AGAR RAMADHAN BERMAKNA INDAH
Oleh
Syaikh Dr. Ibrahim bin ‘Amir Ar Ruhaili
http://almanhaj.or.id/content/2823/slash/0

Para hadirin, arsyadanillahu wa iyyakum ajma’in,
Pada kesempatan ini saya mengajak kepada dari saya dan para jamaah shalat , 
agar meningkatkan takwa kepada Allah Azza wa Jalla. Yaitu dengan cara 
mengerjakan amalan-amalan yang diperintahkan Allah dan dicontohkan Rasulullah 
Shallallahu 'alaihi wa sallam, serta menjauhi hal-hal yang dilarangnya. Inilah 
yang bisa meningkatkan keimanan dan amal kita. 

Ingatlah wahai ikhwani, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman.

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي 
الْأَلْبَاب البقرة:197

"Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah 
kepadaKu hai orang-orang yang berakal". [Al Baqarah : 197].

Para hadirin, arsyadanillahu wa iyyakum ajma’in,
Mengingat telah datangnya bulan Ramadhan, maka kami akan menerangkan beberapa 
materi berkaitan erat dengan bulan yang suci ini, sebagai upaya meneladani 
Rasulullah n yang senantiasa memberikan petuah kepada para sahabat saat 
Ramadhan tiba.

Bulan Ramadhan, benar-benar merupakan bulan yang sangat agung, bulan istimewa, 
menjanjikan pahala tiada terkira besarnya bagi orang yang memanfaatkannya 
dengan ibadah puasa.

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abi Hurairah Radhiyallahu 'anhu 
dan sahabat lainnya, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ 
ذَنْبِهِ وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ 
مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan harapan pahala 
dari Allah, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa 
yang melaksanakan qiyamullail pada malam lailatul qadar dengan penuh keimanan 
dan mengharapkan pahala dari Allah semata, niscaya akan diampuni dosa-dosanya 
yang telah lampau". 

Karena itulah, bulan Ramadhan ini merupakan salah satu kesempatan emas, sarat 
dengan kebaikan, satu masa yang menjadi ajang berlomba bagi para pelaku 
kebaikan dan orang-orang mulia.

Ikhwani rahimanillahu wa iyyakum jami’an,
Sebagian ulama telah memberikan beberapa kiat dalam menyongsong musim yang 
penuh dengan limpahan kebaikan ini. Di antaranya:

Pertama : Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengingatkan, dalam 
menyambut datangnya musim-musim ibadah, seorang hamba sangat memerlukan 
bimbingan, bantuan dan taufiq dari Allah. Caranya, (yaitu) dengan bertawakkal 
kepada Allah.

Salah satu teladan dari ulama Salaf, yakni sejak enam bulan sebelum Ramadhan 
tiba, mereka tekun berdoa dan memohon kepada Allah, agar dapat menjumpai bulan 
Ramadhan kembali dan memudahkan mereka dalam menggali keutamaannya. Ini 
merupakan salah satu cerminan berserah diri kepada Allah.

Beliau (Syaikhul Islam) menambahkan, dalam melaksanakan suatu ibadah, seorang 
muslim berkepentingan dengan beberapa poin (berikut) yang harus diperhatikan 
menjelang, saat berlangsung dan pasca pelaksanaannya. 

1. Mengenai hal yang dibutuhkan sebelum beramal ialah, menunjukkan sikap 
tawakkal kepada Allah dan semata-mata berharap kepadaNya, agar Dia senantiasa 
membantu dan meluruskan amalannya.

Ibnu Qayyim menyatakan, para ahlul ilmi telah bersepakat, bahwa salah satu 
indikasi taufiq Allah kepada hambaNya adalah pertolonganNya kepada hamba. Dan 
(sebaliknya), salah satu ciri dari kenistaan seorang hamba, yaitu orang yang 
hanya bermodalkan pada kepercayaan dan kemampuan dirinya semata.

Mengokohkan tawakkal kepada Allah merupakan modal paling penting untuk 
menyongsong musim-musim ibadah, guna menumbuhkan sikap ketidakberdayaan untuk 
menunaikan ibadah dengan sempurna, serta menyelamatkan diri dari kemungkinan 
terjerumus ke dalam lembah kehinaan dan kenistaan, apabila tidak mendapat 
anugerah taufiq dari Sang pencipta dalam beramal.

Selanjutnya, dia juga harus berdoa dengan penuh harap, supaya dapat bersua 
kembali dengan Ramadhan pada kesempatan yang akan datang. Juga agar Allah 
berkenan menolong dan meluruskan amalannya.

