sebenarnya dg memakai kain ihram bagian bawah yg dililtkan di perut sudah cukup untuk menutup kemaluan dan nyaman dipakai (dalam artian lebih leluasa bergerak) ketika dalam kondisi ihram melakukan ibadah yg memerlukan banyak gerak seperti tawaf, sai, shalat,dll, karena kain ihram jemaah haji indonesia lumayan lebar, tebal dan lembut, beda dg kain ihram jemaah dr bangladesh atau india yg kelihatan agak tipis, ditambah lagi biasanya jemaah haji indonesia diberikan sabuk khusus untuk mengikat kain ihram sehingga tidak mudah melorot sedangkan bila kemaluan diikat ketika ihram, menurut saya, ini justru akan menyulitkan dan tidak nyaman karena sesekali harus membetulkan ikatan di kemaluannya karena akibat gerakan yg cukup banyak ketika melaksanakan thawaf, sai dan shalat... tentu ini hal yg sangat merepotkan, terlebih lagi potensial membatalkan wudlu karena rawan tersentuh kemaluan beda bila menggunakan kain ihram saja, cukup dg mengencangkan sabuk atau seperti mengencangkan sarung ketika kain ihram agak melorot dan Insya Allah dg kain ihram saja kemaluan tidak terlalu kentara bila sedang bangkit syahwatnya و الله تعالى أعلم
--- On Fri, 9/30/11, ummuabdillah63 <[email protected]> wrote: From: ummuabdillah63 <[email protected]> Subject: [assunnah] Pengganti Celana Dalam saat Ihram To: [email protected] Date: Friday, September 30, 2011, 3:08 PM Apakah boleh mengenakan kain tanpa jahitan yang dibalutkan pada kemaluan saat ihram untuk laki2 ? dalam Shahih Bukhari Kitab haji disebutkan "Umar رضي الله عنه melakukan thawaf ketika sedang ihram, sedangkan ia mengikat perutnya dengan kain" apakah artinya juga boleh menutup kemaluan dengan mengikatnya? Mohon penjelasan
