teroris (Khawarij dan Mu'tazilah). Begitu pula tuduhan tentang faham Wahhaby
bahwa mereka tidak menghormati para wali Allah atau dianggap membuat mazhab yang
kelima. Pada kenyataannya semua buku-buku yang dipelajari dalam seluruh jenjang
pendidikan adalah buku-buku para wali Allah dari berbagai mazhab.

Penulis sebutkan di sini buku-buku yang menjadi panduan di Universitas Islam
Madinah.

- Untuk mata kuliah Aqidah:

1. kitab Syarah Aqidah Thawiyah karangan Ibnu Abdil 'Iz Al Hanafi,
2. Fathul Majiid karangan Abdurahman bin Hasan Alu Syeikh.
3. Ditambah sebagai penunjang Al Ibaanah karangan Imam Abu Hasan Al Asy'ari,
4. Al Hujjah karangan Al Ashfahany Asy Syafi'i,
5. Asy Syari'ah karangan Al Ajurry,
6. Kitab At Tauhid karangan Ibnu Khuzaimah,
7. Kitab At Tauhid karangan Ibnu Mandah dan lain-lain.

- Untuk mata kuliah Tafsir:

1. Tafsir Ibnu Katsir Asy Syafi'i,
2. Tafsir Asy Syaukany,
3. Ditambah sebagai penunjang Tafsir At Thobary,
4. Tafsir Al Qurthuby Al Maliky,
5. Tafsir Al Baghawy As Syafi'i dan lain-lain.

- Untuk mata kuliah Hadits:

1. Kutub As Sittah beserta Syarahnya
2. Fathul Baari karangan Ibnu Hajar Asy Syafi'i,
3. Syarah Shahih Muslim karangan Imam An Nawawy Asy Syafi"i, dan lain-lain

- Untuk mata kuliah Fikih:

1. Bidayatul Mujtahid karangan Ibnu Rusy Al Maliky,
2. Subulussalam karangan Ash Shan'any,
3. Ditambah sebagai penunjang: Al Majmu' karangan Imam An Nawawy Asy Syafi"i,
4. kitab Al Mughny karangan Ibnu Qudamah Al Hambaly dan lain-lain.

Kalau ingin untuk melihat lebih dekat lagi tentang kitab-kitab yang menjadi
panduan mahasiswa di Arab Saudi silakan berkunjung ke perpustakaan Universitas
Islam Madinah atau perpustakaan masjid Nabawi, di sana akan terbukti segala
kebohongan dan propaganda yang dibikin oleh musuh Islam dan kelompok-kelompok
yang berseberangan dengan paham Ahlussunnah wal Jama'ah seperti tuduhan teroris
dan wahhaby.

Melalui tulisan singkat ini penulis ingin berpesan kepada saudara-saudaraku yang
seiman baik sebagai penguasa maupun sebagai rakyat biasa, marilah kita bina
kehidupan kita sehari-hari mulai dari urusan pribadi sampai kepada urusan negara
sesuai dengan ajaran agama kita, sejauh mana kita melalaikan ajaran agama kita
sejauh itu pula impian kebahagiaan akan jauh dari kita.
.....



                                          

Kirim email ke