Langkah-langkah ini termasuk amalan yang paling agung, yang dapat mendatangkan 
taufiq Allah dalam menghidupi bulan Ramadhan. 

2. Saat penyelesaian ibadah, maka yang perlu diperhatikan seorang hamba ialah 
ikhlas dalam beramal dan ittiba’ (mengikuti petunjuk) Rasulullah Shallallahu 
'alaihi wa sallam.

3. Usai pelaksanaan ibadah, yang harus dikerjakan ialah memperbanyak istighfar 
(meminta ampun) atas kekhilafan dalam melaksanakan ibadah tersebut. Disamping 
itu, juga harus memperbanyak pujian kepada Allah yang telah memberikan taufiq. 
Apabila seorang insan bisa memadukan antara hamdalah dan istighfar, maka dengan 
izin Allah Subhanahu wa Ta'ala, amalan tersebut akan diterima oleh Allah.

Hal-hal di atas, betul-betul sangat perlu untuk diperhatikan, karena setan 
senantiasa mengintai manusia hingga detik-detik terakhir, bahkan setelah orang 
tersebut menyelesaikan ibadah sekalipun! Makhluk ini mulai mengungkit-ungkit 
ibadah seorang muslim, menghembuskan keragu-raguan serta tipu dayanya, dengan 
membisikkan “Hai fulan… kau telah berbuat begini dan begitu… kau telah berpuasa 
Ramadhan,…kau telah shalat malam di bulan suci ini… kau telah menunaikan amalan 
ini, itu dengan sempurna…”, dan dia terus mengungkap seluruh amalan yang telah 
dilakukan, sehingga tumbuhlah rasa ‘ujub yang mengantarkannya ke lembah 
kehinaan. Juga akan berakibat terkikisnya rasa rendah diri dan rasa tunduk 
kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Seyogyanya kita tidak terjebak dengan 
jaring-jaring perangkap ‘ujub. Karena, orang yang terpukau dengan dirinya 
sendiri (bisa begini dan begitu) dan amalan ibadahnya, pada dasarnya telah 
menunjukkan kenistaan dan kehinaan serta kekurangan diri dan amalannya.

Ikhwani rahimanillahu wa iyyakum jami’an,
Kedua : Sebelum Ramadhan tiba, hal lain yang harus dilakukan seorang hamba 
ialah bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Banyak dalil yang memerintahkan seorang hamba untuk bertaubat. Diantaranya 
firman Allah Azza wa Jalla.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحاً عَسَى 
رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ 
تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ 

"Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang 
semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kamu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu 
dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai". [At 
Tahrim : 8].

Masih banyak lagi ayat yang senada. Dan seorang muslim, pasti tidak lepas dari 
dosa ataupun kesalahan. Dosa hanya akan menjauhkannya dari taufiq, sehingga 
tidak kuasa untuk beramal shalih. Ini semua merupakan dampak buruk dari dosa 
yang diperbuatnya. Apabila ternyata dia mau bertaubat kepada Allah Subhanahu wa 
Ta'ala, maka prahara ini akan sirna dan Allah Subhanahu wa Ta'ala akan kembali 
menganugerahkan taufiq kepadanya.

Taubat nasuha atau taubat yang sebenar-benarnya. Hakikatnya ialah bertaubat 
kepada Allah dari seluruh macam dosa. Sebagian ulama menjabarkan, taubat yang 
sempurna ialah taubat dari segala jenis dosa, bertekad bulat dan berniat kuat 
untuk tidak mengulangi dosa tadi. Jika dosa itu berkaitan erat dengan manusia 
(seperti mengambil barang dan lain-lain), maka dia harus mengembalikannya 
kepada sang pemilik.

Ada suatu kekeliruan yang harus diwaspadai, sebagian orang terkadang 
betul-betul ingin bertaubat dan bertekad untuk tidak berbuat maksiat, namun 
–ironisnya- hanya saat bulan Ramadhan saja. Ini merupakan perbuatan dungu …! 
Semestinya, bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan dosa dan berlepas diri 
dari dosa serta meninggalkan maksiat tadi, seharusnya tetap menyala, baik saat 
Ramadhan maupun bulan-bulan selanjutnya. Tidaklah disebut dengan taubat sejati, 
apabila seseorang bertaubat di suatu waktu, kemudian ia melanggarnya kembali 
pada waktu lain. Taubat seperti ini tidak akan dikabulkan. Sebab, salah satu 
syarat terkabulnya taubat ialah, dengan bersungguh-sungguh tidak akan 
mengulangi lagi perbuatan dosa tadi.

