> From: [email protected]
> Date: Wed, 4 Jan 2012 05:08:33 
> Mohon bantuan jawaban masalah seperti di subject. Adik saya hamil usia
> 5 minggu. Karena konflik yang tidak bisa diselesaikan, maka suaminya
> menceraikan adik saya. Karena merasa tidak mampu jadi single parent
> dan khawatir dengan perkembangan anaknya jika tanpa bapak, maka adik
> saya ingin menggugurkan kandungannya.
> Bolehkah menggugurkan kandungan usia 5 minggu ? Dokter memberikan
> batas, maksimum usia kandungan yang dia bisa gugurkan adalah 6 minggu.
> Jadi adik saya butuh jawaban dalam minggu ini.
> Terima kasih
> Wassalam
> Sent from my mobile device
> >>>>>>>>>>>>>>>>>
 
Aborsi merupakan kejahatan terhadap manusia dalam bentuknya yang utuh. 
Karenanya, jika dalam melakukan aborsi, janin keluar dalam keadaan hidup dan 
kemudian mati, maka dikenakan diyat (denda yang sudah ditentukan ukurannya). 
Jika keluar dalam keadaan mati, maka dendanya lebih ringan.

Hukum ini juga berlaku untuk aborsi sebelum masa peniupan ruh. Setidaknya ini 
adalah pendapat hampir seluruh ulama. Karena penciptaan manusia pada dasarnya 
dimulai sejak sperma membuahi sel telur (ovum) sebagaimana yang diisyaratkan 
oleh hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :

إِذَا مَرَّ بِالنُّطْفَةِ اِثْنَتَانِ وَأَرْبَعُوْنَ لَيْلَةً، بَعَثَ اللهُ 
إِلَيْهَا مَلَكًا فَصَوَّرَهَا، وَخَلَقَ سَمْعَهَا وَبَصَرَهَا، وَجِلْدَهَا، 
وَلَحْمَهَا، وَعِظَمَهَا....

"Ketika nuthfah sudah berusia empat puluh dua hari, maka Allah mengutus 
Malaikat untuk membentuknya, menciptakan telinga, mata, kulit, daging dan 
tulangnya…" [13] 
 
13. Beberapa permasalahan tentang janin.
http://almanhaj.or.id/content/2885/slash/0
 
Pertama: Bagaimana hukum aborsi (menggugurkan kandungan) sesudah berusia 120 
hari (sesudah ditiupkannya ruh) atau sebelumnya? 
Para ulama sepakat, bahwa menggugurkan kandungan yang telah berusia 120 hari 
adalah perbuatan haram, termasuk pembunuhan, dan berdosa besar. Jadi, para 
ulama sepakat bahwa aborsi setelah ruh ditiupkan ke dalam janin adalah haram. 
Bahkan mereka menganggap, aborsi merupakan tindak pidana yang tidak boleh 
dilakukan seorang muslim. Aborsi merupakan kejahatan terhadap manusia dalam 
bentuknya yang utuh. Karenanya, jika dalam melakukan aborsi, janin keluar dalam 
keadaan hidup dan kemudian mati, maka dikenakan diyat (denda yang sudah 
ditentukan ukurannya). Jika keluar dalam keadaan mati, maka dendanya lebih 
ringan.

Hukum ini juga berlaku untuk aborsi sebelum masa peniupan ruh. Setidaknya ini 
adalah pendapat hampir seluruh ulama. Karena penciptaan manusia pada dasarnya 
dimulai sejak sperma membuahi sel telur (ovum) sebagaimana yang diisyaratkan 
oleh hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :

إِذَا مَرَّ بِالنُّطْفَةِ اِثْنَتَانِ وَأَرْبَعُوْنَ لَيْلَةً، بَعَثَ اللهُ 
إِلَيْهَا مَلَكًا فَصَوَّرَهَا، وَخَلَقَ سَمْعَهَا وَبَصَرَهَا، وَجِلْدَهَا، 
وَلَحْمَهَا، وَعِظَمَهَا....

"Ketika nuthfah sudah berusia empat puluh dua hari, maka Allah mengutus 
Malaikat untuk membentuknya, menciptakan telinga, mata, kulit, daging dan 
tulangnya…" [13] 

Ada ulama yang berpendapat bolehnya menggugurkan kandungan sebelum berusia 120 
hari. Sebagian mengatakan boleh dan sebagian mengatakan haram. Namun pendapat 
yang rajih (benar) adalah haram. Ada ulama yang mengqiyaskannya dengan azl 
[14], yang walaupun dibolehkan, tetapi disebut oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa 
sallam :

ذَلِكَ الْوَأْدُ الْخَفِيُّ.