Para hadirin, arsyadanillahu wa iyyakum,
Sisi lain yang harus mendapatkan perhatian, yaitu berusaha untuk membentengi 
ibadah puasa dari faktor-faktor yang mengurangi keutuhan pahalanya, seperti 
ghibah (ngerumpi) dan namimah (mengadu domba). Dua “penyakit” ini sangat 
berbahaya, akan tetapi sangat disayangkan, sedikit orang yang menyadarinya.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي 
أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

"Barangsiapa tidak meninggalkan kata-kata dusta dan perbuatan dusta, niscaya 
Allah tidak butuh kepada puasanya". 

Ahlul ilmi berbeda pandangan tentang makna hadits tersebut. Sebagian dari 
mereka melihat, bahwasanya ghibah dan namimah membatalkan pahala puasa, tidak 
menyisakan sedikitpun … ! Pendapat lainnya menyatakan, ghibah dan namimah 
mengurangi pahala puasa dan bahkan kadang-kadang hanya tersisa sedikit. Artinya 
ibadah puasanya tidak bermanfaat.

Orang yang mengekang lidahnya, tidak berbuat ghibah dan namimah ketika berpuasa 
Ramadhan tanpa diiringi amalan-amalan sunnah, ia lebih baik daripada orang yang 
berpuasa dengan menghidupkan amalan-amalan sunnah, namun tidak berhenti dari 
dua kebiasaan buruk tadi. Demikian kenyataan mayoritas masyarakat; ketaatan 
yang bercampur dengan pelanggaran.

Umar bin Abdul Aziz pernah ditanya tentang arti takwa. Takwa ialah, 
melaksanakan kewajiban dan meninggalkan perbuatan haram, jawab beliau.

Para ulama menegaskan: “Inilah takwa yang sebenarnya. Adapun mencampur-adukkan 
antara ketaatan dan kemaksiatan, ini tidak termasuk dalam bingkai takwa, 
meskipun dibarengi dengan amalan-amalan sunnah”.

Oleh sebab itu, para ahlul ilmi merasa heran terhadap sosok yang menahan 
(berpuasa) dari hal-hal yang mubah, tetapi masih menyukai perbuatan dosa. 

Ibnu Rajab Al Hambali menyatakan: “Kewajiban seorang yang berpuasa adalah 
menahan diri dari hal-hal mubah dan larangan agama. Mengekang diri dari 
makanan, minuman, jima`, sebenarnya hanya sekedar menahan diri dari hal-hal 
yang dibolehkan. Sementara itu, ada larangan-larangan yang tidak boleh 
dilanggar, baik pada bulan Ramadhan maupun bulan lainnya. Pada bulan suci, 
larangan tersebut tentunya menjadi lebih tegas”.

Maka, sungguh sangat mengherankan kondisi orang yang berpuasa (menahan diri) 
dari hal-hal yang dibolehkan (diluar Ramadhan) seperti makan dan minum, namun 
tidak merasa alergi dari perbuatan-perbuatan yang diharamkan setiap waktu, 
seperti ghibah, namimah, mencaci, mencela, mengumpat, memandang perempuan 
ajnabiah (menonton film, Pent) dan lain-lain. Semua ini mengikis pahala puasa.

Para hadirin, arsyadanillahu wa iyyakum
Masalah lain yang perlu diperhatikan, yaitu amalan fardhu. Aktifitas yang 
paling wajib dilaksanakan pada bulan Ramadhan ialah: mendirikan shalat lima 
waktu dengan berjama’ah di masjid (bagi laki-laki), dan berusaha sekuat tenaga 
tidak tertinggal takbiratul ihram. 

Telah diuraikan dalam suatu hadits, barangsiapa yang melaksanakan shalat 40 
hari bersama imam dan mendapati takbiratul ihram, ditulis baginya dua jaminan 
surat kebebasan, (yaitu) bebas dari api neraka dan nifaq. Hadits ini shahih.

Seandainya kita, ternyata termasuk orang-orang mufarrith, yaitu amalannya tidak 
banyak pada bulan puasa, maka setidaknya kita memelihara shalat lima waktu 
dengan baik, dikerjakan secara berjama’ah di masjid, serta berusaha sesegera 
mungkin berangkat ke masjid sebelum tiba waktunya. Sesungguhnya, menjaga amalan 
fardhu pada bulan Ramadhan merupakan ibadah dan taqarrub yang paling agung 
kepada Allah. 

Sungguh sangat memprihatinkan, tatkala kita mendapati orang yang bersemangat 
melaksanakan shalat tarawih, bahkan hampir-hampir tidak pernah absen, namun 
pada saat yang sama, ternyata dia tidak menjaga shalat lima waktu dengan 
berjamaah. Terkadang lebih memilih tidur, sehingga melewatkan shalat wajib, 
dengan dalih persiapan untuk shalat tarawih?! Demikian ini merupakan kebodohan 
dan pelecehan terhadap kewajiban…! 

Sungguh, mendirikan shalat lima waktu bersama imam saja, tanpa melakukan shalat 
tarawih satu malam pun, lebih baik daripada mengerjakan shalat tarawih, namun 
menyia-nyiakan shalat fardhu yang lima waktu. Ini bukan berarti kita memandang 
remeh terhadap shalat tarawih, akan tetapi, seharusnya seorang muslim itu 
menggabungkan keduanya, memberikan perhatian khusus terhadap hal-hal yang 
fardhu (shalat lima waktu), baru kemudian melangkah menuju amalan sunnah, 
seperti shalat tarawih.

Para hadirin, arsyadanillahu wa iyyakum,
Sebagaimana pada khutbah pertama telah kami sampaikan, bahwa bulan Ramadhan 
merupakan bulan yang sangat agung, bulan yang teramat istimewa. Allah 
menjanjikan pahala yang besar bagi orang yang memanfaatkannya. Ramadhan 
merupakan kesempatan emas bagi orang yang menginginkan kebaikan di sisi Allah 
Azza wa Jalla. Salah satu kesempatan emas itu ialah adanya lailatul qadar. 
Sebagaimana disebutkan oleh Allah Azza wa Jalla dalam Al Qur`an : 

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ القدر:3

"Malam kemuliaan (lailatul qadar) itu lebih baik dari seribu bulan". [Al Qadar 
: 3].

Karenanya, marilah kita berusaha untuk mendapatkannya, dan mengisi lailatul 
qadr itu dengan beramal shalih.

Sebagaimana tuntunan hadits Aisyah Radhiyallahu 'anha, hendaklah umat ini 
berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan lailatul qadr pada tujuh hari yang 
tersisa dari sepuluh hari yang terakhir. Atau dalam hadits Abu Hurairah, 
carilah dia (lailatul qadr) pada sepuluh hari yang terakhir dari bulan 
Ramadhan. Karenanya, seyogyanya setiap muslim bergegas untuk mencarinya dengan 
memperbanyak amal ibadah dengan tekun.

Para salafush shalih berusaha meraih lailatul qadr pada malam 21. Sebagian yang 
lain pada malam 23. Sebagian yang lain pada malam 27. Sebagian yang lain 
mencari pada malam 24. Dan hampir-hampir pada setiap malam 10 hari terakhir. 
Maka mengapa kita tidak mencontoh para salafush shalih? Marilah kita berusaha 
secara maksimal pada 10 terakhir bulan Ramadhan ini, dengan menyibukkan diri 
beramal dan beribadah, sehingga bisa menggapai pahala dari Allah Subhanahu wa 
Ta'ala. Dengan hanya sedikit amalan, kita bisa menggenggam pahala, lantaran 
orang yang beramal pada malam lailatul qadr ini akan menyamai amalan ibadah 
selama seribu bulan. 

Kalau ada orang yang tidak berusaha mencarinya kecuali pada satu malam tertentu 
saja dalam setiap Ramadhan (dengan asumsi lailatul qadr jatuh pada tanggal ini 
atau itu), walaupun dia berpuasa Ramadhan selama 40 tahun, barangkali dia -sama 
sekali- tidak akan pernah mendapatkan moment tersebut. Selanjutnya hanya 
penyesalan yang ada.

Sekali lagi, hendaklah setiap muslim beramal dan beribadah pada setiap malam 
sepuluh terakhir itu seraya berkata “malam ini adalah malam lailatul qadr”. 
Andai dugaannya meleset, dia perlu mengingat, bahwa sesungguhnya malam itu 
termasuk sepuluh terakhir Ramadhan, malam yang paling utama selama Ramadhan. 
Sebagian ulama, seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berpendapat, 
bahwa 10 hari terakhir Ramadhan lebih afdhal dari sepuluh malam pertama bulan 
Dzulhijjah. Wallahu ‘alam bish shawab.

[Diangkat berdasarkan untaian nasihat yang disampaikan oleh Syaikh Dr. Ibrahim 
bin ‘Amir Ar Ruhaili, pada malam Jum’at, 27 Sya’ban 1423 H di Masjid Dzun 
Nurrain].

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07-08/Tahun IX/1426/2005M. Penerbit 
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton 
Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-7574821]                                      
  

Kirim email ke