"Itu adalah pembunuhan yang tersembunyi". [15]

Pada hakikatnya ‘azl tidak sama dengan aborsi atau mengubur bayi hidup-hidup. 
Karena aborsi merupakan kejahatan terhadap sesuatu yang sudah ada. 

Kehidupan itu sendiri mempunyai beberapa tahapan. Tahapan pertama, bertemunya 
sel sperma dengan ovum dalam rahim. Oleh karena itu, merusak sel sperma dengan 
ovum merupakan kejahatan. Jika telah berubah menjadi segumpal darah, maka 
tingkat kejahatannya bertambah berat. Apabila sudah menjadi segumpal daging dan 
telah ditiupkan ruh, maka kejahatan itu semakin bertambah berat. Kemudian 
kejahatan yang paling berat, yaitu ketika janin tersebut telah lahir menjadi 
bayi yang bernyawa. Syaikh al ‘Utsaimin menjelaskan haramnya aborsi 
(menggugurkan kandungan), meskipun janin belum ditiupkan ruh.

Kedua: Bagaimana hukum menggugurkan kandungan karena adanya kemudharatan, 
setelah berusia 120 hari atau sebelumnya? 

Para ulama sepakat, menggugurkan kandungan yang telah berusia 120 hari adalah 
perbuatan haram, termasuk pembunuhan, dan berdosa besar walaupun kondisi ibu 
atau kondisi janin dinyatakan sakit. Namun apabila usia kandungan belum berusia 
120 hari dan kondisi ibu atau kondisi janin dinyatakan sakit oleh dokter, maka 
para ulama membolehkannya karena keadaannya darurat. 

Ketiga: Bagaimana jika seorang ibu keguguran, apakah ia tergolong nifas ataukah 
tidak? 

Apabila usia kandungan lebih dari 120 hari lalu si ibu keguguran, maka berlaku 
hukum nifas baginya, yaitu tidak boleh shalat, puasa, bercampur dengan 
suaminya, dan lainnya. Apabila usia kandungan kurang dari 120 hari (sebelum 
ditiupkannya ruh), maka perlu dilihat janinnya, apakah sudah berbentuk ataukah 
masih berbentuk gumpalan darah (daging).

Apabila janin sudah terbentuk, maka berlaku hukum nifas baginya. Dan apabila 
belum berbentuk, maka darahnya bukan darah nifas, namun disebut darah rusak. 
Dia harus mandi, wajib shalat dan boleh bercampur dengan suaminya. 

Keempat: Bagaimana hukum janin yang gugur setelah berusia 120 hari (telah 
ditiupkan ruh), apakah ia dishalatkan ataukah tidak? 

Para ulama menjelaskan, janin tersebut tetap dishalatkan. Hal ini berdasarkan 
sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :

وَالسِّقْطُ يُصَلَّى عَلَيْهِ وَيُدْعَى لِوَالِدَيْهِ بِالْمَغْفِرَةِ 
وَالرَّحْمَةِ.

"(Bayi yang lahir dalam keadaan gugur, maka dishalatkan dan dido’akan bagi 
kedua orang tuanya dengan ampunan dan rahmat)[17], dan hukum menshalatnya 
adalah sunnah, tidak wajib. 

Kelima: Bagaimana hukumnya anak yang sempat terlahir namun meninggal, apakah ia 
juga berhak mendapat warisan?

Para ulama menjelaskan, apabila si bayi sempat menangis, maka ia berhak 
mendapatkan warisan. Namun jika tidak menangis, maka ia tidak mendapat warisan. 
Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam : 

لاَ يَرِثُ الصَّبِيُّ حَتَّى يَسْتَهِلَّ صَارِخًا، وَاسْتِهْلاَلُهُ أَنْ 
يَصِيْحَ أَوْ يَعْطِشَ أَوْ يَبْكِيَ.

"Seorang anak tidak dapat menerima warisan hingga ia lahir menjerit, dan 
(tanda) kelahirannya adalah apabila ia menjerit, bersin atau menangis".[18] 

Wallahu a’lam bish-shawab.

                                          

Kirim email ke